Kisah Sang CEO Muda

Kisah Sang CEO Muda
BAB 13 BAYU BERTEMU DENGAN AIRA


__ADS_3

Hampir bersamaan Jennie dan Miko sampai di ruang lobby. Dan Jennie langsung berposisi di samping Karin seakan melindungi si gadis. Sedangkan Miko berdiri di samping Jennie.


Sedangkan Karin, begitu melihat Jennie, bossnya, dan Miko, big bossnya, senangnya minta ampun. Ketakutan yang tadi sempat menghinggapinya segera sirna, berubah menjadi keberanian. Dia yakin Jennie dan Miko pasti akan membantunya.


Sementara Bayu, melihat kedatangan kedua orang besar yang pasti akan menindasnya juga itu berusaha bersikap tenang. Tapi dia sudah bisa membayangkan kalau dia bakal mengalami kerugian dengan datangnya mereka. Karena mereka pasti akan membantu Karin.


"Ada apa, Karin?" tanya Jennie seraya melirik sinis pada Bayu sebentar.


"Dia bentak saya, Bu," sahut Karin melapor dengan gaya memelas seolah dia dizolimi. "Kayaknya dia mau bikin ribut di sini."


"Lu mau cari ribut di perusahaan gue ini?" kata Miko bernada dingin sarat akan kebencian. "Mau jadi jagoan?"


"Maaf, Pak, saya tidak bermaksud berbuat macam-macam di perusahaan Bapak," kata Bayu tetap membela diri, "apalagi mencari ribut segala...."


"Saya hanya ingin meminta bayaran atas paket makanan yang sudah saya antar milik Mbak Karin itu," lanjut Bayu. "Kalau dia tidak mencari gara-gara dengan saya, tentu tidak akan terjadi keributan."


"Kamu benar cari gara-gara sama orang ini, Karin?" tanya Jennie pada Karin berlagak seolah mencari titik permasalahan.


"Saya nggak cari gara-gara, Bu," sahut Karin berlagak menyanggah. "Pesanannya salah mana harus saya bayar?"


"Kita 'kan tadi pesan salah satu lauknya nila goreng ya, Bu," lanjut Karin makin berani. "Dia malah mesan gurame goreng. Sudah pesanannya salah, dia malah nyolot minta bayaran."


"Saya sudah benar mengantar paket makanan ini, Mbak," sanggah Bayu masih tetap membela diri, "sesuai order yang dipesan oleh Mbak. Saya masih menyimpan WA pesanan Mbak."


"Tadi juga Mbak sudah mengaku kalau salah menulis pesanan," lanjut Bayu. "Tapi Mbak salah menulis pesan bukan urusan saya. Yang penting saya mengantar paket makanan ini sesuai orderan. Dan Mbak harus membayarnya."


"Udah, mending lu pergi aja dari sini!" usir Jennie tiba-tiba, tidak mau berlama-lama. "Kami masih ada urusan yang lebih penting ketimbang ngeladenin orang kayak lu."


"Maaf, Bu, saya tidak akan pergi sebelum saya dibayar," kata Bayu tetap bersikukuh.


"Ayo, Karin! Sebentar lagi meeting," ajak Jennie tanpa memperdulikan ucapan Bayu.


Lalu gadis itu langsung pergi dari situ setelah menyambar tangan Karin. Sedangkan Karin tetap mengikut saja. Malah hatinya langsung lega selamat dari Bayu. Bersamaan bersorak gembira karena berhasil mengerjai pemuda itu.


Sebelum melangkah jauh Karin sempat melontarkan senyum mengejek pada Bayu. Seolah memamerkan kemenangannya.


"Hei, bayar dulu, Mbak!" seru Bayu sambil hendak mengejar Jennie dan Karin.


Namun baru selangkah kaki Bayu bergerak, Miko yang ternyata masih ada di situ dengan cepat bertindak. Dengan cepat dia mencegat langkah Bayu dengan menahan dada Bayu dengan telapak tangan kanannya.


Terus menyentak telapak tangannya itu ke depan dengan kuat hingga membuat Bayu terdorong dua langkah ke belakang.


Dua orang gadis cantik yang tadi baru masuk yang masih berada di tempat berdirinya tentu saja terkejut melihat adegan seperti itu.


Gadis berblazer coklat mudah menyarankan agar mereka mendatangi ke ruang lobby itu dan mencegah tindakan Miko. Namun gadis berblazer merah meminta agar rekannya itu tetap tenang dan memberitahukan kalau tidak akan terjadi apa-apa.


★☆★☆


Sementara Bayu, menyaksikan tindakan Miko yang kasar itu, jelas dia tidak terima. Ditatapnya Miko dengan tajam penuh permusuhan.


"Apa maksud Anda mencegat saya?" kata Bayu bernada dingin dan tajam.


"Lu mau nyari ribut di perusahaan gue ini?" balas Miko tak kalah gertak.

__ADS_1


"Saya hanya ingin meminta hak saya, Pak," kata Bayu menahan geram.


"Lu mestinya ingat kalau lu sekarang masih berada di perusahaan gue," kata Miko dengan suara di rahang sambil memelototi Bayu. "Kalau lu mau macam-macam di sini, gue bisa jebloskan lu ke dalam penjara."


Bayu langsung terdiam tak bisa lagi melakukan atau berkata apa-apa mendengar ancaman Miko barusan. Dia hanya bisa menatap garang pada Miko mengungkapkan kemarahannya yang tidak bisa terlampiaskan.


Bayu merasa ancaman Miko itu tidak main-main, kalau dia memaksa untuk menagih bayarannya. Orang kaya seperti Miko mau berbuat apa saja bisa meski dia yang salah.


"Lu mau pergi sendiri dari sini atau gue panggilin satpam buat nyeret lu?" kata Miko lagi bernada dingin penuh penghinaan.


Akhirnya Bayu meninggalkan perusahaan itu setelah mengemas lagi paket makanan yang sempat dia buka. Dengan langkah gontai yang lesu dia meninggalkan Miko yang terus melihatnya sambil tersenyum penuh penghinaan.


Betapa dia harus menelan kekecewaan, kesedihan dan kemalangan. Semua perasaan itu bercampur di dalam dirinya yang berubah menjadi kemarahan dan kebencian.


Marah kepada dirinya sendiri yang tidak bisa berbuat apa-apa ditindas oleh orang kaya. Benci kepada orang kaya yang seenak jidatnya melakukan penindasan.


Dia melangkah lesu menuju pintu keluar tanpa memperhatikan keadaan sekitarnya. Tanpa menyadari kalau dua orang gadis cantik terus memperhatikannya.


Tapi begitu Bayu sudah hilang di balik pintu, gadis berblazer merah berkata kepada gadis berblazer coklat muda bernada memerintah.


"Aira, kamu samperin Bayu, lalu kamu bayar semua paket makanan yang nggak dibayar oleh Karin! Sukur-sukur kamu bisa ngikutin dia dan cari tahu di mana dia dan Raihan tinggal di Jakarta ini."


"Terus makanan sebanyak gitu mau aku apain, Mbak Fira?" kata gadis yang dipanggil Aira bingung.


"Terserah kamu mau diapain," kata gadis yang dipanggil Fira cepat. "Udah sana! Nanti keburu dia udah jauh!"


"Iya, iya, Mbak."


Sementara Miko sebenarnya sempat melihat Shafira dan Aira. Tapi pemuda angkuh itu tidak terlalu menghiraukan kedua gadis itu. Dia kembali berjalan menuju ruang rapat mendahului Shafira.


Semetara itu, Aira terus melangkah cepat. Begitu sudah berada di luar kantor, dia celingak-celinguk sebentar. Tak lama dia sudah melihat Bayu yang masih melangkah gontai menuju parkiran.


Lalu tanpa menunggu lama Aira kembali melangkah cepat menghampiri Bayu yang terus melangkah tanpa henti. Di tangan pemuda itu masih menenteng paket makanan seharga Rp. 1.300.000,-.


Sementara Bayu masih saja terus melangkah lesu. Wajah begitu buram, pandangan matanya kosong menatap ke depan. Pikirannya masih kacau memikirkan kejadian yang baru saja dialaminya.


Masih saja terus melangkah meski Aira sudah berada dekat di belakangnya. Masih saja melangkah meski Aira telah memanggilnya.


"Mas Bayu!"


★☆★☆


Barulah pemuda itu berhenti melangkah setelah Aira memanggilnya yang ke 2x. Belum lama berhenti Bayu langsung berbalik cepat dan menghadap ke Aira.


Sedangkan Aira, begitu Bayu berhenti dan menghadapnya, dia juga langsung berhenti melangkah berjarak 2 langkah di depan Bayu.


Tentu saja Bayu terkejut melihat Aira dan tidak menyangka akan bertemu dengannya begitu cepat. Dia tahu gadis itu tapi tidak terlalu kenal. Dia tahu gadis yang bernama Aira itu adalah orang kepercayaan Shafira.


Untuk beberapa saat lamanya kedua insan berbeda jenis itu saling membisu dan saling bertatapan. Dan saling hanyut dalam pikiran masing-masing.


Aira memikirkan pemuda tampan yang jarang bisa berjumpa dengannya itu. Sedangkan Bayu memikirkan tentang keberadaan dia dan Raihan yang cepat atau lambat pasti akan diketahui oleh Shafira. Karena dia sudah bertemu dengan orang kepercayaannya itu.


"Apa kabarmu, Mas Bayu?" tanya Aira seketika membuyarkan kebisuan di antara mereka.

__ADS_1


Saat berbicara dengan Bayu yang orang jawa, Aira memakai aksen jawa. Karena dia juga memang orang jawa.


Suaranya begitu lembut, disertai senyumnya yang begitu manis meski tidak terlalu lebar.


"Saya tidak tahu apakah baik atau buruk," kata Bayu mendesah lesu. Seakan mengeluhkan musibah yang baru saja dialami.


Tapi seketika dia tersadar kalau tidak pantas dia mengeluh kepada gadis cantik di depannya ini. Lalu buru-buru dia berkata kepada Aira dengan nada biasa tapi sopan.


"Maaf, ada apa Mbak Aira memanggil saya? Apa ada perlu?"


Bayu tidak mau bertanya macam-macam atau basa-basi segala, langsung to the point saja.


"Kamu nggak nanya kabarku baik apa buruk?" kata Aira dengan mimik merajuk manja. "Kita 'kan udah lama nggak bertemu?"


Terus terang, Bayu bukannya tidak menyukai gadis berkulit kuning langsat itu. Ketika pertama kali bertemu sewaktu di Surabaya dulu, dia sudah terkesan akan pesona Aira.


Bukan saja kecantikannya, tapi juga kelembutan sikap dan budi bahasanya, ramah dan sopan. Dan tidak ada kesan sombong pada gadis itu meski punya kedudukan cukup tinggi di sisi Shafira yang seorang CEO muda.


Tapi dia harus mengekang keinginannya untuk memiliki Aira. Tidak mau bermain-main asmara kepada anak orang kaya. Sudah cukup bukti baginya Raihan dipermainkan oleh anak orang kaya seperti Melinda.


"Saya melihat Mbak Aira dalam keadaan baik-baik saja," kata Bayu apa adanya, "apa yang harus ditanyakan?"


Aira hanya tersenyum simpul mendengar ucapan Bayu itu. Lalu, tanpa menghiraukan Bayu yang masih saja bersikap dingin kepadanya, dia langsung menjalankan amanah yang diberikan oleh Shafira tadi.


"Aku mau bayar paket makanan yang dipesan Karin itu. Berapa semuanya dengan ongkos antarnya?"


"Apa Mbak Aira tahu tentang paket makanan yang malang ini?" kata Bayu terkejut.


Tidak dia sangka kalau Aira tahu tentang pengantaran paket yang tidak dibayar ini. Berarti gadis itu melihatnya tadi yang telah ditindas oleh Karin, Jennie, dan Miko?


"Bu Shafira juga tahu," kata Aira memberi tahu tanpa ditanya. "Sudah, jangan banyak mikir! Berapa semua?"


Bayu segera mengemukakan alasan-alasan yang intinya tidak mau menerima kebaikan Aira. Namun Aira tetap memaksa untuk membayar. Dia juga menambahkan kalau dia disuruh oleh Shafira.


Hingga akhirnya Bayu menyerah juga dan mau menerima bayar dari Aira, padahal bukan gadis itu yang memesan. Lalu, setelah menerima uang bayaran dari Aira, Bayu menyerahkan paket makanan itu kepada Aira.


"Temani aku makan siang ya, Mas Bay!" pinta Aira dengan sedikit bermanja, belum menerima paket itu. "Aku lapar nih."


"Apa Mbak menyuruh saya untuk menonton Mbak makan?" tanya Bayu seolah berpikir naif.


"Ya nggak lah. Kita makan sama-sama makanan itu. Mau ya!"


"Makanan ini terlalu banyak untuk kita berdua. Mungkin ada baiknya Mbak memberikan kepada orang lain sebagian."


"Ya terserah kamu. Yang penting kamu menemani aku makan siang."


Dengan terpaksa Bayu menuruti keinginan Aira, meski dia masih canggung berdua-duaan dengan gadis itu. Tapi dia tidak bisa menuruti keinginan Aira yang memintanya untuk makan siang di kos-kosannya.


Kalau dia menuruti keinginan Aira, artinya dia dan Raihan bakal diketahui tinggal di mana. Itu yang Bayu tidak mau meski Aira memaksa.


Akhirnya Aira mengalah juga, lalu meminta Bayu mengantarnya ke tempat lain.


★☆★☆★

__ADS_1


__ADS_2