
Sudah beberapa hari Raihan cuma berada di rumahnya. Tidak keluar ke manapun, termasuk tidak pergi ke kantor. Pikirannya masih terganggu akan peristiwa beberapa hari yang lalu.
Perasaannya masih terpukul atas keputusan Viola meminta putus darinya. Seakan-akan Raihan masih belum terima keputusan Viola tersebut.
Padahal sebelumnya hubungan mereka baik-baik saja. Tidak terjadi masalah dalam masa mereka berpacaran, apalagi terjadi pertengkaran.
Masalah baru terjadi di antara mereka saat orang tua Viola memutuskan hubungan cinta mereka. Hingga akhirnya mereka terpisah.
Raihan belum habis mengerti, kenapa Viola tidak mau bertemu dengannya?
Wajar, saat Raihan beberapa kali mendatangi rumahnya, Viola tidak juga menemuinya, karena pasti dihalangi oleh ortunya. Hal itu sudah jelas. Bahkan setiap kali Raihan ke rumah gadis itu, orang tua Viola mengusirnya.
Yang tidak wajar, Raihan telah mendatangi kampus gadis itu, tapi tetap saja Viola tidak mau bertemu dengannya. Seakan Viola menghindari agar tidak terlihat olehnya.
Ada apakah gerangan?
Raihan menduga tidak mungkin Viola menolak bertemu dengannya hanya lantaran dilarang oleh orang tuanya. Pasti ada sebab lain.
Hingga jalinan cinta mereka berakhir ketika Viola meminta putus tanpa alasan yang jelas. Tanpa menunggu jawaban darinya apakah menyetujui keputusan Viola atau menolak.
Viola telah meninggalkannya dan menyuruh dirinya meninggalkan gadis itu. Dengan alasan tidak mencintainya lagi.
Benarkah Viola tidak mencintainya lagi? Benarkah Viola telah meninggalkan dirinya dan tidak akan pernah lagi bertemu dengannya?
Sanggupkah dia menjalani hidup tanpa Viola?
Berbagai macam pertanyaan telah menghantui dirinya hingga pikirannya menjadi kalut. Kini dia benar-benar frustasi menghadapi masalah ini.
Sedangkan Bayu, selama Raihan tidak berada di kantor, dia yang menghandle pekerjaan Raihan yang dibantu oleh Shafira dan Aira. Termasuk memimpin rapat dan mengadakan pertemuan dengan kolega bisnis.
Sementara pada waktu yang bersamaan ternyata Viola juga sudah beberapa hari tidak ke kampus. Bahkan tidak keluar rumah sama sekali. Bahkan lebih parah dari itu sama sekali tidak keluar dari kamarnya.
Kira-kira apakah yang terjadi dengan Viola sehingga berbuat demikian?
Ya, sudah jelas dia dilanda kesedihan karena telah memutus jalinan cintanya kepada Raihan. Itu amat terpaksa sekali dilakukan karen ancaman papanya.
Papanya telah mengancam dirinya, kalau dia tidak memutus hubungan cintanya dengan Raihan, papanya bakal membuat perusahaan Raihan menjadi hancur.
Tentu saja Viola menjadi takut akan ancaman itu. Sehingga dia terpaksa memutus hubungan cintanya dengan Raihan. Amat terpaksa, bukan dari lubuk hatinya yang paling dalam.
Padahal di dalam hatinya masih mencintai Raihan. Sudah sekian lama tidak bertemu dengan Raihan. Rasa rindu di dalam hatinya sudah tidak tertahankan lagi, sebenarnya.
Berbarengan rasa rindu itu ada kesedihan yang mendalam yang telah menyelubungi hati dan perasaannya.
Hampir tiap hari Viola cuma menangis di dalam kamarnya hingga kedua matanya sembap. Menangisi nasib dirinya yang benar-benar malang. Menangisi kisah cintanya yang begitu menyedihkan.
Dia yakin Raihan pasti kecewa terhadap dirinya karena meminta putus dengannya. Tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa selain menuruti kehendak orang tuanya. Dia takut kalau papanya benar-benar melaksanakan ancamannya.
Memikirkan hal itu, dia benar-benar merasa bersalah terhadap Raihan. Olehnya itu sekarang dia benar-benar takut bercampur malu untuk bertemu Raihan.
"Maafkan aku, Mas Rai...."
Entah sudah berapa kali ucapan lirih itu dia lafazkan di sela-sela isak tangisnya. Seolahnya dia sudah menghafalnya di luar kepala.
__ADS_1
★☆★☆
Malam kelam ini menaburkan kesunyian di kediaman megah itu. Langit yang nyaris tanpa awan menggantung tak diterangi oleh sang Dewi Malam. Cuma gemintang yang bertaburan yang menghiasi langit malam ini.
Tampak Raihan duduk diam di atas sebuah kursi di belakang rumahnya. Saat itu dia berada di areal kolam renang yang terletak di belakang rumahnya.
Kepalanya sedikit terdongak ke atas menatap langit yang ditaburi milyaran bintang. Namun sorot matanya tampak kosong, hampa. Wajah tampannya masih menerbitkan pilu yang berpadu dengan duka.
Keadaan dirinya masih tampak sedikit kusut bagai kurang terurus. Rambutnya sedikit acak-acakan. Namun masih membiaskan ketampanannya yang seakan tidak pernah lekang.
Entah sudah berapa lama pemuda putus cinta itu duduk diam bagai patung di situ. Sepasang matanya masih saja menatap langit. Namun sinar matanya itu tampak redup, seredup cintanya yang tak berkepastian.
Dari arah belakang samping kanan tampak Bayu melangkah pelan mendekati Raihan. Wajah tampannya membiaskan keletihan akibat bekerja sepanjang siang hingga sampai malam begini.
"Kamu baru pulang, Bay?" sapa Raihan tanpa menoleh saat Bayu sudah dekat dengannya. Suaranya bernada mendesah cukup pelan, seperti tidak semangat untuk berbicara.
"Yaah biasalah, Rai, banyak kerjaan," sahut Bayu sambil menarik sebuah kursi, lalu duduk di samping kanan Raihan. "Kamu sih... masuk kantor lama."
Raihan hanya tersenyum kecil mendengar keluhan adik sepupunya itu. Tapi senyum itu begitu hambar, seperti terpaksa tersenyum.
Kemudian Bayu melaporkan tentang apa saja kegiatan perusahaan hari ini begitu Raihan menanyakannya.
Meskipun Raihan dirundung duka akibat diputuskan oleh Viola, tapi bukan berarti kegiatan perusahaannya dia tinggalkan sama sekali.
Raihan memang tidak masuk kantor, tapi selama dia tidak masuk itu dia meminta Bayu untuk melaporkan kegiatan perusahaan setiap hari, selama dia belum masuk.
Raihan memang bisa mengandalkan adik sepupunya itu dalam menggantikan posisinya sebagai CEO. Kepandaian pemuda dingin itu 11 12 dengan dirinya.
Raihan menugaskan Bayu untuk mengganti dirinya selama tidak berada di perusahaan, bukan berarti dia tidak percaya pada Shafira, kakaknya.
Begitu Bayu selesai melaporkan kegiatan perusahaan kepada Raihan, di penghujung ucapannya dia mengabarkan sesuatu yang membuat Raihan sedikit terkejut.
"Tadi Miko datang ke kantor."
Tapi Raihan cuma sedikit kaget saja. Lalu masih tanpa menoleh dia bertanya seakan ingin tahu.
"Mau apa dia ke kantor?"
"Sebenarnya dia pingin ketemu sama kamu," sahut Bayu memberi tahu, "tapi aku bilang kamu masih sakit, belum bisa masuk kantor."
"Kamu bilang aku sakit?" tanya Raihan seakan memprotes pengabaran Bayu kepada Miko.
"Ya emang kamu sakit 'kan?" kata Bayu seakan serius. "Sakit hati karena cinta. Iya 'kan?"
"Dia sempat ngobrol sama kamu nggak?" tanya Raihan seolah tidak menggubris ucapan Bayu barusan.
"Ya... cukup lama kami ngobrol...."
Kemudian Bayu menuturkan tentang pertemuannya dengan Miko siang tadi.
★☆★☆
Miko mengabarkan bahwa Viola sudah beberapa hari belakangan ini sakit. Sakitnya itu tidak lain disebabkan oleh apa yang sudah dia perbuat terhadap Raihan.
__ADS_1
Dia menyatakan putus dengan Raihan. Ditambah lagi pernyataannya kalau dia sudah tidak mencintai Raihan lagi.
Kalau begitu apa alasan Viola berbuat demikian?
Miko menuturkan bahwa Viola terpaksa melakukan hal itu karena diancam oleh papanya. Yakni kalau Viola tidak memutuskan hubungan dengan Raihan, Pak Mahendra akan menghancurkan perusahaan Raihan.
Karena Pak Mahendra tahu bahwa PT. Buana Persada adalah sebuah perusahaan yang masih tergolong kecil dan miskin. Amat mudah baginya menghancurkan perusahaan itu.
"Betul-betul lelaki tua sombong itu meremehkan kita, Bay," geram Raihan bersuara rahang.
"Makanya itu kamu jangan mengurung diri di rumah terus," kata Bayu memompa semangat Raihan. "Kamu cepatlah masuk lagi! Semangat juangmu untuk memajukan perusahaan harus bangkit lagi! Jangan pernah kendur hanya karena diputusin wanita."
"Baiklah," kata Raihan dengan nada yang semangat. "Besok aku mulai masuk lagi. Kita buktikan pada orang-orang sombong semisal Pak Mahendra dan Tuan Baskoro kalau perusahaan kita nggak bisa diremehkan!"
"Betul," dukung Bayu. "Kita tunjukkan kepada dunia kalau kita nggak bisa diremehkan!"
"Kalau Viola meminta putus sama aku hanya karena takut diancam begitu sama papanya," kata Raihan menarik kesimpulan, "berarti Viola nggak benaran mengaku nggak cinta sama aku lagi."
"Maksudmu Viola masih mencintaimu, begitu?" tebak Bayu ingin memastikan.
"Benar," kata Raihan penuh semangat. Wajah tampannya kini ceria kembali, "Viola pasti masih mencintaiku."
"Aku juga menduga kayak gitu," kata Bayu bagai bergumam. "Secara... Viola itu sebenarnya amat cinta sama kamu juga."
"Tapi... aku bisa menduga kalau Viola pasti tambah nggak mau nemuin kamu," lanjut Bayu, "karena minta putus sama kamu, padahal dia masih cinta sama kamu."
"Nggak jadi masalah kalau dia masih ngehindar dari aku," kata Raihan optimis. "Yang penting dia masih mencintai aku. Suatu saat pasti kita akan ketemu lagi...."
"Yaaa... mudah-mudahan saja begitu," kata Bayu penuh harap. "Mudah-mudahan saja kalian berjodoh...."
"Tapi...," kata Bayu selanjutnya, "yang aku takutkan Viola dijodohkan sama pemuda lain, dan Viola nggak bisa nolak."
Seketika Raihan terkejut mendengar ucapan Bayu barusan seperti dia baru tersadar akan sesuatu. Sampai-sampai dia langsung menoleh pada Raihan dan menatapnya lekat-lekat.
Apa yang ditakutkan Bayu itu bisa saja terjadi. Bisa saja nanti Viola akan dijodohkan dengan pemuda lain. Dan karena demi menuruti kehendak orang tuanya, Viola terpaksa menerima perjodohan itu.
Kalau begitu bisa gawat pikir Raihan. Tapi....
"Mudah-mudahan aja Viola nggak menerima perjodohan itu," kata Raihan penuh harap. "Mudah-mudahan aja dia masih pertahanin cinta kami...."
"Ya mudah-mudahan saja," kata Bayu. "Yang penting semangatmu harus bangkit lagi biar perusahaan cepat maju, biar Viola tahu kalau kita nggak bisa diremehkan."
"Ya, aku mungkin mau fokus dulu ngurusin perusahaan," kata Raihan memutuskan. "Soal Viola, kita lihat aja nanti gimana takdir kami bergulir. Aku juga mungkin nggak akan mengusik Viola dulu untuk beberapa bulan mendatang...."
"Gimana nanti kalau kalian bertemu di jalan," kata Bayu seakan menakut-nakuti, "sedangkan Viola bergandeng sama pemuda lain?"
"Kamu ini ngedoain aku benaran putus sama Viola atau gimana sih?" gerutu Raihan kesal.
"Aku buka ngedoain," kata Bayu mengaku. "Aku hanya ngingatin kalau sampai kejadian kayak gitu kamu harus kuat ngadapi kenyataan."
Raihan terdiam sejenak memikirkan ucapan Bayu barusan. Setelah termenung beberapa saat, dia berkata dengan berusaha lapang dada.
"Yaaah..., kalau emang takdirnya kayak gitu apa boleh buat, Viola bukan jodoh aku. Tapi.... aku ngarapin banget kalau Viola itu jodohku....."
__ADS_1
"Semoga aja...."
★☆★☆★