
Bagaimanakah keadaan keluarga Mahendra setelah mengetahui Viola tidak ada di rumah?
Sepulang dari makan malam di luar, para pembantu dan satpam memberitahukan kepada mereka kalau Viola telah kabur dari rumah. Tentu saja mereka langsung heboh dibuatnya.
Bu Hellen langsung memarahi semua ART dan satpam habis-habisan karena tidak becus menjaga Viola. Namun Pak Mahendra menenangkan istrinya dan menasehatkan agar tidak menyalahkan para pembantu sepenuhnya.
Setelah amarah Bu Hellen redah, barulah Pak Mahendra bertanya apa sebenarnya yang terjadi? Bagaimana kejadiannya Viola bisa sampai kabur dari rumah?
Maka bicaralah para pembantu itu dengan sikap takut-takut dan merasa bersalah atas kaburnya Viola. Dan mereka memberikan keterangan dua versi.
Dari keterangan ART bahwa Viola ingin menjenguk temannya yang sedang sakit. Sedangkan dari pak satpam mengaku kalau Viola hendak menyusul papa mamanya ke restoran.
Tapi pak satpam mengaku kalau dia tetap tidak menerima alasan Viola, dan tetap menahannya agar tidak pergi meninggalkan rumah. Dan pak satpam mengatakan kalau dia hanya menjalankan perintah dari Pak Mahendra.
Dan karena pak satpam tetap ngotot menahan Viola pergi, akhirnya Viola melumpuhkan dirinya hingga pingsan. Sehingga Viola lolos kabur dari rumah yang entah pergi ke mana.
Namun Bu Hellen menyimpulkan kalau Viola pasti akan menemui teman akrabnya yang bernama Marsha. Tentu Viola amat kangen sama temannya itu karena sudah lama tidak bertemu.
Di samping itu juga timbul kekhawatiran dalam diri Bu Hellen kalau-kalau Viola menyukai Marsha. Karena dia tahu putrinya itu bersifat kelaki-lakian, bukan sekedar tomboy. Walaupun sekarang sudah merubah penampilannya.
Dia khawatir kalau Viola sudah jatuh cinta sama Marsha. Sehingga rela kabur dari rumah demi untuk menemui 'kekasih terlarang'-nya itu.
Dasar Bu Hellen yang tidak mengerti akan keadaan putri bungsunya itu. Dengan seenaknya saja berpatokan pada kekhawatirannya yang tidak mendasar.
Namun hal itu sukses membuat Pak Mahendra dan Miko terpengaruh. Sehingga mereka jadi berpikiran yang sama dengan Bu Hellen. Mereka menganggap kekhawatiran itu adalah suatu hal yang mendasar.
Seperti mereka ketahui bahwa Viola adalah gadis tomboy yang benar-benar tomboy. Dalam artian Viola nyaris sama dengan laki-laki. Bukan saja dari segi penampilan, tapi juga dalam hal karakter.
Mereka khawatir kalau Viola suka sesama jenis. Karena menurut keterangan kalau Viola belum pernah berpacaran dengan seorang lelaki.
Kalau sampai kekhawatiran mereka itu ternyata benar, Viola menyukai Marsha, tentu mereka sebagai keluarga besar dan terhormat akan merasa malu sekali.
Sedangkan Jennie, yang tentu dibungkus oleh rasa cemburunya, menduga kalau Viola bukan ke tempat Marsha, melainkan pergi ke tempat Raihan.
Dia mengemukakan alasan atas dugaannya itu bahwa antara Viola dengan Raihan sebenarnya saling menyukai. Itulah makanya Viola sampai nekad meninggalkan rumah demi untuk bertemu dengan pemuda yang disukainya itu.
Perlu diketahui bahwa keluarga Mahendra tidak terlalu mengenal siapa itu Raihan. Mereka cuma tahu bahwa Raihan adalah orang yang hendak merebut Melinda dari Miko, berdasarkan pengakuan Miko.
Orang yang pernah menabrak Jennie di sebuah kafe milik Pak Darmawan, papanya Melinda, menurut keterangan Jennie.
Walaupun mereka juga tahu berdasarkan pengakuan Viola kalau Raihan adalah salah seorang yang menyelamatkan Viola waktu dicelakai sekelompok preman sebulan lebih yang lalu.
Kesimpulannya bahwa Raihan di mata keluarga Mahendra, kecuali Viola tentunya, adalah orang yang tidak dianggap.
Mereka tentunya belum mengetahui bahwa Raihan adalah putra ke-tiga Pak Baskoro. Lebih-lebih tidak mengetahui lagi kalau sebenarnya Raihan adalah seorang pemilik perusahaan sekaligus seorang CEO muda.
Selanjutnya, menyadari Viola telah kabur dari rumah, dan mereka kecuali Jennie beranggapan kalau Viola pergi ke rumah Marsha, maka Bu Hellen langsung menelpon Marsha melalui HP Viola yang masih dia sita.
__ADS_1
Awalnya Marsha ketika ditelpon tentu beranggapan kalau yang menelponnya adalah Viola. Makanya dia yang langsung mengambil inisiatif untuk bicara duluan.
"Halo, Lala! Kamu gimana kabar? Kok baru nelpon aku sih. Luka lu udah sembuh 'kan?"
"Ini bukan Viola, tapi mamanya!" kata Bu Hellen bernada datar bercampur sinis.
Terus wanita itu langsung bertanya tanpa basa-basi, "Di mana Viola sekarang? Apa ada di rumahmu?"
"Oh, maaf, Tante, saya kira Viola yang nelpon," terdengar suara Marsha membalas dari jauh. Lalu terdengar lagi suaranya bernada heran, "Eh, maaf, Tante, seharusnya yang nanya itu saya. Kok Tante malah nanya ke saya?"
"Kamu jangan coba-coba menipu saya!" kata Bu Hellen makin datar bernada mengancam. "Katakan dengan jujur, apa Viola ada di situ?"
"Maaf, Tante, Viola nggak ada di sini. Emang Viola nggak ada di rumah?" balas Marsha dari kejauhan.
"Saya tanya sekali lagi, apa Viola ada di situ?" Bu Hellen sudah menggeram marah. "Kamu jangan coba-coba sembunyikan Viola. Saya bisa melabrak rumahmu nanti!"
"Benaran, Tante, Viola nggak ada di sini. Kalau nggak percaya Tante silahkan datang ke sini untuk ngebuktiin!" Marsha masih bersabar untuk membalas menelpon.
"Sekarang Viola kabur dari rumah," akhirnya Bu Hellen memberi tahu meski dengan nada datar. "Apa kamu tahu ke mana kira-kira perginya putri saya itu?"
"Maaf, Tante, kalau itu saya nggak tahu juga. Soalnya saya udah lama nggak ketemu sama Viola, apalagi saling nelpon atau chatingan," balas Marsha tetap sabar.
Bu Hellen dan yang lainnya merasa kalau keterangan Marsha benar adanya, bahwa Viola memang tidak ada di rumah Marsha. Maka tanpa basa-basi Bu Hellen langsung mematikan kontak secara sepihak.
Sebenarnya Bu Hellen hendak menanyakan kepada Marsha, apakah antara Viola dengan Marsha ada 'hubungan terlarang'?
Namun Jennie menyarankan kalau hal itu nanti dulu ditanyakan. Yang penting sudah dipastikan kalau Viola tidak ada di tempat Marsha.
Lalu Jennie menyarankan langsung menelpon Raihan. Dan Bu Hellen tanpa banyak pikir menuruti saja. Sebentar dia mencari nomor Raihan di daftar kontak. Dan tidak lama dan tidak susah menemukannya, karena di daftar itu tertulis nama Mas Raihan.
Langsung saja Bu Hellen menghubungi nomor itu. Tapi setelah sekian lama ditunggu, pihak yang dihubungi tidak mengangkat handphonenya. Tiga kali dihubungi masih juga tidak diangkat.
Tentu saja Raihan tidak bisa dihubungi karena saat itu dia dan Bayu masih asyik kejar-kejaran dengan orang-orang yang menculik Viola. Apalagi saat itu HP Raihan masih dalam mode silent.
Hal itu seperti sudah biasa dia maupun Bayu lakukan kalau sedang bertemu dengan klien atau kolega bisnis. Dan memang kebetulan malam ini Raihan ada pertemuan dengan kolega bisnis.
Sedangkan Raihan lupa menormalkan nada notifikasinya kembali. Saking sibuknya berkeliling mencari keberadaan Viola.
Sementara Pak Mahendra dan yang lainnya, dengan Raihan tidak mengangkat HP-nya saat dihubungi, maka mereka langsung beranggapan kalau Viola ada di tempat Raihan.
Raihan tidak mau mengangkat handphonenya karena takut ketahuan. Itu menurut pemikiran mereka. Maka berdasarkan pemikiran itu, mereka akan mencari di mana tempat atau rumah Raihan keesokan harinya.
Sekaligus pula akan mencari tahu tentang siapa Raihan sebenarnya.
★☆★☆
Sementara itu di kediaman Tuan Baskoro, tepatnya di kamar Marsha....
__ADS_1
Setelah Bu Hellen memutuskan sambungan telepon secara sepihak, Marsha langsung dirundung kegelisahan dan kekhawatiran.
Dari ucapan Bu Hellen tadi dia mengetahui kalau Viola, sahabat karibnya telah kabur dari rumah. Dan dia bisa menduga kenapa Viola sampai nekad minggat dari rumahnya.
Pastilah Viola kalau bukan ingin bertemu dengannya, tentu ingin bertemu dengan Raihan, kekasihnya. Tapi menurut pengetahuan dia Viola belum tahu di mana rumahnya dan rumah Raihan.
Tapi menurut filing dia, Viola pasti akan mencari tahu di mana rumah kakaknya, Raihan. Maka tanpa banyak pikir dia langsung menghubungi nomor kakaknya itu.
Dan tentu saja seperti halnya yang terjadi pada Bu Hellen saat menghubungi nomor Raihan, pemuda tampan itu tidak mengangkat HP-nya. Sampai pun tiga kali dihubungi, tetap saja Raihan tidak mengangkatnya.
Tentu saja hal itu membuat Marsha semakin gelisah dan khawatir. Lalu dengan segera dia menemui kakaknya, Shafira di kamarnya.
Kebetulan Shafira belum tidur. Terus menyuruh Marsha masuk setelah mengatakan ingin bicara dengannya.
"Kamu mau ngomong apa?" tanya Shafira yang saat itu sedang berhadapan dengan laptopnya di meja kerjanya.
"Lala kabur dari rumahnya," kata Marsha memberi tahu dengan suara agak pelan. Saat itu dia duduk di tepi pembaringan, tapi di dekat Shafira.
"Ah, yang benar!" kejut Shafira dengan suara agak keras karena kaget. Dia langsung fokus memandang Marsha.
"Benar," kata Marsha meyakinkan. "Barusan mamanya menelpon aku pake HP Lala. Aku kira tadi Lala yang nelpon. Tak tahunya mamanya lala."
"Dia ngomong apa?" tanya Shafira serius.
"Mamanya Lala mengira kalau Lala ada di sini," tutur Marsha. "Terus aku bilang Lala nggak ada di dini. Mamanya sempat ragu awalnya. Tapi aku yakinin kalau Lala emang nggak ada di sini."
"Kayaknya mamanya udah percaya kalau Lala nggak ada di sini," lanjut Marsha. "Makanya dia langsung menutup telepon. Tapi dia sempat ngasih tahu kalau Lala kabur dari rumahnya."
"Kalau Lala nggak pergi ke sini, bisa jadi dia ke tempat Raihan," Shafira langsung bisa menyimpulkan.
"Aku juga menduga kayak gitu, Kak," kata Marsha sependapat. "Tapi... apa Lala udah tahu rumah Kak Rai?"
"Kamu udah nelpon Rai?"
"Udah, tapi nggak diangkat."
Sejenak Shafira terdiam seperti berpikir. Marsha pun juga terdiam. Tapi tampak dari wajah cantiknya akan kegelisahan dan kekhawatiran.
"Kak, perasaan aku kok nggak enak ya tentang Lala," kata Marsha mengungkapkan kegundahannya.
"Sama, aku juga kayak gitu," kata Shafira mengaku. "Aku juga khawatirin keadaan Rai."
"Aku akan ke rumah Rai," kata Shafira setelah terdiam lagi beberapa saat. "Kamu di sini aja."
"Iiih..., Kak, aku ikut ya," rengek Marsha memohon.
Shafira mengerti akan perasaan adik bungsunya ini. Dia sekarang jarang lagi ketemu Raihan karena dilarang oleh papa mereka. Juga sudah lama tidak ketemu lagi dengan Viola, sahabat karibnya.
__ADS_1
Oleh karena itu, Shafira mengizinkan Marsha ikut ke rumah Raihan. Urusan papa mereka biar dia yang jelaskan. Maka tak lama kemudian mereka pergi ke rumah Raihan dengan menggunakan mobil Shafira.
★☆★☆★