
Setelah pertemuannya dengan Marsha, Viola sebenarnya ingin segera bertemu dengan Raihan. Namun dia masih malu untuk menemui pemuda yang masih dan amat dicintainya itu.
Setengah tahun lebih tidak bertemu secara langsung dengan Raihan, mana dia berani untuk menemuinya tanpa perencanaan yang matang? Andaipun niatnya sudah bulat ingin bertemu, apakah dia masih tetap berani?
Tidak! Viola masih belum berani.
Dia yang meminta putus dengan Raihan, padahal mereka masih saling menyayangi. Mengingat hal itu, rasa malu masih menghantuinya kalau ingin menemui Raihan.
Padahal tanpa dia ketahui Raihan sebenarnya ingin segera menemuinya juga. Namun karena urusan pekerjaan yang benar-benar mendesak, Raihan terpaksa menunda dulu untuk menemui gadis yang amat dicintainya itu.
Di samping itu pula, masih ada satu masalah yang masih mengganggu pikiran Viola. Michella adalah sahabatnya, sementara Michella telah dijodohkan dengan Raihan, pemuda yang dicintainya.
Sedangkan Viola belum memberi tahu kepada Michella bahwasanya Raihan masih berstatus sebagai pacarnya, sebenarnya.
Loh, kenapa dibilang sebenarnya?
Ya karena waktu itu, waktu meminta putus dengan Raihan, Viola tidak bersungguh-sungguh mengatakannya. Mulutnya menyatakan putus dengan Raihan, tapi hati kecilnya tidak menginginkan hal itu. Karena dia masih mencintai Raihan.
Kondisi dirinya waktu itu benar-benar dalam keadaan kalut. Sehingga, saking sayangnya pada Raihan, dia tidak ingin perusahaan pemuda itu diobrak-abrik oleh papanya. Sehingga terciptalah keputusannya yang amat terpaksa.
Viola berpikir, dia harus menyelesaikan masalah ini dengan Michella. Dia tidak boleh menunda-nunda terlalu lama untuk mengatakan kepada Michella kalau sebenarnya dia dan Raihan masih berstatus pacaran.
Maka, pada siang itu saat selesai jam kelas pertama, Viola mengajak Michella ke taman kampus. Tujuannya untuk membicarakan tentang masalah tersebut pada Michella.
Kebetulan pula Michella sebenarnya ingin berbicara pada Viola tentang masalah yang sama. Makanya saat Viola mengajaknya ingin membicarakan sesuatu yang penting, Michella merasa saatnya pula membicarakan tentang ganjalan pikirannya.
Saat ini kedua gadis cantik itu telah duduk di kursi panjang di taman kampus.
"Sel, gue pingin ngomong sesuatu ama lu," kata Viola membuka percakapan belum lama mereka duduk. "Penting...."
Nada suaranya serta sikapnya rada-rada canggung, sedikit takut-takut. Viola merasa seperti berhadapan dengan seseorang yang bukan sahabatnya.
"Gue juga sebenarnya pingin ngomong ama lu, La," tanggap Michella yang berbicara dan bersikap tidak jauh beda dengan Viola.
Namun seketika Michella tersadar kalau Viola bersikap lain kepadanya. Terus, nada suaranya juga aneh. Tanpa menunggu lama dia langsung menegur Viola, padahal sikapnya sama dengan tegurannya itu.
"La! sikap lu kok aneh gitu? Kayak kita bukan teman aja?!"
"Lu nggak nyadar pa kalau lu juga aneh?" Viola menegur balik pula. Setelah itu membekap mulutnya karena menahan tawa.
Kejap berikut kedua gadis itu segera tersadar kalau mereka sama-sama bersikap aneh. Dan akhirnya tawa mereka yang begitu renyah langsung meledak karena merasa lucu.
"Hahaha....!"
"Lu pingin ngomong apa sih?" tanya Michella di sela gelak tawanya. "Kok bisa ngaruh ama sikap lu?"
Viola tidak lantas menjawab atau menanggapi pertanyaan Michella karena masih tertawa. Dia tertawa bukan hanya menyadari sikap mereka yang sama-sama aneh.
Namun dia juga tertawa karena benaknya menduga, jangan-jangan Michella hendak ngomongin tentang masalah yang sama dengannya.
__ADS_1
★☆★☆
"Lu aja yang ngomong duluan!" pinta Viola setelah berhenti tertawa, meski masih merasa lucu.
"OK lah kalau gitu," sambut Michella setelah berhenti tertawa juga.
Setelah itu dia mengatur napasnya terlebih dahulu, terus melanjutkan ucapannya yang bernada tanya.
"Lu pacar Mas Rai 'kan?"
Viola tidak langsung menjawab pertanyaan Michella itu. Sejenak dia menatap gadis itu, lalu mengalihkan pandangannya menatap lurus ke depan. Wajah cantiknya kini telah mengekspresikan kesedihan.
"Ya..., gue memang masih ngenganggap Mas Rai pacar gue," kata Viola bernada mendesah sedih.
"Apa masalah ini juga yang lu pingin omongin ama gue, La?" tanya Michella menebak.
"Ya...," sahut Viola singkat berterus terang.
"Lu kenapa nggak bilang kalau lu pacaran ama Mas Rai, Ola?" tanya Michella bernada sedih menyesalkan.
Setelah itu dia juga menghadapkan badannya ke depan dan memandang lurus ke nun jauh di sana. Lalu, karena Viola belum berkata atau menjawab pertanyaannya, Michella melanjutkan ucapannya.
"Untung aja gue nggak suka ama Mas Rai dan menolak dijodohin ama dia...."
"Kalau lu bersanding ama Mas Rai, malah bagus 'kan?" kata Viola menanggapi, masih tanpa menoleh pada Michella. Kesedihan masih melekat dalam nada suaranya.
"Apa hati lu beneran rela kalau misalkan gua nikah sama Mas Rai?" tanya Michella seakan menguji. "Lu pasti masih mencintainya. Iya 'kan?"
"Jujur... gue emang masih cinta ama Mas Rai," kata Viola bernada pilu. "Tapi... lu nggak usah mikirin itu, gue nggak papa kok. Lagian... Mas Rai bersandingnya sama sahabat gue sendiri, yaitu lu."
"Lu bilang nggak papa," kata Michella jelas membantah pengakuan Viola, "tapi sebenarnya lu nggak baik-baik aja. Iya nggak?"
Viola tidak menanggapi bantahan Michella itu. Karena memang apa yang dikatakan gadis itu benar. Sementara pandangan matanya yang duka masih menatap ke depan dengan kosong.
"Lu sahabat gue, La, sahabat terbaik gue," kata Michella lagi. Suaranya masih bernada pilu. "Gue nggak mungkin nyakitin perasaan lu dengan ngerebut pacar lu."
"Gue nggak ngenganggap lu ngerebut Mas Rai dari gue," kata Viola berkilah. "Gue.... gue relain Mas Rai jadi milik lu. Karena gue yakin... suatu saat kalian pasti bahagia jika bersama-sama."
"Lu nggak usah bo'ongin hati kecil lu," kata Michella membantah lagi. "Gue tau lu nggak rela. Itu pasti.... Dan asal lu tau, gue nggak bakalan bersanding ama Mas Rai meski lu paksa."
Seketika Viola menoleh pada Michella, terus menatap wajah gadis itu lekat-lekat. Dan Viola mendapatkan dari raut wajah dan sorotan sepasang mata Michella kalau gadis itu bersungguh-sungguh dengan ucapannya.
Menyadari akan hal itu, Viola benar-benar terharu dibuatnya. Viola benar-benar mendapatkan rasa persahabatan yang tinggi pada Michella.
Dan seketika pula Viola teringat akan kesetiakawanan yang ditunjukkan Marsha kepadanya malam itu. Mengingat akan hal itu membuatnya makin terharu.
Akan tetapi seketika Viola menyadari akan sesuatu hal yang penting yang menjadi sebab Raihan dan Michella dijodohkan.
★☆★☆
__ADS_1
"Tapi... perjodohan itu adalah keputusan nyokap sama bokap lu, Sel," kata Viola seakan mengingatkan. "Lu nggak mungkin nantang mereka. Lu harus tau itu!"
"Dengar, La!" kata Michella setelah menoleh dan menatap Viola pula. "Apa pun keputusan kedua ortu gue, gue tetap menolah perjodohan itu."
"Dan asal lu tahu, La," lanjut Michella, "Mas Rai juga menolak perjodohan itu, meski harus menentang keputusan kedua ortunya. Karena dia masih cinta ama lu, masih pertahanin lu sebagai pacarnya."
"Tapi... kalau gue ama Mas Rai," ungkap Viola, "tetap juga kami nggak bakalan bisa bersatu. Secara... kedua ortu kami menentang hubungan kami."
"La! Gue saranin lu nggak usah mikirin itu," kata Michella memberi semangat dan bersikap optimis, "dan nggak usah mikirin yang nggak-nggak...."
"Yang lu pikirin sekarang," lanjut Michella, "gimana cara lu ngebantu Mas Rai agar kalian tetap bersama selamanya, nggak bakalan terpisah meski apa pun yang terjadi, meski rintangan apa pun yang ngehalangin. OK?!"
Viola seketika langsung tersenyum, tersenyum haru atas segala dukungan Michella agar hubungan cinta antara dia dengan Raihan tetap terjalin.
Dia juga mendapat dukungan yang sama dari Marsha, dukungan yang benar-benar jujur dan tulus.
Sungguh dia beruntung mendapatkan 2 sahabat yang begitu baik kepadanya, benar-benar memperhatikan masalah perasaannya.
Dia bertekad tidak akan mengecewakan kedua sahabatnya itu yang telah mendukungnya sepenuh hati. Dia akan tetap mempertahankan hubungannya dengan Raihan hingga mereka resmi menjadi suami istri. Bahkan sampai mereka sama-sama tua.
"Makasih, Sela," ucap Viola bernada haru.
"Lu nggak usah ngucapin terima kasih segala kali," kata Michella benar-benar tulus. "Lu senang, gue juga bakalan senang. Lu susah, gue juga bakalan susah. Secara... lu adalah sahabat gue."
"OK lah kalau gitu," kata Viola optimis, "gue nggak bakalan ngecewain lu. Gue tetap pertahanin hubungan gue ama Mas Rai, apapun yang akan terjadi."
"Ya gitu dong," kata Michella sambil tersenyum bahagia karena melihat Viola sudah tidak sedih lagi. "Nggak usah sedih-sedih lagi. Gue juga 'kan jadi ikut sedih."
Viola langsung tertawa pelan namun renyah mendengar ucapan Michella barusan. Sedangkan Michella juga ikut-ikutan tertawa penuh kebahagiaan.
Tidak lama kemudian, setelah perasaan mereka sudah kembali bahagia, kedua gadis cantik itu mengubah topik pembicaraan.
Kali ini mereka membicarakan tentang Bayu. Dan tanpa Michella tutup-tutupi pada Viola kalau dia makin menyukai Bayu. Apalagi dia sudah mendapat lampu hijau dari Andra, kakaknya.
Tentu saja Viola mendukung secara penuh akan hal tersebut. Dia memang senang kalau Bayu dan Michella bisa berpacaran, bahkan kalau bisa sampai ke jenjang pernikahan.
Yang otomatis Viola tidak mendukung jika seandainya Bayu dengan Marsha karena mereka masih keluarga meski tergolong bersaudara, meski sepupu.
Selagi asyik-asyiknya Viola dan Michella saling ngobrol tentang banyak hal, tiba-tiba seorang pemuda tampan berkarakter cool datang menghampiri mereka dengan sedikit cepat.
Begitu pemuda berambut sedikit panjang itu tiba, dia langsung berdiri di hadapan kedua gadis itu.
Tentu saja kehadiran pemuda tampan yang tidak mereka undang itu, cukup membuat mereka kaget bercampur heran. Ada apa pemuda tampan itu menemui mereka?
Dan yang lebih terkejut heran serta marah adalah Michella. Rupanya dia mengenal pemuda tampan itu.
"Bagas....!"
★☆★☆★
__ADS_1