
Setelah Raihan menenangkan Viola yang merasa bersalah atas perbuatan kakaknya, Raihan memberitahukan bahwa sebenarnya dia dan Bayu juga mengetahui kalau Melinda terlibat dalam aksi penculikan terhadap Viola.
Bahkan secara tidak sengaja Melinda-lah yang menunjukkan lokasi di mana Viola diculik.
Awalnya Raihan maupun Bayu memang telah menduga bahwa Melinda terlibat dalam penculikan. Tentang siapa yang diculik mereka tidak bisa menduga secara pasti.
Namun bersamaan dengan itu mereka berdua ternyata mengkhawatirkan tentang keadaan Viola. Tidak tahunya kalau perasaan khawatir mereka itu merupakan alamat bahwa ternyata Viola yang diculik.
Untungnya Raihan dan Bayu datang menolong Viola tepat pada waktunya. Sehingga rencana pembunuhan terhadap gadis itu tidak jadi. Dan gagal pula rencana Vega yang hendak menggagahi Viola sebelum membunuhnya.
Selanjutnya pembicaraan beralih pada motif tindakan Vega yang hendak membunuh Viola.
Viola menuturkan bahwa Vega amat dendam terhadap keluarga Mahendra, dan telah berencana akan membunuh mereka semua, termasuk Viola hampir berhasil dia bunuh.
"Apa sebab orang itu dendam sama keluargamu, Lala?" tanya Bayu serius.
"Katanya ingin membalas atas kematian Kak Rania," sahut Viola.
"Rania...," gumam Raihan seperti pernah mendengar nama itu. "Apa dia kakakmu?"
"Ya, dia kakak aku, kakak pertamaku," aku Viola jujur. "Dia telah meninggal akibat kecelakaan di saat aku baru berumur 10 tahun."
"Kalian pernah dengar cerita tentang kakakku?" lanjut Viola bertanya.
"Mbak Fira pernah bercerita kepada kami bahwa dulu Fauzan hampir menikah dengan seorang wanita yang bernama Mbak Rania," kata Raihan menuturkan.
Dia menyebut nama Fauzan, kakak pertamanya begitu saja, tanpa ada embel 'kak' atau 'mas' di depannya. Hal itu sebagai bentuk berlepas dirinya dia terhadap keluarganya. Karena sejak kecil dia sudah tidak dianggap lagi bagian dari keluarga Baskoro.
Namun Raihan cuma mengecualikan dua orang; Shafira yang memang sejak kecil selalu membela dan menyayangi dirinya, dan Marsha yang ternyata juga menyayangi dirinya dengan tulus.
"Tapi, dua hari sebelum hari pernikahan Fauzan dengan Mbak Rania," lanjut Raihan, "Mbak Rania dikabarkan kecelakaan. Tepatnya ketabrak mobil saat dia kejar-kejaran dengan Fauzan...."
"Kamu tahu apa sebab mereka kejar-kejaran, Mas?" tanya Viola ingin sekali tahu.
"Menurut cerita Mbak Fira, sebelumnya Fauzan dan Mbak Rania terlibat pertengkaran," tutur Raihan lagi. "Kemudian Mbak Rania lari, terus dikejar oleh Fauzan, dan akhirnya Mbak Rania ketabrak mobil, lalu meninggal di tempat."
"Dari kejadian itu," lanjut Raihan, "pihak keluargamu menuduh si Fauzan sebagai penyebab Mbak Rania meninggal. Tapi keluarga Fauzan nggak terima tuduhan itu."
"Singkat cerita akhirnya keluarga kamu dengan keluarga Fauzan saling berseteru hingga sekarang...."
"Apa kamu tahu yang ditengkarin Kak Fauzan dengan Kak Rania waktu itu?" tanya Viola makin serius.
"Katanya sih Mbak Rania pingin batalin pernikahannya dengan Fauzan," kata Raihan mengungkapkan, "karena Mbak Rania sebenarnya nggak cinta sama Fauzan...."
"Tentu aja Fauzan menolak permintaan Mbak Rania itu," lanjut Raihan, "dan tetap maksa agar pernikahan tetap dilangsungkan. Nggak perduli Mbak Rania cinta atau nggak padanya."
"Berarti... hubungan yang terjadi antara Kak Fauzan dengan kakakku adalah sebab dijodohin?" tebak Viola menyimpulkan.
"Kayaknya gitu," kata Raihan menduga pasti.
"Apa... kamu belum dengar cerita dari keluargamu tentang masalah ini, La?" tanya Bayu sambil menoleh sedikit sebentar.
"Rincinya sih aku belum pernah dengar," kata Viola terus terang mengaku. "Cuman... kayak aku bilang tadi, aku tahunya kakak aku meninggal karena kecelakaan saat aku masih kecil...."
"Dan mamaku juga bilang kalau Kak Fauzan penyebab Kak Rania meninggal," lanjut Viola. "Sehingga dengan sebab itu kedua keluarga kita saling bermusuhan. Itulah makanya mama ngelarang aku berteman lagi ama Sasa."
__ADS_1
Saat berkata begitu nada suara Viola berubah menjadi sedih karena teringat dengan teman akrabnya itu. Karena teringat akan sahabatnya itu Viola bertanya pada Raihan.
"Eh, gimana kabar Sasa, Mas? Dia baik-baik aja 'kan?"
"Dia baik-baik aja," sahut Raihan, "kamu nggak perlu khawatir."
"Aku kangen ama Sasa, Mas," ungkap Viola. "Apa aku bisa ketemuan lagi nggak ama dia?"
"Ya bisalah. Nanti kita atur pertemuan kalian."
★☆★☆
"Lala, tadi kamu bilang sebab Vega dendam ama keluarga kamu karena ingin ngebalas atas kematian Mbak Rania," kata Bayu kembali teringat akan Vega. "Berarti orang itu kenal ama Mbak Rania kalau gitu?"
"Ya, bahkan dia amat kenal ama kakak aku kata dia," sahut Viola. "Bahkan dia mengaku pacar Kak Rania ketika aku nanya."
"Kalau kayak gitu," kata Bayu berkomentar, "si Vega ini dendamnya bukan cuma pada keluarga Pak Mahendra aja, dia juga pasti dendam ama keluarga Tuan Baskoro."
Mendengar ucapan Bayu barusan membuat Viola terkejut. Seakan-akan dia baru tersadar akan kenyataan itu.
Kalau benar Vega adalah pacar Rania yang sesungguhnya, pasti Vega juga akan menghabisi keluarga Pak Baskoro. Karena Vega menganggap Fauzan, selaku anak Pak Baskoro telah merebut Rania darinya.
Dan Raihan termasuk keluarga Pak Baskoro, lebih tepatnya putra konglomerat itu. Kalau Vega tahu tahu bahwa Raihan adalah anak Pak Baskoro, Raihan pasti tidak lepas dari incaran Vega. Apalagi tadi Raihan telah menggagalkan niat jahat lelaki muda itu.
Menyadari akan hal itu Viola tentu saja amat khawatir dengan keselamatan kekasihnya itu.
"Kamu nggak usah terlalu khawatir gitu, Lala," kata Raihan menenangkan. "Dalam beberapa waktu ke depan orang itu nggak akan ngejalanin aksi jahatnya itu untuk sementara waktu."
"Apa dia akan meninggalkan Jakarta untuk sementara waktu ini?" tanya Viola ingin tahu pendapat Raihan.
"Gimana dengan Melinda?" Bayu yang tanya seakan ingin tahu juga pendapat Raihan.
"Apa menurutmu kita lapor polisi?" tanya Raihan pada Viola sambil menoleh sedikit pada gadis itu.
"Kita belum punya bukti kuat untuk melibatkan dia dalam kasus ini," kata Viola seperti enggan melibatkan Melinda. "Lagian... kita nggak punya saksi atas perbuatan dia."
"Aku sempat mengambil gambarnya saat dia masih di vila," kata Raihan memberi tahu.
"Kayaknya jangan dulu deh, Mas, melibatkan dia," kata Viola seolah tidak setuju melibatkan Melinda, untuk sementara. "Kita lihat perkembangan dia selanjutnya aja dulu."
Raihan tidak berkata lagi atas pendapat Viola itu. Bayu juga diam saja, tidak berkomentar apa-apa juga.
Dengan selesainya ucapan Viola barusan, maka untuk sejenak perbicangan di antara ketiga orang muda itu terhenti. Sementara mobil sedan mercy itu terus saja melaju membelah malam dengan kecepatan sedang.
★☆★☆
"Lala...!" panggil Raihan dengan suara lembut setelah terdiam beberapa waktu lama sambil melihat arloji di tangan kirinya yang menunjukkan pukul 00.15 dini hari.
"Ya..., ada apa, Mas?" sahut Viola yang juga bernada lembut.
Saat ini gadis itu kembali menyandarkan kepalanya di pundak Raihan sambil merangkul lengan pemuda tampan itu.
"Kamu nggak tidur?" tanya Raihan seperti hendak memulai obrolan baru.
"Belum ngantuk," sahut Viola dengan suara sedikit manja.
__ADS_1
"Sekarang kamu pingin diantar ke mana?" tanya Raihan ingin tahu. "Apa mau pulang ke rumahmu?"
"Rai, kalau bisa untuk sementara waktu Lala bersembunyi dulu," kata Bayu menyela pembicaraan, "jangan dulu tampak di luaran."
"Apa yang diucapin Bay itu benar, kamu bersembunyi dulu untuk sementara waktu," kata Raihan sependapat.
"Aku nggak mau pulang ke rumahku," kata Viola cepat dengan nada seperti memberengut.
"Baiklah kalau kamu nggak mau diantar pulang," kata Raihan seakan memberi usulan sekaligus memutuskan. "Kalau begitu kamu tinggal di rumah kami dulu. Gimana?"
"Ya maulah, Mas," sambut Viola dengan senang hati sambil tersenyum ceria. "Dengan senang hati malah."
"Tapi perbuatan Melinda ini sudah merupakan tindak kriminal," kata Raihan kembali mengingat tentang tindakan Melinda. "Mau nggak mau kita harus melaporkannya ke polisi."
"Juga dengan si Vega itu," sambung Bayu, "kita juga harus melaporkannya ke polisi."
"Ya terserah kalian aja kalau gitu," kata Viola seakan pasrah. "Atur aja gimana baiknya."
"Eh, kamu tadi sempat nelpon aku nggak?" tanya Raihan teringat saat tadi seseorang menghubunginya lewat nomor Viola.
"Nggaklah, Mas, aku 'kan nggak bawa HP," kata Viola mengaku. "HP aku dipegang sama mama aku."
"Berarti yang ngehubungimu tadi bisa jadi mamanya Lala, Rai," kata Bayu menduga.
"Bisa jadi," tanggap Raihan.
"Emang tadi ada yang nelpon kamu pake nomor aku, Mas?" tanya Viola setelah mengangkat kepalanya, lalu menatap Raihan dengan serius.
"Iya," sahut Raihan. "Tapi aku nggak dengar, soalnya nada deringnya masih mode silent. Jadi, belum sempat aku angkat. Sasa juga nelpon, tapi aku nggak sempat angkat juga. Lagian tadi kami lagi sibuk kejar-kejaran sama orang yang menculik kamu."
"Itu emang mama aku yang nelpon," kata Viola seolah menegaskan. "Tapi biarin aja, nggak usah ditelepon balik."
"Keluarga kamu pasti khawatir sekarang, La," kata Raihan mengingatkan, "karena mereka nggak ngeliat kamu di rumah."
"Biarin aja," kata Viola acuh. "Aku nggak kepingin mikirin mereka dulu."
"Sasa menelponmu kira-kira kenapa, Rai?" tanya Bayu. "Apa dia ingin mengabarkan sesuatu padamu?"
"Kemungkinan dia habis ditelpon oleh mamanya Lala," kata Raihan menganalisa, "nanyain Lala ada di mana, kali aja ada di rumah Marsha, sekaligus ngabarin kalau Lala nggak ada di rumah."
"Makanya dia nelpon aku, mungkin mau ngasih tahu kalau Lala kabur dari rumah," lanjut Raihan.
Viola tidak ingin atau enggan bicara dulu sekarang. Dia ingin istirahat dulu sekarang. Dia hanya bilang ke Raihan.
"Bilang aja ke Sasa kalau nggak usah khawatitin aku, aku baik-baik aja bersama kamu."
Tanpa menunda Raihan langsung mengambil HP-nya dan menulis pesan di WA Marsha sesuai yang dikatakan Viola, dan sedikit menambah pesan lain sebagai pelengkap.
Setelah itu Raihan tidak membahas masalah apapun lagi. Bayu juga tidak berkata apa-apa lagi. Sedangkan Viola kembali menyandarkan kepalang di pundak Raihan sambil merangkul tangan pemuda itu.
Dia juga langsung terdiam, tidak bicara lagi. Tapi mimik wajahnya tampak ceria dengan senyumnya penuh bahagia.
Sepertinya Viola melupakan dulu tentang masalah yang telah terjadi dan akan terjadi nanti. Dia meresapi dulu kebahagiaannya bersama Raihan.
Tak lama kemudian, tiga orang muda itu kembali dibungkam oleh kebisuan, kembali dikurung oleh kesunyian. Sementara mobil yang disupiri Bayu terus melaju dengan kecepatan sedang.
__ADS_1
★☆★☆★