Kisah Sang CEO Muda

Kisah Sang CEO Muda
BAB 34 DUA SURAT YANG MENGEJUTKAN


__ADS_3

Bu Retno semakin terpukul mendengar kata-kata putra ke tiganya itu. Kesedihan semakin mendera perasaannya mana kala mengingat bahwa anaknya tumbuh besar bukan dibesarkan olehnya.


Penyesalan semakin menebalkan kepiluannya mana kala mengingat kembali kalau dulu dia seperti mengabaikan anak ke tiganya itu.


Sejak berusia 5 tahun Raihan sudah menunjukkan prinsip hidup dan karakter yang berbeda dengan ayahnya. Dengan sebab itulah ayahnya mulai mengabaikannya.


"Kamu jangan berkata begitu, anakku," kata Bu Retno di tengah derai kesedihannya. "Kamu juga tetap anak ibu, anak kandung ibu, meskipun... meskipun kamu bukan besar bersama ibu."


Sesakit-sakitnya hati Raihan atas perlakuan ibunya yang cukup menorehkan luka di hatinya di masa kecilnya dulu, dia tidak berani berlaku kasar terhadap wanita itu.


Di samping perbuatan itu merupakan suatu kedurhakaan yang benar-benar durhaka, di sisi lain dia kasihan kepada wanita itu yang juga terkekang di bawah pengaruh Pak Baskoro, suaminya.


"Maaf, Bu, saya tidak bisa berlama-lama di sini," kata Raihan bernada kalem yang sepertinya tampak canggung dengan ibunya sendiri. "Saya cuma ada urusan sebentar dengan Tuan Baskoro itu."


Cara berbicaranya pun juga seperti berbicara dengan orang lain, bukan seperti seorang anak berbicara dengan ibunya. Sama halnya pula saat dia berbicara dengan Pak Baskoro, sang ayah.


"Di sini adalah rumahmu juga, anakku," kata Bu Retno bagai mau menangis lagi, "kamu jangan berkata begitu.... Kamu bebas tinggal di rumah ini kapan pun kamu mau. Tolong jangan tinggalkan ibu lagi, Rai...!"


"Mama, jangan berkata yang nggak-nggak!" kata Pak Baskoro menegur dengan tajam meski nada suara yang tidak keras. "Anak itu sudah nggak ada lagi tempatnya di rumah ini. Jadi, kamu jangan berharap dia bakal tinggal lagi di sini!"


Dengan cepat Bu Retno berbalik menghadap suaminya. Lalu dengan wajah memelas dia berkata penuh pengibaan.


"Raihan anak kita, Pa. Kamu jangan terlalu membencinya sampai sebegitunya. Raihan masih punya hak di rumah ini. Karena ini adalah rumahnya juga...."


"Udah, Ma," Fauzan yang kali ini angkat bicara, "nggak usah lagi mama ngarapin anak durhaka itu tinggal bersama mama. Dia udah tinggalin rumah ini, Ma. Itu artinya dia bukan lagi bagian dari rumah ini."


Nada ucapannya memang tidak membentak-bentak atau marah-marah. Walau diucapkan dengan kalem tapi nadanya penuh penghinaan yang menyakitkan.


"Apa yang diucapkan anakmu itu benar, Ma," kata Pak Baskoro mendukung ucapan Fauzan, "anak itu bukan lagi bagian dari rumah ini, bukan lagi bagian dari keluarga kita. Karena dia sudah meninggalkan rumah ini dan keluarganya. Kenapa mama masih mempertahankan agar dia ada di sini lagi?"


"Papa tidak bisa berkata begitu kepada Raihan!" bantah Bu Retno agak tinggi nada suaranya. "Dia masih bagian dari keluarga ini!"


Melihat mamanya berbicara dengan nada agak tinggi seperti itu, Shafira mulai khawatir. Dia takut penyakit jantung mamanya akan kambuh. Makanya dia langsung membujuk Bu Retno agar tenang.


"Ma..., nggak usah dulu dibahas masalah ini. Nanti kita bicarakan lain kali. Biar Rai bicara dulu dengan papa. Ingat, Ma! Kalau mama terpancing emosi kayak gini, nanti penyakit mama bisa kambuh lagi."


"Tapi papamu sudah keterlaluan, Fira," kata Bu Retno dengan nada masih sedikit meninggi. "Mama nggak bisa diam lagi kalau sudah begini."


"Bu Retno...."


★☆★☆


Bu Retno segera berbalik menghadap Raihan. Lalu menatap putra ke tiganya itu lekat-lekat.


Baru dia sadari kalau anaknya itu sedari tadi ternyata seperti menganggapnya orang lain. Meskipun tampak Raihan menghormatinya, tapi sikap pemuda itu bagai berhadapan dengan orang lain.


Barusan Bu Retno mendengar pemuda itu memanggilnya. Namun nada dan lagaknya seperti memanggil orang lain yang dihormati. Bahkan dengan menyebut namanya segala.


"Anda seharusnya lebih mementingkan kesehatan Anda," kata Raihan bernada kalem penuh rasa hormat, "daripada memperdebatkan tentang saya dengan suami Anda."


"Toh saya juga datang ke sini bukan karena ingin menuntut apapun atau mengambil apapun," lanjutnya. "Saya datang ke mari hanya untuk berbicara sebentar dengan suami Anda."

__ADS_1


"Rai..., apa... kamu sudah tidak menganggap aku ibumu lagi?" tanya Bu Retno tidak bisa menahan rasa penasarannya atas sikap Raihan. Yang dengan sebab itu pula dia semakin sedih.


"Tolong, Bu! Saya minta pengertian Anda!" kata Raihan memohon sambil menangkupkan kedua telapak tangannya di depan wajahnya dan sedikit menunduk.


"Ma, jangan dulu bahas soal sikap Rai kepada mama!" kata Shafira berusaha membujuk Bu Retno. "Kita bahas nanti aja. Biar Rai bicara dulu sama papa."


"Mau bicara soal apa?" tanya Bu Retno.


"Soal perusahaan yang papa berikan kepada Rai," sahut Shafira terus terang.


"Huh! Perusahaan miskin itu lagi yang dipersoalkan," dengus Fauzan bernada sinis. "Perusahaan itu 'kan udah diberikan padamu, anak sialan? Kenapa kamu harus mengemis minta yang nggak-nggak lagi?"


Raihan diam saja mendengar ucapan Fauzan yang mengandung hinaan itu, tidak menggubrisnya. Sedangkan Pak Baskoro sepertinya hendak menanggapi ucapan Shafira barusan. Tapi dia tahan saja karena melihat kondisi istrinya yang kurang fit saat ini.


Bu Retno langsung kembali berbalik menghadap Pak Baskoro. Lalu melangkah menghampirinya. Sikapnya sama sekali tidak menggubris gerutuan Fauzan.


"Apa perusahaan itu sudah atas nama Raihan atau masih nama papa?" tanya Bu Retno langsung begitu sampai di hadapan Pak Baskoro.


"Sekarang mama masuk dulu di dalam," kata Pak Baskoro seolah tidak menghiraukan ucapan Bu Retno, "biar aku dan Fauzan bicara dulu dengan anak itu."


"Baiklah," kata Bu Retno seolah mengalah. "Tapi aku harap papa tidak memberatkan Raihan dalam masalah ini."


Lalu dia menoleh sebentar kepada Raihan yang ternyata masih memandangnya. Kemudian dia melangkah menuju ruang tengah yang diikuti oleh Shafira dan Marsha yang berjalan mengapit di sisi kanan kirinya.


Sedangkan Jovanka dan Berly, putrinya sudah sejak tadi masuk ke dalam. Itu karena disuruh oleh Fauzan.


★☆★☆


"Apa lagi yang kamu mau persoalkan tentang perusahaan miskin itu, anak sialan?" tanya Pak Baskoro dengan nada sinis penuh peremehan. "Aku sudah memberikannya padamu. Apalagi yang kamu minta hah?"


"Anda belum membuatkan 2 surat pernyataan yang saya minta, Tuan Baskoro," sahut Raihan bernada kalem bersikap tenang dan santai.


"Perusahaan itu sebentar lagi akan jatuh," kata Pak Baskoro bernada sinis. "Sepertinya aku nggak perlu repot-repot lagi membuatkan surat pernyataan segala."


"Apakah Anda takut apabila suatu saat perusahaan saya akan sukses, dan Anda tidak bisa mengambilnya lagi?" kata Raihan memancing reaksi Pak Baskoro.


"Apakah Anda takut perusahaan saya akan bersaing dengan perusahaan induk?" lanjut Raihan.


"Hahaha...! Khayalanmu terlalu tinggi, Anak Muda," kata Pak Baskoro menanggapi dengan sikap meremehkan. "Perusahaan itu nggak bakalan bisa sukses."


"Lagi pula perusahaan itu adalah perusahaan miskin," kata Fauzan seperti melanjutkan ucapan Pak Baskoro seraya tersenyum sinis. "Mana bisa bersaing dengan perusahaan induk? Kamu jangan mimpi!"


Raihan hanya tersenyum mendengar tanggapan dari ayah dan anak itu. Lalu dia menoleh pada Bayu yang duduk tidak jauh darinya sambil memberi isyarat mata.


Sedangkan Bayu yang hanya diam saja sejak tadi, melihat isyarat mata dari Raihan, segera mengeluarkan 2 buah amplop dari balik jas bagian dalamnya.


Kemudian dia berdiri terus melangkah mendekat ke arah Pak Baskoro. Lalu meletakkan 2 amplop itu di sisi meja di depan Pak Baskoro dan Fauzan. Setelah itu Bayu kembali ke tempat duduknya.


Dalam mengantar 2 amplop itu, Bayu tidak melakukan hal yang aneh yang mengundang kecurigaan, tidak juga berkata sepatah kata pun. Sikapnya tampak biasa saja tapi masih sopan.


Sedangkan Pak Baskoro maupun Fauzan menatap sinis penuh keangkuhan kepada Bayu dan perbuatannya itu. Lalu mereka sama-sama memandang 2 amplop yang kini terbaring diam di sisi meja di depan mereka.

__ADS_1


Tak lama kemudian, Fauzan mengambil kedua amplop itu setelah disuruh oleh Pak Baskoro. Namun begitu Fauzan hendak memberikannya kepada papanya, lelaki tua itu menyuruhnya membuka kedua amplop itu sekaligus menyuruhnya membacakan.


Perlu diketahui bahwa di luar kedua amplop itu tidak ada tulisan apapun selain tulisan 'Amplop 1' pada amplop yang satu, dan 'Amplop 2' pada amplop yang lain.


Kemudian tanpa banyak pertimbangan Fauzan membuka kedua amplop itu.


Yang pertama dibuka adalah Amplop 1, sesuai urutan. Lalu mengambil selembar surat dari dalamnya.


Dan belum lama dia membaca isi surat itu, dia langsung terkejut bukan main. Seolah dia tengah melihat hantu yang begitu mengerikan.


Demi melihat reaksi hebat yang ditunjukkan Fauzan setelah membaca surat yang ada di dalam Amplop 1, Pak Baskoro jadi penasaran.


"Apa isi surat itu, Zan?" tanya Pak Baskoro cepat.


"Surat pernyataan serah terima kepemilikan PT. Buana Persada kepada Raihan, Pa," sahut Fauzan yang masih saja terkejut.


Sontak Pak Baskoro juga terkejut mendengar ucapan putra pertamanya itu. Lalu dia meminta surat itu untuk dia baca sendiri. Dan belum lama membaca isinya, orang tua itu semakin terkejut dibuatnya.


Bayangkan saja di dalam surat pernyataan itu tertera namanya berikut tanda tangannya. Mana tidak membuatnya terkejut bukan main kalau begitu.


Dia tidak pernah membuat surat pernyataan itu, apalagi menerakan tanda tangannya di dalamnya. Akan tetapi di tangannya saat ini ada surat pernyataan itu, seolah-olah dia yang membuat.


Sungguh lelaki tua itu tidak menyangka kalau Raihan bisa membuat surat palsu ini yang persis seperti asli. Sungguh dia telah meremehkan anaknya sebelumnya.


Dan lebih melengkapi keterkejutan dia dan Fauzan tentang isi surat dalam Amplop 2 yang ternyata pula adalah surat pernyataan pemutusan hubungan PT. MITRA Baskoro Company dengan PT. Buana Persada.


Kedua surat itu jelas palsu. Namun sesungguhnya bisa jadi asli di mata hukum karena pada kedua surat pernyataan itu tertera tanda tangan Pak Baskoro.


Tak lama Pak Baskoro menatap tajam penuh amarah pada Raihan sambil merobek-robek kedua surat pernyataan itu sekaligus dengan kasar.


"Anda boleh saja merobek kedua surat copy-an itu," kata Raihan sambil tersenyum melihat perbuatan ayahnya. "Tapi aslinya ada pada saya."


"Kedua surat pernyataan yang ada padamu itu adalah palsu," dengus Pak Baskoro menggeram marah, "karena aku nggak pernah membuatnya!"


"Asli atau tidaknya kedua surat pernyataan itu," kata Raihan tetap santai, "yang jelas sudah ada pada saya. Dan sudah sah di mata hukum, Tuan Baskoro. Ingat itu!"


"Jangan coba-coba bermain-main dengan kami, anak sialan!" kata Fauzan sudah berang. "Kamu nggak akan bisa melawan kami!"


"Hahaha...! Baru sentilan kecil saja dari saya kalian sudah ketar-ketir begitu," kata Raihan sambil tertawa pelan. "Bagaimana kalau saya bisa berbuat lebih dari itu?"


Baik Pak Baskoro maupun Fauzan seketika terdiam mendengar ucapan Raihan. Sementara keterkejutan mereka masih mengurung mereka.


"Saya ingatkan sekali lagi, Tuan Baskoro," kata Raihan seolah mengancam, "jangan coba-coba meremehkan saya!"


"Saya rasa pertemuan singkat ini sampai di sini saja," kata Raihan pamitan sambil berdiri. "Kalau Anda ingin bertemu dengan saya, silahkan datang ke kantor saya."


Lalu Raihan melangkah pergi meninggalkan ruangan ini yang dikuti oleh Bayu. Mereka meninggalkan kedua ayah dan anak itu begitu saja tanpa menghiraukan keadaan mereka yang masih terdiam.


Ya, mereka masih terdiam karena tidak menyangka Raihan bisa membuat kedua surat pernyataan itu seperti asli.


★☆★☆★

__ADS_1


__ADS_2