
Mundur sedikit beberapa saat ketika Raihan dan Bayu masih membuntuti mobil yang menculik Viola....
Bayu terus saja mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi, mengikuti laju kecepatan mobil toyota yang mereka buntuti. Namun masih pada jarak aman, masih pada jarak yang mereka bisa pantau mobil itu meski terbilang jauh.
Sementara itu, entah mereka sudah berada di mana sekarang, mereka tidak tahu. Di samping kiri kanan jalan sudah gelap gulita. Artinya sudah tidak ada lagi rumah penduduk.
Hingga suatu ketika mereka kehilangan jejak saat belok di tikungan. Ketika lepas dari belokan, mobil toyota yang mereka buntuti sudah lenyap.
Bukan karena mereka ketinggalan jarak. Tapi mereka tidak tahu mobil yang mereka buntuti itu berbelok ke arah mana. Masalahnya, setelah dari tikungan yang jaraknya sekitar 2 kilometer, ada 2 persimpangan yang jaraknya tidak terlalu berjauhan.
Seketika saja Raihan maupun Bayu langsung dilanda kebingungan. Apakah mobil yang dibuntuti berbelok ke sebelah kiri yang mana arah itu persimpangan pertama? Atau berbelok ke sebelah kanan, ke persimpangan ke dua?
Karena bingung menentukan arah, akhirnya Bayu menepikan kendaraan ke pinggir jalan dan berhenti di situ. Dan begitu dia mematikan mesin kendaraan, maka kegelapan telah terasa membungkus mereka.
"Gimana sekarang, Bay?" tanya Raihan minta pendapat sambil terus mengamati keadaan di depannya yang serba gelap.
"Aku juga masih bingung ke mana mobil itu berbelok," sahut Bayu yang juga mengamati keadaan di depannya.
"Menurut dugaanku mobil itu berbelok ke kiri," gumam Raihan berargumen, "karena kita kehilangan mobil itu begitu cepat."
"Dugaanmu itu masih satu kemungkinan," kata Bayu menanggapi. "Bisa jadi mobil itu berbelok ke arah kanan karena jaraknya dari tikungan juga nggak terlalu jauh."
Selagi kedua pemuda tampan itu berbincang menentukan arah mana yang mereka ambil, seketika melintas sebuah mobil sedan mewah dari arah belakang mereka.
Dengan sedikit penasaran Bayu menengok ke belakang memperhatikan mobil yang datang itu. Sedangkan Raihan tetap saja fokus memandang ke depan seakan tidak terpengaruh dengan kehadiran mobil itu.
Namun begitu mobil itu sudah melintas agak jauh di depan mobil mereka, otomatis perhatian Raihan segera beralih ke mobil sedan itu. Dan begitu beberapa detik mengamatinya, Raihan sedikit tersentak kaget seolah mengenal mobil itu.
"Ikut mobil sedan itu, Bay!" perintah Raihan cepat.
"Kamu mengenal pemilik mobil itu?" tanya Bayu heran.
"Sepertinya itu mobil Melinda," sahut Raihan sambil terus memperhatikan mobil sedan itu yang baru saja berbelok ke arah kiri.
"Wah! Mau ngapain cewek itu malam-malam begini ke puncak?" gumam Bayu sambil menghidupkan mesin mobil.
Lalu tak lama mobil itu dijalankan menurut arahan Raihan. Membuntuti mobil sedan mewah ke mana pun perginya.
"Tetap jaga jarak, Bay, biar pengendara mobil itu nggak curiga kalau dibuntuti!"
"Beres, Tuan Muda."
Lalu Bayu merendahkan laju kecepatan mobilnya, membiarkan mobil sedan di depan mereka menjauh. Hingga jarak mobil mereka dengan mobil itu sekitar 1 kilometer.
★☆★☆
Tidak lama kemudian mobil sedan mewah warna merah itu memasuki halaman sebuah bangunan yang sepertinya sebuah vila. Lalu mobil sedan itu berhenti di samping sebuah mobil yang tadi telah dibuntuti Raihan dan Bayu.
Sementara itu, Raihan dan Bayu memantau keadaan vila itu dari jarak yang cukup jauh dan tersembunyi. Dan begitu melihat mobil yang mereka buntuti tadi ada di situ, maka yakinlah mereka kalau tidak salah menuju target.
Tampak dari persembunyian mereka seorang gadis keluar dari mobilnya. Dari situ kedua pemuda tampan itu dapat melihat cukup jelas siapa pemilik mobil sedan merah itu.
Apalagi gadis itu berhenti beberapa saat, berbicara dengan 2 lelaki yang seperti bertugas menjaga di luar vila, makin terlihat jelas siapa gadis itu.
"Kamu benar, Rai, itu adalah Melinda," gumam Bayu setelah mengamati lebih cermat gadis yang keluar dari mobilnya.
__ADS_1
"Mau apa dia ke villa itu?" gumam Raihan seakan bertanya sendiri sambil terus mengamati gerak-gerik melinda.
"Siapa tahu dia ada hubungannya dengan para penculik itu, Rai," sahut Bayu menduga. "Lihat! Gadis itu berbicara biasa dengan 2 orang penculik itu."
"Apa kamu bisa menduga siapa yang mereka culik, Rai?" lanjut Bayu bertanya.
"Aku tadi kurang melihat jelas siapa yang diculik," sahut Raihan seolah mengulang jawabannya tadi. "Kejadiannya begitu cepat."
"Tapi... kamu bisa menerka-nerka nggak siapa kira-kira yang diculik?"
"Entahlah..., tapi saat ini aku lagi mengkhawatir nasib Viola...."
"Sama..., apa yang kamu khawatirkan, itu juga yang aku khawatirkan...."
Setelah itu Raihan mengeluarkan handphonenya dari balik jasnya. Maksudnya hendak mengambil gambar Melinda. Namun dia melihat ada 2 notifikasi panggilan di HP-nya.
Karena tidak ingin membuang kesempatan selagi Melinda ada di luar vila, maka dia abaikan dulu 2 panggilan masuk itu. Lalu tak lama kemudian, dia sudah mengambil gambar Melinda sebelum gadis itu masuk ke dalam rumah.
Perlu diketahui bahwa tadinya Raihan dan Bayu habis mengadakan pertemuan dengan kolega bisnis di sebuah restoran.
Selepas mengadakan pertemuan mereka tidak langsung pulang ke rumah. Melainkan keliling-keliling dulu mencari di mana rumah Viola. Jadi, mereka masih mengenakan jas hingga sekarang.
Di samping itu pula Raihan lupa menormalkan kembali nada notifikasi HP-nya yang masih dalam mode silent.
Maka, setelah mengambil gambar Melinda, dia membuka telepon masuk untuk mengetahui siapa yang memanggil yang ternyata nomor Viola dan Marsha.
Lalu dia memberitahukan kepada Bayu tentang hal itu. Dan Bayu menyarankan agar menunda dulu menghiraukan kedua penelpon itu. Fokus dulu menyelamatkan korban penculikan. Dan Raihan tanpa banyak pikir langsung menyetujuinya.
Tak lama berselang, tampak dari persembunyian mereka Melinda masuk ke dalam rumah vila itu. Lalu kedua pemuda tampan itu mulai membicarakan tentang tindakan apa yang harus mereka lakukan.
Kemudian Raihan dan Bayu mulai beraksi. Dengan langkah hati-hati, dengan mengendap-endap tapi sedikit cepat, mereka mendekati vila.
Begitu tinggal beberapa meter lagi mereka sampai di pelataran vila yang tak berpagar itu, sejenak mereka bersembunyi di balik pohon. Lalu mengamati suasana vila dari jarak cukup dekat.
Namun saat mereka hendak bergerak lagi mendekati vila, dengan cepat mereka urungkan niat. Karena tiba-tiba pintu depan terbuka dan muncul Melinda yang keluar dari vila.
Sejenak kedua pemuda itu memperhatikan gerak-gerik Melinda yang ternyata hendak meninggalkan vila. Tampak Melinda memasuki mobilnya. Lalu terdengar mesin mobilnya berbunyi.
Tak lama kemudian, mobil sedan mewah warna merah itu melaju cukup kencang meninggalkan vila.
Dan begitu Melinda sudah meninggalkan vila, Raihan dan Bayu segera bergerak cepat memasuki halaman vila. Mereka muncul tidak sembunyi-sembunyi lagi, langsung terang-terangan.
Mereka tidak mau berlambat-lambat lagi. Mereka harus bergerak cepat kalau ingin menyelamatkan korban penculikan.
Tentu saja kehadiran mereka langsung diketahui oleh 2 penjaga yang duduk tidak jauh dari pintu masuk.
"Anjing! Siapa kalian?!" bentak salah seorang dengan keras.
Namun Raihan dan Bayu menanggapi bentakan itu dengan langsung menyerang kedua lelaki bengis itu. Dan tanpa tanggung-tanggung mereka langsung mengerahkan kemampuan bela diri mereka yang terhebat.
Hasilnya baru beberapa gebrakan pertarungan berlangsung kedua lelaki bengis lawan mereka sudah terkapar pingsan di halaman vila.
★☆★☆
Setelah membuat semaput kedua lelaki bengis itu, Raihan dan Bayu segera menuju pintu masuk. Begitu sampai mereka langsung membuka pintu masuk yang ternyata tidak terkunci.
__ADS_1
Namun baru dua langkah mereka menginjakkan kaki di dalam vila, mereka langsung disambut oleh 3 lelaki bengis yang ada di ruang tamu. Maka perkelahian tidak bisa dihindari lagi, langsung tergelar dengan begitu saja.
Tapi belum lama perkelahian berlangsung, Bayu menyuruh Raihan untuk menyelamatkan korban penculikan. Biar dia sendiri yang menghadapi 3 lalaki itu.
Tanpa banyak pikir Raihan langsung melaksanakan anjuran Bayu itu. Dengan cepat dia segera melangkah masuk ke ruang dalam.
Meski melangkah dengan cepat, tapi dilakukan dengan hati-hati. Hingga dia sampai pada dua pintu kamar yang saling berhadapan.
Baru saja Raihan hendak membuka pintu kamar sebelah kanan, terdengar ada suara orang berucap dengan nada mengancam dari kamar sebelah kiri.
Maka dengan cepat Raihan menghadap ke arah pintu kamar sebelah kiri. Tak lama telinganya mendengar seseorang melangkah menuju pintu. Lalu dia mengambil kuda-kuda, siap menyerang begitu pintu terbuka.
Dan begitu pintu terbuka dan Vega telah nongol di depan pintu, tanpa sungkan-sungkan Raihan langsung mengirimkan tendangan keras ke arah lambung Vega.
Sedangkan Vega, karena tidak tahu kalau ada Raihan yang sudah menanti di depan pintu dan langsung mengirimkan tendangan, tentu saja dia terlambat menyadari dan tentu saja terlambat menghindar.
Maka tanpa ampun tendangan Raihan langsung menghantam lambungnya dengan keras. Sehingga membuatnya terjajar beberapa langkah ke belakang sambil mengeluh tertahan.
Sementara Raihan, setelah melakukan penyerangan mendadak, sejenak dia berdiri di ambang pintu sambil menatap Vega dengan tajam.
"Mas Rai...!" terdengar suara Viola setengah berseru dari atas pembaringan.
Raihan segera menoleh ke arah pembaringan. Namun baru saja dia menoleh, Vega langsung menyerangnya dengan ganas. Sehingga mau tak mau Raihan meladeni serangan Vega, meski belum sempat mengetahui siapa yang ada di atas pembaringan yang memanggilnya.
Maka tidak butuh waktu lama pertarungan langsung tergelar di dalam kamar itu. Pertarungan yang cukup menarik yang disaksikan oleh Viola dengan harap-harap cemas.
Tentu saja dia amat mencemaskan keselamatan sang kekasih. Karena dia melihat ilmu bela diri Vega cukup mempuni. Namun besar harapannya Raihan memenangkan pertarungan.
Sementara itu pertarungan terus berjalan semakin seru. Ilmu bela diri yang dimiliki Vega memanglah cukup mempuni. Gerakan-gerakan jurusnya cukup membuat Viola sering-sering menahan napas.
Namun yang dihadapi adalah Raihan yang ilmu bela dirinya bukan kaleng-kaleng. Sehingga setelah melewati sekian gebrakan, tendangan keras Raihan kembali bersarang di tubuh Vega tanpa dapat dihindari.
Dughk!
"akh!"
Tendangan kaki kanan Raihan dengan keras dan kuat menggedor dada Vega. Sehingga membuat lebih muda itu terjajar limbung ke belakang hingga keluar kamar dan hampir jatuh ke lantai.
Kejap berikut segera terlintas kepengecutan Vega di dalam benaknya. Setelah menguasai keadaan dirinya yang belum pulih benar, langsung saja dia melarikan diri melalui ruang belakang.
Pikirnya kalau terus bertahan di sini, besar kemungkinan dia akan kalah oleh Raihan. Kalau sudah begitu pasti akan dilaporkan ke polisi dan ditangkap. Oleh karena itu, dia langsung ngacir tanpa pikir rasa malu.
Sedangkan Raihan, baru saja hendak mengejarnya, terdengar Viola memanggil namanya. Maka urunglah dia mengejar Vega.
"Mas Rai...!"
Dengan cepat dia menoleh ke arah pembaringan. Dan mendapati Viola yang terbaring dalam keadaan kedua tangan dan kedua kaki masih terikat.
"Viola...!" seru Raihan terkejut begitu tahu kalau gadis yang terikat itu adalah Viola.
Tanpa banyak pikir lagi segera menghampiri pembaringan. Lalu dengan cepat melepas tali yang mengikat Viola. Dan tak lama tali yang mengikat Viola kini telah terlepas.
Begitu terlepas dari tali yang mengikatnya, Viola segera bangun dengan cepat dan langsung memeluk Raihan dengan erat. Air mata bahagia bercampur haru tak bisa lagi dia bendung, langsung tertumpah di pundak Raihan.
★☆★☆★
__ADS_1