Kisah Sang CEO Muda

Kisah Sang CEO Muda
BAB 9 VIOLA AMANDA, SI GADIS TOMBOY


__ADS_3

Satu per satu para pelayat meninggalkan kuburan yang masih basah itu. Tidak lama kemudian tidak ada lagi pelayat di sekitar pemakaman, semua telah pulang ke rumah masing-masih.


Yang tersisa tinggal 3 orang yang masih mengitari makam baru yang masih merah itu. Mereka terdiri dari 3 orang wanita; seorang wanita paruh baya namun masih tampak cantik dan dua wanita muda atau gadis cantik.


Mereka duduk berjongkok di sisi kanan kiri makam; wanita paruh baya di sisi sebelah kanan, sedangkan yang duanya, 2 gadis cantik duduk berjongkok di sebelah kiri makam.


"Kak, aku ucapkan terima kasih yang sedalam-dalamnya," kata wanita paruh baya bernada lirih penuh kesedihan. Air matanya juga masih berlinang di pipinya yang masih tampak halus.


"Kamu telah merawat putriku hingga sampai besar begini," lanjutnya masih dalam mode haru pilu. "Aku tidak bisa membalas budi baikmu yang tiada taranya itu. Aku hanya bisa mendoakanmu semoga kamu tenang di sisi-Nya...."


"Ambu, kenapa kamu meninggalkan Ola begitu cepat?" keluh gadis berpenampilan tomboy bercampur sedih "Ola masih pingin bersamamu, Ambu...."


Air matanya masih deras mengalir di pipi putih halusnya. Isak tangisnya masih mengalun pilu di tengah suasana makam yang sunyi itu.


Gadis tomboy yang bernama Viola Amanda itu sebenarnya memiliki hati yang tegar. Tidak gampang menangis seperti sekarang ini.


Namun ditinggal mati oleh seorang wanita yang sudah dianggapnya sebagai ibu, yang telah merawatnya sejak kecil, setegar apapun dia tetap goyah juga. Tidak bisa tahan didera oleh kesedihan yang mendalam atas kematian bibinya itu.


Cuma bibinya itu yang menyayanginya selama ini secara sempurna. Cuma bibinya itu yang menerima penampilan dan gaya tomboynya, tanpa mempermasalahkan sama sekali.


Kini wanita yang amat disayanginya itu telah pergi meninggalkannya untuk selamanya. Betapa hatinya ini sedih tiada terkira.


"Ikhlaskan kepergian bibi, Ola," bujuk gadis di sampingnya yang juga dirundung kesedihan. "Kamu jangan menangis lagi, biar bibi tenang di alam sana."


Gadis cantik itu adalah Jennie. Dan Viola itu adalah adiknya yang selama ini tinggal bersama bibi mereka di Bogor ini. Adapun wanita paruh baya itu bernama Bu Hellen, ibu kandung mereka.


Begitu mendengar berita kematian kakak perempuannya yang bermukim di Bogor, Bu Hellen dan anak keduanya langsung berangkat ke Bogor.


Sebenarnya Bu Hellen mengajak suaminya dan Miko, anak pertamanya juga. Namun mereka tidak mau ikut dengan alasan banyak pekerjaan yang harus diselesaikan. Tapi Bu Hellen bisa menduga alasan utama mereka tidak ikut.


★☆★☆


Setelah puas menumpahkan air mata serta tangis kesedihan, diakhiri dengan mendoakan kebaikan terhadap penghuni kubur baru itu, 3 orang ibu dan anak itu meninggalkan makam terus menuju parkiran mobil.


Begitu sampai Bu Hellen langsung membicarakan tentang ajakannya kepada putri bungsunya untuk tinggal bersamanya di Jakarta.


"Viola, ambumu sekarang sudah nggak ada. Artinya, nggak ada lagi keluarga yang menemanimu di sini. Otomatis kamu harus ikut mama tinggal di Jakarta."


"Aku bisa tinggal sendiri di sini, Ma," kata Viola bernada mendesah sambil memandang ke arah lain. Tampak matanya sembab karena menangis.


"Jangan begitu, Ola," kata Jennie ikut membujuk sambil memegang kedua pundak adiknya itu. "Ikutlah kami tinggal di Jakarta, sekaligus juga kamu kuliah di sana...."


"Beri kesempatan pada mama untuk mencurahkan kasih sayangnya kepadamu," lanjut Jennie, "yang selama ini nggak diberikan kepadamu."

__ADS_1


"Mama dan Kak Jennie bisa menerima kehadiranku di sana," kata Viola mengemukakan ganjalan perasaannya. "Tapi orang tua dan lelaki sombong itu, apakah mereka mau menerima kehadiranku di sana?"


Yang Viola maksud orang tua dan lelaki itu adalah papa dan kakak lelakinya, Miko. Hingga saat ini dua orang itu belum mau menerima penampilannya yang berdandan ala laki-laki seperti ini.


"Kamu jangan memikirkan soal itu," kata Bu Hellen bernada lembut mencoba menenangkan keresahan Viola. "Itu urusan mama dengan papa dan kakakmu itu...."


"Yang penting kamu mau ikut mama tinggal di Jakarta, Sayang," lanjut Bu Hellen masih tetap membujuk.


Dulu, waktu Viola masih kecil, semua keluarganya tidak menerimanya berpenampilan ala laki-laki, termasuk mama dan kakak perempuannya, Jennie.


Mereka semua menginginkannya berpenampilan feminim sebagaimana penampilan perempuan pada umumnya. Menginginkannya berwatak dan bersikap sebagaimana perempuan, bukan seperti laki-laki.


Hingga akhirnya sewaktu Viola berumur kelas 7 SMP, Bu Hellen, mamanya mengirimnya ke tempat bibinya yang tinggal di Bogor. Sejak saat itulah dia tinggal bersama bibinya hingga bibinya meninggal karena sakit keras.


Mama dan kakak perempuannya sebenarnya belum lama menerima gaya hidupnya seperti itu. Yaitu ketika dia baru tamat dari SMA. Atau lebih tepatnya sekitar 1 tahun lebih yang lalu.


Sementara itu Bu Hellen dan Jennie terus membujuk Viola agar tinggal bersama mereka di Jakarta. Namun Viola tetap menolak untuk tinggal bersama keluarganya di Jakarta. Dia lebih senang tinggal di Bogor.


Tapi Bu Hellen dan Jennie terus saja membujuknya seakan tak kenal menyerah. Terutama Bu Hellen yang bersikukuh mengajaknya ke Jakarta.


Lama kelamaan Viola merasa kasihan juga pada mamanya itu. Hingga akhirnya dia menuruti juga keinginan mamanya untuk tinggal di Jakarta. Dengan ketentuan....


"Aku mau ikut kalian ke Jakarta dengan ketentuan kalau aku nggak mau tinggal di rumah orang tua itu," kata Viola memberi syarat.


"Oh itu bisa diatur, kamu tenang saja," kata Bu Hellen cepat seakan mementahkan ucapan Jennie yang seperti tidak setuju dengan syarat yang diajukan Viola. "Yang penting kamu mau ikut mama ke Jakarta.


Mendengar ucapan mamanya itu yang seperti setuju dengan syarat yang diajukan, akhirnya Viola mau ikut ke Jakarta.


Setelah mengambil pakaian dan barang-barangnya di rumah bibinya, barulah Viola berangkat ke Jakarta bersama mama dan kakak perempuannya dengan mengendarai mobil. Dan yang menyetir adalah Jennie.


★☆★☆


Tidak lama kemudian, setelah menempuh perjalanan sekian jam, barulah rombongan kecil itu sampai di kediaman Mahendra pada malam hari.


Dan baru saja Viola memasuki rumah megah nan mewah itu, dia sudah disambut sikap dingin dan sinis dari sang papa dan kakak laki-lakinya.


Tampak sekali tatapan mata kedua lelaki itu menyorotkan rasa antipati yang sangat terhadap penampilan tomboy dari Viola. Seakan-akan mereka melihat musuh yang harus dijauhi dengan sejauh-jauhnya.


Sebenarnya Viola tidak habis pikir, apa yang salah dengan penampilannya seperti ini? Toh bukan dia satu-satunya wanita yang berkarakter tomboy seperti itu. Ada banyak wanita yang seperti itu di luaran sana.


"Kenapa kamu datang ke mari, Gadis Tomboy?" sapa Miko bernada sinis penuh penghinaan. "Apa kamu sekarang tiba-tiba merasa ketakutan karena ditinggal mati oleh bibi kesayanganmu?"


Mendengar ucapan yang penuh penghinaan dari Miko, Viola tampak tenang-tenang saja, dibawa santai saja. Dia sudah menduga kalau pemuda angkuh itu akan melontarkan kata-kata seperti itu.

__ADS_1


"Miko, mama harap kamu bisa menerima kehadiran adik bungsumu ini di rumah ini," kata Bu Hellen melakukan pembelaan terhadap Viola, "karena ini adalah keputusan mama."


"Juga mama harap," lanjutnya, "kamu bisa mengontrol ucapanmu agar tidak mengatakan sesuatu yang menyinggung perasaannya."


"Mama lebih menjaga perasaan gadis jadi-jadian itu," kata Pak Mahendra cepat bernada datar bercampur sinis, "ketimbang menjaga martabat leluhur keluarga kita."


"Mama 'kan sudah tahu sendiri," lanjutnya, "bahwa semua kerabat papa dan kerabat mama tidak ada yang berpenampilan seperti putri jadi-jadianmu itu. Kenapa mama malah membelanya sekarang?"


"Ada apa dengan mama? Apa mama sudah tidak lagi menghormati leluhur keluarga kita?"


"Sudah, Pa!" kata Bu Hellen tidak ingin berdebat. "Jangan dulu membahasnya sekarang! Viola baru tiba dari Bogor. Biarkan dia istirahat dulu!"


"Benar, Pa," kata Jennie mendukung, "biar Ola istirahat dulu! Apalagi dia masih berkabung atas kematian Bibi Herlina."


"Aku heran dengan mama dan kamu, Jenn," kata Miko bernada menyesalkan tindakan pembelaan mereka terhadap Viola, "kenapa tiba-tiba kalian seperti mendukung perbuatan gadis tomboy itu?"


"Apakah kalian ingin membiarkan dia mencoreng martabat leluhur keluarga kita?" lanjutnya.


"Aku heran dengan kalian ini," kata Viola melontarkan protes, "apa yang salah dengan penampilanku kayak gini? Toh aku bukanlah satu-satunya perempuan yang berpenampilan kayak gini."


"Bahkan di luaran sana banyak," lanjutnya. "Kenapa kalian nggak protes pada mereka juga? Kenapa cuma aku?"


"Aku tidak perduli dengan gadis jadi-jadian di luaran sana!" kata Pak Mahendra mengeram marah. "Aku hanya fokus mengecam kamu karena perbuatanmu itu telah menyalahi adat leluhur keluarga Mahendra!"


"Sudah, Pa, sudah!" kata Bu Hellen sedikit meninggi suaranya. "Jangan dulu membahas itu! Biarkan Viola istirahat dulu!"


Lalu dengan cepat dia menoleh pada Jennie, terus berkata kepadanya bernada memerintah.


"Jenn, antarkan adikmu di kamarnya!"


"Baik, Ma," sahut boss muda itu dengan patuh.


"Ayo, Ola, kita ke kamarmu!" ajak Jennie bernada lembut seraya tersenyum.


Viola tidak berkata apa-apa tapi mengikut saja ke mana Jennie membawanya. Hingga mereka menaiki undakan tangga lantai atas Viola masih tetap diam.


Namun pikirannya terus berjalan, memikirkan kejadian yang barusan terjadi. Dan memikirkan mengenai kelanjutan apakah dia betah di rumah ini atau dia tinggal di luar sana saja?


Mungkin lebih baik dia ngekos saja ketimbang dia tinggal di rumah ini. Kejadian-kejadian seperti tadi besar kemungkinan akan terus berlanjut sepanjang papanya dan Miko tidak menerima gaya hidup dia yang katanya menyalahi adat leluhur keluarganya.


Tapi dia tidak mau memikirkan lebih dalam dulu. Malam ini dia mau tidur dulu. Karena bukan badannya saja yang letih, hati dan pikirannya juga amat letih. Apalagi hingga kini dia masih bersedih atas kematian ambunya.


★☆★☆★

__ADS_1


__ADS_2