
Setelah keluar dari tangga lift yang menuju lantai 5, rombongan Pak Mahendra terus melangkah cepat mengikuti karyawan utusan yang ditugaskan memanggil mereka.
Tak lama kemudian, sampailah mereka di sebuah tempat atau ruangan yang cukup luas. Sepertinya ruangan itu berada di sudut gedung.
Hal itu ditandai dengan kedua sisi ruangan itu terbuat dari kaca. Dan tentu saja langsung memperlihatkan akan keadaan di luar gedung.
Pak Mahendra dan orang-orang yang mengikutinya tidak perduli dengan desain ruangan yang elegan itu. Mereka langsung fokus menatap Raihan yang duduk di salah satu kursi empuk yang ada di ruangan itu.
Tatapan mereka itu bukan sembarang tatap. Melainkan tatapan penuh kebencian dan permusuhan.
Di ruangan itu bukan cuma ada Raihan. Tapi juga ada Bayu yang sudah pasti, Shafira dan Aira, serta seorang gadis cantik yang tidak lain adalah sekretaris Raihan.
Tampak mereka sebelumnya masih asyik ngobrol. Tapi begitu menyadari kehadiran rombongan Pak Mahendra, obrolan otomatis berhenti. Terus mereka semua memandang para tamu yang baru datang itu.
Namun Miko cuma sebentar menatap Raihan. Dia kini lantas beralih menatap Aira yang duduk bersebelahan dengan Bayu.
Sorot kedua mata Miko saat menatap Aira jelas lain. Pancaran tatapan itu begitu lembut, menyembunyikan rasa cinta yang masih tersimpan rapi. Bahkan terukir sedikit senyum di bibir pemuda itu.
Pancaran mata lembut itu sudah membuktikan kalau Miko belum bisa melupakan Aira, mantan kekasihnya dahulu. Masih ada cinta di situ yang diharapkan akan terjalin lagi, tapi entah kapan.
Yaaah..., Miko dan Aira memang pernah pacaran, sebelum Miko berpacaran dengan Melinda.
Sebab mereka berpisah bukan karena Miko telah mengenal Melinda. Melainkan sebabnya tidak lain karena Aira adalah putrinya Pak Sudrajat, yang mana Pak Sudrajat itu adalah adik dari Pak Baskoro.
Adapun Miko adalah putranya Pak Mahendra. Sedangkan di antara kedua keluarga tersebut terjerat permusuhan yang sudah lama.
Maka mau tidak mau jalinan hubungan asmara mereka harus putus dengan sebab tersebut.
Sementara Aira yang ditatap oleh Miko, bersikap seolah tidak menganggap kehadiran pemuda itu. Dia cuma memandang rombongan Pak Mahendra sebentar, sudahnya itu melengos ke lain arah.
Tapi sikapnya jelas menunjukkan kebencian terhadap Miko maupun Pak Mahendra. Sepasang mata indahnya saja menyorotkan kemarahan. Tapi di situ tersembunyi duka, pilu bercampur dengan rindu.
Karena Miko memandang ke arah Aira, maka jelaslah Bayu dapat melihat pancaran mata Miko yang berbeda. Dari situ dia sedikit bisa menyimpulkan kalau antara Miko dengan Aira pernah ada hubungan.
Atau mungkin Miko pernah menyukai Aira dan ingin menjadi pacarnya. Namun Aira tidak menggubris Miko karena sebab tertentu.
Atau....
Sementara itu karyawan yang mengantar rombongan segera menghampiri Raihan dengan sikap begitu hormat. Menyampaikan kalau orang-orang yang ingin bertemu dengan sang boss telah diantar kemari.
Kemudian, setelah berbasa-basi sebentar, karyawan tersebut meninggalkan ruangan itu. Sedangkan rombongan Pak Mahendra segera duduk di kursi sesuai yang mereka inginkan setelah dipersilahkan duduk.
Namun rombongan Pak Mahendra itu belum ada seorang pun di antara yang berbicara. Hanya saja Mereka masih menatap Raihan dengan sorotan tajam. Sehingga membuat suasana dibungkam kebisuan.
★☆★☆
"Mas Rai, sebaiknya aku keluar aja ya," tiba-tiba Aira memecah kebisuan. "Aku kayaknya masih ada kerjaan yang belum aku selesaiin."
"Ya udah, kamu boleh pergi," kata Raihan bernada lembut. "Kamu juga, Shinta, boleh ninggalin ruangan ini!"
__ADS_1
"Baik, Tuan," patuh sekretaris cantik itu yang ternyata bernama Shinta sembari kepalanya menunduk hormat.
Kemudian dia segera mengumpulkan berkas-berkas yang tergeletak di atas meja di depannya, memasukkan ke dalam map, lalu dia keluar dengan agak cepat.
Sedangkan Aira bagai sedang merayu mengajak Bayu untuk ikut bersamanya.
"Mas Bay ikut aku ya! Bantuin aku ngerjain tugasku! kayaknya cuma kamu deh yang bisa ngerjain...."
Gaya berbicara gadis berambut sepundak itu bagai seorang gadis merajuk manja kepada kekasihnya. Hal itu dilakukan dengan sengaja, karena hendak membuat Miko menjadi panas.
Memang Miko langsung panas sebenarnya melihat sikap Aira terhadap Bayu. Tapi dia tidak bisa berbuat apapun karena ada papanya di sini.
"Kamu aja yang keluar," sungut Bayu sedikit kesal dengan sikap dan gaya Aira. "Aku akan tetap menemani Tuan Muda di sini."
"Ih, Mas Bay...," kata Aira masih merajuk manja.
"Kayaknya aku juga harus ninggalin ruangan deh, Rai," kata Shafira sambil berdiri dan melihat jam tangannya. "Aku juga masih ada kerjaan penting."
"Ya nggak papa," tanggap Raihan bersikap bijak. "Biar aku yang menemani tuan-tuan ini bersama Bayu."
"Ayo, Aira!"
Tanpa meminta persetujuan Aira, Shafira menarik tangan Aira, lalu meninggalkan ruangan. Sedangkan Miko masih sempat curi-curi pandang menatap Aira.
"Sebenarnya saya sudah menduga Tuan-tuan akan datang ke mari menemui saya," Raihan membuka suara saat Shafira dan Aira sudah tidak ada di dalam ruangan.
"Kenapa putriku bisa meninggal?" tiba-tiba Bu Yunita bertanya dengan nada berang seolah menuduh. "Aku yakin kamu pasti tahu."
Namun rasa bencinya terhadap Raihan tidak hilang. Terkhusus mengenai kematian Melinda, putrinya yang sungguh mengenaskan.
"Anda menuduh saya yang menyebabkan Melinda meninggal, Nyonya?" kata Raihan bernada tenang. Sikapnya juga tenang bagai air telaga.
"Ya, kamu dan temanmu itu pasti penyebabnya!" kata Bu Yunita menuduh terang-terangan.
Bayu, si pria dingin, mendengar Bu Yunita ikut menuduhnya atas kematian Melinda, tetap tenang-tenang saja. Tidak terpancing dengan tuduhan wanita tua itu yang serampangan.
"Alasannya?" tanya Raihan masih tenang, masih santai.
"Kamu pernah ditolak oleh putriku," sahut Bu Yunita bernada berang, seperti asal bicara saja, "kamu dendam sama dia, pasti. Lalu kamu dan temanmu itu bersekongkol membunuhnya dengan mencelakainya hingga jatuh ke dalam jurang...."
"Apakah ada bukti secara real kalau kami yang membunuh putri Anda, Nyonya?" tanya Raihan masih tenang menghadapi sikap Bu Yunita yang membabi-buta. "Ada tanda-tanda fisik yang membuktikan tuduhan Anda itu?"
Bu Yunita langsung bungkam mendengar pertanyaan mendasar dari Raihan itu. Dia tidak bisa lagi berargumen untuk membuktikan tuduhannya itu.
Kondisi mobil Melinda saat ditemukan memang mengalami kerusakan yang cukup parah. Menurut hasil pemeriksaan kalau mobil Melinda tidak melulu jatuh ke jurang tanpa sebab.
Tidak juga rem mobilnya blong. Melinda juga saat diperiksa tidak dalam keadaan mabuk atau meminum sesuatu yang membuatnya tidak sadar.
Saat diperiksa kalau Melinda meninggal murni karena kecelakaan tersebut.
__ADS_1
Sebab terkuat kenapa mobil Melinda bisa masuk ke dalam jurang, yaitu karena ditabrak oleh kendaraan lain. Terbukti ditemukan di bagian belakang sebelah kanan mobil itu ringsek parah.
Kuat diduga kalau mobil Melinda ditabrak oleh mobil yang ukurannya lebih besar dari mobil itu. Bisa jadi truk menurut dugaan polisi.
Kesimpulannya, Bu Yunita tidak bisa memberikan bukti yang menjurus secara langsung kalau Raihan dan Bayu yang membunuh Melinda.
★☆★☆
"Kami memang tidak bisa memberikan bukti secara langsung yang menuduh kalian sebagai sebab atas terbunuhnya Melinda, putri kami," kata Pak Darmawan, meski mengakui tapi bersikap membenci.
"Tapi latar belakang antara kamu dengan putri saya cukup jelas," lanjut Pak Darmawan tetap tenang mengatur intonasi bicaranya agar tidak emosi seperti istrinya. "Kamu pernah pacaran dengan putri saya."
"Namun menurut pengakuan Melinda, kamu bisa pacaran dengan dia karena kamu merayunya hingga dia suka sama kamu," lanjut Pak Darmawan.
"Hingga akhirnya dia sadar akan kekeliruannya berpacaran dengan kamu," Pak Darmawan masih lanjut. "Makanya dia minta putus sama kamu. Tapi kamu sepertinya tidak terima dengan keputusan putri saya, makanya kamu dan temanmu itu berniat membunuhnya. Dan kalian berhasil."
Panjang lebar Pak Darmawan berbicara tanpa Raihan menyela sedikitpun. Bayu pun juga hanya mendengarkan saja tanpa berminat menyanggahnya. Karena menurutnya penuturan Pak Darmawan cuma tuduhan sepihak.
Sedangkan Pak Mahendra yang tidak terlalu tahu banyak tentang masalah itu juga memilih diam saja. Dia menilai kalau Raihan itu adalah orang yang cerdas.
Jika dia salah-salah bicara, takutnya Raihan akan membalikkan ucapannya.
Sementara Miko yang sebenarnya tidak mencintai Melinda tidak berminat membantu memojokkan Raihan. Dia nanti akan fokus saja membicarakan tentang tujuan mereka menemui Raihan.
Sekarang dia harus menjaga ucapannya dengan Raihan. Karena dia tahu kalau Raihan ternyata sepupu Aira, gadis yang masih dicintainya.
Apa masud pemuda itu sebenarnya?
Setelah Pak Darmawan selesai berkata, maka Raihan langsung menyanggahnya dengan sikap tenang dan kalem.
"Anda dan istri Anda menuduh saya dan teman saya ini telah merencanakan pembunuhan terhadap Melinda, berdalih dengan sangkaan kalian bahwa saya sakit hati karena diputusin oleh Melinda...."
"Tuduhan yang kalian lontarkan kepada kami itu," lanjut Raihan, "sama sekali tidak berdasar. Kalian hanya mencari-cari dalih untuk menguatkan tuduhan kalian."
"Di mana kalian berada saat malam kejadian?" tanya Pak Darmawan bernada tajam. Jelas sikapnya masih menuduh Raihan dan Bayu.
"Asal Anda tahu, kejadian saat Melinda ditabrak saja kami tidak tahu," kata Raihan tetap tenang. "Bagaimana Anda bertanya kami berada di mana saat malam kejadian?"
"Bohong!" berang Bu Yunita berapi-api. "Kalian pasti tahu kejadiannya saat Melinda kecelakaan, karena kalian yang membunuhnya. Untuk menutupi kebusukan kalian, kalian buat seolah-olah putriku meninggal karena kecelakaan."
"Kenapa hati kalian begitu jahat terhadap putriku?" lanjut Bu Yunita setengah membentak. "Sebegitu besarkah kesalahan putriku, sehingga kalian tega membunuhnya?"
"Berhentilah menuduh kami sebagai pembunuh putri Anda, Nyonya!" kata Bayu yang sedari tadi diam saja. "Tuduhan Anda itu tidak ada bukti kongkritnya."
"Asal kalian tahu, pembunuh Melinda yang sebenarnya adalah kalian sendiri," kata Raihan selanjutnya.
"Kenapa kamu bisa berkata begitu?" tanya Pak Darmawan terkejut heran. "Apa kamu punya bukti?"
Tentu saja Pak Darmawan maupun Bu Yunita terkejut mendengar ucapan Raihan itu. Tidak terkecuali Pak Mahendra dan Miko.
__ADS_1
Apa maksud Raihan mengatakan demikian? Apakah dia punya bukti?
★☆★☆★