
"Dulu, Tuan Muda berpacaran dengan putri kalian atas suka sama suka," yang berbicara adalah Bayu. "Mereka saling mencintai asal kalian tahu! Bukan karena Tuan Muda memaksa atau merayu, atau semisalnya.... Mereka berpacaran sejak Melinda masih SMA."
"Saya bukan mau mendengar ocehanmu yang tidak ada gunanya itu," kata Pak Darmawan mendengus sinis. "Saya mau kalian menunjukkan bukti kalau kami penyebab kematian putri kami seperti tuduhan kalian."
"Kamu jangan mengarang-ngarang bicara!" dengus Bu Yunita berang menanggapi penuturan Bayu. "Melinda nggak pernah mencintai Tuan Muda-mu itu. Itu karena dia merayu putriku, bahkan mungkin memeletnya."
"Kalian telah memunculkan pria itu di antara hubungan mereka," lanjut Bayu sambil menunjuk Miko seolah tidak menggubris ucapan kedua orang tua itu, "membuat hubungan mereka menjadi kacau...."
"Hingga akhirnya hubungan mereka putus, tepatnya Melinda yang meminta putus," lanjut Bayu. "Apa kalian tahu sebab yang sebenarnya kenapa Melinda minta putus sama Tuan Muda?"
Tak ada reaksi yang berarti dari Miko saat mendengar Bayu menautkan dirinya barusan dalam masalah kematian Melinda. Dia hanya mendengus sinis saja, tidak berkomentar apa-apa.
"Itu karena Melinda udah nyadar kalau sebenarnya dia nggak cocok sama Raihan," sergah Bu Yunita makin berang.
"Putri kalian sudah tidak tahan lagi mendengar kalian terus menghina Tuan Muda, menghalangi hubungan mereka," kata Bayu seolah menjawab pertanyaannya sendiri, tanpa menggubris ucapan Bu Yunita, "lebih mementingkan perjodohan. Akhirnya Melinda menyerah dan minta putus."
Sementara itu Pak Mahendra masih diam saja. Seakan dia masih tidak berminat mengomentari semua penuturan kedua pemuda itu. Padahal Bayu sudah menyinggung masalah perjodohan putranya dengan Melinda.
Entah apa yang ada dalam benak pak tua itu, apa yang dia rencanakan dalam situasi begini? Hanya kedua matanya yang tajam terus saja menatap Raihan dan Bayu secara bergantian.
"Anak Muda!" Pak Darmawan beralih memandang Raihan dengan sorotan sinis penuh peremehan. "Dari tadi temanmu itu yang terus saja mengoceh. Apa kamu sudah kehabisan kata-kata untuk bicara?"
"Apa yang dikatakan teman saya ini adalah ucapan saya juga," sahut Raihan masih tetap tenang. "Saya yang berkata atau dia sama saja."
"Kalau begitu apa bukti ucapanmu kalau kami yang menyebabkan Melinda meninggal?" tanya Pak Darmawan seakan mengulang pertanyaannya tadi.
"Coba kalian pikirkan! Anda menjodohkan Melinda dengan pemuda itu demi kepentingan bisnis," kata Raihan sambil melirik Miko. "Tapi, apakah kalian perduli dengan perasaan Melinda?"
"Saya rasa tidak," kata Raihan lagi seakan menjawab sendiri pertanyaannya, "kalian tidak perduli dengan perasaannya, kalian tidak perduli dengan siapa yang lebih dia cintai."
"Asal kalian tahu, Melinda sebenarnya lebih mencintai seseorang yang bernama Raihan, yaitu saya," lanjut Raihan terus menyerang pikiran kedua orang tua itu, "ketimbang perjodohan yang kalian atur, ketimbang mencintai pemuda yang kalian jodohkan dengannya itu."
__ADS_1
"Huh! Kamu terlalu ke-PD-an, Anak Muda," dengus Bu Yunita sinis. "Jangan ngaku-ngaku putriku lebih mencintai kamu. Nyatanya dia minta putus sama kamu. Itu artinya apa...? Dia nggak mencintai kamu...."
"Nyatanya putriku menyukai dijodohkan sama Miko," lanjut Bu Yunita tidak mau kalah serang dengan Raihan. "Buktinya mereka saling mencintai."
Lalu dia beralih memandang Miko, terus berkata seolah mencari dukungan, "Bukankah begitu, Miko?"
"Oh, eh..., iya iya..., kami memang saling mencintai," sahut Miko sedikit kelabakan. "Lu... lu jangan terlalu merasa kecakepan deh. Melinda tuh cintanya sama gue, bukan ama lu."
Hal yang tidak diinginkan Miko sejak tadi akhirnya terjadi pula, Bu Yunita melibatkan dirinya dalam pembicaraan. Akhirnya dia menjawab pertanyaan Bu Yunita sedikit tidak teratur, bahkan terkesan asal.
★☆
Untung saja Pak Mahendra, papanya yang sedari tadi diam saja ikut pula angkat bicara. Hal itu jelas membatu dirinya dalam menjelaskan perkara.
Meskipun hal itu adalah suatu kepalsuan. Karena nyatanya dia tidak mencintai Melinda sama sekali.
"Sepertinya kamu terlalu mencari-cari alasan dengan menyalahkan perjodohan, Anak Muda," kata Pak Mahendra sambil tersenyum sinis. "Seolah-olah perjodohan itu kamu anggap suatu keaiban."
"Apakah kepalsuan kalian menganggap fakta?" kata Raihan tetap tenang di kursinya sambil tersenyum santai.
"Palsu apanya?!" sanggah Bu Yunita yang tidak bisa menahan bicara. "Kami melihat sendiri kalau mereka saling mencintai. Itu fakta!"
"Berarti kamu menganggap cinta yang terjalin antara Melinda dengan Miko adalah palsu?" Pak Darmawan makin penasaran dengan pikiran Raihan.
"Benar," sahut Raihan yakin. "Saya yakin cinta yang terbentuk di antara mereka itu adalah kepalsuan. Yang mereka tampakkan di depan mata kalian adalah cinta yang palsu."
"Tuan Miko sama sekali tidak mencintai Melinda," lanjut Raihan lebih memantapkan pernyataannya. "Begitu juga sebaliknya, Melinda sama sekali tidak mencintai Tuan Miko."
Sampai di sini tidak ada yang menyanggah pernyataan Raihan. Mereka semua bungkam seolah kehabisan kata-kata untuk menyanggah.
Sedangkan Miko memang tidak bisa berkata apa-apa, karena apa yang dikatakan Raihan adalah benar.
__ADS_1
Dan karena pihak Pak Darmawan maupun pihak Pak Mahendra masih bungkam, Raihan lanjut berbicara.
"Perlu kalian ketahui, saya tidak menyalahkan perjodohan. Yang saya sayangkan adalah maksud kalian mengadakan perjodohan, yaitu demi kepentingan bisnis...."
"Ditambah lagi kalian terlalu menekan perasaan mereka dengan ego kalian," lanjut Raihan, "tanpa perduli dengan kehendak mereka, tanpa bertanya siapa yang mereka cintai sebenarnya."
"Kalian terlalu berangan-angan dengan teori perjodohan yang kalian buat," Raihan masih lanjut karena belum ada yang berkomentar. "Sehingga kalian tertipu, kepalsuan kalian anggap fakta."
"Tuan Darmawan, Nyonya Yunita!"Raihan fokus memandang kedua orang tua itu. "Saya rasa semua penjelasan yang saya sampaikan tadi sudah cukup membuktikan kalau kalianlah yang menjadi sebab kematian Melinda."
"Kalianlah pembunuh Melinda yang sebenarnya!" Raihan lebih menekankan ucapan terakhirnya itu.
"Kamu jangan asal bicara, Raihan!" bantah Bu Yunita seakan asal bicara saja karena terbalut oleh emosi. "Kamu dan temanmu itulah pembunuh putriku yang sebenarnya. Aku akan melaporkan perbuatan kalian ke polisi!"
Bu Yunita semakin memuncak amarahnya karena Raihan terus menuduh dia dan suaminya sebagai pembunuh putri mereka sendiri.
"Silahkan!" tantang Raihan dengan mantap. "Kalian mau melapor polisi tentang masalah ini silahkan saja! Tapi saya pastikan kalau kalian yang akan terlibat dengan kepolisian jika kalian berani lapor polisi."
"Kamu juga mengancam kami, Anak Muda?" tanya Pak Darmawan bernada dingin.
"Oh tidak, saya tidak mengancam," sahut Raihan santai. "Saya hanya mengingatkan."
"Pa, sebaiknya kita tinggalkan saja tempat sialan ini," pinta Bu Yunita akhirnya menyerah. "Berlama-lama dengan anak yang sombong dan sok ini, bikin darah tinggiku naik."
"Kamu benar," kata Pak Darmawan sependapat. "Makin lama meladeni anak sialan itu, ucapannya makin ngawur."
Lalu Pak Darmawan berbasa-basi sebentar kepada Pak Mahendra dan Miko, setelah melontarkan dengusan kekesalan kepada Raihan dan Bayu, kemudian dia dan istrinya meninggalkan ruangan yang elegan itu.
Tanpa berpamitan kepada Raihan selaku tuan rumah. Tapi Raihan maupun Bayu tidak menanggapi kekurang ajaran mereka.
★☆★☆
__ADS_1