Kisah Sang CEO Muda

Kisah Sang CEO Muda
BAB 44 KUNJUNGAN PAK MAHENDRA DAN PAK DARMAWAN KE PERUSAHAAN RAIHAN


__ADS_3

Dua buah mobil sedan berjalan pelan mendekati serambi depan gedung PT. Buana Persada. Begitu sampai di dekat tangga bawah serambi gedung, kedua mobil sedan mewah itu berhenti di situ.


Beberapa kejap berikut masing-masing supir kedua mobil sedan itu keluar dengan cepat hampir bersamaan. Lalu kedua supir itu dengan cekatan membuka pintu belakang mobil masing-masing tuan mereka.


Sedangkan pintu belakang sebelah kiri mobil yang ada di depan di buka sendiri oleh penumpangnya, yaitu seorang pemuda tampan, tanpa pak supir yang membukanya. Maka dialah yang pertama keluar dari ketiga penumpang lainnya.


Dia adalah Miko Vebrian, anak ke dua Pak Mahendra yang juga ikut dalam rombongan kecil ini yang duduk satu mobil bersama Miko. Sedangkan dua yang lainnya yang menumpangi mobil yang ada di belakang adalah Pak Darmawan dan Bu Yunita Anggraini, istrinya.


Sudah bisa ditebak kedatangan orang-orang kaya itu ke PT. Buana Persada ini maksudnya apa. Mereka pasti akan menemui Raihan.


Pak Mahendra dan putranya hendak bertemu dengan Raihan terkait minggatnya Viola dari rumah yang hingga sekarang mereka belum tahu kabarnya.


Sedangkan Pak Darmawan dan istrinya hendak bertemu dengan Raihan dalam kaitannya dengan kematian Melinda yang amat tragis.


Sekitar beberapa hari lamanya keluarga Pak Mahendra mencari informasi tentang Raihan, akhirnya mereka mendapatkan juga.


Sebenarnya pencarian tersebut sempat terhambat. Itulah makanya kenapa mereka bisa lama mendapatkan informasi tentang Raihan.


Hal itu tak lain karena keluarga Pak Mahendra mau tidak mau harus turut dalam belasungkawa bersama keluarga Pak Darmawan atas kematian Melinda yang menurut pemeriksaan diakibatkan oleh kecelakaan.


Di samping antara Pak Mahendra dengan Pak Darmawan terjalin hubungan kerja sama bisnis, pula Miko berpacaran dengan Melinda meski atas hubungan perjodohan. Itulah makanya mereka turut berbelasungkawa pula.


Begitu keluarga Pak Mahendra mendapatkan informasi tentang Raihan, tentu saja mereka terkejut dibuatnya. Masalahnya, Raihan ternyata seorang CEO PT. Buana Persada yang mereka datangi ini.


Awalnya mereka meremehkan tentang siapa Raihan itu. Tidak tahunya dia ternyata seorang pemilik perusahaan sekaligus CEO-nya.


Lebih terkejut lagi ternyata Raihan dengan nama lengkap Raihan Pratama adalah putra Pak Baskoro, tepatnya anak ke tiga. Sebagaimana diketahui antara keluarga mereka dengan keluarga Pak Baskoro sudah lama bermusuhan.


Jadi, seandainya benar Viola dan Raihan telah menjalin hubungan cinta, sebagaimana dugaan Jennie, maka mereka harus memisahkannya. Harus!


Tidak boleh Raihan berpacaran dengan Viola!


Keluarga mereka sudah bertekad tidak akan pernah lagi menjalin hubungan apapun dengan keluarga Pak Baskoro. Selamanya!


Oleh karena itu, jika Viola ternyata ada bersama Raihan, maka mereka harus mengambilnya walaupun secara paksa.


Adapun keluarga Pak Darmawan hendak bertemu Raihan, pasti akan menyoal tentang kematian putri mereka empat hari yang lalu. Singkatnya mereka menduga bahwa Raihan ada hubungannya dengan kematian Melinda.


Di sisi lain Bu Yunita amat penasaran juga, apakah benar seorang Raihan adalah pemilik sekaligus CEO PT. Buana Persada? Yang artinya Raihan adalah orang kaya?

__ADS_1


Pasalnya, kemarin-kemarin keluarga Pak Darmawan telah menghina Raihan habis-habisan. Mereka menganggap Raihan cuma orang miskin yang tidak ada gunanya.


Menuduh Raihan berpacaran dengan Melinda hanya ingin mengincar kekayaan keluarga Pak Darmawan.


Sungguh miris!


★☆★☆


Rombongan Pak Mahendra dengan sedikit cepat segera menaiki tangga serambi gedung yang cukup megah itu. Sementara 2 mobil sedan yang membawa mereka telah dibawa oleh supir masing-masing ke parkiran.


Namun belum juga mereka memasuki pintu masuk, rombongan kecil itu langsung dicegat oleh 2 orang satpam berbadan kekar yang menjaga pintu.


Tentu saja rombongan Pak Mahendra menunjukkan mimik tidak senang dengan tindakan kedua satpam itu. Namun mereka tidak bisa mengabaikan tindakan kedua satpam tersebut kalau tidak ingin malu.


Sebelumnya mereka tadi harus bertengkar sedikit dulu dengan satpam penjaga gerbang, baru mereka bisa masuk. Mereka tidak ingin bertengkar lagi dengan penjaga pintu. Mereka tetap harus mengikuti prosedur walaupun tidak senang.


"Maaf kalau kami lancang," kata satpam yang berkumis tipis dengan sopan dan ramah. "Kalau boleh tahu siapakah Tuan-tuan ini?"


"Kami sudah dibolehkan masuk oleh boss kalian untuk menemuinya," kata Pak Mahendra bernada dingin.


Sedikit menahan geram karena jengkel. Sikap angkuhnya tak lekang dari gaya bicaranya.


Tadi satpam penjaga gerbang menghubungi Raihan lewat sekretarisnya untuk meminta persetujuan Raihan.


"Maaf, Tuan-tuan, kami hanya menjalankan tugas," kata satpam berkumis lagi masih sopan dan ramah. "Silahkan Tuan-tuan memperkenalkan diri dulu kepada kami!"


"Saya Mahendra," kata Pak Mahendra bernada dingin tidak ingin berdebat lagi. "Dan ini Pak Darmawan. Apalagi yang kalian mau agar kami lekas masuk?"


"Oh, rupanya Tuan-tuan yang ingin bertemu dengan Tuan Rai," kata satpam itu. "Silahkan masuk! Harap menunggu sebentar di ruang lobby karena Tuan Rai masih mengadakan rapat dengan klien."


"Songong benar anak itu!" celetuk Bu Yunita sinis.


Kedua satpam berbadan kekar itu tidak menggubris gerutuan Bu Yunita. Mereka membuka pintu lebar-lebar. Kemudian rombongan Pak Mahendra segera masuk tanpa disuruh lagi, tanpa bicara apa-apa lagi.


★☆★☆


Begitu sudah berada di dalam, Pak Mahendra, Pak Darmawan dan istrinya langsung menghampiri ruang lobby dan duduk di situ. Sedangkan Miko langsung pergi ke meja resepsionis.


"Di mana ruangan Raihan?" tanya Miko bernada sedikit kasar dan dingin, seakan tidak menghormati dengan siapa dia bicara. "Kami sudah ada janji bertemu dengannya."

__ADS_1


"Maaf, dengan Tuan siapa?" tanya salah seorang nona resepsionis tetap bernada sopan dan ramah.


"Kami rombongan Pak Mahendra," sahut Miko bernada jengkel, tampak dari sikapnya tidak sabaran. "Cepat beri tahu! Kami nggak punya waktu berlama-lama di sini!"


"Maaf, silahkan menunggu di ruang lobby sebentar!" kata nona resepsionis itu masih sabar. "Tuan Rai masih meeting dengan klien."


"Sial!" sungut Miko dengan kesal.


Lalu dia membalikkan badannya dengan kasar. Terus melangkah lebar menuju kursi lobby sambil bersungut-sungut.


"Keparat itu rupanya sombong juga! Baru jadi boss tingkahnya udah paling bermartabat aja! Awas lu nanti kalau ternyata Ola sama lu! Gue habisi lu!"


Lalu dia menghenyakkan tubuhnya dengan kasar di kursi lobby begitu sampai. Wajahnya sudah semakin kesal akibat tidak segera bertemu dengan Raihan.


Sementara Pak Mahendra, Pak Darmawan dan istrinya hanya melihat saja tingkah pemuda angkuh itu, meski mereka juga sudah kesalnya minta ampun karena harus menunggu Raihan dulu.


"Pa, benarkah CEO perusahaan ini adalah Raihan yang pernah pacaran dengan almarhumah putri kita?" tanya Bu Yunita sangsi. "Aku kok nggak yakin ya."


"Udah, kamu nggak usah mikir yang macam-macam!" kata Pak Darmawan seakan menasehati, tapi dengan nada kesal. "Kita buktikan aja nanti."


Tidak lama kemudian, mereka melihat serombongan orang berpakaian rapi ala pebisnis sedan melangkah menuju pintu keluar. Pak Mahendra, Pak Darmawan dan Miko tidak bisa tidak dibuat terkejut oleh siapa yang mereka lihat itu.


Rombongan itu berjumlah 10 orang dengan usia yang berbeda-beda. Bahkan sebagian berusia seperti Pak Mahendra ataupun Pak Darmawan.


Sebagian para pebisnis itu dikenal oleh Pak Mahendra, Pak Darmawan maupun Miko yang juga termasuk dari kalangan pengusaha.


"Mau apa orang-orang itu ke sini?" gumam Pak Darmawan seakan bertanya pada diri sendiri sambil terus memandang para pebisnis itu.


"Aku nggak berharap mereka menjalin kerja sama dengan Raihan," kata Pak Mahendra bernada seperti berdoa.


"Siapakah sebenarnya Raihan ini yang bisa mengundang para pengusaha ternama itu di perusahaannya?" kata Miko dalam kejutnya.


"Sebaiknya kita nggak usah memusingkan mereka kenapa bisa diundang ke mari," kata Pak Mahendra berusaha menghibur yang lain dan dirinya. "Kita fokus aja pada tujuan kita ke mari!"


"Ya, sebaiknya begitu," kata Pak Darmawan seolah setuju dengan ucapan rekan bisnisnya itu. Padahal pikirannya sedikit banyak sudah terusik oleh kehadiran para pengusaha ternana itu.


Tak lama berselang, salah seorang yang sepertinya karyawan menghampiri rombongan Pak Mahendra yang masih setia menunggu di ruang lobby. Setelah berbasa-basi sebentar, kemudian dia mengajak rombongan itu untuk menemui bossnya.


★☆★☆★

__ADS_1


__ADS_2