Kisah Sang CEO Muda

Kisah Sang CEO Muda
BAB 14 LANGSUNG TERPESONA PADA PANDANGAN PERTAMA


__ADS_3

Sore itu langit tampak begitu cerah. Sinar mentari sudah memancar dengan lembut, tidak garang lagi seperti siang tadi. Suasana yang bersahabat seperti ini kebanyakan orang memanfaatkannya dengan berjalan-jalan ke luar rumah.


Entah itu makan di luar bareng teman atau pasangan. Entah itu jalan-jalan di taman. Entah itu..., yang penting mereka melakukan sesuatu yang membuat hati mereka bahagia di sore yang cerah ini.


Namun di sore yang cerah itu justru Raihan terkena musibah. Dia harus menelan pahitnya kekecewaan lantaran ditindas oleh pelanggannya.


Pelanggannya mengorder makanan mahal di sebuah restoran mewah melalui pemuda itu. Pesanan makanan elit dan mahal itu sudah dibelikan di restoran sesuai permintaan pelanggan. Sudah diantarkan juga 3 paket makanan ke alamat tujuan.


Harga makanan mahal itu tidak main-main. Persatu paket atau porsinya seharga hampir 700 ribu. Jadi harga keseluruhan paket makanan mahal sebesar Rp. 2.000.000 lebih ditambah ongkos antar. Jumlah yang cukup fantastis.


Namun tidak disangka begitu Raihan telah tiba di alamat tujuan, dia merasakan bagai berkunjung ke tempat yang amat menyeramkan.


Bukan suasana rumah yang tampak angker atau horor. Namun si pelanggan yang menciptakan suasana horor bagi Raihan.


Awalnya Raihan sama sekali tidak menyangka alamat si pengorder ternyata adalah rumah Melinda, mantan kekasihnya. Apalagi orang yang memesan makanan mahal itu bukan atas nama gadis itu, melainkan orang lain yang ternyata adalah mamanya Melinda.


Dua wanita ibu anak itulah yang menciptakan suasana horor bagi Raihan yang melahirkan kekecewaan yang berpadu dengan kesedihan.


Kedua wanita itu yang saling bekerja sama mengkomplain pada Raihan bahwa dia kurang membelikan 1 paket lagi. Seharusnya 4 paket, Raihan malah cuma mengantarkan 3 paket makanan.


Yang berikutnya komplain mereka bahwa Raihan salah membelikan salah satu item makanan.


Tapi Raihan yakin komplain itu cuma akal-akalan mereka saja. Karena Raihan membelikan paket makanan mahal itu sesuai pesanan yang mamanya Melinda telah order.


Raihan juga tidak tinggal dia saja. Dia berusaha menjelaskan kalau paket makanan seharga Rp. 2.000.000 lebih itu sesuai dengan orderan. Raihan juga menunjukkan WA orderan paket makanan itu kepada mereka.


Namun kedua wanita ibu anak yang tetap kompak itu tetap tidak menggubris penjelasan Raihan. Mereka tetap pada komplain mereka yang jelas sekali dibuat-buat.


Tidak cukup penindasan yang dilakukan Melinda dan mamanya terhadap Raihan. Sang mama melontarkan hinaan-hinaan yang menyakitkan kepada Raihan pula.


Sebabnya apa? Sebabnya tidak lain karena Melinda memberitahukan kepada mamanya kalau Raihan inilah cowok yang mengejar-ngejarnya dulu.


Yang merayunya sedemikan rupa sehingga dia bisa jatuh cinta kepada pemuda miskin itu dan berpacaran cukup lama kepadanya. Tapi akhirnya dia memutuskan Raihan karena sadar bahwa ucapan kedua orang tuanya benar kalau Raihan memang bukan pemuda baik-baik.


Raihan memacarinya lantaran ingin mengincar kekayaan orang tuanya saja. Cuma bermodalkan ketampanannya, Raihan melancarkan niat buruk dan kejinya itu. Namun cepat digagalkan oleh Melinda dengan memutuskan pemuda miskin itu.


Begitu lihainya Melinda mengarang skenario. Sedangkan mamanya percaya begitu saja. Menambah masalah semakin runyam.


Uang sebesar Rp. 2.000.000,- lebih, tambah ongkos antar Rp. 250.000,- hilang begitu saja dalam angannya.


Kenapa dalam sehari ini Raihan ditimpa musibah yang sama dengan sahabatnya, Bayu?


Namun masalah Bayu sudah teratasi. Seorang gadis cantik bernama Aira yang sebenarnya diam-diam menyukai Bayu telah membantunya.


Sedangkan dia, siapa yang akan membantunya?


Dengan membawa kekecewaan dan kesedihan yang berpadu dengan kekesalan sehingga menghasilkan kemarahan, Raihan meninggalkan rumah yang membawa petaka baginya itu setelah mendengar pengusiran yang begitu merendahkan dari mamanya Melinda.


Sebelum pergi dari rumah Melinda, Raihan sempat melihat gadis itu tersenyum padanya. Tapi bukan senyum manis, melainkan senyum ejekan dan penghinaan, seakan Melinda memamerkan kemenangannya.


Sungguh miris....


★☆★☆


Setelah menempuh perjalanan sekitar beberapa menit, Raihan menghentikan motornya di pinggir jalan. Lalu memarkirnya di dekat kursi taman di atas trotoar.

__ADS_1


Mengambil paket makanan mahal seharga Rp. 2.000.000 lebih itu yang diletakkan di depan jok motornya. Lalu melangkah dengan gontai dan lesu menuju kursi taman di trotoar itu.


Menghenyakkan pantatnya dengan lemas ke kursi taman yang kosong itu setelah menaruh paket makanan itu di atas kursi di samping kanannya.


Wajah tampannya masih saja tampak kalut. Masih terselubung kecewa berpadu duka dan sedih. Sungguh dia belum habis pikir Melinda tega menindasnya.


Cuma lantaran dia menolak Melinda untuk diajak balikan, gadis itu langsung berubah memusuhinya. Membencinya dan menaruh dendam kepadanya. Sehingga dengan tega berbuat licik dan keji kepadanya.


Pada kalau Melinda mau berpikir secara jernih, semua peristiwa yang terjadi di antara mereka akibat ulahnya.


Tapi dasar perempuan, lebih mengedepankan perasaan daripada berpikir jernih terlebih dahulu.


Setelah lelah memandang kendaraan bermotor yang lalu lalang di depannya, Raihan beralih memandang paket makanan mahal di samping kanannya.


Sedangkan barang itu cuma duduk diam di atas kursi tanpa bisa melakukan apa--apa. Tanpa dapat merasakan perasaan Raihan yang tengah resah memikirkan paket makanan mahal itu.


Sementara itu, selagi Raihan menatap sedih paket makanan mahal di samping kanannya, tampak dari arah yang cukup jauh Viola dan Marsha. Saat itu kedua gadis cantik berbeda style itu berada di dalam sebuah mobil sedan di mana pengendaranya adalah Viola.


Tampak kedua gadis yang sudah semakin akrab itu tengah asyik bercakap-cakap santai. Selagi mereka bercakap-cakap, tanpa sengaja mereka melihat Raihan meski dalam waktu yang tidak bersamaan.


Maka tanpa sadar perbincangan di antara mereka segera terhenti dan sibuk menatap Raihan yang wajahnya masih terselubung duka berpadu sedih.


Dan pada saat pandangan pertama itu, baik Marsha maupun Viola langsung terkesan terhadap Raihan dengan kesan yang berbeda.


Saat pertama kali melihat Raihan, dalam benak Marsha seketika terbetik pikiran kalau dia seperti melihat papanya ketika masih muda. Berpikir ke arah situ, benaknya langsung teringat tentang kakak yang katanya mirip dengan papanya.


Memikirkan akan hal itu, Marsha langsung dibuat penasaran tentang kehadiran Raihan dalam pikirannya itu. Dan timbul keinginan kuat untuk mengenalnya.


Sedangkan Viola lain lagi. Terpesona, itulah kesan pertama yang timbul dalam hatinya saat melihat Raihan. Hal itu benar-benar membuatnya terkejut.


Di antara sekian banyak pemuda tampan yang pernah dia lihat, baik teman bergaulnya dulu maupun teman-teman kampusnya sekarang, tidak ada di antara mereka yang membuatnya langsung terpesona saat pertama kali melihatnya.


Paling maksimalnya di antara mereka Viola hanya sebatas mengagumi. Seperti seseorang mengagumi sebuah keindahan tanpa tertarik untuk memiliki.


Lain hal yang dirasakan saat pertama kali melihat Raihan. Dia langsung terpesona dan berkeinginan untuk memiliki. Ini benar-benar amazing!


Ternyata Viola terpesona bukan saja pada ketampanan pemuda itu, tapi dia juga seperti melihat kesabaran yang tinggi yang tersembunyi di balik wajah sedih pemuda itu.


Memikirkan akan hal itu semua, membuat Viola penasaran ingin sekali mengetahui tentang diri seorang Raihan sebenarnya.


★☆★☆


"Menepi sebentar, Lala!" pinta Marsha tak lama kemudian.


Tanpa Marsha meminta pun Viola bermaksud ingin menepikan kendaraan. Tanpa berpikir 2x dia langsung menepikan mobil sedan itu di trotoar jalan dan berhenti berjarak sekitar 30 meter dari tempat Raihan duduk.


"La, lu ngelihat cowok cool itu?" tanya Marsha sambil terus menatap Raihan yang masih memandang trenyuh pada paket makanan mahal di sampingnya.


Namun saat Marsha selesai bertanya seperti itu, tampak Raihan telah mengalihkan pandangannya menatap ke depan, seperti menatap kendaraan yang lalu lalang tak jauh di depannya.


Akan tetapi sikap pemuda itu begitu tenang bagai patung atau manekin yang tengah duduk.


"Iya, gue liat dari tadi," sahut Viola mengakui.


Dia juga terus menatap Raihan tanpa berkedip. Dan semakin kagum terhadap Raihan saat melihat mode tenang pemuda itu. Semakin membuatnya terpesona.

__ADS_1


"Kayaknya cowok itu lagi ketimpa musibah deh," lanjut Viola berkomentar. "Lu liat wajahnya sedih banget!"


"Iya sih, gue juga ngerasa kayak gitu," aku Marsha sepemikiran dengan Viola. "Tapi... lu bisa perkirain nggak cowok itu napa bisa sedih kayak gitu?"


"Gue sih nggak bisa nebak secara pasti penyebabnya apa," aku Viola terus terang.


"Tapi dilihat dari pakaiannya," lanjut Viola menganalisa, "udah jelas cowok itu pastinya tukang ojol. Kalau ngeliat keadaannya kayak gitu, rada-radanya paket yang ada di dekatnya itu nggak dibayar oleh pelanggannya."


"Sebabnya?" tanya Marsha seolah malas mikir.


"Yah..., bisa macam-macam," kata Viola mengemukakan dugaan. "Bisa jadi dia ditipu pelanggannya. Atau bisa jadi paket yang ada sama cowok itu salah beli, nggak sesuai apa yang dimaukan pelanggannya. Atau bisa juga sebab lain...."


"Kalau begitu kasian juga ya tukang ojol kayak cowok itu," gumam Marsha berkomentar.


"Ya iyalah...."


Sejenak kedua gadis cantik berbeda style itu terdiam seolah berbicara dengan pikiran masing-masing. Tapi tak lama, Marsha kembali berkata.


"La, lu masih ingat nggak gue pernah ceritain ke lu kalau kakak laki-laki gue ngilang entah kemana?"


"Iya, masih ingat. Napa emangnya?" sahut Viola sambil memandang sebentar pada Marsha.


"Lu masih ingat wajah kakak gue tu kayak siapa?"


"Kata lu kayak papa lu waktu masih muda...."


"Lu tau nggak cowok itu persis kayak papa gue masih muda...."


"Serius lu?!"


Tentu saja Viola langsung terkejut bukan main mendengar pengakuan Marsha barusan. Sampai-sampai di menatap Marsha cukup lama dengan mata yang membulat.


"Iya, La, gue serius," kata Marsha meyakinkan. "Cowok cool itu emang persis ama papa gue."


Sejenak Viola menetralkan perasaannya dulu yang sempat berdebar-debar. Dia bisa membayangkan perasaan Marsha kalau seandainya Raihan benar-benar kakak laki-lakinya yang sudah lama menghilang.


"Terus sekarang gimana?" tanya Viola setelah merasa sedikit tenang.


"Kita samperin cowok cool itu!" kata Marsha seakan menginstruksikan. "Lalu kita tanya tentang dugaan gue itu, apakah dia kakak gue atau bukan!"


"Jangan kayak gitu dulu, Sasa!" kata Viola menyarankan. "Jangan langsung kayak gitu. Lu nggak bakalan berhasil kalau lu to the point kayak gitu."


"Biasanya cowok pendiam dan tenang kayak cowok tu, rata-rata orangnya cerdas-cerdas," lanjut Viola. "Kalau lu langsung nanya kayak gitu, nggak bakalan ngaku dianya, kalau misalkan dia itu benaran kakak lu."


"Secara..., kakak laki-laki lu ngilang itu pasti punya sebab yang mendasar...."


Apa yang diuraikan Viola barusan amat dibenarkan oleh Marsha. Memikirkan hal itu, Marsha langsung menanyakan apa langkah awal yang harus mereka lakukan.


"Kita ajak kenalan dulu lah," usul Viola. "Kalau perlu kita beli paketnya yang gagal kirim itu."


"Usul yang bagus!"


"Ayo kita samperin!"


"Ayo!"

__ADS_1


★☆★☆★


__ADS_2