
Siang itu langit tampak begitu cerah, nyaris tidak ada awan yang bergelayut. Sehingga sang mentari begitu leluasa menebarkan sinar panasnya seolah hendak membakar mayapada.
Dua orang gadis cantik dengan segera keluar dari sebuah mobil sedan setelah mobil mewah itu diparkir diparkiran mobil sebuah kafe. Adapun kafe itu tidak lain adalah kafe di mana Raihan bekerja.
Begitu kedua pintu mobil itu ditutup, kedua gadis itu melangkah dengan sedikit cepat menuju pintu masuk. Dari pakaian yang mereka kenakan model blazer, bisa diduga kalau keduanya merupakan wanita kantoran.
"Aduh... panas banget hari ini!" keluh gadis berblazer biru muda sambil memayungkan telapak tangan kirinya di atas jidatnya.
"Biasa aja kali, Karin," tegur gadis berblazer merah muda yang tampak santai saja dengan cuaca panas ini. "Dari kemarin-kemarin juga udah panas."
"Tapi aku ngerasa hari ini panas banget, Boss," elak gadis yang dipanggil Karina. "Banget!"
Gadis berblazer merah muda seketika langsung berhenti dan menghentikan langkah Karin yang terpaksa harus berhenti juga. Terus menghadap ke temannya itu sambil melotot garang.
Namun bukannya tampak galak, malah makin menambah pesona kecantikannya.
"Lu panggil gue barusan apa?" katanya menegur.
Nada suaranya itu sebenarnya judes, seakan sedang marah dan menegur kesalahan. Tapi Karin tahu bossnya itu tidak marah sungguhan, cuma teguran biasa saja.
"Bu Jennie 'kan boss aku," sahut Karin dengan mimik lugu tanpa dosa, ditambah senyumnya yang kece.
"Lu ni ya!" geram gadis yang ternyata bernama Jennie tampak geregetan. "Berapa kali gue udah kasi tahu kalau bukan di dalam kantor, lu mesti manggil gue nama aja, bukan 'boss' atau 'bu'! Ngerti nggak sih lu?"
"Aduh, Mbak Jennie! Aku takutnya kalau kebiasaan manggil Mbak dengan nama aja," kata Karin beralasan, "takutnya nanti keceplosan saat berada di kantor."
"Mendingan lu keceplosan di kantor ketimbang lu keceplosan di luaran kaya gini."
"Tapi, Boss...."
"Udah, nggak usah ngebantah! Awas lu nyampe salah manggil lagi, gue potong beneran gaji lu!"
"Aduh..., jangan potong gaji aku ya, Jenn!" mohon Karin tanpa sadar memanggil nama saja pada atasannya itu. "Aku janji nggak bakalan membantah lagi."
"Gitu dong," kata Jennie seraya tersenyum ceria.
"Eh, lu manggil apa tadi ke gue?"
"Jenn," sahut Karin dengan nada berusaha sesantai mungkin.
"Ya gitu," kata Jennie makin senang. "Kalau bisa lebih santai lagi, lebih rileks lagi."
"Jenn! Jadi nggak kita ke kafe?" kata Karin cemberut seakan tidak menggubris ucapan bossnya. "Panas nih!"
"Hahaha...! Lu kalau cemberut gitu makin lucu, makin imut," kata Jennie mencandai gadis muda yang sebenarnya sekretaris sekaligus asistennya sambil tertawa renyah.
"Nggak lucu!" dengus Karin makin cemberut.
Lalu menyambar tangan bossnya terus mengajaknya masuk ke dalam kafe dengan sedikit tergesah-gesah. Sepertinya si Karin sudah tidak tahan lagi cuaca panas. Ditambah lagi dia makin lapar.
Sedangkan Jennie harus cepat mensejajarkan langkahnya dengan gadis lincah itu kalau tidak ingin ditarik bagai kerbau. Tapi dia senang menikmati suasana seperti itu. Dia tidak ingin disanjung atau dihormati oleh bawahannya dengan terlalu berlebihan.
Sambil melangkah menuju bangunan kafe, kedua gadis cantik itu berbincang-bincang ringan. Kalau orang melihat dan tidak tahu status di antara mereka, tentu orang akan mengira bahwa mereka cuma sekedar teman akrab.
Tapi siapa sangka kalau kedua gadis cantik itu merupakan 2 orang yang berbeda status, atasan dan bawahan. Tentu perilaku Jennie, sang boss muda nan cantik itu patut untuk ditiru.
★☆★☆
Tampak Raihan melangkah menuju pintu kafe dengan cepat. Langkahnya begitu lebat dan cukup tergesa-gesa seperti takut ketinggalan sesuatu.
Tidak jauh di belakangnya Bayu yang melangkah lebar mengejar langkah Raihan.
__ADS_1
"Rai, tunggu!" serunya memanggil.
"Ayo, cepat!" tanggapnya tanpa menghentikan langkah, bahkan kecepatannya tidak dikurangi.
Maka terpaksa Bayu berlari kecil untuk mensejajarkan langkahnya dengan Raihan. Dsn begitu sudah berada di samping Raihan, dia bertanya bagai menegur.
"Kamu ngejar opo to? Koyo'e buru-buru amat?"
"Aku nggak enak saja sama yang lain," kata Raihan memberi alasan. "Di saat jam kerja kita sholat, sedangkan yang lain nggak, mereka tetap bekerja."
"Nggak usah dipikirno," kata Bayu menasehatkan. "Seng penting Pak Manajer mengizinkan. Orang yang nggak sholat nggak usah dipikirkan."
Kedua pemuda tampan itu terus melangkah cepat hingga sampai di pintu kafe. Terus Bayu dengan cepat membuka pintu, lalu Raihan melangkah keluar dengan cepat, disusul oleh Bayu.
Namun ternyata di depan pintu kafe sudah ada Jennie dan Karin yang juga melangkah cukup cepat. Dan jaraknya kedua gadis itu dengan kedua pemuda tampan itu amat dekat.
Rasanya tidak ada kesempatan lagi masing-masing dari kedua belah pihak untuk menghindar. Maka terjadilah apa yang telah terjadi.
Brugk! Brugk!
Maka terjadilah dua tabrakan beruntun di depan pintu kafe yang nyaris bersamaan. Bukan tabrakan mobil dengan mobil, melainkan tabrakan dua pasang insan yang berjalan dengan tergesa-gesa.
Raihan yang melangkah di sebelah kanan bertabrakan dengan Jennie yang berada di sisi kiri. Sedangkan Bayu yang melangkah di sisi kiri bertabrakan dengan Karin yang berada di samping kanan.
Tabrakan beruntun itu tidak parah namun cukup telak dan agak kuat. Tapi Raihan dan Bayu yang berbadan atletis cuma bergeming sedikit ke belakang.
Yang menerima imbas yang cukup parah akibat tabrakan itu adalah Jennie dan Karin. Kedua gadis cantik yang berbadan sedang itu tentu saja tidak mampu menahan daya dorong badan Raihan dan Bayu.
Sehingga akibatnya mereka langsung terjajar limbung ke belakang tanpa mampu menahan beban tubuh. Namun untungnya Raihan maupun Bayu cepat tanggap dan bergerak secepat yang mereka bisa.
Dengan cepat Raihan menghambur ke Jennie sambil mengulurkan tangan kanannya. Lalu dengan cepat pula tangan itu merangkul pinggang ramping Jennie, menahan agar jangan sampai gadis itu jatuh.
Aduh..., asyiknya adegan itu!
Sedangkan Bayu dengan cepat menangkap tangan kiri Karin, lalu menyentak ke arahnya dengan cukup kuat. Hampir bersamaan tangan kanannya merangkul pinggang ramping gadis imut itu.
Maka gadis cantik itu tidak jadi jatuh ke belakang. Bahkan karena kaget dengan refleks langsung memeluk Bayu. Sehingga pula membuat wajah tampan dan ayu itu berjarak cukup dekat. Sedangkan sepasang mata keduanya langsung terkonek.
Sungguh asoinya adegan itu!
Beberapa detik lamanya baik Jennie maupun Karin dapat menikmati wajah tampan yang cukup dekat di pelupuk mata mereka. Tapi sayang masing-masing wajah tampan itu tanpa ekspresi mengagumi kecantikan mereka.
Sementara Raihan maupun Bayu, karena mungkin merasa kedua gadis cantik itu sudah tertolong, mereka segera melepas rangkulan mereka dari pinggang ramping gadis yang mereka tolong.
Sebenarnya Raihan maupun Bayu hendak mundur ke belakang. Tapi mereka masih dipeluk oleh Jennie maupun Karin, terpaksa diurungkan. Mereka hanya bisa memberi tanda atau gelagat kepada kedua gadis itu.
Awalnya kedua gadis itu seperti tidak tahu isyarat yang ditunjukkan Raihan maupun Bayu. Namun tidak lama kemudian Jennie maupun Karin segera tersadar sendiri kalau ternyata mereka tengah memeluk pemuda asing.
Maka dengan spontan mereka melepas pelukan mereka pada kedua pemuda itu dan mundur dua langkah ke belakang. Kejap berikut wajah cantik mereka langsung berubah galak seakan telah menyadari sesuatu yang tidak wajar.
Sedangkan Raihan dan Bayu bersikap seolah tidak perduli dengan sikap marah kedua gadis itu. Mereka langsung bertanya bernada khawatir kepada kedua gadis itu.
"Mbaknya tidak apa-apa 'kan?"
"Apa ada yang sakit, Mbak?"
Belum kering suara ucapan kedua pemuda itu, mereka langsung menerima bayaran atas pertolongan yang mereka lakukan tadi.
★☆★☆
Jennie langsung menampar cukup kuat dan keras wajah Raihan. Sedangkan Karin menendang kaki Bayu dengan ujung sepatu heelsnya cukup keras.
__ADS_1
Spontan Raihan maupun Bayu terkejut atas perbuatan kedua gadis itu yang sungguh di luar dugaan.
Tamparan Jennie pada wajah Raihan tidak terlalu dirasakan oleh pemuda itu. Dan juga tendangan Karin pada kaki Bayu yang sebenarnya sakit tidak dihiraukan oleh lelaki dingin itu.
Namun perbuatan mereka yang keterlaluan sungguh sulit diterima. Bukannya berterima kasih, malah melakukan perbuatan yang tidak beretika.
Seketika saja wajah kedua pemuda itu langsung menampakkan kemarahan sebagai bentuk protes atas perbuatan kedua gadis itu. Tapi baru saja Raihan maupun Bayu hendak menegur, keburu kedua gadis cantik itu....
"Lu modus ya?" berang Jennie dengan ketus sambil melotot garang. "Lu sengaja nabrak gue biar lu ambil kesempatan pingin meluk gue. Iya 'kan?"
"Mata Anda ditaruh di mana?" berang Karin dengan judes. "Seenaknya saja main tabrak orang. Apa Anda sengaja biar bisa memeluk saya, begitu?"
"Maaf, Mbak," kata Raihan mencoba tenang dan sabar meski nada suaranya terdengar datar. "Tadi itu kami tidak sengaja menabrak Mbak berdua."
"Dan kami juga memeluk Mbak berdua karena spontan ingin menolong kalian biar tidak jatuh," lanjut Raihan. "Tidak ada maksud lain atas perbuatan kami itu selain ingin menolong."
"Mohon maaf kalau kami lancang."
Bayu tidak bersuara atau menanggapi omelan Karin. Dia menganggap ucapan sahabatnya itu sudah mewakili ucapannya.
"Huh, enak aja lu ngomong kayak gitu," ketus Jennie dengan sinis. "Kalian pikir kami nggak tau modus kalian itu? Modus kalian itu modus kacangan."
"Kami sudah minta maaf atas perbuatan kami yang sebenarnya tidak sengaja itu," kata Raihan masih mencoba bersabar. "Kalau Mbaknya tidak terima, terus kami harus bagaimana?"
"Kalian harus bayar karena kalian sudah memeluk kami," sahut Karin tanpa pikir panjang.
"Ya, kalian harus bayar," dukung Jennie.
Raihan maupun Bayu tentu terkejut atas keputusan konyol kedua gadis itu. Sampai-sampai mereka saling pandang. Mereka harus membayar perbuatan menolong mereka?! Bukankah itu konyol?
"Kalau begitu kalian juga harus membayar kami," kata Bayu seketika bernada dingin. "Bukankah kalian juga memeluk kami?"
"Bahkan Mbak memeluk saya dengan kedua tangan Mbak," sambung Raihan seakan seide dengan Bayu sambil menatap Jennie dengan datar. "Sedangkan saya cuma memeluk Mbak dengan satu tangan."
"Benar," kata Bayu seolah tahu pikiran Raihan sambil menatap Karin dengan dingin. "Saya cuma memeluk Mbak dengan satu tangan, sedangkan Mbak memeluk saya dengan dua tangan."
"Seharusnya kalian membayar kami dengan bayaran dobel," lanjut Bayu. "Bukankah begitu?"
Tentu saja argumentasi kedua pemuda itu membuat Karin mati kutu. Sebenarnya ide menagih bayaran tadi cuma akal-akalan dia saja. Tapi ternyata kedua pemuda itu dapat menangkis bualannya itu dengan telak.
Sedangkan Jennie yang cuma mengikut saja jelas lebih tidak bisa membatah lagi. Dia hanya bisa terdiam dengan menelan malu dalam hati, sebenarnya.
"Apa kalian punya alasan lagi?" kata Bayu seolah menantang.
"Atau kalian ingin mengatakan bahwa kami cuma modus memeluk kalian," kata Raihan seakan menyambung. "Padahal sesungguhnya kami ingin mencuri barang kalian. Kalau begitu, silahkan periksa barang kalian! Apa ada yang hilang?"
Jennie maupun Karin makin bungkam mendengar ucapan Raihan. Kenapa pemuda itu seolah tahu apa yang ada dalam pikiran mereka pikir mereka. Hal itu membuat mereka tambah tidak bisa berkata-kata.
Selagi kedua gadis cantik itu berdiri diam seribu bahasa, Bayu mengajak Raihan untuk meninggalkan kedua gadis itu. Dan Raihan menyetujui. Tapi sebelumnya Raihan berpesan kepada kedua gadis itu.
"Jangan sekali-kali meremehkan sebuah pertolongan meskipun sepele. Karena bisa jadi hal itu lebih berharga bagi kalian daripada harta yang kalian miliki...."
Raihan dan Bayu segera melangkah meninggalkan kedua gadis itu yang masih berdiri diam bagai orang bengong. Tapi dalam hati mereka mengakui kalau ucapan Raihan itu adalah benar.
"Ayo, Jenn, kita masuk!" ajak Karin yang duluan terbangun dari keterbengongan. "Nggak usah dipikirkan kedua cowok tadi. Nggak penting!"
"Ya, lu benar," kata Jennie seakan sepemikiran. "Ngapain mikirin kedua cowok songong itu."
Lalu tanpa berlama-lama kedua gadis itu masuk ke dalam kafe setelah Karin membuka pintu.
★☆★☆★
__ADS_1