Kisah Sang CEO Muda

Kisah Sang CEO Muda
BAB 11 CURHATAN VIOLA DAN MARSHA


__ADS_3

Marsha tidak menyangka kalau Viola benar-benar pandai memasak. Dan masakannya itu benar-benar enak, takaran bumbunya benar-benar pas. Marsha tahu hal itu karena dia juga sebenarnya pandai memasak.


Dalam pikirannya gadis tomboy seperti Viola umumnya tidak suka memperhatikan hal-hal yang identik dengan kewanitaan, termasuk memasak. Tapi siapa sangka kalau Viola bukan sekedar bisa, tapi masuk dalam kategori ahli dalam memasak.


Benar-benar gadis tomboy yang unik pikir Marsha.


"Sumpah! Masakan lu emang enak banget, Lala!" kata Marsha setengah berseru untuk kesekian kalinya memuji masakan Viola. "Enaknya nggak ilang-ilang!"


"Gue aja yang pandai masak, kalah ama masakan lu."


Saat itu kedua gadis cantik berbeda style itu berada di apartemen Viola. Saat ini mereka tengah menikmati masakan yang telah selesai mereka masak di ruang makan.


"Lu nggak usah lebay gitu deh, Sasa," tegur Viola yang tidak suka dipuji Marsha berlebihan seperti itu. "Biasa aja kali mujinya."


"Gue nggak lebay, Lala," kata Marsha meralat sangkaan teman barunya itu, "ini real dari hati gue...."


"Sumpah! Gue nggak nyangka banget lu benar-benar jago masak!"


"Udah mujinya," kata Viola lagi seolah menegur, "lu makan aja. Nanti enaknya ilang lu muji terus...."


"Hahaha..., lu bisa aja...."


Suasana keakraban begitu tampak jelas dari pertemanan kedua gadis cantik itu. Seakan-akan mereka itu sudah berteman sejak lama. Padahal mereka baru kenalan tadi siang di kampus mereka.


Dua karakter yang berbeda; yang satu seorang gadis feminim, sedangkan satunya seorang gadis yang kalau dilihat sekilas mirip laki-laki tampan.


Namun dua karakter itu bisa mereka satukan dalam sebuah pertemanan yang begitu akrab. Tidak ada di antara mereka saling mempermasalahkan tentang penampilan masing-masing.


Dalam artian, Marsha tidak mempermasalahkan tentang penampilan Viola yang tomboy, bahkan mirip laki-laki. Meskipun dulu temannya gadis feminim seperti dirinya.


Sedangkan Viola sendiri dulu temannya mayoritas laki-laki. Dan dulu dia seperti terkesan tidak senang dengan gaya feminim atau lemah gemulai perempuan.


Adapun sekarang, mendapat teman seperti Marsha yang feminim merupakan awal untuk menempuh hidup baru.


Dengan kata lain pertemanan itu dijadikan sebagai batu loncatan untuk menjadi wanita seutuhnya. Hal itu sebagaimana pesan terakhir bibinya.


Dan di awal-awal pertemanannya dengan Marsha, membuat Viola cukup terkesan dengan prinsip dan gaya hidup gadis itu yang sederhana.


Meski Marsha anak salah satu konglomerat ternama di kota ini, namun outfit yang dia kenakan bukanlah barang-barang merek branded.


Gaya hidup Marsha itu selaras dengan gaya hidupnya yang juga sederhana, meskipun juga dia anak orang kaya.


Perlu diketahui, sebenarnya Viola tidak menyetujui untuk tinggal di apartemen. Dia lebih senang tinggal di kos-kosan yang murah.


Namun mamanya ternyata sudah membelikannya apartemen. Jadi, mau tidak mau terpaksa dia harus tinggal di apartemen ini.


Lagipula Viola tidak ingin mengecewakan mamanya yang berusaha menunjukkan kasih sayang mamanya kepadanya. Meskipun hal itu terlalu mewah baginya.


Bu Hellen berusaha mengerti akan perasaan Viola yang tidak nyaman tinggal di rumahnya. Hal itu disebabkan oleh sikap antipati Pak Mahendra, papanya dan Miko, kakak laki-lakinya yang tidak senang terhadap gaya hidupnya yang seperti laki-laki.


Padahal kalau mereka mau mengerti sedikit, sebenarnya Viola berusaha ingin berubah menjadi wanita seutuhnya. Hanya saja harus pelan-pelan, tidak bisa dia lakukan secara instan.


★☆★☆


"Lu belajar masak dari sapa sih?" tanya Marsha ingin tahu saat mereka duduk santai di ruang tengah sambil menonton TV. "Lu pernah kursus ya?"


"Awalnya gue cuma belajar dari almarhumah bibi gue," sahut Viola bernada biasa saja, tidak bersedih lagi saat mengenang bibi tercintanya. "Selebihnya gue belajar sendiri dengan melihat tutorial di youtube."

__ADS_1


"Almarhumah?!" kejut Marsha langsung menatap Viola dengan cepat. "Bibi lu...."


Tentu saja Marsha terkejut karena tadi siang Viola mengatakan kalau pernah tinggal dengan bibinya di Bogor. Dalam pikirannya kalau bibinya Viola belum meninggal. Namun siapa sangka....


"Ya..., bibi gue memang udah meninggal, belum ada sebulan ini," kata Viola memberi tahu. Saat berbicara dia berusaha menekan perasaannya agar tidak bersedih.


"Sorry, Lala, gue nggak ada maksud ngebuat lu kembali mengenang bibi lu yang udah meninggal," kata Marsha cepat-cepat minta maaf. "Maafin gue ya, Lala. Soalnya gue nggak tau."


Seketika Marsha merasa tidak enak terhadap gadis itu. Karena pertanyaannya membuat Viola mengenang kembali bibinya yang sudah meninggal.


Walaupun dia melihat Viola menyembunyikan rasa sedihnya, tapi Marsha tahu Viola amat bersedih atas meninggalnya bibinya itu pastinya. Dia merasa sang bibi amat berarti dalam kehidupan gadis tomboy itu.


"Ah nggak papa, Sasa, santai aja kali," kata Viola mencoba bersikap tenang dan menenangkan Marsha agar jangan terlalu dipikirkan.


"Sorry ya kalau gue pingin tau, kayaknya bibi lu amat berarti bagi lu?" tanya Marsha hati-hati.


"Ya begitulah," sahut Viola bernada mendesah. "Bagi gue ambu adalah segalanya bagi gue."


"Lu manggil bibi lu ambu?"


"Ya, sejak kecil gue memanggilnya ambu," ungkap Viola, "karena gue udah nganggap dia sebagai mama gue."


"Cuma bibi yang nerima gue bergaya hidup kayak gini," ungkap Viola mulai menuturkan tentang kehidupannya. "Sedangkan keluarga gue yang lain nggak ada yang nerima...."


"Bahkan mereka membenci gue, mencaci gue, dan menghina gue," lanjut Viola berusaha menekan kesedihannya. "Sampe gue nggak nyaman lagi berada di tengah mereka. Akhirnya gue mutusin untuk tinggal ama bibi gue...."


"Tapi sayang... bibi begitu cepat dipanggil Yang Maha Kuasa di saat gue masih pingin ngerasain kasih sayangnya...."


"Gue bisa ngerasain kesedihan yang lu alami ditinggal pergi oleh orang yang amat lu sayangi," kata Marsha mengungkapkan keperduliannya.


"Lu benar, Sasa, gue ngerasain juga kayak gitu," tutur Viola sepemahaman, "pasti ada hikmah di balik meninggalnya ambu yang begitu cepat...."


"Mungkin salah satunya agar gue tetap tegar ngejalanin hidup gue meski nggak ada yang sayang gue, apalagi ngedukung gue...."


"Dan mungkin yang lebih penting dari itu semua agar gue lebih merenungkan lagi tentang kodrat gue yang sesungguhnya, menjadi perempuan secara utuh. Itu juga yang menjadi pesan terakhir ambu sebelum meninggal."


"Lu ada niat bakal ngerubah gaya hidup lu yang kayak gini?" tanya Marsha ingin tahu sekali.


"Ya, itu pasti," sahut Viola bersungguh-sungguh. "Gue ngerasa durhaka ama ambu kalau gue nggak menuhin pesan terakhirnya."


"Lu tenang aja, ada gue bersama lu," kata Marsha memberi dukungan positif. "Gue bakal ngedukung lu sepenuhnya, semampu yang gue bisa."


"Gue bisa ngerasa kalau lu pasti nggak mudah ngerubah gaya hidup yang udah mengakar secara drastis," lanjut Marsha. "Butuh proses yang cukup panjang dan lama...."


"Tapi saran gue lu nggak usah tergesa-gesa, pelan-pelan aja, ikutin arus takdir yang udah ditetapin ama lu."


Viola menoleh pelan pada Marsha, terus menatap gadis itu sambil tersenyum lembut. Sementara Marsha juga menatapnya sambil tersenyum lembut. Terus Viola berkata.


"Makasih atas dukungan lu, Sa. Gue berharap kita 'kan tetap bersahabat hingga akhir hayat...."


"Aamiin...!"


★☆★☆


"Lu 'kan udah curhat pajang lebar nih," kata Marsha setelah mereka terdiam beberapa saat. "Sekarang giliran gue yang curhat. Lu mau dengan nggak?"


"Ah, lu pake nanya. Ngomong aja napa...."

__ADS_1


Marsha mengambil napas sejenak, setelah itu dia berkata.


"Sebenarnya gue kangen banget ama seseorang sejak masih kecil. Saking kangennya gue ngebet banget pingin ketemu.... Tapi sayang, nyampe saat ini gue belum pernah bertemu...."


Ketika menuturkan ucapannya itu, nada suara Marsha mengalun pilu. Wajah cantiknya berselubung mendung kesedihan. Begitu cepat gadis itu larut dalam suasana sedih yang mendalam.


"Pacar lu?" tanya Viola menebak.


"Bukan...," sahut Marsha meralat. "Malah gue belum mau pacaran sebelum ketemu dia."


"Oh kirain pacar. Terus siapa dong?"


"Kakak laki-laki gue," sahut Marsha bernada mendesah. Kesedihan makin menyelubungi perasaannya.


"Sejak kecil lu belum pernah ketemu ama kakak laki-laki lu?" kejut Viola keheranan seolah tidak percaya.


"Iya, sejak kecil," sahut Marsha. "Kata orang tua gue sejak gue umur 2 tahunan. Sedangkan kakak laki-laki gue waktu itu umur 7 tahun...."


"Apa kakak laki-laki lu hilang?"


"Nggak juga, tapi dia memilih untuk tinggal di kampung bersama nenek daripada tinggal bersama kami selaku keluarganya."


Kemudian Marsha melanjutkan dengan menuturkan bahwa waktu itu kakak laki-lakinya meninggalkan mereka dan lebih memilih tinggal di kampung, yaitu di Malang bersama sang nenek atau eyang putri.


Alasannya apa?


Sungguh Marsha tidak habis pikir tentang alasan kakak laki-lakinya meninggalkan mereka. Padahal waktu itu kakaknya masih tergolong bocah. Tidak menyangka sudah bisa berpikir sebegitunya.


Adapun alasan kakak laki-lakinya waktu itu adalah bahwasanya dia tidak menyenangi hidup di tengah kemewahan. Ditambah lagi dia amat tidak suka melihat kesombongan orang-orang kaya.


Sejak kecil kakak laki-lakinya memang tidak senang akan kemewahan. Dia lebih suka hidup biasa dan sederhana. Padahal dia masih tergolong bocah. Tapi sudah bisa berpikir tentang konsep hidup seperti itu.


Maka dia memutuskan untuk meninggalkan rumah beserta kemewahannya. Meninggalkan keluarnya yang bergelimang harta.


Lebih memilih tinggal di kampung bersama neneknya yang hidup berkawan kesederhanaan.


"Sejak saat itu hingga sekarang gue belum pernah ngelihat dia," kata Marsha kemudian.


"Napa nggak kalian berkunjung aja ke kampung nenek lu itu?" komentar Viola. "Pasti kalian tau 'kan alamatnya di mana?"


"Kami memang beberapa kali ke Malang," ungkap Marsha menuturkan. "Tapi tiap kali ke sana, kami nggak pernah ketemu ama dia. Seperti... sengaja ngindar gitu dari kami."


"Terakhir kami ke sana saat gue udah SMP kelas 7," lanjut Marsha. "Tapi ternyata nenek gue udah meninggal setengah tahun sebelumnya. Sedangkan kakak laki-laki gue udah nggak ada lagi di Malang...."


"Nggak ada yang tahu ke mana dia pergi. Yang jelas orang-orang cuma tahu kalau dia pergi bersama sepupu laki-laki gue yang sekaligus sahabatnya."


"Berarti lu ama keluarga lu nggak tau lagi wajahnya kayak gimana sekarang ini?" tanya Viola menduga.


"Ya... sepertinya gitu," kata Marsha bimbang. "Tapi kata mama gue wajahnya mirip papa gue."


Setelah Marsha selesai berkata demikian dan Viola tidak bertanya atau berkomentar lagi, suasana langsung dibungkam kebisuan. Kalaulah tidak terdengar suara TV, tentulah tempat itu akan dilengkapi dengan kesunyian.


Sehingga sebentar saja kedua gadis itu tenggelam dalam pikirannya masing-masing. Viola memikirkan tentang gaya hidupnya yang masih ditentang oleh papa dan kakak laki-lakinya.


Sedangkan Marsha terus saja memikirkan tentang kakak laki-lakinya yang hingga saat ini belum diketahui di mana rimbanya.


★☆★☆★

__ADS_1


__ADS_2