
"Terima kasih kamu dan temanmu itu sudah mengantar putri kami kembali pulang," kata Pak Mahendra bernada datar. "Sekarang, jika tidak ada lagi urusanmu di sini, kamu boleh pulang."
Menanggapi ucapan suaminya itu, Bu Hellen cuma diam saja. Wajahnya yang masih cantik tidak menunjukkan kalau dia senang terhadap ucapan Pak Mahendra. Tapi bukan berarti dia menyukai kehadiran Raihan di sini.
Miko pun juga begitu, cuma diam saja. Seolah dia tidak berani mengomentari ucapan papanya yang jelas tidak menghormati orang.
Tapi sepertinya dia tidak senang terhadap ucapan papanya. Terbukti dari sorot matanya yang menatap Pak Mahendra dengan tatapan kecewa.
Cuma Jennie yang merasa senang dengan ucapan Pak Mahendra. Terbukti gadis itu langsung mengulas senyum sinis.
Adapun Raihan, pemuda itu tetap dalam mode tenang. Berusaha menjaga perasaannya agar tidak tersinggung akan ucapan Pak Mahendra yang jelas mengusirnya.
Bayu yang berada di belakang sang boss juga tidak menunjukkan reaksi apa-apa atas ucapan Pak Mahendra barusan. Dia hanya akan menjaga kalau Pak Mahendra ataupun Miko akan bertindak fisik terhadap Raihan.
Sedangkan Viola, mendengar ucapan papanya barusan, gadis itu seketika kaget. Sampai-sampai dia menatap papanya dengan sorot ketakutan dan khawatir kalau-kalau Raihan bakal kenapa-kenapa.
Lebih tepatnya Viola takut dan khawatir kalau-kalau papanya akan bertindak kasar terhadap Raihan, sang kekasih. Karena dia tahu Raihan pasti tidak akan berbuat apa-apa jika papanya akan bertindak fisik.
Entah terbuat dari apa hati papanya itu, sehingga sama sekali tidak menghargai perjuangan kekasihnya dalam menyelamatkannya. Cuma sekedar mengucapkan terima kasih.
Itupun sepertinya cuma basa-basi, tidak tulus dari hati. Karena setelah itu papanya langsung mengusir Raihan secara terang-terangan, seolah tidak mau mendengar penjelasan apapun dari Raihan.
"Pa, jangan kayak gitu ama Mas Rai!" tegur Viola dengan berani, tapi bernada dan bersikap sopan. "Mas Rai udah nyelamatin aku, udah dua kali."
Pak Mahendra beralih menatap putri bungsunya itu dengan tajam. Sorot matanya jelas membinarkan kemarahan yang sangat.
"Terus..., menurutmu aku harus menghargai tindakan pemuda keparat itu yang telah menyelamatkanmu, begitu?" kata Pak Mahendra bernada dingin.
"Seenggaknya papa nggak berkata kasar ama Mas Rai," kata Viola berusaha tetap berlaku sopan kepada papanya.
"Sayang, kamu jangan ngejawab terus omongan papamu," kata Bu Hellen menasehati. "Dengarin aja. Kamu memang udah diselamatin sama temanmu itu. Ya..., terima kasih kami ucapkan. Tapi bukan berarti kita berikan yang lebih. Itu nggak bisa, Sayang...."
"Tapi, Ma...."
"Lala!"
Raihan langsung memotong ucapan Viola dengan memanggil namanya. Meski dengan nada lembut, tapi panggilan itu mengandung teguran agar Viola jangan membantah.
Viola segera beralih memandang Raihan. Sorot matanya membinarkan kesedihan, sekaligus menyiratkan permohonan kepada Raihan agar membiarkan dirinya membela sang kekasih di hadapan keluarganya.
Namun Raihan segera menggelengkan kepala. Meski pelan tapi Viola sudah mengerti isyarat dari Viola. Dengan terpaksa dia diam kini, mendengar nasehat Raihan.
Jennie yang melihat adegan itu jelas membencinya. Rasa cemburu semakin membuat hatinya panas.
__ADS_1
Dia yakin antara Raihan dengan Viola sudah terjalin hubungan spesial. Dia yakin Viola sudah berpacaran dengan Raihan. Dan hubungan itu amat dibencinya.
★☆★☆
Sementara itu Raihan, setelah merasa yakin Viola tidak bakalan membantah orang tuanya lagi, dia beralih memandang Pak Mahendra. Sikapnya masih tetap sopan terhadap orang tua itu.
"Saya ingin berbicara dengan Anda, Tuan Mahendra," kata Raihan bernada kalem.
"Kamu mau meminta upah karena telah menyelamatkan putriku?" kata Pak Mahendra jelas menghina. "Kamu tinggal bilang, berapa yang kamu mau, aku akan berikan."
"Aku tahu perusahaanmu adalah perusahaan miskin," Pak Mahendra tetap melanjutkan hinaannya. "Tentu banyak butuh uang agar bisa bangkit lagi. Bilang saja, berapa yang kamu mau!"
"Pa, bisakah papa berbicara sopan dan nggak ngehina orang?" Miko yang tidak tahan atas sikap peremehan papanya akhirnya angkat bicara.
"Biar bagaimana Tuan Raihan ini adalah seorang pengusaha dan bermartabat," lanjut Miko. "Kalau papa bersikap kayak gitu padanya, bisa jadi dia nggak ngehormatin papa nantinya."
"Aku nggak butuh penghormatan dari anak keturunan Baskoro!" kata Pak Mahendra tegas bernada dingin.
"Dan kamu!" Pak Mahendra menatap Miko dengan tajam. "Aku tahu kenapa kamu jadi lunak sekarang sama pemuda itu. Tapi aku ingatkan padamu, jangan coba-coba berani melanggar peraturan keluarga!"
Papanya sudah bicara demikian, Miko tidak berani lagi angkat bicara. Ucapan Pak Mahendra itu bagaikan suatu ancaman yang tidak bisa dilawan.
"Jangan salah paham dulu, Tuan Mahendra," kata Raihan tetap bersabar menghadapi kelakuan Pak Mahendra yang jelas meremehkannya. "Saya ingin bicara dengan Anda terkait hubungan saya dengan Viola...."
"Apa kamu dan putriku sudah pacaran, Raihan?" tebak Bu Hellen bernada datar bercampur sinis.
"Benar, Nyonya," sahut Raihan bernada kalem tapi mantap, tanpa keraguan. "Saya mencintai Viola Amanda, putri Nyonya dan Tuan, dan Viola juga mencintai saya. Kami saling mencintai. Saya berharap Tuan dan Nyonya merestui hubungan kami."
"Jangan mimpi kamu, Anak Muda!" berang Pak Mahendra. "Kamu anak Baskoro tidak aku izinkan pacaran dengan putriku!"
"Saya memang anaknya Tuan Baskoro," kata Raihan masih berusaha menerangkan, "tapi kami beda haluan. Saya berjalan sendiri mengelola bisnis saya, tidak ada lagi campur tangan dari Tuan Baskoro. Mohon Tuan memahami hal itu."
"Aku tidak perduli!" berang Pak Mahendra bernada dingin tetap kekeh. "Yang jelas, anak-anakku terlarang untuk menjalin hubungan dengan anak-anak Baskoro, apalagi sampai pacaran segala."
"Pa, aku dan Mas Rai saling mencintai," Viola tetap tidak tahan ingin membantah papanya. "Jangan papa ngaitin masalah papa dengan Om Baskoro ama hubungan kami."
"Diam kamu!" bentak Pak Mahendra makin naik amarahnya. "Kamu tidak tahu apa-apa! Jadi, jangan asal bicara!"
"Kalian yang nggak tahu apa-apa!" bantah Viola agak meninggi nada suaranya karena saking jengkelnya terhadap papanya.
"Sayang..., kamu nggak boleh gitu," bujuk Bu Hellen tetap dengan lembut. "Asal kamu tahu, peraturan keluarga kita nggak boleh menjalin hubungan dengan keluarga Pak Baskoro. Karena mereka sudah berbuat kesalahan besar terhadap keluarga kita."
"Kejadian sebenarnya nggak kayak gitu Ma," Viola berusaha menerangkan hal sebenarnya.
__ADS_1
"Udah, udah..., kamu jangan ngebantah lagi!" kata Bu Hellen tidak mau terima alasan putrinya. "Jangan ngebuat papamu makin marah ama kamu!"
Terpaksa Viola diam lagi. Bukan karena mendengar anjuran mamanya, tapi karena mengingat pesan Raihan agar jangan lagi membantah orang tuannya.
★☆★☆
"Tuan Mahendra, mohon pertimbangkan lagi ucapan saya tadi," Raihan masih berusaha menerangkan keadaannya yang berbeda dengan ayahnya. "Tuan Baskoro sudah memutus hubungan dengan saya. Jadi, saya tidak ada sangkut pautnya lagi dengan orang tua itu."
"Artinya," lanjut Raihan, "masalah antara Anda dengan Tuan Baskoro tidak ada kaitannya dengan saya. Jadi, Viola tidak terkena aturan yang Anda buat jika saya berpacaran dengannya. Apalagi kami saling mencintai."
"Apapun alasanmu, aku tidak akan pernah mendengar dan perduli," sikap dingin Pak Mahendra tidak pula mereda.
"Sekarang, kamu tinggalkan rumahku ini dan jangan pernah lagi kembali ke sini!" usirnya dengan kasar dan penuh penghinaan.
Raihan seketika terdiam mendengar ucapan kasar orang tua itu, seolah tidak ingin atau enggan mendebatnya lagi. Karena pikirnya akan sia-sia, Pak Mahendra sudah begitu dendam terhadap Pak Baskoro dan anak keturunannya.
"Sebaiknya kamu tinggalkan tempat ini, Raihan!" pinta Bu Hellen bernada datar seolah mengusir. "Kami nggak akan pernah merestui hubunganmu dengan putriku."
Viola makin perih hatinya mendengar ucapan mamanya itu. Sudah ucapan papanya membuat hatinya terpukul. Ditambah lagi ucapan mamanya barusan. Tanpa terasa air matanya berlinang di wajahnya yang berselimut pilu.
Sementara Raihan berpikir, memang sekarang bukan waktunya yang tepat kalau ingin melamar Viola. Keadaan pikiran kedua orang tua Viola masih terobsesi oleh dendam mereka kepada Pak Baskoro sekeluarga.
Dengan terpaksa dia harus membatalkan niatnya ingin melamar Viola di hadapan kedua orang tuanya. Bersamaan dengan itu dia harus bersabar untuk menunggu takdir baik antara hubungan dia dengan Viola.
"Apa yang kamu tunggu, Keparat!" damprat Pak Mahendra sudah memuncak emosinya. "Tinggalkan rumahku, cepat!"
Sejenak Raihan menatap serius kepada Pak Mahendra. Lalu berkata dengan penuh keyakinan.
"Saya dan Viola saling mencintai. Saya berharap takdir Yang Maha Kuasa tetap menjaga hubungan cinta kami, walaupun Tuan melarangnya."
Kemudian Raihan memandang Viola sejenak. Dia menatap gadisnya dengan lembut. Lalu dia berbalik meninggalkan serambi rumah itu menuju mobilnya yang masih setia menunggu di depan serambi.
Bayu yang terus bersama Raihan segera mengikuti bossnya, tanpa bicara apapun, tanpa melihat siapapun.
Sementara Viola yang melihat Raihan sudah beranjak meninggalkan rumahnya ingin menghambur ke arah sang kekasih. Namun dengan cepat Bu Hellen melarangnya dengan menangkap tangannya.
Terpaksa Viola tidak jadi menemui Raihan. Sepasang matanya yang makin berderai air mata cuma bisa menatap kepergian Raihan. Wajahnya yang sudah sedih, makin sedih melihat kepergian Raihan.
Entah bagaimana nasih cinta mereka selanjutnya? Keluarganya tetap kekeh melarang hubungan mereka. Dia berharap suatu saat nanti orang tuanya mau merestui bungan mereka.
Belum juga Viola puas menyaksikan Raihan yang sudah hampir memasuk ke dalam mobil, mamanya menariknya masuk ke dalam rumah. Menyusul Pak Mahendra dan Jennie juga ikut masuk. Lalu Miko setelah melihat Raihan.
Sementara Raihan dan Bayu tidak menghiraukan lagi keluarga Pak Mahendra. Bayu melajukan mobil sedan mercy itu, meninggalkan kediaman Pak Mahendra.
__ADS_1
★☆★☆★