Kutukan Cinta Pertama

Kutukan Cinta Pertama
9. Lost Focus


__ADS_3

Qiara sedang sibuk memilih novel di sebuah toko buku saat Prissy tiba-tiba saja datang dan menyapanya dengan senyuman yang selalu tampak bersahabat dan hangat. "Hay, Qiara! Lo di sini juga? Nyari buku apa?"


Qiara yang baru saja menyadari kehadiran Prissy mendadak terkesiap. Matanya mencari satu sosok lain yang mungkin mengantar Prissy ke tempat itu. Ya, Danny. Qiara mencari sosok Danny. "Gue iseng aja nyari novel. Gue kehabisan bahan bacaan nih," jawab Qiara sekenanya seraya terus mencari sosok Danny.


Prissy mengangguk. Perhatiannya tidak luput dari gelagat yang ditunjukkan oleh Qiara secara terang-terangan. Prissy kemudian terkekeh pelan, lalu seakan bisa membaca isi fikiran Qiara, ia berkata, "gue dateng sendirian! Danny lagi nyelesein tugas kelompok."


"Oh..." Gumam Qiara pelan tanpa ia sadari. Namun, lagi-lagi Qiara terkesiap, lantas menyadari sesuatu, "nggak! Gue lagi nggak nyariin Danny." Elaknya.


Prissy tertawa, "yang bilang lo nyariin Danny siapa? Gue cuma bilang aja."


"Hah?"


"Kalian berantem, ya?" Tebak Prissy dengan seulas senyuman penuh misteri. Ia seperti sudah tahu apa jawabannya.


"Nggak kok," jawab Qiara singkat lalu kembali fokus dengan rak buku yang berada di depannya. Berpura-pura memilih novel.


"Nggak usah bohong. Gue juga nanyain Danny, dan lucunya jawaban kalian sama."


Kali ini Qiara terdiam. Bingung bagaimana harus menjawab.


"Gue nggak tahu masalah kalian apa, tapi gue harap apapun masalahnya, kalian bisa menyelesaikannya dengan baik. Persahabatan kalian udah enambelas tahun berjalan, jadi nggak seru aja rasanya ngeliat kalian diem-dieman kayak gini." Ucap Prissy yang 'sepertinya' terdengar tulus. "Gue pamit, ya? Gue udah dapet buku yang gue cari, nih." Tutup Prissy sembari menunjukkan sebuah buku pada Qiara.


"Oke, Priss."


Baru saja Prissy berbalik pergi, ia malah kembali lagi setelah mengingat sesuatu. "Oya, kata Arga lo sakit, ya, makanya nggak bisa dateng ke birthday party gue?"


"Hah? Eemmm... iya, iya." Jawab Qiara gelagapan.


"Sekarang gimana keadaan lo? Udah baikan?"


"I –iya"


"Syukurlah."


"Thanks, Priss..."


Ketika Prissy berbalik untuk yang kedua kalinya, senyuman hangat yang sejak tadi ia patri langsung terhapus begitu saja, dan tergantikan oleh seringai tajam yang mengotori wajah cantiknya.


...****...


Selama jam mata kuliah berlangsung, Qiara terus saja menatap Danny yang duduk tepat di seberang bangkunya. Mendadak, perkataan Prissy kemarin siang terus memenuhi kepalanya.


Sudah tiga hari ia tidak berbicara dengan pemuda itu. Meskipun mereka tetap berkumpul berempat seperti biasanya, tapi tidak sekalipun ia berbicara dengan Danny.


Qiara tidak berusaha menghindari Danny, begitu juga sebaliknya. Hanya saja mereka selalu berusaha menghindar untuk berbicara atau bertatap mata satu sama lain.


"Qiara Serena Ghandy!" Panggil Bu Winda dengan nada mengintimidasi dari depan kelas.

__ADS_1


Qiara serta-merta membuyarkan lamunannya saat telinganya menangkap suara salah satu dosen yang terkenal Killer itu memanggil namanya.


"Coba ulangi penjelasan saya tadi, tentang bagaimana budaya dapat mempengaruhi komunikasi!"


"Hah?"


Qiara terkejut, bagaimana bisa ia mengulang penjelasan Ibu Winda jika ia bahkan tidak mendengarkan penjelasannya sedari tadi? Belum lagi Qiara lupa membawa buku. Hhh... Rasanya Qiara ingin sekali menenggelamkan dirinya ke dasar laut terdalam detik itu juga.


"Qiara, SE-KA-RANG!" Seru Bu Winda sekali lagi.


Kini seluruh perhatian kelas tertuju pada Qiara tidak terkecuali Danny. Mereka semua menatap Qiara dengan was-was, seakan hari ini adalah hari terakhir Qiara hidup di bumi.


Dari tempatnya, Qiara dapat melihat Danny menunjukkan wajah kesalnya. Danny tampak menghela nafas, menggeleng pelan, lalu kembali fokus dengan buku catatannya, berusaha untuk tidak menghiraukan Qiara semampu yang ia bisa.


Bu Winda yang berdiri di depan seraya melipat kedua tangannya di depan dada, kembali berujar saat Qiara tidak juga mengeluarkan suaranya dan hanya kebingungan di tempat duduknya, "ada yang salah, Qiara?" Suara Bu Winda terdengar pelan namun cukup mengintimidasi.


"Maaf Bu, saya tidak mendengarkan penjelasan Ibu dengan baik." Ucap Qiara dengan terus terang tanpa berani menatap Bu Winda.


Bu Winda kemudian menggelengkan kepalanya beberapa kali, dan memulai khotbahnya, "jika anda tidak mendengarkan saya, lalu apa saja yang anda lakukan sejak tadi? Memperhatikan saudara Danny?"


"CIEEEEEEE!!!" Teriak  semua penghuni kelas kecuali Danny. Danny tampak tidak peduli dengan suasana kelas yang mulai heboh. Ia masih fokus dengan catatannya.


"Bukan begitu, Bu Winda!"


"Anda fikir saya tidak melihat kalau sejak tadi selama saya menjelaskan, anda terus memperhatikan saudara Danny?"


Suasana kelas semakin tidak terkendali dan semakin memicu amarah Ibu Winda. Qiara lantas melemparkan tatapan membunuh pada teman-teman sekelasnya yang sungguh tidak pengertian itu.


"Sekali lagi anda kedapatan tidak memperhatikan di kelas saya, saya tidak akan segan-segan memberikan anda nilai C pada tugas berikutnya. Mengerti?"


"Sekali lagi maaf, Bu..." Ucap Qiara penuh penyesalan seraya menunduk dalam. Ia kemudian memejamkan kedua matanya, berusaha meredam rasa malu yang teramat sangat.


...****...


"Hai, Kak Dean! Kenalin, aku Nadya." Ucap seorang gadis berparas manis memperkenalkan diri pada Dean yang saat itu sedang menunggu kedatangan Qiara di kafetaria kampus.


Dean membeku di tempatnya dengan wajah tanpa ekspresi, membiarkan tangan Nadya menggantung di udara tanpa sambutan.


Sadar bahwa Dean sedang mengabaikannya, Nadya pun tersenyum canggung sembari secara perlahan menurunkan tangannya yang sejak tadi terulur.


"Waah, ternyata bener kata orang-orang, Kak Dean dingin sekali. Hahaha." Nadya tertawa kosong di akhir kalimatnya.


"Oya, Kak Dean kalau nggak keberatan –"


"SAYANG!" Seru seseorang dari kejauhan yang dengan tidak sopannya memotong usaha tebar pesona yang dilancarkan Nadya, Si Cewek paling popular di jurusan Ilmu Jurnalistik.


Dean dan Nadya dengan kompak menoleh ke arah sumber suara. Sementara Nadya menampakkan wajah kesalnya, Dean justru sebaliknya. Aura dingin yang melingkupi wajahnya, tersapu dalam sekejab mata begitu melihat sosok Qiara yang sedang berjalan mendekatinya, lalu mengapit lengannya. Hal yang 'biasa' bagi Qiara itu, berhasil membuat jantung Dean berdegub dua kali lebih cepat dari biasanya.

__ADS_1


"Kak Dean, aku dari tadi nyariin Kakak." Ucap Qiara dengan nada sok imut yang sengaja ia buat-buat untuk memanas-manasi Nadya.


Dean berusaha keras menahan tawanya agar tidak meledak di tempat. Ia pun lantas menutup mulutnya dengan salah satu tangannya seraya membuang wajahnya agar Nadya tidak menangkap reaksinya sekarang.


Tapi sungguh, Qiara terlihat sangat menggemaskan bagi Dean.


"E –elo siapa?" Tanya Nadya pada Qiara.


"Gue Qiara. Pacarnya Kak Dean." Jawab Qiara dengan wajah serius sambil mengangkat dagunya supaya terlihat meyakinkan.


"APA?"


"Kalau lo udah tahu, sekarang mendingan pergi dan berhenti caper sama cowok gue." Hardik Qiara dengan galak.


Tanpa perlu berlama-lama, Nadya langsung angkat kaki dari hadapan kedua orang itu dan pergi dengan perasaan dongkol. Harapannya sudah pupus.


"Hahahahaha, kenapa tiba-tiba aku jadi pacar kamu?" Tanya Dean.


Tawanya serta-merta pecah begitu Nadya sudah menghilang dari pandangan mereka.


"Jangan mau kenalan sama cewek itu! Dia dulu pernah ngejer-ngejer Arga. Tapi ditolak." Jeda sesaat. Qiara lalu menatap Dean, ia mengangkat tangan kananya, sedikit berjinjit lalu mengusap kepala Dean dengan lembut, "sekarang berani-beraninya dia ngedeketin Kak Dean ku yang berharga ini." Lanjutnya kemudian seraya tetap mengelus kepala Dean.


Dean terdiam kaku, dengan pandangan mata yang terus terpancang pada sepasang mata jernih milik Qiara. Sesuatu dalam dadanya bergejolak. Dan kerja jantungnya semakin belingsatan di dalam sana.


"Kak Dean, teraktir Qia es krim, ya?" Ucap Qiara sambil mengerjapkan kedua matanya setelah ia menyingirkan tangannya dari kepala Dean.


Beberapa detik kemudian, Dean kembali mendapatkan kesadarannya. Ia mendengus lalu mengusap dahi gadis itu, "ternyata ada maunya." Gerutu Dean.


Qiara hanya tertawa. Sesaat kemudian ia kembali mengapit lengan Dean. Mereka pun berjalan beriringan ke arah etalase es krim.


...****...


Prissy terduduk lesu di depan cermin besar sesaat setelah ia menyelesaikan latihan balet. Ia menatap wajah lelahnya dengan pandangan hampa.


Dari diri seorang Pricilla Renata Lee, semuanya tampak baik-baik saja dari luar, tapi tidak ada yang menyangka bahwa jauh di dalam sana, ia menyimpan rasa tertekan dan kesepian yang amat mendalam.


Setiap hari, sejak ia masih kecil ia sudah ditempa untuk menjadi seorang penari balet profesional. Dan sekarang latihannya menjadi semakin keras karena harus mengejar target untuk bisa berkuliah di Juilliard, mengejar ketertinggalannya tahun lalu. Setiap waktu Mamanya terus menekannya untuk bisa mendapatkan satu tempat di Juilliard bagaimanapun caranya.


Jalannya semakin tidak mudah dan kian berliku mengingat ada banyak saingannya di luar sana. Hal itu pulalah yang menyebabkannya gagal mendapatkan satu tempat di Juilliard saat lulus SMA dulu. Presentase kelulusan di sekolah kelas dunia itu memang sangatlah kecil, dan meski ia sudah menghabiskan masa remajanya untuk tetap berlatih dan belajar, rupanya ia masih belum cukup layak, hingga nyaris membuatnya depresi. Tetapi Mamanya bahkan tidak mengerti rasa putus asanya.


Prissy adalah putri tunggal dari seorang Single Mother. Clarissa Hwang, seorang Ballerina terkenal kelas dunia adalah Mamanya yang merupakan lulusan Juilliard juga. Itulah kenapa, Clarissa ingin Prissy mengikuti jejaknya. Ia tidak ingin Prissy melakukan kesalahan sekecil apapun yang nantinya akan membuatnya gagal untuk yang kedua kalinya mendapatkan tempat di sana.


Setiap saat, Prissy merasa begitu tertekan. Ia bahkan merasa sulit bernafas karena aturan-aturan dari Mamanya yang terkesan mengekang kebebasannya. Prissy mencintai balet, ia bahkan tidak bisa menggambarkan bagaimana besar rasa cintanya pada balet, tapi ia tidak pernah tahu sampai akhirnya masa ini tiba, masa dimana rasa cinta itu justru mencekik dirinya dan membuatnya susah untuk sekadar bernafas.


Ia lelah, ia juga butuh istirahat dan menjalankan hidupnya seperti gadis seusianya. Tetapi ia tahu bahwa ada harga yang begitu mahal yang harus ia bayar untuk sebuah mimpi. Sekalipun jalan ia tempuh begitu melelahkan dan berdarah, ia harus melaluinya untuk bisa berdiri di tempat tertinggi yang selalu menjadi mimpinya.


Ponselnya bergetar, ada satu panggilan dari Danny. Prissy hanya menatap ponselnya tanpa melakukan apapun. Ia lantas kembali menatap bayangannya di cermin hingga ponselnya tidak lagi bergetar. Ia menghela nafas panjang dan kembali melanjutkan latihannya.

__ADS_1


Sekali lagi, ini harga yang harus ia bayar untuk mimpinya.


^^^To be Continued...^^^


__ADS_2