Kutukan Cinta Pertama

Kutukan Cinta Pertama
8. Ledakan


__ADS_3

Waktu sudah menunjukkan pukul 00.05 saat Prissy keluar dari sebuah gedung, tempat di mana ia melakukan latihan Balet.


Sejak duduk di bangku SMA, Prissy adalah seorang Ballerina yang cukup terkenal. Ia sering mengikuti berbagai macam kompetisi baik di dalam, maupun luar negeri dan berhasil memenangkannya.


Wajah Prissy yang sebelumnya tampak kelelahan, kini berubah cerah saat melihat Danny yang sudah menunggunya sambil melambaikan tangan ke arahnya. Prissy tersenyum begitu lebar, lalu berlari kecil menghampiri Danny.


"Aduh, Priss, nggak usah lari." Ujar Danny penuh kekhawatiran saat Prissy sudah tiba di depannya. Danny memeluk pinggang Prissy, sementara Prissy melingkarkan kedua tangannya di pundak Danny.


"Sejak kapan kamu di sini? Kenapa nggak nelepon?"


"Aku baru nyampe kok." Jawab Danny berbohong sambil mengusap pelan rambut Prissy. Ia sebenarnya sudah hampir dua jam berdiri di depan gedung, menunggu Prissy menyelesaikan latihannya.


"Oh ya?"


Danny tiba-tiba melepaskan rengkuhannya dari gadis itu, ia lalu mengambil kotak kado berwarna merah dari dalam tasnya dan langsung menyerahkannya pada Prissy, "selamat ulang tahun." Ujarnya.


Prissy tertawa kecil begitu melihat Danny menjulurkan sebuah kado. Sejurus kemudian, Prissy menerima kado itu lalu menatap Danny, "boleh aku buka sekarang?" tanyanya memastikan. Danny hanya mengangguk.


Setelah membuka kotak itu, Prissy terlihat sangat kegirangan saat menemukan sebuah bracelet cantik dengan desain unik bertengger dengan manis di dalam kotak tersebut. Itu adalah sebuah bracelet dengan ornament seorang Ballerina pada salah satu sisinya.


"Sayang, ini cantik sekali. Kok bisa kepikiran sih?" Kata Prissy sambil mengangkat wajahnya dan menatap Danny dengan kedua mata berbinar.


Danny tersenyum tipis. Ia mengambil bracelet itu dari tempatnya, lalu memasangkannya pada pergelangan tangan Prissy seraya berkata, "ini seperti harapan, semoga suatu hari nanti, kamu bisa wujudin impian kamu untuk bisa menjadi seorang Ballerina kelas dunia. Aku di sini, akan terus dukung kamu."


Tepat saat bracelet itu sudah terpasang di tangan Prissy, Danny menyelesaikan perkataannya. Dan pada detik berikutnya, Prissy langsung melemparkan dirinya ke dalam dekapan Danny dan memeluknya seerat mungkin.


Danny terpaku untuk sejenak.


"Danny, makasih, ya? Aku sayang sama kamu."


Danny tidak terdengar menjawab. Ia hanya membalas pelukan Prissy sambil mengusap-usap punggungnya dengan lembut.


...****...


Pergelaran pesta ulang tahun Prissy yang cukup meriah akhirnya di helat. Ia merayakan pesta ulang tahunnya dengan memesan tempat di sebuah rooftop di salah satu hotel berbintang. Namun, tidak seperti yang dibayangkan sebelumnya, Prissy hanya mengundang beberapa teman terdekatnya dan rekan sesama Ballerina dari pusat pelatihannya.


Malam itu Prissy terlihat sangat elegant dengan floral lace dress berwarna hitam yang sangat cocok di tubuhnya. Sementara Danny, ia tampil serasi dengan Prissy, ia menggunakan kemeja polos berwarna hitam yang ia padukan dengan celana berwarna senada.


Mereka berdua berjalan berdampingan menghampiri dan menyapa teman-teman mereka yang hadir malam itu. Ketika Prissy terlihat begitu bahagia, Danny justru terlihat sebaliknya. Ia sejak tadi terlihat risau sambil sesekali melirik arlojinya saat tidak melihat sosok Qiara di antara teman-temannya.


"Sayang, kenapa, sih? Kok kusut gitu mukanya?" Tanya Prissy begitu menyadari bahwa tubuh Danny yang ada di sebelahnya sekarang, seolah tidak menyatu dengan hati dan fikirannya.


"Aku lagi nungguin Qia. Tapi sampai sekarang dia belum dateng juga. Arga sama Celine udah dateng, tapi Qia belum dateng juga." Terang Danny dengan jujur. Prissy yang memang sudah memahami persahabatan mereka sejak lama hanya tersenyum misterius lalu mengusap pundak Danny pelan.


"Telepon gih. Aku nggak suka ngeliat kamu cemas kayak gini. Muka kamu jadi nggak ganteng lagi."


Danny tersenyum lega, ia mengusap pipi kiri Prissy dengan sayang lalu pamit keluar untuk menghubungi Qiara. Si Biang Masalah.


Sudah lima kali Danny mencoba menghubungi nomor Qiara, tapi tetap saja ia tidak menerima jawaban apapun. Lagi pula, kemana gadis itu pergi? Tadi siang ia bahkan sudah berjanji akan datang, tapi sampai sekarang ia justru belum menunjukkan tanda-tanda kehadirannya. Saat Danny akan mencoba menghubunginya untuk yang keenam kalinya, tiba-tiba saja Arga datang lalu mengambil alih ponsel milik Danny.


"Nggak usah lo hubungin lagi. Qia nggak akan dateng." Arga menyerahkan ponsel itu kembali ke tangan Danny. Namun Danny hanya melempar tatapan bingung ke arah Arga. "Tadi gue udah telepon dia, gue bilang mau jemput. Tapi dia bilang nggak bisa dateng, dia lagi nggak enak badan" Lanjut Arga kemudian.


"Nggak enak badan? Maksud lo Qia sakit?" Tanya Danny dengan panik. Ia bahkan sudah tidak bisa lagi menyembunyikan rasa khawatirnya.

__ADS_1


"Cuma nggak enak badan, Dann!" Ujar Arga menenangkan. Namun, hal itu tidak lantas membuat perasaan Danny membaik.


"Gue akan ke rumahnya sekarang." Putus Danny tanpa berfikir panjang. Ia bahkan lupa ia sedang berada dimana sekarang.


Baru saja Danny akan mengambil langkah, lagi-lagi Arga menahannya seraya berkata, "terus lo bakalan ninggalin pesta cewek lo?"


Danny terdiam. Mendadak ia bingung harus melakukan apa sekarang. Di satu sisi, ia merasa begitu cemas dengan kondisi Qiara dan ingin memeriksa langsung keadaannya sekarang juga. Tapi di sisi lain, ia tidak mungkin meninggalkan pesta ulang tahun Prissy. Biar bagaimana pun, pesta ini sangat penting bagi Prissy. Tidak mungkin jika Danny harus beranjak pergi bahkan sebelum kejutan yang sudah ia persiapkan belum ditampilkan.


"Gue mau telepon orang rumahnya sebentar."


...****...


Qiara menatap bayangan dirinya di cermin sejak tiga puluh menit yang lalu. Ia hanya duduk di depan cermin dengan pikiran melayang jauh. Sesekali ia melirik ponselnya dan melihat lima panggilan tidak terjawab dari Danny.


Hhh... pemuda itu pasti sedang menunggunya sekarang. Siang tadi Qiara memang sudah berjanji pada Danny akan menghadiri pesta ulang tahun Prissy malam ini, ia bahkan sudah membantu Danny memilih lagu untuk ia nyanyikan sebagai surprise, ia juga menemani Danny berlatih sepanjang hari. Tapi setelah ia fikir lagi, ia tidak akan sanggup berada di pesta itu dengan melihat kemesraan yang akan ditunjukkan oleh sepasang kekasih itu. Sedetik pun ia fikir ia tidak akan bisa berada di sana.


Sebelumnya Qiara tidak pernah tahu bahwa ternyata ia selemah ini. Biasanya ia selalu mampu mengendalikan dirinya di hadapan Danny dan Prissy, tapi entah kenapa kali ini terasa begitu berbeda. Hatinya terasa sangat berat untuk beberapa alasan.


Sekali lagi Qiara menatap bayangan dirinya di cermin dan mendadak merasa sangat kasihan. Ia tertawa miris lantas berkata pada diri sendiri, "lihat Qiara Serena! Lo terlihat sangat menyedihkan sekarang."


Getar ponselnya tiba-tiba saja mengejutkan Qiara. Ia yang berfikir bahwa ia menerima telepon dari Danny mengangkat ponselnya dengan perasaan yang tidak karuan, tapi yang melegakan kemudian adalah, itu bukan panggilan dari Danny, melainkan dari Dean.


"Hallo, Qi! Kamu nggak dateng ke birthday party Prissy, kan? Mau jalan sama Kak Dean nggak? Kak Dean bosen nih di rumah."


Qiara tersenyum sumringah. Perasaan kalut yang sejak tadi memenuhi dadanya tiba-tiba saja sirna. Hm... Keluar dengan Dean sepertinya bukan ide yang buruk. Setidaknya ia bisa me-refresh pikirannya yang sekarang sedang kacau.


Ia pun menjawab Dean dan langsung menyetujui ajakan Dean tanpa perlu berfikir panjang lagi.


"Qia mau. Mau banget malah."


...****...


Selesai dengan permainan itu, Qiara langsung mengambil gilirannya dan mengarahkan Dean untuk pergi ke mesin capit boneka. Setelah mencoba sampai tiga kali, barulah Qiara akhirnya berhasil mendapatkan sebuah boneka burung hantu yang terlihat cukup lucu. Melihat boneka yang sekarang ada di tangannya, Qiara langsung terkekeh geli.


Entah kenapa dia merasa boneka burung hantu itu sangat mirip dengan Dean.


"Kok ketawa, Qi?" Tanya Dean heran.


"Lihat, nih!" Ujar Qiara seraya mengangkat boneka itu di hadapan Dean, "mirip Kak Dean, kan? Matanya sama hahaha..." Lanjutnya kemudian tanpa bisa menahan tawanya.


Dean tampak tersipu. Ia lalu mengangkat salah satu tangannya kemudian mengusap wajah Qiara, "sembarangan!" Sungutnya.


"Buat Kak Dean, nih." Qiara mengulurkan boneka itu untuk Dean.


"Buat Kak Dean?" Dean memastikan.


"Iya, buat Kak Dean. Dan selamat karena udah ketemu sama kembaran Kak Dean, hahaha," ledek Qiara sambil berlalu dari hadapan Dean setelah sebelumnya ia menyerahkan paksa boneka tidak berdosa itu pada Dean.


Mereka kemudian mengakhiri kebersamaan mereka hari itu dengan makan malam bersama yang menyenangkan di sebuah food court favorit Qiara.


...****...


"Katanya sakit, tapi malah kelayapan!" Satu suara langsung menyambut kedatangan Qiara saat ia memasuki rumah.

__ADS_1


Qiara menoleh, lalu mendapati sosok Danny yang terlihat sedang duduk dengan santainya di ruang tamu.


Beberapa saat yang lalu, Danny melihat Qiara pulang bersama Dean saat ia tanpa sengaja melihat dari jendela.


"Dann, kok lo bisa di sini? Terus pesta ulang tahunnya Prissy gimana?"


Danny bangkit dari duduknya lalu berjalan perlahan menghampiri Qiara yang terlihat merasa bersalah sekaligus terkejut. Sudah jelas Qiara tidak menyangka bahwa Danny akan ada di rumahnya saat itu juga.


"Tadinya gue pikir lo harus menjelaskan sesuatu, tapi sekarang—"


"Dann, dengerin gue—"


"Jangan memotong pembicaraan gue, Qiara!" Ucap Danny dengan tegas.


Qiara serta-merta terdiam ketika Danny sudah berdiri tepat di depannya.


Satu hal yang mengejutkan adalah, Danny yang terbiasa memanggilnya 'Qia' kini justru memanggilnya 'Qiara'. Dan itu menunjukkan bahwa Danny benar-benar marah padanya.


Tiga.


"Lo tahu? Tadi gue nungguin lo di sana, tapi Arga bilang gue nggak perlu nungguin lo karena lo nggak akan dateng. Arga bilang lo sakit, dan lo tahu gimana khawatirnya gue? Gue nyaris ninggalin birthday party Prissy."


"Gue semakin khawatir karena lo nggak bisa dihubungin, dan tahu kalau Mama Papa lo lagi nggak di rumah. Sepanjang acara gue nggak bisa berhenti mikirin lo, gue takut sesuatu mungkin terjadi sama lo sampe akhirnya gue ninggalin pesta lebih awal, bahkan sebelum kejutan yang udah kita rencakan gue jalankan."


"Tapi setelah gue sampe di rumah lo, Bi Sukma bilang kalau dia nggak tahu lo udah ninggalin rumah. Gue semakin cemas. Gue cari lo di semua tempat, gue coba ngehubungin lo lagi tapi tetep nggak ada jawaban. Dan barusan apa yang gue lihat?"


"Dann, gue mohon dengerin gue—"


"Orang yang gue khawatirin dan terus gue pikirin di acara ulang tahun pacar gue ternyata lagi seneng-seneng. Orang yang bikin gue ninggalin hari penting pacar gue ternyata lagi sibuk dengan acara lain. Lo bisa bayangin gimana perasaan gue sekarang?"


"Danny—" Qiara nyaris terisak. Suaranya serak.


"Seenggaknya kabarin gue kalau lo baik-baik saja. Seenggaknya jangan bikin gue khawatir, Qiara!" Bentak Danny yang seakan tidak memberikan Qiara kesempatan untuk menjelaskan semuanya.


"Lo tahu gimana berartinya lo buat gue selama ini, tapi lo malah berpura-pura sakit dan menghindari untuk memberikan gue kabar." Kali ini suaranya terdengar melunak juga... lelah.


"Gue minta maaf, Danny. Gue cuma nggak tahu gimana caranya ngejelasin semuanya ke elo. Selama ini gue selalu ngertiin lo, gue selalu lakuin apapun yang lo mau, jadi tolong biarkan sekali ini aja gue kayak gini."


"QIARA!!"


"Gue juga capek. Gue juga muak. Apa lo juga berfikir gimana perasaan gue selama ini?"


Danny mengangguk beberapa kali seraya menatap dalam pada kedua mata Qiara yang tampak berkaca-kaca menahan air matanya. Dengan sangat jelas, Danny bisa melihat luka di sana. Tapi rasa kecewanya yang sudah memuncak membuat segalanya buyar. Apa yang ia lihat beberapa saat lalu, seakan menjelma menjadi sebilah pedang es yang menghunus tepat di jantungnya.


"Gue senang, lega, dan bersyukur karena ternyata lo baik-baik saja, tapi gue minta maaf... gue nggak bisa lagi dengan nyaman dan bebas ngasih kepercayaan gue sama lo. Nggak setelah apa yang terjadi hari ini."


"Dann..."


"Gue pulang sekarang!"


Danny berbalik lalu pergi meninggalkan Qiara tanpa menoleh sedikitpun. Ia pergi membawa rasa kecewa juga rasa sakitnya yang ia tahan sejak kemarin. Segalanya tiba-tiba berubah seperti sebuah bom waktu yang meledak dalam hitungan mundur.


'Kenapa lo nggak pernah ngerti kalau hati gue nggak akan pernah sanggup ngeliat lo sama Prissy? Gimana cara gue ngejelasin kalau sebenernya gue masih sayang sama elo?' Bathin Qiara. Sebulir air matanya menetes dengan setumpuk rasa yang tak terjelaskan.

__ADS_1


Sesak. Dadanya benar-benar sesak sekarang.


^^^To Be Continued...^^^


__ADS_2