
Dean baru saja keluar dari salah satu kamar yang ia tempati di apartemen Danny, ketika tanpa sengaja ia melihat Danny yang saat itu sedang duduk sendiri di meja makan sambil meminum wine. Malam itu, Dean memang memutuskan untuk menginap di apartemen Danny.
Dean yang awalnya ingin mengambil minum di dapur, langsung mengurungkan niatnya dan menghampiri Danny. "Lo belum tidur?" Tanyanya basa-basi.
Danny menoleh dan tersenyum begitu manis pada Dean. Saat itu Dean tahu, bahwa Danny sudah berada di bawah pengaruh alkohol. "Eh, ada Kakak gue. Kakak kesayangan gue..."
Dean mendenguskan tawanya. Jujur saja, Danny terlihat menggemaskan sekarang. "Ayo tidur. Udah larut malam nih. Besok lo kerja."
Saat Dean akan berlalu dari samping Danny, Danny tiba-tiba saja memeluk tangan kanan Dean dan menyandarkan wajahnya dengan nyaman di bahu Dean. "Kak Dean, maafin Danny, ya? Gara-gara Danny lahir, Kak Dean jadi banyak menderita. Maafin Danny, karena kelahiran Danny, Kak Dean jadi kehilangan Mama Shinta."
Seketika Dean terenyuh. Perkataan Danny entah dengan cara apa telah berhasil menyentuh titik yang paling membuatnya terluka. Tidak, Dean tidak pernah menyimpan dendam apapun pada Danny sejak awal. Dia hanya tidak tahu bagaimana cara bersikap pada Danny, atau bagaimana cara menunjukkan kasih sayangnya sebagai Kakak pada Danny. Itulah kenapa pada akhirnya ia selalu bersikap dingin pada Danny dan seakan membentang sekat yang begitu tebal di antara mereka.
Namun, bagaimanapun menyakitkannya keadaan mereka, tidak sekalipun Dean pernah berfikir bahwa dia membenci Danny, seperti dulu dia pernah menyimpan kebencian yang begitu mendalam pada Papanya, juga pada Mama Danny.
"Dan Danny minta maaf juga sama Kak Dean..."
"Danny, lo udah mabuk. Sekarang mending lo tidur." Sela Dean.
"Danny minta maaf, karena Danny... nggak pernah bisa lepasin Qia buat Kak Dean. Bertahun-tahun Danny coba, tapi gagal..." Suara Danny terdengar lemah dan putus asa.
Senyap.
Itu ucapan terakhir Danny sebelum akhirnya ia tidak terdengar bersuara lagi. Yang terdengar hanya suara desauan nafasnya yang teratur.
Dean yang sejak tadi hanya menyimak, kini mulai bergerak. Ia mengambil gelas di tangan Danny, menuangkannya dengan wine, lalu meminumnya dalam sekali teguk. Pandangan matanya tampak menelisik.
"Maafin gue juga, Dann... karena sampai sekarang, gue belum sepenuhnya merelakan Qia buat lo."
...****...
Aroma masakan dari arah dapur, membuat Danny yang saat itu tengah tertidur di ruang tengah langsung terbangun dari tidurnya. Ia mengerjapkan matanya beberapa kali sebelum bangkit dan berusaha mengumpulkan nyawanya yang masih berserakan. Semenit kemudian, Danny menoleh ke arah dapur. Di sana, pemandangan Dean yang sedang menyiapkan sarapan untuknya langsung menyambutnya. Danny tersenyum sekilas dengan mata yang masih menyipit.
"Kalo udah bangun cepet cuci muka. Gue udah masak sup ayam buat lo supaya efek mabuk semalam cepat pulih."
Danny tidak menjawab dan langsung mematuhi perintah Kakaknya. Danny segera ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah selesai, ia langsung ke meja makan dan duduk berhadapan dengan Dean.
"Wow! Supnya enak. Gue baru tahu kalo lo bisa masak, Kak." Puji Danny dengan jujur setelah ia menyeruput sesendok kuah sup buatan Dean.
"Udah. Nggak usah kebanyakan komentar. Makan aja. Supaya lo bisa cepet ke kantor."
"Kak Dean hari ini balik ke Banu?" Tanya Danny seraya menyendokkan sup itu ke mulutnya.
"Nanti malam. Pagi ini gue mau pulang ke rumah. Papa sama Mama ngajakin makan malam. Kalo lo cepet selese hari ini, mending ikut. Mama lo terus ngeluh ke gue gara-gara lo jarang pulang."
__ADS_1
Mendengar Dean menyebut Mamanya dengan panggilan Mama juga, membuat perasaan Danny menghangat. Inilah yang Danny nantikan sejak lama. Bagi Danny, tidak ada hadiah yang lebih membahagiakannya selain ini.
"Nanti gue pulang deh. Gue ajak Qiara juga."
"Oke." Jawab Dean. Ia kemudian mengambil koran di atas meja dan membacanya sambil sesekali menyesap kopinya.
Baru saja Dean fokus dengan koran di tangannya, ingatannya tiba-tiba saja mundur ke belakang, saat pagi tadi ia melihat perlengkapan mandi wanita di kamar mandi Danny. Tanpa perlu susah-susah menerka, Dean tahu betul bahwa perlengkapan mandi itu pasti milik Qiara. Dugaan bahwa mungkin saja Qiara beberapa kali ─atau bahkan sering menginap di apartemen Danny, serta membayangkan bahwa setiap malam gadis yang ia cintai itu tertidur dalam pelukan adiknya, membuat Dean merasakan jantungnya seperti disengat.
Dean menghela nafas, lalu berdehem pelan.
"Udah sejauh mana sama Qiara?" Tanya Dean dengan tenang. Namun ia tahu pasti, bahwa hatinya sedang bergejolak di dalam sana.
Danny otomatis menghentikan kunyahannya. Mendadak ia merasakan suhu di sekitarnya menurun. Tangan dan kakinya mulai terasa dingin. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa Dean memiliki keberanian untuk bertanya soal hubungannya dengan Qiara. Jika Danny ada di posisi Dean sekarang, tentu Danny tidak akan pernah mengungkit apapun yang hanya akan membuatnya terluka.
Melihat Danny yang terus saja diam, Dean pun melipat korannya sambil berusaha mengatur ekspresinya agar tetap terlihat tenang. Dean seperti sudah siap memberikan 'serangan' untuk Danny.
"Jangan terlalu banyak berfikir. Qiara sangat mencintai lo. Tolong, jangan sia-siakan kesempatan yang sekarang lo punya. Karena untuk berikutnya, kalau lo mengulang kesalahan yang sama lagi, gue nggak yakin kalau kesempatan seperti ini masih ada buat lo."
Itu ancaman. Dan itu serius.
Meski mengucapkannya dengan sangat tenang, namun nada mengancam dapat Danny rasakan dengan sangat jelas dalam setiap kata yang Dean lontarkan.
...****...
"Ciye yang lagi nonton Funtastic." Seloroh Alisha seraya duduk di samping Qiara.
Qiara yang kaget serta-merta membuka earphone-nya lalu menatap Alisha dengan sedikit gelagapan. "Ngagetin aja sih, Al!" Rutuknya kemudian. Ia lalu mengambil Banana Smoothie di hadapannya dan meminumnya.
"Gue nggak ngagetin. Elo nya yang kelewat fokus."
"Iya deh, Ibu Penulis Utama. Ciyee... yang akhirnya bisa jadi penulis utama setelah di tempa bak militer sama Mba Uchie." Goda Qiara.
Dua minggu yang lalu, Alisha resmi menjadi penulis utama. Ia dan Qiara lagi-lagi berada di tim yang sama. Namun kali ini yang membuat berbeda adalah, Qiara sudah beralih menjadi produser merangkap presenter berita yang cukup populer.
"Eh iya, gimana sama Bima? Kalian udah baikan?" Qiara tiba-tiba mengalihkan topik begitu ingat bahwa beberapa hari yang lalu, Alisha dan pacarnya bertengkar cukup serius.
Air muka Alisha langsung berubah setelah mendengar pertanyaan Qiara. "Tahu deh. Gue males sama cowok drama."
"Ya lagian elonya juga sih, udah setahun pacaran sama Bima, masiiih aja mikirin Arga. Mau serealistis apapun pemikiran seorang cowok, kalo hati ceweknya ke cowok lain, jelas bakalan drama."
"Pengalaman sama Vanno, ya?" Timpal Alisha.
Kedua mata Qiara langsung membelalak saat mendengar nama Vanno dibawa-bawa. Qiara bahkan sudah lupa kalau ia pernah berpacaran dengan Vanno kalau saja Alisha tidak menyeret namanya sekarang.
__ADS_1
"Kenapa jadi bawa-bawa Vanno, sih? Jelas-jelas kita lagi bahas masalah elo sekarang." Qiara melengos.
"Iya, maaf, maaf..."
"Hhhh..." Qiara terdengar menghela nafas dengan pandangan jauh menerawang. "Nggak Arga, nggak Danny, nggak Abang gue, kenapa sih semua cowok yang ada di circle gue suka banget nyakitin perasaan anak gadis orang?" Keluh Qiara yang tiba-tiba merasa tidak habis fikir.
"Enak aja! Arga itu beda. Nggak kayak Danny. Kalo Arga sih udah ngasih kejelasan. Nah, Danny─"
"Jadi lo mau ngatain Danny di depan gue sekarang? Lo mau ngebelain Si Playboy Arga Joshua itu? Danny walaupun brengsek tapi nggak main cewek sana-sini kayak Arga lo itu." Qiara mulai berang.
"Ciyeee, lakinya dibelain." Alisha balas menggoda, seakan tidak peduli dengan kekesalan Qiara.
Alisha kemudian mengalihkan perhatiannya ke arah pintu masuk, kebetulan di sana ada Danny yang sedang melangkah mendekati mereka. "Pangeran lo tuh."
Qiara memilih untuk tidak acuh. Karena jujur saja, ia masih kesal dengan Danny.
Saat Danny sudah duduk di samping Qiara, Alisha segera berinisiatif untuk pergi agar bisa memberikan waktu untuk mereka berdua. "Eh, gue ke studio dulu, ya? Mba Uchie nyariin gue nih. Bye, Qiara. Bye, Danny."
"Bye, Al!" Balas Danny seraya melambaikan tangan.
Setelah Alisha pergi, Danny tidak langsung membuka suara, begitu juga dengan Qiara. Danny hanya menatap gadis itu dari samping. "Qia, kamu nggak mau liat aku? Masih marah sama aku? Hm?"
"Terus menurut lo, gue harus seneng gitu sama omongan lo kemarin?" Ketus Qiara tanpa mau menatap orang di sebelahnya.
Danny yang mulai frustasi dan merasa lelah diabaikan sejak semalam, tiba-tiba meraih kedua bahu Qiara lalu memutarnya hingga kini posisi mereka saling berhadapan. Namun Qiara masih enggan menatap mata Danny.
"Kan aku udah minta maaf. Kamu juga tahu, kan, kalau bukan itu maksud aku."
"Terus apa?"
"Karena kamu selalu tampak serasi sama Kak Dean dan aku terganggu."
Ups! Jawaban barusan keluar begitu saja tanpa Danny rencanakan sebelumnya. Tidak terbersit dalam fikirannya bahwa ia akan mengeluarkan jawaban sejujur itu. Kini giliran Qiara yang tersenyum di atas kesalah tingkahan Danny. Qiara baru tahu, ternyata rasanya seru juga membuat seorang Danny salah tingkah seperti ini.
Sementara Danny yang beberapa saat lalu muncul dengan penuh rasa percaya diri, kini mendadak malu. Biasanya Danny tidak seceroboh ini. Apa jiwanya dan jiwa Qiara sedang tertukar hari ini?
Danny melepaskan kedua bahu Qiara dan memalingkan wajah. Sementara Qiara, ia lebih memilih untuk tidak mengatakan apapun dulu sambil berusaha keras menahan senyuman di wajahnya.
Beberapa saat kemudian, Qiara menjatuhkan kepalanya di pundak Danny. Rupanya, dia yang merasa ketagihan membuat Danny salah tingkah, kembali melancarkan sebuah usikan lain. "Kamu kalo lagi cemburu makin ganteng juga, ya?"
Danny menatap Qiara yang sedang mendongak padanya. Dua detik berikutnya, Danny terdengar mendungaskan tawanya seraya mengusap wajah Qiara.
Dengan begitu, mereka sudah resmi berbaikan.
__ADS_1
^^^To Be Continued...^^^