
"D —Danny... tolongin gue..." Ucap Qiara dengan suara lemas sambil berusaha menahan rasa sakitnya melalui sebuah sambungan telepon.
Danny yang baru saja tiba di sebuah club untuk memenuhi undangan salah satu temannya, langsung pergi dari tempat itu tanpa berfikir panjang. Suara Qiara yang seperti orang sekarat membuatnya sangat cemas dan tidak bisa berfikir jernih barang sedetikpun. Belum lagi, Qiara hanya sendiri di rumahnya.
Minggu ini, Mamanya pergi untuk menemani Papanya yang sedang bekerja selama beberapa hari, sementara Bu Sukma, Sang Asisten Rumah Tangga sedang pulang kampung untuk membesuk anaknya yang sedang sakit. Berangkat dari hal itu, kepanikan Danny kian membabi-buta.
Ia langsung memarkirkan mobilnya dengan serampangan di depan rumah Qiara. Dengan tergesa ia berlari masuk. Dan di dalam kamarnya, Qiara terlihat meringkuk kesakitan di bawah selimut sembari memegangi perut bagian bawahnya. Wajahnya pucat pasi, dan keringat bercucuran di dahinya.
"Qiara!"
Danny berjongkok di samping tempat tidur Qiara, ia lalu mengangkat kepalanya dengan pelan, "Qi, lo kenapa? Ayo ke rumah sakit! Lo bisa bangun, kan?"
Qiara menggeleng tanpa tenaga. Dengan sisa kekuatan yang ia miliki, Qiara berucap, "nggak perlu ke rumah sakit. Tadi gue udah minum ibuprofen. Dan ini udah biasa terjadi setiap bulan."
"Lo begini setiap bulan, dan lo bilang nggak perlu ke rumah sakit?!" Ujar Danny dengan sorot mata tidak terima.
"Maafin gue sebelumnya, Dann. Tapi apa lo bisa bantuin gue?"
Danny menatap Qiara dengan kedua alis bertaut. Firasatnya mendadak tidak enak.
...****...
Dan di sini lah Danny sekarang, di sebuah minimarket, melihat-lihat deretan rak yang dipenuhi pembalut berbagai macam merk dan ukuran di depannya.
Qiara, Si Biang Kerok itu, meminta bantuannya untuk membelikan pembalut. Danny yang tadinya panik dan mengira hal buruk mungkin sedang terjadi pada gadis itu, ternyata hanya sedang mengalami dismenore. Sebuah gejala kram dan nyeri pinggul saat haid. Reaksi Danny terlalu berlebihan tadi. Dan ia seketika menyesali diri karena sudah mengangkat telepon gadis itu.
Harusnya Danny diam saja di club tadi, menghabiskan waktunya untuk berpesta bersama teman-temannya, alih-alih dimintai tolong membelikan pembalut, yang membuatnya jadi pusat perhatian ibu-ibu dan mba-mba lainnya di minimarket itu.
"Beliin juga yang ukuran 290mm ya, Dann. Tadi gue lupa bilang." Ucap Qiara dari ujung telepon dan semakin membuat emosi Danny naik ke kepalanya.
Danny memejamkan kedua matanya, menghela nafas berkali-kali, lalu... "KENAPA LO NGGAK MERANGKAK AJA KE SINI TERUS BELI SENDIRI! Dan kenapa juga pembalut ada sayapnya? Apa lo mau terbang?"
Teriakan Danny barusan, semakin menarik perhatian yang lainnya. Bahkan beberapa gadis remaja yang tadinya mengagumi ketampanan Danny, terlihat saling berbisik satu sama lain setelah mendengarkan teriakan Danny. Hening untuk beberapa saat, sebelum akhirnya ia tersenyum canggung pada semua pasang mata yang memperhatikannya. "Hehehe... isteri saya..." Alibi Danny sambil menunjuk ke arah ponselnya untuk mengurangi pandangan menghakimi dari orang-orang itu.
"Sama isterinya jangan kasar-kasar, Mas. Kasian. Baru dimintai tolong beli pembalut saja sudah marah-marah." Khotbah salah satu ibu-ibu yang sukses membuat Danny langsung mati kutu di tempat.
__ADS_1
Sementara dari seberang sana, Qiara hanya tersipu setelah mencuri dengar obrolan singkat antara Danny dan ibu-ibu itu. Suara Danny ketika mengakuinya sebagai isteri entah kenapa membuat hati Qiara berbunga.
Sekembalinya dari minimarket, Danny langsung melemparkan kantong belanjaannya di pangkuan Qiara yang saat itu sedang terduduk sambil bersandar di kepala ranjangnya. Di dalam kantong belanjaan itu tidak hanya ada pembalut, tapi juga ada beberapa cokelat dan yoghurt. Qiara mengernyit setelah membuka kantong belanjaannya.
"Kok ada cokelat sama yoghurt?" Qiara mendongak dan melihat wajah Danny yang masih cemberut.
"Tadi gue browsing, katanya cokelat sama yoghurt bisa mengurangi rasa nyeri."
Qiara berusaha menahan senyumnya. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa seorang Danny bisa seperhatian ini padanya.
"Lo masih kesel gara-gara gue minta tolong beliin pembalut?"
Tidak ada jawaban dari Danny. Mengingat bagaimana ia diomeli oleh Ibu-ibu tadi cukup membuatnya merasa agak kesal pada Qiara. Walaupun hal itu bukan sepenuhnya salah Qiara.
"Tadi mau minta tolong Celine sebenernya, tapi Celine lagi liburan weekend ke rumah Omanya. Oya, emang tadi lo lagi di mana? Gue ganggu nggak?"
Danny tidak langsung menjawab. Ia memberikan jeda untuk sesaat. "Nggak lagi di mana-mana."
"Hah?"
"Udah agak reda sih sekarang."
Entah mendapat dorongan dari mana, tangan kanan Danny tiba-tiba tergerak lalu mendarat samar di atas perut Qiara, "hey, perut! Jangan sakit-sakit lagi, ya? Kasian Qia harus menderita setiap bulan." Danny mengatakannya dengan sangat lembut, seakan ia tengah berbicara dengan bayi dalam perut Qiara.
Qiara lagi-lagi tersipu. Menghubungkan sikap manis Danny sekarang, dengan perkataannya pada ibu-ibu di minimarket tadi ketika mengakuinya sebagai isteri, membuat perasaan Qiara yang awalnya berbunga, kini semakin membuncah dalam debaran yang tidak terjelaskan.
Sampai di sini, bolehkah dia berharap kelak Danny akan menjadi suaminya? Dapatkah ia berharap untuk bisa melihat Danny setiap kali ia membuka mata di pagi hari? Menghabiskan waktu bersama hingga tua menjelang, bolehkah Qiara berkeinginan agar harapnya menjadi nyata?
...****...
Dean sudah memutuskan.
Ia akan melanjutkan studi S2-nya di luar negeri. Ia pun telah berencana untuk mengikuti beberapa program beasiswa pilihannya. Sebenarnya, tanpa mengikuti program beasiswa pun, Papanya melebihi mampu untuk membiayainya. Tetapi Dean ingin melakukannya atas usahanya sendiri. Bukan karena ia masih membenci Papanya, namun hal ini sudah menjadi bagian dari rencana masa depan Dean.
Dan Dean menyampaikan keinginanya itu setelah mengumpulkan kedua orang tuanya di ruang keluarga.
__ADS_1
"Papa sangat senang karena akhirnya kamu membuat keputusan ini. Papa mempercayai apapun pilihan yang akan kamu tempuh. Sebagai orang tua, Papa hanya bisa mendukung setiap langkah kamu, Yan."
Dean kemudian mengalihkan pandangannya pada Faradina yang hanya tersenyum hangat padanya.
Baiklah! Sudah cukup Dean hidup dengan menyimpan kemarahannya. Ini saatnya ia memaafkan masa lalu, berdamai dengan keadaan sekarang, dan melanjutkan hidupnya demi orang-orang di depannya ini. Orang-orang yang setia memberikan dukungan untuknya selama ini. Orang-orang yang setia menunggunya membuka pintu hati untuk menerima kehadiran mereka. Dean akan meninggalkan semua lukanya jauh-jauh di belakang.
Limabelas menit sudah Dean duduk sendiri di sofa yang terletak di depan kamarnya dan kamar Danny yang bersebelahan untuk menunggu kepulangan Danny. Saat melihat kepala Danny menyembul menaiki tangga, Dean serta-merta menyiapkan diri untuk menyampaikan sesuatu pada Danny, adiknya.
"Dann?" Ragu-ragu Dean memanggil.
"Hey, Kak. Kenapa?"
Danny berjalan ke arah Dean lalu duduk di sampingnya.
"Gue rencana akan lanjut S2 di luar negeri. Gue juga sudah bersiap untuk mengikuti program beasiswa."
"Iya. Gue udah denger dari Papa sama Mama tadi di bawah. Mereka senang. Udah kasi tahu Qia?"
"Belum. Nanti setelah diterima baru gue kasi tahu."
Danny mengangguk. Sekarang justru ia yang bingung karena tidak tahu harus berkata apa lagi. Ia tidak pernah berbicara akrab dengan Dean selama ini, itulah kenapa situasinya jadi agak canggung sekarang.
"Dan soal Qia..." Lanjut Dean. Senyuman di wajah Danny langsung membeku. "Gue yakin lo udah tahu, tapi tetep akan gue sampein lagi. Gue udah nyatain perasaan ke Qia. Tapi, dia nolak gue."
Ya, Danny tahu. Ia bahkan tahu alasan kenapa Qiara menolak perasaan Dean. Malam itu, Danny mendengar semuanya.
"Gue mengalah sekarang, tapi gue masih belum menyerah. Kalau sekali lagi lo nyakitin dia, dan saat gue pulang nanti gue menemukan dia dalam keadaan patah hati, saat itu, gue nggak akan mengalah lagi. Gue akan bener-bener rebut Qia dari lo."
"Kak Dean —"
"Jadi, berhenti bersikap seperti orang bingung yang terus membuat dia menangis. Lo tahu, kan? Dia sangat berarti buat gue."
Danny menunduk. Ia benar-benar kehilangan kata-kata.
^^^To Be Continued....^^^
__ADS_1