Kutukan Cinta Pertama

Kutukan Cinta Pertama
70. Cerita Untuk Danny


__ADS_3

"Kak Dean kemarin ada pertemuan di Clover Leaf Hotel Harsa. Sebelum itu, Kak Dean memang sudah terlihat nggak fit sejak lo pergi. Apalagi selama beberapa hari terakhir ini, Kak Dean terus memporsir diri. Dia bahkan bisa pergi ke luar negeri selama dua hari berturut-turut. Dan kata Sekertarisnya, Kak Dean jatuh sakit. Dia nggak mau dibawa ke rumah sakit, dan lebih memilih bersitirahat sementara di Penthouse Clover Leaf. Kak Dean juga nggak mau pulang ke rumah, karena takut Danny dan Mamanya akan khawatir."


Itulah penjelasan Windy melalui telepon beberapa saat yang lalu. Suara Windy saat menjelaskan hal itu pada Qiara pun terdengar sangat khawatir. Windy bahkan beberapa kali seperti memastikan agar Qiara benar-benar datang untuk setidaknya menemui Dean satu kali saja.


Qiara mempercepat laju kendaraanya. Sekitar lima belas menit kemudian, tibalah Qiara di Clover Leaf Hotel, tempat dimana Dean mendekam selama beberapa hari karena jatuh sakit. Begitu tiba, Qiara langsung memencet tombol bel dengan perasaan was-was, tidak berselang lama, Dean yang saat itu terlihat pucat dan lemah membukakan pintu untuknya.


"Qi, kamu sudah dateng?"


"Cepat bersiap-siap! Kita harus ke rumah sakit. Kalau nggak, aku akan telepon Danny." Ancam Qiara dengan serius sambil berjalan melewati Dean dan masuk begitu saja.


Sebelum Qiara masuk lebih dalam lagi, secara tiba-tiba ia merasakan Dean menahan pergelangan tangannya. Qiara membeku untuk beberapa detik, sebelum akhirnya berbalik secara perlahan, dan melihat Dean yang ketika itu sedang menunduk seraya menggenggam tangannya erat-erat. Karena itu, Qiara dapat merasakan panas yang memancar dari sekujur tubuh Dean.


Dean benar-benar sedang kesakitan!


"Aku udah agak mendingan, Qi. Kita nggak perlu ke rumah sakit."


"Lalu, jangan bikin Qia khawatir sama Kak Dean!!"


"Qi?"


"Kak Dean bilang mau lihat aku bahagia. Tapi, kenapa Kak Dean justru menyiksa diri seperti ini? Bagaimana bisa aku bahagia, sementara Kak Dean jatuh sakit begini?" Ucap Qiara dengan suara parau. Kedua matanya memerah menahan air mata saat melihat kondisi Dean.


Dean yang biasanya selalu tegar dan gagah berani, sekarang tampak begitu lemah dan seolah bisa tumbang kapan saja.


"Ini nggak ada kaitannya dengan kamu, Qi! Kak Dean sakit bukan karena kamu. Hm?"


"Aku benci Kak Dean!!" Desis Qiara dengan sinis. Tapi nada sinisnya tidak serta-merta mampu menyembunyikan betapa takutnya ia melihat kondisi Dean saat itu.


Qiara kemudian melepaskan tangannya dari genggaman Dean.


Dengan cekatan, ia lantas menelepon petugas hotel, meminta untuk dibawakan semangkok bubur beserta beberapa obat penurun demam.


Tidak lebih dari duapuluh menit, apa yang dipesannya akhirnya datang. Qiara memaksa Dean untuk kembali ke tempat tidur, memakan buburnya lalu meminum obatnya. Kesemuanya itu, tidak satupun luput dari perhatian Qiara. Bahkan karena terlalu fokus memperhatikan Dean, Qiara sama sekali tidak menyadari ketika Danny berkali-kali meneleponnya.


"Kak Dean?"


Dean yang saat duduk di atas kasur sembari bersandar di kepala ranjang langsung mengangkat wajahnya dan melihat ke arah Qiara yang sedang duduk di sofa yang terletak tepat di depannya.


"Kak Dean inget apa yang Ibu Ira bilang waktu itu?"


Dean sudah tidak lagi merasakan kemarahan Qiara. Nada bicaranya pun terdengar melembut.


"Orang baik pada akhirnya akan bertemu dengan orang baik juga." Lanjut Qiara seraya menunduk. Setelahnya ia mengangkat pandangannya, menatap lurus pada kedua mata elang milik Dean. "Kak Dean orang baik, tapi Qia bukan orang baik yang dimaksudkan untuk Kak Dean. Kalau Kak Dean mau sedikit saja membuka hati Kak Dean... Kak Dean pasti bisa melihat orang baik yang sesungguhnya dimaksudkan untuk Kak Dean."


"Qia, tapi—"


Qiara bangkit dari sofa yang sejak tadi ia duduki, melangkah perlahan mendekati Dean, lalu duduk di samping Dean.


"Orang baik itu ada di sekitar Kak Dean, begitu dekat dengan Kak Dean. Dia yang selalu mencintai Kak Dean diam-diam tanpa Kak Dean sadari." Qiara meraih salah satu tangan Dean, lalu mengelusnya dengan lembut, "jadi, mulai sekarang, tolong berusaha untuk menyadari kehadiran dia, Kak."


...****...


Danny mendesah frustasi saat Qiara tidak juga mengangkat panggilannya. Ini sudah dua jam sejak kepergiannya, tetapi Qiara masih belum mengabarkan apapun padanya. Alisha bahkan mengatakan bahwa Qiara belum datang ke kantor, yang akibatnya semakin membuat Danny merasa gundah. Jika bisa, Danny ingin pergi menyusul Qiara saat itu juga. Rasanya menyesakkan jika ia terus-terusan berdiam diri tanpa tahu apa yang sedang terjadi antara Qiara dan Dean.


Danny kemudian meraih jaketnya, hendak pergi menyusul Qiara untuk menuntaskan keinginanya. Namun begitu mengingat bahwa Qiara sempat mengatakan ia hanya butuh waktu berdua saja dengan Dean, Danny langsung mengurungkan niatnya. Ia tidak mau membuat kesan seakan tidak memberikan kepercayaan pada Qiara di saat mereka baru saja memulai kembali hubungan mereka.


Maka Danny pun mengubur dalam-dalam semua keresahannya, sembari berusaha meyakinkan pada diri sendiri, bahwa semuanya akan baik-baik saja. Bahwa Qiara akan segera 'pulang' padanya.


Bukan tanpa alasan Danny merasa serisau ini. Di masa lalu, dia pernah tidak mempercayai Qiara perihal Dean yang akibatnya menimbulkan kesalah pahaman di antara mereka untuk waktu yang cukup lama. Dan Danny tidak ingin hal itu terulang lagi. Qiara sudah memberikannya kesempatan untuk yang ketiga kalinya, Danny tidak akan bersikap bodoh untuk alasan yang sama.


Danny pun kembali menyibukkan diri dengan pekerjaannya sembari menunggu jam makan siang untuk pergi menemui Qiara di Radio.


...****...


September, 2012...


"Kak Dean lagi! Kak Dean lagi! Kenapa semuanya tentang Kak Dean? Bahkan di hari ulang tahun gue, lo pergi gitu aja waktu Kak Dean nelepon dan bilang kalau dia lagi butuh lo. Gue juga butuh lo, Qiara! Gue cowok lo!!"


Danny marah besar. Di tengah-tengah perayaan ulang tahunnya yang ke-17, Qiara tiba-tiba saja pergi sesaat setelah Dean meneleponnya dan meminta untuk bertemu. Yang membuat Danny benar-benar marah adalah, ini bukan kali pertamanya Qiara bersikap lebih mementingkan Dean ketimang dirinya. Sejak Qiara menyelamatkan Dean dari tindakan bunuh diri yang nyaris dilakukannya, Dean seakan tidak ingin lepas dari Qiara. Di setiap kesempatan, Dean selalu menempel padanya.


Di awal, Danny berusaha untuk memaklumi dan mengalah, tetapi makin ke sini, Danny semakin merasa jengah. Perlahan-lahan ia mulai merasa, bahwa Qiara sudah tidak membutuhkannya lagi.


"Danny, lo tahu keadaannya kayak gimana, kan? Gue nggak mungkin mengabaikan Kak Dean untuk sekarang! Tadi, waktu gue nyusul Kak Dean ke makam Mamanya, Kak Dean lagi nangis."


"Apa lo sebegitu sayangnya sama Kak Dean?"


"Danny, dia Kakak lo!" Bantah Qiara dengan keras.


"Ooh? Jadi kalau misalkan dia bukan Kakak gue, apa lo bakal suka sama dia?" Cecar Danny dengan amarah yang sudah sampai pada puncaknya.


"Lo lagi marah. Gue nggak mau bicara sama lo sekarang. Kita lanjutin besok." Putus Qiara. Untuk saat ini, Qiara tidak ingin terlibat pertengkaran dengan Danny. Lebih-lebih di saat Danny baru saja merayakan ulang tahun ke-17 nya.

__ADS_1


Seperti biasa, Qiara memilih untuk mengalah.


"Kalau seandainya lo kenal Kak Dean lebih dulu, dan gue nggak pernah dateng ke kehidupan Kak Dean, lo pasti bakalan jatuh cinta sama Kak Dean, bukan sama gue. Gue cuma beruntung, karena gue kenal lo lebih dulu, Qi..." Lirih Danny sebelum akhirnya melangkah pergi mendahului Qiara dengan perasaan kecewanya.


...****...


"Eh, gue sudah tahu siapa cewek yang udah bikin Mas Danny jatuh cinta." Ucap Bagas yang tiba-tiba saja datang lalu ikut bergabung bersama Nova, Lily, dan Aren yang saat itu sedang mendiskusikan sesuatu di pantry.


"Siapa? Siapa?" Tanya Nova yang terlihat antusias, begitu juga dengan Aren dan Lily di sebelahnya.


"Kasi tahu, Lil!" Ucap Bagas sambil melirik pada Lily saat itu sedang berdiri sambil memegang cangkir kopinya.


"Mba Qiara. Produser di ANHStar Radio." Jawab Lily dengan santai.


"Mba Qiara? Produser yang dulu pernah hilang, terus balik lagi? Masa sih?" Timpal Nova.


"Kemarin gue, Bagas, sama Dimas ngelihat langsung Mba Qiara yang tiba-tiba aja meluk Mas Danny. Mereka berdua bener-bener pelukan di depan mata kami. Ya, kan, Gas?" Lily melemparkan lagi pada Bagas yang langsung disambut oleh Bagas dengan sebuah anggukan mantap.


"Dulu gue sempat denger sih, kalo Mas Danny dan Mba Qiara itu pernah pacaran. Mereka pacaran sejak SMA, terus putus pas mau lulus. Tapi, mereka balikan lagi pas udah sama-sama kerja di ANH Group. Tapi, ya, itu... pas di ANH Group mereka pacaran diem-diem, nggak ada yang tahu. Apalagi dulu Mas Danny belum sepopuler sekarang." Aren menerangkan.


"Tunggu dulu, kalau omongannya Aren bener, apa jangan-jangan rumor itu juga bener?" Kata Nova.


"Rumor yang mana?" Aren dan Lily bertanya dengan kompak. Sementara Bagas, ia hanya menyimak dan mengamati.


"Itu lho, rumor yang bilang kalau tiga tahun yang lalu, Mas Danny sempet mau nikah, tapi batal gara-gara ketahuan selingkuh di Shanghai."


"Dan cewek yang saat itu akan Mas Danny nikahi adalah....?" Kali ini giliran Bagas yang bersuara.


"MBA QIARA!!" Jawab yang lainnya dengan suara yang cukup keras.


"Kalian semua ngapain ngumpul di sini?"


Satu suara milik Danny langsung mengejutkan mereka semua hingga membuat mereka langsung mengambil posisi berdiri sambil berderet satu dengan yang lainnya. Bagas, Nova, Aren, dan Lily sama-sama menundukkan kepala. Mereka sudah bersiap-siap kalau-kalau Danny akan memarahi mereka.


"Ka—kami... Kami..." Jawab Nova terbata.


Saat itu Danny sudah berdiri di depan mereka setelah mengambil sebotol air mineral di kulkas. Wajah Danny ketika itu terlihat santai.


"Eh, gue mau nanya deh sama kalian." Ucap Danny tiba-tiba setelah menenggak minumannya. Ia pun lantas meletakkan botol minumannya di atas meja, tepat di samping sebuah vas bunga.


"A—apa itu?" Tanya Nova yang masih terbata.


"Eeeng, gue punya temen..."


Bagas, Nova, Aren, dan Lily dengan kompak memasang wajah serius, menanti penuh antisipasi.


"Temen gue ini, baru aja balikan sama ceweknya. Nah, terus tiba-tiba mantan gebetan ceweknya itu, ngajakin ceweknya temen gue ketemuan. Dan kata temen gue, selama dua jam ceweknya susah dihubungin, menurut kalian, kira-kira..." Danny akhirnya mengalihkan tatapannya pada Bagas, Nova, Aren, dan Lily yang saat itu sedang menatapnya dengan wajah melongo.


Danny lalu menggelengkan kepalanya, "sudahlahh. Lupain pertanyaan gue barusan. Kalian pasti nggak ngerti." Ujar Danny dengan pasrah lalu meraih vas bunga di atas meja yang ia sangka adalah botol minumannya.


Danny benar-benar hilang fokus gara-gara Qiara hingga membuat ia tidak menyadari sekitarnya.


"Mas Danny, tunggu! Ini minuman Mas Danny." Cegat Nova seraya memberikan botol air mineral tepat saat Danny akan menenggak air di dalam vas itu.


Danny berdehem cukup keras, dan berusaha untuk tetap bersikap stay cool di hadapan anggota timnya setelah baru saja melakukan hal yang cukup memalukan.


Begitu Danny keluar dari pantry, tawa Bagas, Nova, Aren dan Lily langsung pecah secara bersamaan. Danny yang selama ini mereka kenal sebagai sosok yang dingin, kejam, dan tegas tiba-tiba saja kehilangan wibawanya di depan mereka semua.


...****...


Saat jam makan siang tiba, Danny langsung bergegas pergi ke ANH Radio untuk menemui Qiara yang masih susah dihubungi. Sebelum sampai di tempat tujuannya, ia tahu-tahu bertemu dengan Alisha yang baru saja keluar dari dalam lift.


"Eh, eh, Dann! Mau kemana?" Tanya Alisha seraya menahan dada Danny dengan salah satu tangannya.


"Mau nemuin Qia. Qia udah balik, kan?"


"Udah balik dari tadi."


Saat Danny hendak melanjutkan langkahnya, Alisha kembali menahannya, "eh, tunggu dulu, Danny!"


"Apalagi sih, Cha?" Danny mulai frustasi. Dia hanya ingin bertemu dengan Qiara, tapi kenapa harus sesulit ini?


"Qia tadi memang sempat balik, tapi pergi lagi sama Defan buat wawancara narasumber di luar kota. Nanti malam baru balik."


"APA? LUAR KOTA?! Lo kenapa nggak langsung ngabarin gue pas Qia balik sih, Chaaa?"


"Ya gue kira Qia udah ngabarin lo."


"Boro-boro ngabarin, telepon gue aja nggak dia angkat dari tadi." Keluh Danny kemudian.


"Ya udah, ya udah, daripada lo bete, mending ikut gue. Celine sama Arga udah nungguin kita di resturant depan buat makan siang bareng."

__ADS_1


"Tapi, Cha... Qia..."


"Qia bukan anak kecil! Nanti pasti balik lagi. Lagian dia juga kerja, bukan kelayapan nggak jelas. Udah santai aja."


Alisha lalu mengapit lengan kanan Danny, dan membawanya secara paksa untuk pergi ke restaurant, tempat dimana Celine dan Arga sudah menunggu mereka.


...****...


"Arga mana?" Tanya Alisha begitu ia dan Danny sudah tiba di tempat janjian mereka.


Danny yang belum tenang karena masih memikirkan Qiara, segera duduk dan berhadapan langsung dengan Celine.


"Bukannya tadi Arga bilang udah nge-chat lo, minta buat di jemput. Mobilnya lagi di bengkel." Jawab Celine.


"Oh, ya?" Alisha segera memeriksa ponselnya yang sejak tadi tidak sempat ia buka. Dan benar saja, dia mendapatkan satu pesan dari Arga yang meminta untuk dijemput.


"Ya udah kalau gitu lo berdua tunggu di sini, ya? Gue mau jemput Arga sebentar."


Sebelum mendapatkan jawaban dari Danny dan Celine, Alisha pun segera bergegas keluar dari restaurant untuk menjemput Arga.


Beberapa saat setelah Alisha pergi, Danny dan Celine yang selama ini bersikap canggung sama-sama tidak langsung membuka obrolan. Sejak kepergian Qiara tiga tahun yang lalu, mereka tidak lagi sedekat dulu. Posisi Celine pun cukup serba-salah mengingat Ray adalah pacarnya, sementara Danny sendiri adalah sepupunya.


Namun, kecanggungan itu terjadi hanya apabila mereka sedang berdua saja. Jika ada yang lainnya, mereka bisa mengobrol dengan lepas satu sama lain.


"K—Kak Ray udah ngasih tahu lo?"


Danny yang sejak tadi sibuk dengan fikirannya sendiri mendengar Celine bersuara meski terbata awalnya. Danny menatap Celine, tidak lama kemudian Danny mendesah pelan, "hhh... sepupu apaan lo? Bukannya langsung ngasih tahu gue terlebih dulu, malah Bang Ray yang lo utus buat ngasih tahu gue." Danny memprotes, sekaligus berniat mencairkan situasi di antara mereka.


"Masih untung gue ngutus Kak Ray buat ngasih tahu lo."


"Cel..." Panggil Danny dengan lembut.


"Apa?" Jawab Celine dengan nada yang cukup judes.


"Sudah tiga tahun berlalu, apa kita nggak bisa baikan aja?"


"Emang kapan kita pernah berantem?"


"Lo paham apa maksud gue Celine, nggak usah pura-pura bego!"


Celine yang kepalang basah kini tampak gelagapan. Keadaan mereka sekarang cukup konyol mengingat dulunya mereka begitu dekat satu sama lain. Celine lantas beredehem, berusaha terlihat santai di hadapan sepupunya yang menyebalkan ini.


"Gue sama Qia... sudah balikan lagi semalem."


"Apa?" Kaget Celine.


"Iya, semalam kami sudah balikan, dan seharusnya hari ini kami berdua menyampaikan hal itu ke kalian semua. Tapi tadi pagi, Qia nerima chat dari Kak Dean, dia bilang dia harus ketemu Kak Dean. Akhirnya tadi pagi Qia pergi nyusul Kak Dean di Clover Leaf. Dan sampai sekarang Qia nggak bisa dihubungin. Kata Icha, Qia udah balik dari tadi, tapi sekarang lagi pergi ke luar kota buat wawancara."


Celine hanya menyimak perkataan Danny, tanpa menyela. Sepertinya, Danny sedang butuh untuk didengarkan sekarang.


"Gue sebenernya takut banget, Cel. Tapi gue nggak mau ngulang kesalahan yang sama. Dulu, gue selalu nggak bisa ngasih kepercayaan buat Qia. Bahkan setelah kami bertemu kembali setelah berpisah selama tiga tahun, gue langsung menghakimi dia seenaknya dan membenci dia. Gue nggak mau lagi jadi Danny yang egois. Tapi nggak tahu kenapa... hati gue nggak bisa tenang sejak tadi, Cel."


Celine mengangguk maklum, seakan memahami semua ketakutan yang menghantui Danny sekarang.


"Danny, gue menjamin seribu persen lo bisa mempercayai Qia sebanyak yang lo mau. Lo harus tahu ini, selama kalian berpisah, tidak sedetikpun Qia ngelupain lo, tidak seharipun yang dia lalui tanpa menyebut nama lo, dia selalu merindukan lo setiap kali dia bernafas. Itulah kenapa, selama hampir dua tahun di Brisbane, Qia menyibukkan dirinya dengan berkuliah untuk seenggaknya bisa mengalihkan fikirannya dari lo walaupun cuma sebentar. Karena usahanya itu juga, Qia akhirnya bisa menyelesaikan kuliahnya lebih cepat. Jadi, yang mau gue bilang adalah, nggak ada satu halpun yang bisa menggoyahkan perasaan Qia ke elo. Lagipula, selamanya Kak Dean hanya akan menjadi sosok Kakak bagi Qia, tidak akan pernah bisa lebih dari itu. Elo adalah cinta pertama dan terakhirnya Qia. Nggak akan ada yang bisa ngegantiin posisi lo di hatinya dia."


"Dia sudah melalui semua itu karena gue, dan gue... justru membenci dan menyalahkan dia setelah bertemu." Sesal Danny. Untuk beberapa alasan dadanya terasa begitu sesak.


"Untuk itu, lo harus ngasih kepercayaan buat Qia." Celine mengambil jeda sesaat sebelum melanjutkan, "dan menurut gue, Qia memang perlu menyelesaikan semua urusannya sama Kak Dean sampai tuntas, sampai nggak ada lagi yang tersisa di antara mereka. Supaya nantinya, kalian berdua bisa melangkah dengan lebih ringan. Dan buat lo, lo juga harus ketemu sama Kak Dean, ngobrol sama dia dari hati ke hati. Ini saran yang bisa gue kasi sebagai sahabat sekaligus sepupu lo. Hm? Mari selesaikan semuanya, agar nggak ada lagi luka, agar nggak ada lagi pihak yang tersakiti dan menyakiti."


"Thanks, Cel. Sejak dulu bahkan sekarang, elo selalu jadi teman curhat yang terbaik."


"Thanks juga... karena sudah mengembalikan Danny kami yang dulu."


Danny baru saja menyeruput minuman pesanannya yang baru datang ketika Celine tiba-tiba berkata padanya, "oh ya, Dann..."


"Hm?"


"Ada yang pengen gue ceritain ke elo. Ini soal... apa yang sudah terjadi setelah lo kecelakaan dan mengalami koma tiga tahun yang lalu. Gue kira, lo berhak tahu untuk ini."


Danny meletakkan gelas minumannya di atas meja sembari menatap Celine dengan kedua alis bertaut.


Celine lantas tersenyum dengan tenang seraya mendesah pelan, "saat dulu lo koma selama satu bulan, nggak seharipun Qia meninggalkan elo, Dann. Dia selalu ada di samping lo, hampir setiap hari dia menangis dan berdoa untuk kesembuhan lo."


Raut di wajah Danny langsung berubah dalam sepersekian detik. Selama tiga tahun mereka berpisah, hal yang paling membuatnya membenci Qiara adalah; fikiran bahwa Qiara tidak pernah ada untuknya di saat dia sedang berada di antara persimpangan hidup dan mati.


Namun hari ini, Celine datang membawa satu cerita yang membuktikan bahwa dia salah.


Danny pun akhirnya terlempar dalam kubangan sesal dan perasaan bersalah yang mencekiknya.


^^^To be Continued...^^^

__ADS_1


__ADS_2