
Qiara sedang merebahkan tubuhnya dengan posisi telungkup di atas kasur, sambil membaca sebuah novel, ketika sosok Danny muncul secara tiba-tiba di depan pintu kamarnya yang terbuka sambil memakan sebungkus corn chips di tangannya.
"Tumben bangun pagi." Kata Danny dengan nada meledek sambil mengunyah corn chips favoritnya.
Mendengar suara milik Danny menyapa indera pendengarnya, Qiara langsung mengangkat wajahnya dari novel yang sejak tadi ia tekuri sembari menyentuh gagang kacamatanya, "ngapain muncul di kamar gue pagi-pagi?"
"Kenapa? Nggak boleh?" Tanya Danny. Ia lalu memasuki kamar Qiara lebih dalam lagi dan dengan santainya merebahkan tubuhnya tepat di samping Qiara dengan posisi yang sama seperti Qiara.
"Minggir aaah! Gue lagi nggak mood main sama lo. Gue lagi baca buku ini." Usir Qiara seraya mendorong lengan Danny agar menjauh darinya.
"Ya udah sih, baca aja. Gue nggak akan ganggu."
Qiara melanjutkan aktifitas membacanya, namun semenit kemudian konsentrasinya langsung buyar begitu menyadari bahwa Danny terus saja menatapnya diiringi suara berisik dari corn chips yang ia kunyah.
"Danny, berisiiiiik! Lagian lo kebiasaan banget makan di kasur. Ini ntar kalo remahan corn chips lo di kasur gue dikerubungin semut gimana? Gue bisa gatel-gatel, Danny. Jangan jorok, ih!" Keluh Qiara yang sebenarnya mulai jengah gara-gara ulah Danny yang sengaja mengganggu dirinya.
Namun, alih-alih meladeni keluhan Qiara, dengan tidak berdosa Danny justru berkata, "bukannya elo udah biasa di kerubungin semut?"
"Hah?" Qiara menunjukkan wajah blo'on.
"Iya! Elo, kan, manis. Semanis gula. HAHAHAHAHA..." Danny tertawa keras di akhir kalimatnya. Sementara Qiara masih menunjukkan wajah blo'onnya dengan dahi mengernyit.
"Danny, garing!" Ujar Qiara seraya memutar kedua matanya lalu menjatuhkan wajahnya di atas buku sembari memejamkan kedua matanya.
Pria menyebalkan ini benar-benar tahu bagaimana cara membuatnya frustasi.
Qiara kemudian menarik nafas panjang sebelum akhirnya secara perlahan menoleh ke arah Danny dengan wajah juteknya. Qiara paham, apabila Danny terus menempel seperti ini, berarti memang ada sesuatu yang sedang ingin ia bicarakan.
"Sekarang langsung aja, lo mau ngomong apa? Habis itu tolong pergi dan jangan ganggu gue seharian. Nanti malam gue ada siaran." Qiara akhirnya mengalah.
Danny langsung nyengir kuda setelahnya. Yes! Tidak diragukan lagi. Qiara memang yang terbaik yang bisa ia andalkan dalam situasi apapun.
"Besok Prissy kan ulang tahun. Menurut lo, surprise apa yang harus gue kasih ke dia?"
"Dann?" Nada bicara Qiara tiba-tiba terdengar serius.
"Hm?"
"Lo yakin nanyain hal itu ke mantan pacar lo?"
Danny terdiam untuk beberapa detik. Lalu sama seperti Qiara, pandangan mata Danny juga mulai berubah serius. "Kalau gue bersikap seperti mantan pacar lo, gue bakalan kehilangan lo sekarang." Jawab Danny kemudian.
Mereka terus saling memandang untuk waktu yang cukup lama. Dan tiba-tiba, tawa mereka sama-sama pecah setelah sebelumnya sama-sama bergidik geli dengan percakapan barusan. Danny pun mengangkat tangan kananya untuk mengajak ber-high five yang langsung disambut oleh Qiara.
"Cringe, ya?" Kata Danny di sela-sela tawanya.
"Ho'oh." Jawab Qiara menyetujui.
"Cepet kasih ide. Gue harus ngasih surprise apa?"
"Lakuin aja seperti yang di lakuin cowok-cowok biasanya."
"Apaan?"
"Nyanyiin lagu sambil gitaran."
"Bukannya cewek-cewek udah nggak suka lagi sama hal klasik kayak gitu?"
__ADS_1
"Tapi masalahnya cewek lo suka."
"Kok tahu?"
Qiara kemudian menghela nafas. Cowok ini benar-benar cerewet! Rutuk Qiara dalam hati. Memangnya Danny tidak paham juga, kalau Qiara sedang malas menggunakan otaknya untuk berfikir?
"Udaaah, lakuin aja." Ujar Qiara sambil menoyor pelan kepala Danny.
Belum sempat Danny membalas toyoran Qiara dengan menoyornya balik, tiba-tiba saja Safita –Mama Qiara muncul di ambang pintu seraya berkata, "Danny, Qiara, ayo turun! Sarapan sudah siap."
"Oke, Tante!" Jawab Danny penuh semangat.
"Mama Papa kamu kapan pulangnya, Dann?" Tanya Safita, mengingat kedua orang tua Danny yang sedang berpergian ke luar kota, membesuk Kakek Danny yang sedang sakit.
"Mungkin dua hari lagi, Tan."
Safita hanya mengangguk. Lalu saat ia akan berbalik pergi, Qiara buru-buru berkata, "Mama, Mama! Siepin buat Kak Dean juga, ya? Aku mau sarapan sama Kak Dean."
Ucapan Qiara baru saja langsung membuat air muka Danny berubah. Entah kenapa, ada perasaan tidak terima di hatinya sekarang.
"Baik." Jawab Safita singkat sambil berlalu.
Qiara bangkit dari sisi Danny hendak keluar dari kamarnya. Namun tepat saat Qiara akan mencapai pintu, Danny dengan langkah cepat menyusulnya lalu menahan pergelangan tangannya. Qiara menolehkan kepalanya dan melempar mimik bertanya pada pemuda itu.
"Apa nggak bisa sarapan sama gue aja di sini?"
Satu.
...****...
"YEEE! MENANG!" Pekik Dean dengan penuh kegembiraan saat bidak yang ia jalankan berhenti tepat di petak 100 pada pertandingan sengitnya melawan Qiara bermain ular tangga.
Qiara melipat kedua tangannya di depan dada, dan menanti pasrah Dean yang akan memberikannya satu sentilan keras di dahinya sebagai hukuman. Mendadak Qiara menyesal karena telah menantang Dean bermain ular tangga saat tadi ia mengantarkan sarapan untuk pria ini.
"Oke, siap, ya?" Ujar Dean seraya menyiapkan jari telunjuknya sebagai senjata untuk menyentil dahi Qiara.
Qiara serta-merta memejamkan kedua matanya dengan harap-harap cemas. Namun di dalam hatinya ia yakin, bahwa Dean tidak akan tega menyentil dahinya dengan keras. Qiara sangat yakin, bahwa Dean akan melakukannya dengan pelan.
Tetapi apa yang berikutnya terjadi, justru menjungkir-balikkan keyakinan Qiara dalam sekejab mata. Karena ternyata Dean menyentil dahinya dengan sangat keras hingga membuatnya kesakitan.
"AWW!" Ringis Qiara dengan cukup keras sembari memegangi dahinya dan menyembunyikan wajahnya ke samping.
Apa yang Qiara lakukan itu secara otomatis membuat tawa Dean terhenti. Rasa gembiranya yang sejak tadi membuncah sekarang berubah menjadi perasaan khawatir.
"Qi, Qi, kamu nggak apa-apa?" Tanya Dean tanpa bisa menyembunyikan kepanikannnya sambil memegang kedua pundak Qiara, dan sedikit menundukkan wajahnya.
"Qi, Kak Dean minta maaf." Lirih Dean dengan penuh rasa bersalah. Ia masih berusaha untuk dapat melihat wajah Qiara.
Dean yang sudah tidak tahu harus melakukan apa lagi, langsung meraih kepala Qiara dan membawanya ke dalam dekapannya, "maaf, ya?," ucap Dean penuh kelembutan seraya mengelus pelan rambut panjang milik Qiara.
Dalam hitungan ketiga, tanpa bisa Dean perhitungkan sebelumnya, Qiara tiba-tiba saja tertawa puas lalu segera melepaskan diri dari dekapan Dean. Ternyata, ia hanya mengerjai Dean saja untuk membalas perlakuan Dean tadi. Sekarang, Qiara benar-benar merasa sudah impas.
"Kamu bohongin Kak Dean?" Tanya Dean dengan wajahnya yang masih tampak panik.
Sementara Qiara, ia terus saja tertawa sambil berusaha mengontrol diri.
"Habis Kak Dean nyentilnya keras banget. Beneran sakit, lho. Lihat nih, dahi aku pasti udah memerah sekarang." Ujar Qiara sambil mendekatkan wajahnya ke arah Dean dan menunjukkan dahinya yang benar-benar memerah.
__ADS_1
Sekali lagi Dean meringis dengan perasaan bersalah. Lalu dengan penuh perhatian, ia mengusap dahi Qiara dengan gerakan lembut.
"Duuh, Kak Dean minta maaf sekali lagi, ya?"
...****...
Danny akan menaiki anak tangga menuju kamarnya saat tiba-tiba perhatiannya tertuju pada Dean dan Qiara yang tampak asyik bersenda gurau di ruang tengah. Untuk sejenak Danny tersenyum melihat Dean yang tampak bahagia. Sorot dingin di matanya tidak terlihat saat bersama Qiara. Namun, hanya beberapa saat kemudian, ketika Dean meraih kepala Qiara dan membawanya ke dalam dekapannya, sesuatu dalam diri Danny yang tidak ia pahami, tahu-tahu menyentak dirinya tanpa peringatan.
Degh! Jantung Danny di dalam sana seakan baru saja ditinju oleh sebuah tangan misterius. Senyum yang tadi sempat mengembang di wajahnya kini perlahan pudar.
Ia kemudian menghela nafas yang entah kenapa terdengar... berat.
Dua.
...****...
30 Menit yang lalu...
"Apa nggak bisa sarapan sama gue aja di sini?"
Danny tidak tahu kenapa tiba-tiba ia mencegat pergelangan Qiara dan secara tersirat memintanya untuk tetap tinggal dan tidak menemui Dean. Namun sejak tadi, ia merasa sangat terganggu ketika mendengar suara dari otak dan hatinya yang terus bertikai tanpa henti. Sialnya, otaknya kalah, dan hatinya lah yang telah memenangkan pertikaian itu.
Perasaan Danny tiba-tiba mencelos, seperti ada yang luruh dalam dirinya manakala Qiara melepaskan tangannya dari kungkungan Danny. Tanpa sedikitpun mengalihkan pandangan mata dari Danny, dan dengan seulas senyum di wajahnya, Qiara berujar, "lo juga tahu, kan? Gue harus nemenin Kak Dean sekarang."
Danny kalah. Ia sudah tidak bisa mengelak lagi.
Ia pun hanya bisa tersenyum getir saat melihat punggung Qiara yang semakin lama semakin menghilang dari pandangan matanya. Beberapa saat kemudian, Danny berdecak pelan lalu memukul kepalanya sendiri.
"Begok! Apa yang barusan lo lakuin, Danny Adhitama?"
...****...
"Sore, Al!"
Tegur Qiara penuh semangat begitu ia memasuki lounge ANHStar Radio. Alisha yang saat itu tengah fokus memeriksa naskah siaran, hanya melambaikan tangan ke arah Qiara tanpa sedikitpun mengalihkan perhatiannya dari naskah yang ia baca.
"Naskah buat malam ini ada yang diedit?" Qiara sekali lagi terdengar bertanya, sembari duduk tepat di hadapan rekannya itu.
"Dikit aja kok." Jawab Alisha sekenanya.
Dalam salah satu divisi di ANHStar Radio, ada dua tim khusus yang di dalamnya terdapat beberapa mahasiswa yang diberikan tanggung jawab untuk masing-masing memegang satu program acara. Qiara dan Alisha kebetulan berada di satu tim yang sama. Alisha adalah asisten penulis naskah yang memiliki impian untuk menjadi seorang penulis utama suatu hari nanti.
"Udah pas nih. Coba lo baca dulu. Naskah yang semalem gue kirim, ternyata ada beberapa kesalahan. Sekarang udah gue beresin." Terang Alisha seraya menjulurkan naskah itu tepat di hadapan Qiara.
Qiara langsung menerimanya, kemudian meletakkan ponsel serta botol tumbler-nya di atas meja sebelum akhirnya membaca naskah yang Alisha berikan.
"Kalau gitu, gue menghadap Mba Uchie dulu, ya?"
"Oke. Good luck, ya, Al?"
Alisha pun melangkah keluar dari lounge, dan segera menemui Mba Uchie, penulis utama dalam program yang mereka bawakan. Alisha sengaja ingin menemui Mba Uchie untuk melakukan konsultasi rutinnya perihal penulisan naskah.
Saat sedang berkutat dengan naskahnya, Qiara tiba-tiba merasakan ponselnya bergetar. Ia menghentikan kegitannya sejenak dan meraih ponselnya yang ada di atas meja. Ia baru saja menerima satu pesan dari Danny.
Qiara mendesah setelah membaca pesan yang Danny kirimkan. Lalu, tanpa berniat membalas pesan itu, Qiara meletakkan ponselnya ke tempat semula dan kembali fokus mempelajari naskahnya.
__ADS_1
"Terus, sampai kapan gue harus peduli sama kehidupan asmara lo, Danny Juan Adhitama?" Gerutu Qiara dengan pelan lalu membalik lembar naskah yang sedang dibacanya.
^^^To Be Continued...^^^