Kutukan Cinta Pertama

Kutukan Cinta Pertama
21. Janji Sepotong Permen Karet


__ADS_3

Waktu hampir menunjukkan pukul satu dini hari saat Qiara menyelesaikan pekerjaannya. Dan ia cukup terkejut saat melihat Danny yang sedang menunggunya di lobby ANHStar Radio.


Tidak biasanya Danny datang menjemputnya tanpa mengabarinya terlebih dahulu. Qiara yang masih tercengang di tempatnya sama sekali tidak menyadari ketika Danny menoleh ke arahnya lalu melambaikan tangan dengan senyuman yang begitu lebar di wajahnya.


Tidak ada lagi jejak-jejak patah hati yang tertinggal dari pandangan mata itu.


"Qia!"


Qiara kemudian menarik diri dari keterpanaannya saat mendengar Danny memanggil namanya. Ia menggelengkan kepalanya sesaat lalu menghampiri Danny dengan wajah heran. "Tumben nggak ngabarin dulu kalo mau jemput?"


Alih-alih memberikan jawaban, Danny justru menjulurkan satu cup Americano di hadapan Qiara. Menurut Qiara, hal yang Danny lakukan sekarang jauh lebih janggal lagi.


Bagaimana tidak? Pemuda ini selalu marah-marah setiap kali Qiara meminum kopi setelah menyelsaikan siaran malamnya. Tapi, apa yang Danny lakukan sekarang? dia justru memberikan Qiara kopi dengan mudahnya.


Tunggu dulu... apa Danny sudah membubuhkan racun di dalam kopi itu? Fikir Qiara.


Danny yang seakan bisa membaca fikiran Qiara langsung terkekeh dan berkata, "tenang aja, nggak ada racun di dalamnya."


"Apa ini? Kenapa mendadak lo bisa baca fikiran orang?" Kata Qiara sambil menerima kopi itu dari Danny. Tatapan matanya masih waspada.


"Udaaah, minum aja kopinya biar mata lo seger malam ini."


"Emang kenapa?"


"Karena kita berdua akan night ride sepanjang malam. Dan paginya, kita akan lihat matahari terbit di pantai. Udah lama nggak ke pantai, kan?"


Meski wajah Qiara tampak datar dan seakan tidak menunjukkan ketertarikan sama sekali atas ucapan Danny barusan, namun di dalam hati, Qiara langsung bersorak kegirangan. Akhirnya, dia bisa melakukan night ride berdua saja dengan Danny. Bagi Qiara, tidak ada yang lebih menyenangkan lagi dari ini.


"Ini sebagai bayaran, karena gue nggak dateng di surprise party lo malam itu. Deal?" Ucap Danny seraya mengulurkan tangan kananya.


Qiara berpura-pura berfikir. Tidak lama, ia langsung menyambut uluran tangan Danny lalu tertawa bersama.


...****...


Tepat ketika waktu menunjukkan pukul setengah tiga pagi, Danny berhenti di sebuah rest area yang memang beroperasi selama 24 jam. Danny membuka *seat*belt-nya, lalu lebih mendekat ke arah Qiara untuk membangunkannya yang sedang tertidur pulas.


Ternyata Americano tadi tidak melakukan 'pekerjaannya' dengan baik.


"Qi, ayo bangun. Kita mampir sebentar." Ucap Danny dengan lembut sambil membelai wajah Qiara. Ia bahkan tidak tega jika harus menepuk wajah itu untuk membangunkannya.


Qiara melenguh pelan sambil menggeliat kecil, "hah? Dimana kita? Udah sampe, ya?" tanya Qiara dengan suara serak dan kedua mata menyipit.


"Sampe apanya? Kita baru tiba di rest area. Lagian curang banget. Lo malah ninggalin gue tidur. Ini sih bukan night ride namanya. Lo lagi numpang tidur aja di mobil gue." Rajuk Danny lalu keluar dari dalam mobil terlebih dulu.


"Kang Ngambek kambuh lagi..." Gerutu Qiara seraya memutar kedua bola matanya.

__ADS_1


Ia lalu segera menyusul Danny, sebelum rajukannya semakin menjadi-jadi.


Di dalam rest area itu, hanya ada beberapa food court saja yang masih membuka pelayanan. Dan karena memang tidak memiliki pilihan lain, Danny dan Qiara pun memutuskan untuk memakan mie cup. Rest area itu juga tidak terlalu ramai seperti jam normal biasanya.


Sejak beberapa menit yang lalu, Danny pergi ke toilet untuk mencuci muka. Qiara yang merasa bahwa Danny pergi terlalu lama, akhirnya mencoba menghubunginya. Namun sayang, Danny tidak membawa ponselnya dan hanya meninggalkannya begitu saja di kantong jaketnya. Qiara mendesah.


Kemana perginya Tukang Ngambek itu?


Saat Qiara hendak bangkit dari kursinya untuk memeriksa keberadaan Danny, Danny tiba-tiba saja muncul tepat dari belakangnya sambil membawa sebuah kue berukuran kecil dengan lilin angka 20 di atasnya. Qiara membeku di tempatnya dengan wajah blank.


"Gue nggak akan nyanyi karena tahu lo nggak suka hal-hal semacam itu, lebih-lebih dari gue, mantan pacar lo yang super duper menyebalkan ini. Jadi, sekarang langsung aja tiup lilinnya. Karena ini sudah cukup memalukan sekarang."


Qiara yang tadinya terpukau, langsung tertawa kecil sambil mendesis setelah mendengar penuturan Danny. Pria menyebalkan ini, memang selalu sejujur ini. Dan itulah yang menjadi daya tariknya.


Mengikuti keinginan Danny yang sudah mulai terlihat geli dengan hal yang dia lakukan sendiri, Qiara segera meniup lilin lalu mengambil alih kue itu dari tangan Danny.


"Kok main tiup aja? Lo belum bikin wish, Qiara!" Komplain Danny sembari mengerucutkan bibirnya.


Qiara lagi-lagi terkekeh melihat mimik wajah Danny saat itu. Danny mungkin tidak menyadarinya, tapi dia terlihat sangat cute di mata Qiara.


"Buat apa bikin wish? Semua harapan gue udah ada di depan gue sekarang." Ucap Qiara seraya menatap Danny dengan penuh keyakinan dan dengan satu senyuman misterius di wajahnya.


"Hah?" Danny memasang mimik tidak percaya yang langsung disambut oleh tawa meledek dari Qiara.


Qiara kali ini tidak mengatakan apapun pada Danny, ia berlalu, membereskan barang-barang mereka di meja, lalu berjalan keluar.


Sesaat kemudian Danny tersadar. Ia tersipu, menahan semua kesalah tingkahannya, dan segera menyusul Qiara.


Mereka pun kembali melanjutkan perjalanan mereka. Seperti yang Qiara katakan tadi, ia menggantikan Danny menyetir. Tepat pukul lima lewat sepuluh, mereka tiba di sebuah pantai yang dulu pernah mereka kunjungi saat karyawisata semasa SMP. Kembali ke tempat itu, mau tidak mau membuat memori lama Qiara terungkit lagi.


Sembari menunggu matahari terbit, Qiara berlari ke bibir pantai sambil sesekali memutar tubuhnya, ia juga tidak hentinya tertawa. Baginya, ini hadiah ulang tahun terbaik yang pernah ia dapatkan selama 20 tahun ia hidup.


"Qia, jangan lari-lari gitu. Nanti jatuh." Kata Danny seraya berusaha mengejar langkah gadis itu.


Bukannya menghiraukan ucapan Danny, Qiara malah berlari ke arahnya, menarik kedua tangannya, lalu membawa Danny lebih dekat lagi ke air.


Melihat Danny yang seperti takut basah, Qiara malah semakin gencar menggodanya dengan sengaja mencipratkan air.


Merasa sudah cukup dengan tingkah Qiara yang mendadak berubah seperti anak kecil, Danny kemudian menahan kedua bahunya sambil menatap dalam-dalam pada sepasang manik matanya. Wajah Danny berangsur serius, dan suara tawa Qiara yang tadi menggema, perlahan hilang.


"Udah, ya, mainnya?" Pinta Danny dengan suara lembutnya. Suara lembut itu seolah berhasil melelehkan hati Qiara.


Danny kemudian membenahi rambut panjang Qiara lalu menyampirkannya ke belakang telinga. Tatapan dan sikap lembut Danny, juga perhatiannya, entah dengan cara apa tiba-tiba saja mampu menimbulkan sebentuk keberanian dan keyakinan di hati Qiara.


Qiara bertekad, bahwa dia tidak akan berfikir ulang lagi. Karena begitu dia berfikir ulang, maka semua keberanian dan keyakinan yang sudah terpatri dalam dirinya akan terkikis.

__ADS_1


"Kenapa?" Tanya Danny dengan suara yang masih terdengar lembut saat sadar bahwa Qiara sedang memikirkan sesuatu.


Qiara terdiam untuk beberapa saat, sisa satu menit lagi sebelum matahari terbit.


"Dann?"


"Hm?"


"Setelah matahari terbit, gue tahu gue akan menyesali apa yang akan gue katakan sama lo sekarang. Tapi gue nggak peduli, jika itu karena lo, gue akan menyesal berkali-kali dan mengulanginya. Mulai sekarang gue akan jadi satu-satunya yang menyukai lo, gue akan terus menempel sama lo kayak permen karet sampe lo bosen sama gue, gue akan jadi orang yang mengejar-ngejar lo. Mulai sekarang, gue akan menikmati perasaan bertepuk sebelah tangan ini tanpa komplain." Jeda sesaat. Qiara menghela nafas dan semakin intens menatap ke dalam mata Danny, "sejak kita jadian dan kita putus, gue selalu ingin menyampaikan satu kalimat ini buat elo, Dann. Sekarang, akan gue sampaikan secara langsung..." Lanjutnya kemudian.


Danny masih menatap Qiara dengan cara yang sama. Ada selubung misteri yang tidak terselami dari kedua bola matanya.


"Danny... gue cinta sama lo."


Saat Qiara mengucapkan satu kalimat itu, ia sudah siap terluka untuk Danny.


Bersamaan dengan terbitnya matahari, Qiara berjinjit agar bisa menjangkau tinggi badan Danny. Setelah jarak di antara mereka tidak lagi terbentang, Qiara memejamkan kedua matanya lalu memberanikan dirinya untuk mencium Danny. Di saat yang bersamaan, tangan Danny terkepal kuat, ia berusaha sekuat tenaga menghalau dorongan dalam dirinya yang terus merong-rong pertahanannya tanpa ampun.


"Danny, gue malu. Lo bisa peluk gue sekarang? Gue harus sembunyi." Gumam Qiara pelan setelah melepaskan tautannya dengan Danny.


Qiara bahkan terlalu malu untuk sekedar beradu pandang dengan Danny.


"Ciiih, dasar bodoh!" Rutuk Danny sambil tersenyum.


Meski terlihat tenang dari luar, namun jauh di dalam dirinya, ada badai yang sedang mengoyaknya.


Danny kemudian menoyor pelan kening gadis itu sebelum membawanya ke dalam pelukannya, dan membiarkan Qiara bersembunyi dalam dekapannya.


Sampai di sini saja. Danny tidak bisa membiarkan benteng pertahannya runtuh begitu saja.


...****...


Setelah Celine, Qiara dan Ray masuk ke dalam rumah, tersisalah Danny dan Arga hanya berdua saja di halaman belakang rumah Qiara. Mendadak, ada satu hal yang membuat Arga merasa penasaran setelah mereka membahas siapa yang cocok untuk menjadi jodoh Qiara di masa depan.


"Dann, kalau disuruh milih siapa yang akan lo nikahi di masa depan, lo bakalan pilih siapa? Pricilla atau... Qiara?" Tanya Arga langsung sambil mencondongkan wajahnya.


"Hah?"


"Udaah, jawab aja. Siapa yang bakalan lo pilih."


Danny memasang wajah berfikir, ia pun menyentuh dagunya sambil memicingkan kedua mata. Tidak lama kemudian... "Qiara. Gue tetep pilih Qiara."


"Kenapa?"


"Karena kalau bukan dengan Qiara, hidup gue akan sangat membosankan."

__ADS_1


^^^To be Continued...^^^


__ADS_2