Kutukan Cinta Pertama

Kutukan Cinta Pertama
16. Dumb and Dumber


__ADS_3

Dean menghentikan ayunan langkah kakinya yang terburu saat dengan jelas melihat Danny menarik tirai di sekitar hospital bed hingga menutupi dirinya dan Qiara. Selepas itu, dengan jelas juga Dean mendengarkan seperti ada suara retakan jauh di dalam dadanya. Dan Dean perlahan terpukul mundur ketika melihat dua pasang kaki dari balik tirai yang seperti sengaja ingin bersembunyi darinya.


'Dann, ada apa?'


Samar-samar Dean mendengarkan suara Qiara di depannya.


'Tunggu sebentar, ya?'


Suara kali ini tentu milik Danny. Dean kemudian menundukkan wajahnya untuk beberapa lama, sebelum akhirnya berbalik pergi dan meninggalkan tempat itu dengan hati yang retak.


Dean tidak tahu dengan pasti, tapi ia sangat yakin bahwa Danny sengaja melakukan hal itu agar Dean tidak melihat mereka dan hadir di antara mereka.


Saat Dean baru saja keluar dari klinik, pandangannya langsung tertuju pada Prissy yang saat itu terlihat hendak menyusul Danny dan Qiara.


"Kak Dean ke sini mau lihat Qiara juga, ya?" Tegur Prissy. Tapi matanya melihat ke dalam klinik, seakan ingin memastikan sesuatu.


"Qiara sama Danny sudah pulang. Lo juga sebaiknya pulang." Ucap Dean berbohong.


Dalam hati Dean langsung merutuki diri. Sejak kapan dia jadi pembohong seperti ini demi melindungi Danny yang sedang 'bersembunyi' di dalam sana?


Dan Prissy tidak sebodoh itu, dia tahu bahwa Dean sedang tidak jujur padanya sekarang. Tetapi Prissy tidak peduli, dia akan tetap menerobos masuk dan mencari keberadaan Danny di dalam.


Namun sebelum Prissy menunaikan rencananya, getar ponselnya langsung menghentikannya. Dia baru saja menerima satu panggilan masuk dari seseorang yang tidak akan pernah bisa ia tolak panggilannya.


Mamanya.


...****...


Qiara berjongkok dengan desauan nafas yang tidak teratur saat ia baru saja setengah jalan. Ia benar-benar merasa tidak sanggup lagi.


Minggu pagi itu, Qiara, Danny, Arga, dan Celine sepakat untuk lari pagi bersama. Namun karena Qiara sangat lambat dan terlalu banyak beristirahat, ia dan Danny pun jadi tertinggal sangat jauh dari Arga dan Celine. Dan hal itu membuat Danny agak kesal hingga terus-terusan memarahi Qiara sepanjang jalan.


Danny yang sudah berlari cukup jauh darinya langsung berhenti saat menyadari bahwa gadis cerewet itu lagi-lagi tertinggal jauh darinya. Danny berbalik dan mendapati Qiara yang sudah terduduk di tengah jalan. Danny berdecak lalu kembali untuk menghampiri Qiara.


"Cemen banget, sih?! Kita ketinggalan jauh dari Arga sama Celine, nih. Mereka pasti udah nyampe rumah sekarang." Protesnya dengan dongkol.


"Tenaga gue bukan tenaga kuda kayak lo! Lagian kenapa sih dari tadi marah-marah terus? Udah kayak nenek-nenek lagi PMS. Kalau mau duluan aja. Nggak usah nungguin gue." Balas Qiara sambil berusaha mengatur desauan nafasnya.


Lagi pula, kenapa Danny hobi sekali marah-marah? Tempramennya benar-benar buruk sekali. Baru kemarin dia bersikap manis setelah pertengkaran mereka yang cukup serius, sekarang sikap menyebalkannya itu malah kambuh lagi.


Danny menatap Qiara dengan seulas senyuman samar di wajah tampannya. Tidak lama ia berbalik lalu berjongkok di hadapan Qiara,


"Ayo naik!" suaranya tiba-tiba melembut.


"Apaan sih?"


"Lo naik dengan suka rela atau gue paksa?" Kali ini nadanya terdengar mengancam.


Qiara yang sudah tidak punya pilihan lain pun akhirnya naik ke punggung Danny dan melingkarkan kedua tangannya pada leher pemuda berkulit putih itu. Danny bangkit sambil menggendong Qiara di punggungnya.


Debaran jantung Qiara yang sejak tadi memang tidak normal, sekarang makin tidak stabil. Ia mendadak gugup dan merasa sangat menyedihkan. Suasana pun menjadi canggung dan hal itu membuat mereka sama-sama merasa tidak nyaman satu sama lain. Apalagi ketika ingatan tentang adegan berpelukan mereka di klinik kampus tempo hari kembali menghantam ingatan mereka secara bersamaan. Hal itu kian membuat Qiara merasa malu hingga semburat merah timbul mewarnai kedua pipinya.


Danny tersenyum miris saat menyadari betapa canggungnya mereka sekarang.


"Gue bikin lo gugup, ya?" Tanya Danny dengan nada menggoda yang sebenarnya hanya ingin mengerjai Qiara saja.

__ADS_1


Qiara mendadak salah tingkah, tidak tahu harus berbuat apa. Ia merasa semakin malu. Pertanyaan jahil yang baru saja Danny lemparkan malah semakin membuat perasaannya tidak menentu. Pikirannya pun buntu.


"Nggak usah kegeeran jadi cowok!" Rutuknya seraya menoyor pelan kepala Danny.


Danny tertawa dan kembali melanjutkan langkahnya dengan jutaan perasaan tak terjelaskan.


"Makasih ya, Qi?" Kata Danny tiba-tiba.


"Buat?"


Nah, kan! Sikapnya berubah lembut lagi. Apa jangan-jangan Danny punya keperibadian ganda?


"Sikap Kak Dean sekarang udah mulai berubah. Dia nggak sedingin dulu, dan gue tahu, itu semua pasti andil dari lo, kan?"


"Itu emang kemauan dari Kak Dean sendiri, Dann. Sikapnya pun nggak serta-merta berubah, dia butuh dua tahun lamanya untuk bisa berdamai sama masa lalu."


"Makasih juga karena selalu ada buat Kak Dean di saat-saat itu."


"Makasih juga karena udah mau bersabar buat Kak Dean selama ini." Lirih Qiara pelan.


Meskipun bisa menangkap ketulusan dari perkataan Qiara barusan, tapi entah kenapa Danny justru merasa ada yang janggal dengan hatinya. Perasaan janggal itu bahkan tidak mampu ia definisikan dengan baik. Segalanya terpendam bersama luapan perasaannya.


...****...


"Danny Qiara masih jauh, ya?" Tanya Celine pada Arga saat mereka baru saja sampai di rumah Qiara yang mereka jadikan sebagai garis finish.


"Kayaknya sih gitu." Jawab Arga seadanya.


"Hahaha, Danny pasti lagi marah-marah sekarang." Tebak Celine.


Celine lalu masuk begitu saja ke rumah Qiara untuk mengambil minuman. Ia bahkan lupa, bahwa di dalam sana ada Ray, seseorang yang paling ingin dia hindari.


"Aduuuh, ngapain berdiri di belakang gue sih?" Omel Celine sambil mengusap keningnya. Ia masih belum sadar bahwa yang bersamanya sekarang adalah Ray.


Dan begitu ia mengangkat wajah, ia terkejut setengah mati, "astaga!" Pekiknya kaget, seakan ia baru saja melihat sesosok hantu.


Pagi itu, Ray terlihat sangat tampan meski matanya tampak lelah setelah mengerjakan skripsi semalaman suntuk. Ia menggunakan sweater turtleneck berwarna hitam, dan sebuah kaca mata masih bertengger di atas hidungnya. Celine menelan ludah. Sial! Kenapa mantannya ini terlihat sangat tampan bahkan saat ia baru bangun tidur seperti ini? Pria ini benar-benar tidak baik untuk kesehatan jantungnya.


"Hehehe morning, Lin..." Sapa Ray dengan suara serak khas bangun tidurnya seraya mengusap dahi Celine.


Celine tidak menjawab dan memilih untuk segera undur diri dari hadapan Ray.


"Cel, kasi gue minum!" Ucap Arga yang tiba-tiba saja muncul di dapur.


Celine pun melempar sebotol air mineral yang langsung di tangkap Arga dengan sigap. Lalu, tanpa mengatakan apapun, Celine berjalan ke halaman belakang.


Jantungnya sekarang sudah berdebar dengan sangat kencang di dalam sana gara-gara ulah Ray.


"Eh, elo kan yang selama ini sering ngegodain cewek gue?" Kata Ray begitu menyadari kehadiran Arga.


Mendengar pertanyaan Ray itu, Arga langsung mati kutu.


Tahu darimana Ray kalau selama ini Arga selalu menggoda Celine? Fikir Arga.


"Cewek dari mana? Orang kalian udah putus."

__ADS_1


"Pake ngejawab lagi lo!"


Ray kemudian melangkah ke arah Arga lalu menahan leher Arga dengan lengannya hingga membuat Arga kesulitan bernafas.


"Aduh, Bang! Ampun, Bang!" Pinta Arga dengan suara tercekat seraya memukul-mukul lengan Ray yang masih menahan lehernya dari belakang, berharap untuk dilepaskan.


Setelah Danny dan Qiara kembali, mereka semua pun termasuk Ray berkumpul di halaman belakang dan membahas banyak hal.


Mereka tampak akrab sambil sesekali tertawa.


Danny dan Qiara pun tidak luput menjadi bahan ledekan mereka. Arga bahkan bercerita bahwa ia sedang berusaha untuk menjodohkan Qiara dengan seseorang, tapi sepertinya akan gagal karena Qiara susah di ajak kerja sama.


"Kalau menurut gue, nggak akan ada cowok yang sanggup ngehadepin Qiara kecuali Danny. Jadi, sampe akhir gue tetep pegang Danny. Bukan begitu, adik ipar?"


Ray lalu melemparkan tatapannya ke arah Danny yang saat itu sedang tersenyum padanya sambil memberikan tanda 'OK' dengan jarinya.


"Nggak bisa sama Danny!" Sela Celine tiba-tiba, yang langsung diaminkan oleh Arga.


Sementara Qiara yang menjadi bahan pergunjingan saat itu, tetap memilih tidak peduli sambil memakan semangkok sereal tepat di samping Danny. Qiara juga sesekali menyuapi Danny dengan gerakan yang sangat natural.


"Kenapa nggak bisa?" Tanya Ray. Wajahnya mendadak berubah serius.


Sepertinya topik ini cukup krusial bagi Ray. Ini menyangkut masa depan adiknya.


"Danny childish dan nyolot, sementara Qiara lebih childish lagi, mereka tiap hari kerjaannya berantem. Mereka pantas disebut Dumb and Dumber. Jadi, nggak akan cocok kalau jadi suami-isteri. Salah satunya harus lebih dewasa agar seimbang."


"Ya terus gue cocoknya sama siapa?" Celetuk Qiara dengan tak acuh.


Ia lalu mengambil banana milk yang diberikan oleh Danny, dan kembali menyerahkannya pada Danny untuk diminum juga.


"Serasa lo paling dewasa aja, Cel." Sambut Danny setelah meminum banana milk-nya.


"Kalau kata gue, lebih cocok sama Kak Dean." Lanjut Celine seolah tidak peduli dengan perkataan Danny dan Qiara barusan.


Tanpa ada yang menyadari, Danny langsung menunjukkan reaksi kaget sesaat setelah Celine menuntaskan perkataannya. Jauh di dalam hatinya, ia seakan tidak terima. Ia pun melirik tajam ke arah Celine. Dan tanpa di duga, Celine balas menatapnya lebih tajam lagi seraya berucap hanya dengan gerakan bibir, 'APA LO?'.


Rupa-rupanya, Celine masih menyimpan dendam pada Danny karena telah membuat Qiara jatuh sakit.


"Kak Dean itu pawangnya Qiara. Cuma Kak Dean yang paling sabar sama Qiara. Qiara juga bakalan berubah lembut kalo lagi sama Kak Dean. Jadi, paling pas kalau Qiara sama Kak Dean. Gue tim Kak Dean!"


"Gue juga!" Sambut Arga sambil mengangkat tangan kananya.


Dua suara untuk Dean.


"Tenang, adik ipar! Gue selalu di pihak lo." Ucap Ray kembali sambil menepuk bahu Danny, seakan memberikannya kekuatan.


Saat Danny menatapnya, Ray langsung berdecak sambil mengedipkan sebelah matanya.


...****...


Juni, 2021...


Tanpa terasa, air mata Danny jatuh begitu saja saat melihat Qiara yang tampak anggun berjalan menuju altar dengan gaun pengantinnya yang sangat cantik. Sebuah senyuman bahagia yang terpatri di wajahnya dengan sepasang mata berbinar, seakan menyampaikan pada semesta bahwa dia adalah wanita yang paling bahagia di dunia.


Langkahnya begitu pasti, seperti ia telah menantikan hari ini seumur hidupnya.

__ADS_1


Hari ini... adalah hari pernikahannya.


^^^To be Continued...^^^


__ADS_2