
Dua hari sebelumnya...
"YEEEE! I'M THE WINNER!!" Pekik Danny dengan penuh kegirangan seraya mengangkat salah satu tangannya yang terkepal ke udara. Sementara tangan yang satunya lagi masih memegangi stik PS yang sejak tadi menjadi senjatanya.
Minggu pagi itu, Danny datang ke rumah Qiara sejak pagi-pagi buta. Ia memaksa Qiara untuk bangun dari tidurnya lalu berolah raga dengan bersepeda bersama. Setelah selesai dengan aktifitas olahraga, Danny tiba-tiba saja mengajak Qiara bermain PS dengan sebuah taruhan. Tetapi Danny tidak menentukan apa yang akan menjadi taruhannya. Yang jelas, pemenangnya bisa meminta apapun pada yang kalah.
Melihat Danny yang begitu kegirangan setelah berhasil memenangkan taruhan, Qiara langsung cemberut dan membanting stik PS-nya begitu saja di atas kasur. Mendadak, ia merasakan firasat buruk. Danny pasti akan membuat permintaan yang aneh-aneh padanya.
"Langsung aja. Apa permintaan kamu?" Tanya Qiara dengan ketus. Wajahnya sekarang benar-benar terlihat payah.
Danny tahu-tahu tersipu dan menunjukan gelagat salah tingkah di hadapan Qiara. Melihat hal itu, tentu saja membuat fikiran Qiara menjadi liar kemana-mana.
Sekarang, wanita itu tampak bergidik.
"Emmm.... panggilakusayang..." Gumam Danny dengan cepat dan tanpa jeda.
"Hah? Apa?" Qiara berusaha memperjelas, karena memang ia tidak bisa menangkap perkataan Danny dengan jelas.
Danny menghela nafas. Kenapa juga Qiara harus memaksanya mengulangi kata-kata yang membuatnya merasa sangat malu?
"Panggil aku 'sayang'..." Ulang Danny lebih tegas dibubuhi dengan nada suara yang cukup serius. Ia bahkan menatap ke dalam mata Qiara.
Qiara terbengong untuk beberapa saat. Tidak lama kemudian....
"TAAAK" Hantaman stik PS di tangan Qiara langsung mendarat di kepala Danny dengan sempurna.
Danny seketika meringis. Sambil mengusap kepalanya, ia melihat Qiara yang saat itu sudah tampak salah tingkah. Dengan gelagapan ia mengomel, "e—lo udah gila?! Gue nggak mau. Lebih baik gue disuruh nelen beling dari pada manggil lo sayang."
"APA? ELO?" Kaget Danny. Urat-urat di wajahnya mulai menegang, menunjukan bahwa ia sedang marah sekarang. "Sama calon suami sendiri bisa-bisanya bilang ELO?" Lanjut Danny.
Sekarang Qiara malah merasa berdosa setelah melihat reaksi Danny. Tapi mau bagaimana lagi? Permintaan Danny benar-benar sulit untuk bisa ia penuhi. Lagi pula, Danny tidak pernah mengatakan bahwa dia menyayangi Qiara juga, kan? Lalu kenapa tiba-tiba meminta untuk dipanggil sayang?
Tanpa Qiara perhitungkan sebelumnya, Danny sekonyong-konyong menahan kedua tangan Qiara. Gerakan Danny yang cukup kuat itu mau tidak mau akhirnya membuat tubuh Qiara limbung hingga berbaring di atas kasur dengan Danny di atasnya. Seluruh gerakannya sudah dikunci oleh Danny dan membuat Qiara tidak bisa berkutik lagi.
"Minta maaf cepet!" Titah Danny dengan nada tidak ingin dibantah seperti biasanya.
__ADS_1
Qiara mendesah tak kentara. Seluruh tubuhnya bergetar saat merasakan deru nafas Danny menyapu permukaan wajahnya. "M—maaf..." Ujar Qiara. Tatapan matanya pada Danny tampak gentar.
"Nggak cukup! Sekarang bilang, 'aku-minta-maaf-SAYANG'!"
Qiara terlihat menggeleng dengan wajah memelas. Tapi Danny sama sekali tidak tersentuh. Apapun caranya, Danny harus mendapatkan keinginanya.
Lalu dengan penuh tekanan Qiara pun berucap dengan terbata-bata, "aku minta maaf... sa—say sa... sa..."
"Sejak kapan aku ganti nama jadi Sasa? Hm?" Tanpa sadar, pegangan Danny pada tangan Qiara mulai agak melonggar.
"Aku minta maaf, sa—sa... sa... OGAH! GUE NGGAK MAU!" Putus Qiara dengan berapi-api sembari memanfaatkan peluang untuk lepas dari kungkungan Danny saat Danny mulai lengah. Dan dalam sekali sentak, ia sudah berhasil bebas dan berdiri di samping tempat tidurnya sambil melipat kedua tangannya di perut.
Baginya, akan lebih mudah jika pria ini mencekoki racun padanya dari pada harus memanggilnya dengan panggilan 'Sayang'. Membayangkannya saja sudah cukup membuat Qiara merasa geli.
"Jadi lo mau membantah calon suami lo?" Danny mulai jengah dan mengikuti cara bermain Qiara.
"Baru juga calon." Timpal Qiara tanpa berfikir terlebih dahulu.
Kalimat itu keluar begitu saja dari mulutnya tanpa ada maksud apapun. Tetapi yang tidak pernah Qiara ketahui adalah, satu kalimat itu menjelma menjadi satu anak panah yang berhasil menancap di jantung Danny.
Kali ini, bercandanya benar-benar kelewatan.
Qiara mencelos saat Danny berlalu dari hadapannya tanpa sepatah katapun dengan diiringi wajah datarnya juga rasa kecewanya. Dalam beberapa detik, Qiara langsung mengambil keputusan cepat untuk menghentikan Danny. Ia kemudian menarik ujung kaos yang Danny kenakan saat tangan Danny sudah bersiap untuk menarik kenop pintu, dan keluar dari kamar Qiara.
"Dann, aku sudah kelewatan. Aku salah. Aku minta maaf."
Dengan posisi yang masih membelakangi Qiara, Danny menundukkan wajahnya seraya menghembuskan nafas perlahan. Sesaat kemudian, ia dapat merasakan Qiara memeluknya dari belakang. Merasa tidak tega, Danny pun berbalik dan memegang kedua bahu Qiara. "Jangan bercanda seperti itu lagi, ya? Aku nggak suka."
Qiara mengangguk dengan penuh penyesalan. Dan ia hanya menurut saja saat Danny kembali membawanya ke dalam pelukannya.
"Sayang, aku bener-bener minta maaf." Lirih Qiara dengan suara bergetar. Namun kali ini, tidak ada nada paksaan dari ucapannya. Semuanya mengalir dengan tulus dari dasar hatinya.
Danny tersenyum kecil. Satu keinginanya akhirnya terpenuhi.
Namun tidak lama kemudian, Danny merasa ganjil saat Qiara melepaskan diri dari pelukannya. Di luar dugaan, Qiara melingkarkan kedua tangannya pada leher Danny, ia lantas berjinjit untuk bisa menjangkau tinggi badan Danny, memejamkan kedua mata lalu mencium bibir Danny dengan lembut dan hati-hati. Danny yang awalnya sedikit terkejut, kini merengkuh pinggang Qiara dan membalas ciuman lembut itu dengan cukup berani tanpa hati-hati.
__ADS_1
Mereka menyudahinya beberapa saat untuk mengambil nafas, dan saat Danny akan kembali mencium Qiara, tiba-tiba saja...
"APA YANG SEDANG KALIAN LAKUKAN?!"
Suara teriakan Ray yang cukup menggelegar langsung menginterupsi kegiatan Danny dan Qiara.
...****...
Ray yang sejak tadi menyimak pertengkaran mereka dari balik pintu, hanya bisa menggelengkan kepalanya. Ia benar-benar tidak habis fikir, kenapa Danny dan Qiara memutuskan untuk menikah di saat hampir setiap hari mereka bertingkah seperti Tom & Jerry?
Saat secara mendadak tidak lagi terdengar suara dari kedua bocah menyebalkan itu. Ray otomatis khawatir dan merasa ada yang tidak beres. Ray cemas kalau-kalau yang hidup hanya salah satu dari mereka saja saat itu.
Ray pun segera membuka pintu kamar Qiara. Dan ia sangat tercengang ketika mendapati bahwa yang terjadi di dalam sana sama sekali tidak seperti apa yang dibayangkannya. Alih-alih melihat mereka saling membunuh, Ray justru melihat Danny dan Qiara yang sedang saling merengkuh setelah menyelesaikan ciuman mereka. Kedua tangan Qiara menggantung di leher Danny, sementara kedua tangan Danny melingkar dengan mesra di pinggang adiknya. Kening mereka saling bersentuhan satu sama lain. Dan saat Danny akan kembali mencium Qiara, Ray langsung berteriak.
"APA YANG SEDANG KALIAN LAKUKAN?!"
Sontak saja, Qiara mendorong tubuh Danny hingga menjauh darinya.
"Danny, awas ya lo!" Geram Ray. Naluri Seorang Kakaknya tiba-tiba bergaung.
Ia melangkah besar-besar menghampiri kedua orang bodoh itu, dan ketika Ray hendak menghadiahi Danny dengan bogem mentahnya, Qiara langsung menghalanginya dengan sigap.
"Jangan pukul Danny!!" Pinta Qiara sambil merentangkan kedua tangannya demi melindungi Danny yang sedang berdiri di belakangnya sekarang.
"Oooh? Jadi mentang-mentang dia calon suami lo, lo mau ngebelain dia sekarang?"
Qiara mengangguk mantap.
"Oke! Kalau begitu, kalian berdua akan gue habisi sekalian!" Dengus Ray sebelum akhirnya ia menarik rambut Danny dan Qiara secara bersamaan dengan kedua tangannya.
"Aww, Bang Ray sakit!" Ringis Qiara sambil menepuk-nepuk tangan Ray yang mencengkram rambutnya.
"Tolong jangan Qiara, Bang! Jambak gue aja. Sampe rambut gue botak juga nggak apa-apa. Asal jangan Qiara, pleaseeee!!" Mohon Danny karena merasa tidak tega melihat Qiara kesakitan.
"Gue nggak peduli! Akan gue pastiin gue akan mengubur kalian berdua hari ini juga!"
__ADS_1
^^^To be continued...^^^