Kutukan Cinta Pertama

Kutukan Cinta Pertama
67. Alasan Mencintai


__ADS_3

"We are still kids, but we're so in love


Fighting against all odds


I know we'll be alright this time


Darling, just hold my hand


Be my girl, I'll be your man


I see my future in your eyes..."


^^^—Perfect, Ed Sheeran^^^


...****...


Setelah makan malam, Qiara mengajak Danny untuk pergi ke rumah lamanya yang letaknya tepat berada di depan rumah Danny. Begitu memasuki rumah lama yang masih terlihat rapi dan bersih itu, ingatan mereka berdua secara bersamaan berputar ke masa lalu.


Dulunya, mereka banyak menghabiskan waktu berkumpul di rumah Qiara, Danny bahkan sangat sering datang ke rumah Qiara, demi menggantikan posisi Ray yang ketika itu lebih banyak menghabiskan waktu untuk berkuliah di luar negeri.


Waktu berlalu menit demi menit, saat mereka tenggelam bersama dalam nostalgia masa silam, sebelum akhirnya mereka berdua duduk berdampingan di sebuah ayunan kayu di rooftop rumah Qiara dengan masing-masing membawa secangkir kopi di tangan.


Dengan pandangan menerawang jauh, Danny mendenguskan senyumannya seraya menundukkan kepalanya, ia lantas berkata, "kamu tahu? Selama ini, aku bahkan nggak berani membayangkan hal-hal semacam ini selama tiga tahun terakhir. Berada di samping kamu seperti ini, benar-benar terasa seperti mimpi buat aku, Qi."


Qiara hanya tersenyum sambil memutar cangkir di tangannya. Dalam situasi yang menenangkan itu, meski tidak saling menatap, juga dengan jarak yang tidak begitu dekat, tetapi mereka dapat merasakan perasaan satu sama lain.


Qiara kemudian teringat akan sesuatu. Tidak berselang lama, ia langsung merogoh tas di sampingnya lalu mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna hitam.


"Nih!" Ujar Qiara seraya menjulurkan kotak tersebut tepat di samping Danny.


Danny pun menoleh, meletakkan cangkir di tangannya ke atas meja, lantas menerima kotak pemberian Qiara dengan wajah penuh keheranan.


"Apa ini?" Tanyanya.


"Buka saja." Titah Qiara setelah mengalihkan tatapannya dari Danny menuju kotak kecil itu.


Danny mendesah pelan. Dan ia seketika membeku saat menemukan cincin pertunangan milik Qiara di dalam kotak itu. Itu cincin yang sempat Danny lemparkan dengan penuh amarah ke dalam kolam beberapa waktu lalu. Itu cincin yang selama tiga tahun ini selalu dekat dengan detak jantungnya kemana pun ia melangkah.


"Kamu... menemukan cincin ini?" Danny bertanya sehati-hati mungkin.


"Iya. Malam itu aku langsung mencarinya. Kamu tahu? Aku sampai masuk IGD gara-gara benda yang kamu sebut 'sialan' ini. Hampir aku mati kedinginan." Rutuk Qiara dengan nada bercanda.


"Kenapa kamu cari?"


"Benda ini sangat berharga buat kamu. Bagaimana bisa aku abaikan begitu saja?" Jawab Qiara dengan tetap menggunakan kata ganti 'Benda Ini' untuk menyebut cincin pertunangannya.


"Terus, apa ini sudah nggak berharga lagi buat kamu?" Lagi-lagi Danny bertanya pada Qiara. Namun kali ini, pandangan matanya terlihat begitu dingin. Ia seperti mampu membekukan apa saja dengan pandangan itu.


Karena Qiara tidak juga terdengar menjawab, dengan tanpa permisi Danny meraih jari manis Qiara hendak memasangkan kembali cincin itu pada 'tempat' yang seharusnya. Tetapi di luar perhitungannya, Qiara malah menarik kembali jarinya dari kungkungan Danny.


"Qi?"


"Maafin aku, Dann." Gumam Qiara dengan tatapan misteriusnya. Hanya kata maaf, tanpa penjelasan apapun di belakangnya.


Danny menghela nafas kuat-kuat sembari menganggukkan kepalanya beberapa kali. Ia juga sama sekali tidak berminat untuk mendengarkan penjelasan yang lebih jauh lagi dari Qiara.

__ADS_1


Danny lantas menutup kotak cincin itu dengan cukup keras, dan menyerahkannya paksa di tangan Qiara. "Untuk sekarang, aku nggak akan bertanya apapun. Aku paham, kamu masih belum bisa memaafkan aku sepenuhnya atas apa yang terjadi di masa lalu, dan aku nggak mau lagi memaksakan kehendak aku atas kamu. Tapi aku minta sama kamu, tolong jangan kembalikan lagi cincin ini seperti yang kamu lakukan dulu. Simpan saja sampai saatnya nanti kamu sudah siap untuk kembali ke aku. Aku akan menunggu kamu."


"Danny...." Qiara mendesah frustasi.


"Kamu harus kembali sama aku, Qi. Apapun yang terjadi, KAMU HARUS KEMBALI." Ujar Danny penuh ketegasan dengan memberikan penekanan yang sangat kuat pada tiga kata terakhirnya.


...****...


"Ayo kita makan siang, guuuys!" Ajak Nova pada yang lainnya sesaat setelah ia menyelesaikan pekerjaannya.


"Ayo! Ayo!" Timpal Dimas dengan senang hati.


Semua rekan tim Danny, yang terdiri dari Nova yang bertindak sebagai reporter junior, Dimas yang bertindak sebagai reporter senior, dan Bagas yang bertindak sebagai asisten produksi, juga Aren dan Felix yang bertindak sebagai presenter yang bertugas hari itu, bangkit dari kursi masing-masing hendak menuju kafetaria untuk makan siang. Dan saat mereka baru saja akan melangkah pergi, Danny yang tiba-tiba saja muncul entah dari mana, berdiri dengan kikuk dan menghalangi jalan mereka.


Mereka semua otomatis terdiam. Mau tidak mau mereka dengan kompak berfikir bahwa mereka telah melakukan kesalahan hingga membuat Danny marah.


"Kalian mau makan siang?" Tanya Danny.


"I—iya." Jawab Nova dengan takut-takut, "tapi kalau misalnya ada pekerjaan, kami akan—" Ucapan Nova langsung terhenti saat Danny tiba-tiba membuka dompetnya dan menyerahkan black card miliknya pada Nova.


"Pakai ini dan makan siang di luar."


"WHAT?!" Pekik Nova tanpa sadar.


Tidak hanya Nova yang terkejut, tapi semua anggota timnya termasuk Bagas, yang sudah terbiasa dengan kelakuan aneh Si Dewa Kematian ini juga sama terkejutnya dengan yang lainnya. Apa yang Danny lakukan saat itu, benar-benar bukanlah hal yang normal— setidaknya menurut mereka.


"Kenapa? Kalian nggak mau?" Tanya Danny meyakinkan.


Saat Danny akan mengambil kembali black card-nya dari tangan Nova, Nova buru-buru menarik tangannya sambil tertawa canggung, "hahaha, kami mau, Mas! T—terima kasih buat traktirannya." Kata Nova.


"Gas! Gas! Boss lo kesambet setan apa, sih? Kok mendadak jadi baik gitu? Apa dia lagi jatuh cinta?" Ucap Nova seraya memukul-mukul bahu Bagas dengan cukup keras.


Bagas adalah kesayangan Danny di tim mereka. Bahkan meskipun Bagas selalu menempelinya seperti bayangan, tidak sedikitpun Danny merasa terganggu karenanya. Itulah kenapa, Bagas menjadi sasaran utama Nova untuk ia lempari pertanyaan.


"Ck, sakit, Nova!!" Ringis Bagas kemudian. "Gue nggak tahu. Dia udah aneh sejak beberapa hari yang lalu." Lanjutnya kemudian.


"Kayaknya beneran lagi jatuh cinta deh," timpal Felix yang langsung membuat Aren di sampingnya tersenyum. Pasalnya, Aren juga merasakan kalau Produsernya yang galak itu mulai berubah.


Yang lainnya pun langsung cekikikan, kecuali Bagas.


"Mas Danny kalau pacaran gimana, ya? Gue jadi geli ngebayangin setiap kali dia bersikap manis dan romantis ke pacarnya." Gurau Nova sambil memekik histeris dengan Aren.


"Ayo, makan! Gue lapar!!" Lerai Dimas, Si Reporter Senior yang paling serius di antara yang lainnya.


Mereka semua pun berjalan bersama, setelah dengan penuh semangat Bagas berujar, "YEAYY!! KITA MAKAN DI LUAR!"


"Jadi kita harus makan apa? Chinese food? Japanese food? Western, atau Korean food?" Ucap Nova dengan jumawa sambil mengipaskan black card milik Danny di wajahnya.


"Enak, ya, punya atasan anak orang kaya walaupun galak!" Sahut Felix.


Yang lainnya pun kembali tertawa.


...****...


"Satu... dua... tiga..."

__ADS_1


Setelah hitungan selesai, Nathalie— Sang Mempelai Wanita melemparkan bunganya yang secara kebetulan langsung di tangkap oleh Qiara. Semuanya pun bersorak dan memberikan tepuk tangan untuk Qiara. Sementara itu, Qiara hanya melongo di tempatnya dengan bunga di tangannya. Qiara sama sekali tidak menyangka bahwa bunga itu akan terlempar tepat ke arahnya.


"Ciyeee, Qiara dapet lemparan bunga." Goda Windy yang saat itu berdiri di sampingnya.


Sedangkan Danny, ia hanya tersipu setelah menyaksikan langsung Qiara menangkap bunga itu.


"Gue tanya Qiara, kenapa elo yang salah tingkah?" Windy menatap Danny dengan pandangan tidak habis fikirnya.


"Gue yang salah tingkah, kenapa elu yang sewot?" Balas Danny tidak mau kalah seraya berpura-pura hendak mendaratkan tinjunya di wajah Windy.


"Apa lo? Ayo sini pukul!!" Tantang Windy.


"Elo yang apa?"


"Kalian umur berapa, siiih? Masih aja suka ribut gara-gara hal kecil." Gerutu Qiara, berusaha melerai kedua sahabatnya yang sudah terlihat seperti bocah sekolah dasar yang sedang bertengkar itu.


Ketika Windy dan Danny mulai tenang, Qiara pun bertanya pada Windy setelah menyadari bahwa Dean tidak ada di antara kumpulan para tamu.


"Win, Kak Dean mana? Apa dia lagi ada kerjaan?"


"Danny nggak ngasih tahu lo?"


"Dianya nggak nanya!" Tuding Danny pada Qiara dengan cepat.


Windy menggelengkan kepalanya seraya berdecak lalu menjawab, "Kak Dean lagi di Havana untuk memantau persiapan pembukaan cabang di sana. Dia nggak pernah ngabarin lo?"


Qiara menunduk, kemudian menggelengkan pelan kepalanya. Dari raut wajah itu, Danny dapat menangkap kesedihan di dalamnya dengan sangat jelas dan lugas. Danny merasa seperti ada yang luruh di dalam dadanya ketika melihat Qiaranya dibekap kesedihan. Namun, itu bukan karena dia cemburu pada Dean, Danny hanya tidak bisa melihat kesedihan di mata wanita itu.


...****...


Setelah selesai dari pesta pernikahan Nathalie dan Justin, Danny memutuskan untuk membawa Qiara berjalan-jalan ke pantai mumpung mereka masih di pulau Banu. Dan pada keesokan harinya, mereka sudah berencana untuk mampir ke panti asuhan sebelum mereka kembali ke kota Harsa.


Qiara yang tadinya tampak murung, terlihat begitu gembira saat Danny mengajaknya ke pantai. Qiara bahkan masih mengenakan dress yang tadi ia gunakan untuk menghadiri pesta pernikahan Nathalie dan Justin. Danny pun demikian. Hanya saja, Danny membiarkan Qiara menggunakan jasnya untuk menutupi pundaknya yang terbuka.


Mereka tiba di pantai saat hari hampir beranjak senja. Suasana pantai dengan langit berwarna jingga benar-benar memanjakan mata Danny dan Qiara, membuat hati mereka diliputi ketenangan. Begitu menginjakkan kaki di sana, Qiara langsung berlari ke bibir pantai seraya memecahkan tawanya. Ia bahkan sengaja menarik Danny bersamanya. Mereka tertawa bersama saat Danny mengangkat tubuh Qiara, sesekali juga mereka berputar, dan melakukan gerakan dansa dalam romansa yang menyenangkan. Kesemua itu, kombinasi antara kebersamaan Danny dan Qiara, berpadu dengan pemandangan senja yang cantik, membuat segala sesuatunya menjadi begitu bersinar dan mempesona.


Setelah tiga tahun berlalu, ini kali pertamanya Danny dan Qiara merasa sebahagia ini.


Ketika mereka bersama, semua hal terasa begitu sempurna. Ketika hanya ada mereka berdua dan saling melengkapi satu sama lain, mereka merasa seperti tidak butuh siapa-siapa lagi.


Langit sudah beranjak gelap ketika mereka berdua duduk di bagasi mobil Danny sambil menghadap ke arah laut untuk sejenak mengistirahatkan tubuh mereka, menyaksikan bintang-bintang yang perlahan mulai bermunculan di atas langit.


"Qi, apa aku pernah ngasih tahu alasan kenapa aku mencintai kamu?" Tanya Danny tiba-tiba, yang kontan saja membuat Qiara yang saat itu sedang menatap langit langsung menoleh padanya.


Hati Qiara berdebar, setelah mendengar ungkapan cinta Danny yang selalu ia tunggu selama bertahun-tahun lamanya, kini ia akan tahu alasan kenapa Danny mencintainya.


Namun Qiara tidak menjawab, dan hanya menatap ke dalam mata Danny dengan penuh tanda tanya.


Danny lantas tersenyum hangat, "aku pernah menyesali kelahiran aku karena berfikir itu membuat hidup Kak Dean hancur, tapi setelah kamu datang ke hidup aku, dan menjelma menjadi cinta pertama aku, untuk pertama kalinya juga aku merasa hidup aku berharga, kamu adalah rumah yang paling nyaman pernah aku miliki, Qiara. Berada di samping kamu, membuat aku menemukan diri aku yang sebenarnya, berada di samping kamu, membuat aku merasa menjadi anak kecil yang di dalam kepalanya hanya ada tawa dan kebahagiaan. Seperti itulah arti kamu dalam hidup aku, Qi."


Pengakuan Danny yang begitu tulus dan penuh kejujuran membuat Qiara ingin menangis dalam pelukannya. Tetapi Qiara berusaha untuk menahan diri dan mempertahankan ketenangannya.


Qiara lalu melepaskan tatapannya dari Danny dengan satu senyuman tipis di wajahnya.


"Aku mencintai kamu, Qiara. Tidak peduli selama apapun waktu yang kamu butuhkan untuk bisa kembali sama aku, aku akan menunggu kamu."

__ADS_1


^^^To be Continued...^^^


__ADS_2