
"Gue lagi di Campus Night Run, Cel. Sebelum jam sepuluh, gue bakalan di sana. Tenang aja." Terang Arga pada Celine yang sedang meneleponnya dan menanyakan keberadaannya.
Tahu Celine akan mengomel, Arga langsung menjauhkan ponselnya dari telinganya sambil memejamkan kedua matanya dengan wajah meringis.
Malam minggu ini, mereka berempat sudah berencana berkumpul di rumah Celine. Kedua orang tua Celine sedang melakukan perjalanan dinas ke luar kota, itulah kenapa Celine memaksa 'antek-anteknya' untuk menemaninya malam ini.
Dan seharusnya saat itu, Arga tidak pergi kemana-mana karena harus membantu yang lainnya menyiapkan segala sesuatunya, tapi Arga justru melarikan diri, dan mengikuti Campus Night Run yang memang rutin diselenggarakan setiap tahun untuk semua mahasiswa dari seluruh kampus yang memang berminat mengikutinya.
Di tengah-tengah omelan Celine yang cukup memekakkan telinganya, perhatian Arga tahu-tahu tertuju pada seorang gadis cantik yang sedang melakukan pemanasan tidak jauh dari posisinya sekarang.
Dalam pandangan Arga, gadis itu sebenarnya tampak biasa saja dan bukan tipe Arga sama sekali, hanya saja sesuatu telah menarik perhatiannya dan membuatnya merasa sedikit terganggu.
Arga kemudian mematikan sambungan teleponnya dan mendekat ke arah gadis bernomor dada 301 itu secara perlahan.
Karena tidak tahu harus mengatakan apa sebagai pembuka, Arga hanya berdiri di tempatnya dengan raut kebingungan dan sesekali berdehem.
Dan hal yang Arga lakukan itu, tentu saja membuat gadis 301 menoleh kepadanya dengan pandangan bertanya.
"Hay!" Sapa Arga dengan canggung seraya melambaikan tangannya.
Gadis 301 yang ternyata adalah Alisha itu, kini merasa heran dengan gelagat cowok aneh yang ada di sampingnya sekarang. Merasa bahwa pemuda itu bukan orang baik-baik, Alisha memutuskan untuk menjauh. Namun, baru saja ia akan melangkah pergi, Arga buru-buru menghalangi jalannya, dengan berdiri tepat di sampingnya seakan menutupi sesuatu.
"Elo siapa? Kenapa ngikutin gue terus?" Tanya Alisha pada akhirnya yang diam-diam merasa takut, tapi tetap berusaha terlihat tenang.
Arga menggigit bibir bagian dalamnya. Ia semakin kebingungan bagaimana harus memulai agar gadis itu tidak merasa malu. Arga kemudian menggaruk belakang tengkuknya. Perlu dicatat! Dia tidak pernah merasa secanggung ini sebelumnya.
"Gue minta maaf sebelumnya, t –tapi... emm..."
"Apa sih?" Alisha semakin merasa terganggu.
Sementara Arga, dia sudah buntu sekarang. Ia tidak mampu mengeluarkan satu katapun untuk menyampaikan apa yang ingin ia sampaikan.
Lalu tanpa ia sadari, Arga membuka jaket yang ia kenakan. Hal itu, tentu saja membuat Alisha semakin ketakutan karena berfikir yang tidak-tidak sekarang.
Saat Alisha kembali akan melangkah pergi, sekali lagi Arga menahannya. Tanpa terduga, Arga melingkarkan jaketnya pada pinggang gadis itu dan mengikatnya.
"Lo apa-apaan sih?"
"Sekali lagi gue minta maaf, tapi lo harus pakai ini. Gue pergi."
Dan Arga benar-benar pergi, kembali ke tempatnya semula dan meninggalkan Alisha yang masih kebingungan.
Sesaat kemudian, mendadak Alisha jadi terfikir akan sesuatu. Firasatnya mulai tidak enak. Dengan tangan gemetar, ia sedikit menyingkap jaket milik Arga yang terikat di pinggangnya, dan betapa terkejutnya ia ketika melihat legging yang ia kenakan sobek di bagian samping dan menampakkan kulit pahanya.
Alisha meringis malu. Di waktu yang bersamaan, ia juga merasa tidak enak hati pada Arga karena telah berfikir yang bukan-bukan.
Dengan gerakan pelan, Alisha mengangkat kepalanya dan menatap ke arah Arga. Tidak lama, Arga menoleh padanya seraya tersenyum canggung. Di saat itu juga, Alisha langsung membuang tatapannya sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.
Sial! Alisha benar-benar malu sekarang.
Sekali lagi Arga tersenyum. Namun kali ini bukan senyuman canggung.
...****...
"Malah dimatiin! Awas ya lo, Ga!" Sungut Celine dengan kesal begitu Arga mematikan teleponnya.
Kali ini, Celine mengalihkan perhatiannya pada Danny yang tampak melamun setelah ia menyelesaikan tugasnya mendirikan dua tenda di halaman bekalang rumah Celine yang cukup luas.
Ide membangun tenda datang dari Celine. Sebenarnya ide itu sudah mendapatkan penolakan yang cukup keras dari Danny, Qiara, dan Arga, tetapi Celine tetap kekeuh dengan keinginanya dan berhasil membuat ketiga orang itu pada akhirnya mengalah.
"Dann, lo udah telepon Qia belum?"
Danny terkesiap, lalu menoleh ke arah Celine, "hah? Belum nih." Jawab Danny singkat sembari mengumpulkan beberapa kayu bakar yang terserak.
"Jangan bilang, kalian masih berantem! Udah hampir seminggu lho."
Danny mengedikkan bahu. Ia sendiri benar-benar bingug bagaimana harus menyelesaikan masalahnya dengan Qiara. Danny masih merasa marah, meskipun ia tidak tahu alasan kenapa ia harus semarah ini.
"Kenapa lo marah sama Qia?" Tanya Celine dengan nada yang cukup pelan.
"Dia udah bohong sama gue. Dia bilang dia sakit, tapi ternyata lagi jalan sama Kak Dean." Jawab Danny.
"Terus masalahnya dimana?"
"Dia bikin gue cemas sampai ninggalin birthday party-nya Prissy, Cel."
"Kenapa lo sampe harus ninggalin birthday party-nya Prissy? Anggap saja Qia emang beneran sakit, tapi kenapa lo ngelakuin itu?"
"Gue cemas. Kan udah gue bilang."
"Kenapa harus secemas itu?"
"Karena Qia sahabat gue. Sama kayak lo ataupun Arga." Lirih Danny dengan nada memohon, berharap Celine menghentikan introgasinya.
Danny benar-benar kalut sekarang. Tapi Celine yang tidak peka ini justru menambah beban fikirannya.
"Dann, dengerin gue, ya?" Celine menatap kedua mata Danny dengan serius, begitu juga dengan Danny.
"Yang pertama tahu kalau Qia sakit itu Arga. Kalau kita pake sudut pandang lo dalam masalah ini, seharusnya Arga nggak ninggalin Qia waktu itu. Seharusnya Arga tetep nemenin Qia karena dia adalah sahabatnya Qia. Tapi Arga nggak melakukan itu, kan? Lo tahu kenapa?" Lanjut Celine kemudian.
Danny terdiam. Jauh di dalam benaknya, ia tahu dengan benar apa jawabannya.
"Karena Arga pure nganggep Qia sebagai sahabatnya. Nggak ada perasaan lain yang mengikutinya. Sekarang paham bedanya dimana?"
"Cel..."
__ADS_1
"Danny, itu birthday party cewek lo. Kalau Qia cuma 'sekedar' sahabat buat lo, kenapa sampe harus sebegitunya? Oke, wajar kalau lo cemas. Tapi meninggalkan birthday party cewek lo itu udah cukup kelewatan. Lo bisa aja, kan, nemuin Qia setelah acaranya selesai?"
Danny masih terdiam. Namun sel-sel dalam otakknya membenarkan semua perkataan Celine tanpa terkecuali.
"Gue nggak akan tanya soal perasaan lo ke Qia sekarang. Karena menurut gue, itu bukan kapasitas gue. Tapi lo harus tahu, lo terlalu keras sama Qia, Dann. Biar gimanapun, Qia itu mantan pacar lo. Walaupun udah lama putus, tapi dia masih punya hati. Terlepas dia masih ada rasa apa nggak sama lo, tapi bukan hal yang mudah buat dia untuk hadir di birthday party cewek lo. Dan asal lo tahu, ini sudut pandang gue sebagai seorang cewek, bukan sebagai sahabat ataupun sepupu lo."
Danny terdengar menghela nafas dengan cukup berat. Ia kemudian menundukkan pandangannya, lalu memejamkan mata untuk beberapa saat. Samar-samar ia terdengar bergumam, "lalu, apa yang harus gue lakuin sekarang?"
...****...
Pukul setengah sebelas malam, Arga datang ke rumah Celine bersama Qiara yang berjalan dengan raut kesal di sampingnya. Pasalnya, Qiara kesal pada Arga karena sudah membuatnya menunggu terlalu lama.
Sebelum itu, Arga berjanji akan menjemputnya pukul sembilan, tapi pria itu malah membuatnya menunggu hingga sejam lamanya.
"Bagus, ya, kalian? Udah jam berapa nih?" Ucap Celine pada kedua orang itu.
"Arga nih yang telat. Katanya mau jemput jam Sembilan. Tapi datengnya jam sepuluh lewat." Jawab Qiara. Ia lalu secara natural mengambil posisi duduk tepat di samping Danny.
"Aelah, Qi. Gue kan udah minta maaf. Tadi udah gue jelasin juga, gue mendadak ada urusan." Balas Arga yang masih tidak mau kalah juga.
Celine yang memang merasa perlu meninggalkan Danny dan Qiara hanya berdua saja untuk bisa menyelesaikan masalah mereka, langsung bangkit dari tempat duduknya lalu melangkah ke arah Arga yang baru saja akan duduk.
"Ga, gue belum beli minuman. Anterin gue ke mini market." Ujar Celine sambil menarik paksa pergelangan tangan Arga.
"Ya ampuun, Cel... gue baru dateng ini. Belum juga nafas. Lagian, kenapa nggak sama Danny aja, sih?" Protes Arga yang justru tidak digubris sama sekali oleh Celine.
Lalu, tinggalah Danny dan Qiara hanya berdua saja di tempat itu. Mereka duduk berdampingan di depan api unggun tanpa satupun yang berinisiatif untuk membuka obrolan terlebih dulu. Qiara sibuk dengan ponselnya, sementara Danny sibuk dengan fikirannya sendiri.
Lima menit berlalu. Tapi mereka masih sama-sama diam. Kelamaan Danny pun mulai merasa jengah dengan situsi di antara mereka. Ia kemudian secara mengejutkan memutar badannya ke arah Qiara dan membuat gadis itu terperanjat kaget.
Kini posisi wajah mereka saling berhadapan satu sama lain dalam yang jarak yang cukup dekat. Nafas Qiara tercekat. Kedua matanya terbelalak. Semuanya semakin tidak terkendali, saat Danny mencondongkan tubuhnya hingga nyaris membuat jarak di antara mereka terhapus.
Qiara memejamkan kedua matanya rapat-rapat. Melihat tingkah Qiara, Danny mendengus seraya tersenyum miring. Ia kemudian menjulurkan tangan kananya dan meraih gitar milik Celine yang berada tepat di belakang Qiara.
Qiara sudah salah paham. Setelah ini, dia pasti akan sangat malu pada Danny.
"Lo bisa buka mata lo sekarang, gue udah selese." Ucap Danny dengan tak acuh. Ia kemudian memetik gitar di tangannya, sambil diam-diam tersenyum.
"Bilang aja mau ambil gitar!" Desis Qiara dengan sinis setelah ia membuka kedua matanya dan berhasil mengontrol detak jantungnya.
"Kenapa? Lo nervous? Flashback sama momen itu?" Balas Danny.
Mendengar Danny membawa-bawa 'momen itu', Qiara semakin merasa gugup. Otaknya tiba-tiba berhenti bekerja hingga membuatnya kebingungan bagaimana harus membalas sindiran Danny. Ia sudah kalah telak. Lagi pula, kenapa juga Danny tiba-tiba mengungkit 'momen itu' dalam situasi secanggung ini?
Dan yang lebih menyebalkan lagi, Danny tiba-tiba saja memainkan lagu 'Can You Feel Love the Tonight', hingga membuat Qiara terus merutuk dalam hati tanpa henti.
Satu kosong untuk kebodohan Qiara.
...****...
Januari, 2012...
Hari sudah beranjak gelap saat mereka selesai dengan semua persiapan mereka. Ketika semua orang sibuk dengan urusan masing-masing, Danny dan Qiara justru kebagian tugas untuk menjaga tenda mereka.
Mereka berdua duduk berdampingan di depan api unggun. Danny memangku gitar sambil sesekali memainkannya, "Qi, dengerin, ya?"
Danny kemudian menyanyikan lagu 'Can You Feel the Love Tonight' milik Elton John untuk Qiara.
Dari lagu yang Danny nyanyikan dengan sepenuh hati itu, Qiara dapat merasakan perasaan yang ingin Danny sampaikan padanya. Segalanya mengalir dengan lembut.
"And can you feel the love tonight?
It is where we are
It's enough for this wide-eyed wanderer
That we got this far
And can you feel the love tonight?
How it's laid to rest?
It's enough to make kings and vagabonds
Believe the very best..."
Setelah menyelesaikan lagunya, Danny langsung menoleh dan menatap Qiara di sampingnya.
Danny tersenyum begitu manis, hingga tiba-tiba, tanpa ia duga, Qiara dengan berani mengecup bibirnya sekilas. Danny membeku di tempatnya. Berusaha mencerna apa yang baru saja terjadi.
"Hehehe... I love you." Ujar Qiara malu-malu dengan wajah yang sudah semerah tomat.
Itu ciuman pertamanya.
Melihat Danny yang hanya terdiam dan tidak menunjukkan reaksi apapun justru membuat Qiara merasa tidak nyaman dan seketika menyesali apa yang baru saja ia lakukan.
Tidak ingin bertahan lama-lama pada situasi yang tidak mengenakkan ini, Qiara secara perlahan menjauhkan wajahnya dari Danny. Namun sedetik kemudian, Danny menangkup wajah Qiara dengan kedua tangannya, dan balas mencium gadis itu dengan sangat lembut.
Bersamaan dengan itu, Qiara mengangkat salah satu tangannya lalu menyentuh lengan Danny.
...****...
Danny terkejut lalu terjaga, sesaat kemudian ia teringat bahwa ia ketiduran di rumah Celine bersama yang lainnya setelah mereka menonton film bersama.
Danny lalu mengangkat tangan kirinya untuk melihat arlojinya. Dan ia semakin terlonjak saat mengetahui bahwa jam di tangannya sudah menunjukkan pukul dua pagi.
__ADS_1
Saat Danny akan bangkit, ia tahu-tahu merasakan lengan kanannya terasa berat. Di saat itu juga ia menyadari, bahwa sedari tadi Qiara tertidur dengan nyaman dalam rengkuhannya.
Danny mencoba menenangkan diri. Ia pun kembali menjatuhkan kepalanya di atas bantal dengan posisi tubuh tepat menghadap Qiara. Danny terdiam untuk beberapa lama sambil terus menelusuri setiap lekuk wajah gadis itu. Nafas Danny yang tadinya memburu kini perlahan menenang.
"Dann, kalau nanti kita putus, apa kita bakalan tetep sahabatan?"
Satu suara milik Qiara berpendar dalam ingatan Danny dan membuatnya tersenyum kecil.
"Kenapa tiba-tiba bahas putus, sih?"
"Kan gue cuma nanya."
"Kita nggak akan putus. Sekalipun dalam kemungkinan yang mustahil itu kita putus, kita tetep sahabatan."
"Lo janji nggak akan ngejauhin gue?"
"Kenapa gue harus ngejauhin lo? Gue bilang kita nggak akan putus. Kita akan tetep seperti ini. Di masa depan, lo satu-satunya cewek yang akan gue nikahi. Lo satu-satunya cewek, yang berhak ngelahirin anak-anak gue nantinya."
Ketika suara-suara dari ingatannya mulai menghilang, Danny tersenyum pahit dengan mata nanar. Di saat-saat seperti ini, ia sangat merindukan versi naif dirinya yang hanya menyukai Qiara dan selalu ingin bersama Qiara.
Danny sangat merindukan masa-masa ketika mereka masih 18 tahun, ketika segala sesuatunya masih terlihat merah muda dan bermekaran.
Tanpa Danny sadari, ia tiba-tiba kehilangan kontrol dirinya. Mengikuti perintah hatinya, wajahnya terus turun mendekati wajah Qiara yang tampak damai dalam tidurnya.
Biarkan untuk sekali ini saja, Danny bertekuk lutut di bawah keinginan hatinya.
Lalu di antara keheningan pukul dua pagi, Danny mengecup lembut bibir gadis itu. Membiarkan semua kenangan masa lalunya menyeruak seiring perasaan hangat yang menjalari sekujur tubuhnya.
"Aku kangen kamu, Qi. Bahkan saat kamu ada di samping aku seperti ini."
...****...
Qiara tersentak sebelum akhirnya terjaga dari tidur panjangnya. Saat itu waktu tepat menunjukkan pukul enam pagi. Ia bangkit, lalu duduk sejenak untuk mengumpulkan nyawanya yang masih berserakan.
Mimpi semalam, entah kenapa terasa begitu nyata sekaligus memalukan dalam waktu bersamaan. Namun, ada perasaan lega di hatinya begitu tahu, bahwa setiap adegan demi adegan itu hanya terjadi dalam mimpinya saja.
Danny sialan! Mimpi itu pasti menghantuinya karena semalam Danny sempat mengungkit tentang first kiss mereka dua tahun yang lalu.
Qiara lalu mengalihkan pandangannya pada Celine yang masih tertidur di sampingnya, lalu pada Arga yang tampak nyaman tertidur di atas sofa.
Qiara kemudian memijat kecil keningnya. Setelah mendapatkan kesadarannya sepenuhnya, Qiara membawa dirinya berjalan ke dapur untuk mengambil minuman. Begitu tiba di dapur, ternyata di sana sudah ada Danny yang sedang membuat kopi.
"Semalem lo tidur dimana, Dann?" Pertanyaan itu terlontar begitu saja dari Qiara sembari ia menuangkan air putih ke dalam gelas.
Danny yang kaget mendengar pertanyaan itu langsung mengalihkan fokusnya sejenak. Apa sekarang dia ketahuan?
Otak Danny pun dengan cepat berfikir. Berusaha mencari kata-kata yang tepat untuk mengelak.
"Tidur di atas. Di kamar tamu." Jawab Danny berbohong sambil membelakangi Qiara lalu kembali fokus dengan mesin kopi di depannya.
Qiara lantas bernafas lega. Dalam hati bersyukur, karena semua kejadian itu benar-benar hanya mimpi, meski rasanya... tetap begitu nyata.
"Semalem, lo nonton filmnya sampai habis?" Tanya Qiara lagi. Ia kemudian meneguk minumannya.
"Iya." Gumam Danny.
Setelah mencoba mengatur mimik wajahnya agar terlihat santai, Danny kemudian berbalik, ia melangkah ke arah Qiara lalu menyerahkan kopi yang baru saja ia buat. "Morning coffee..."
"Thanks..." Kata Qiara sambil mengangkat cangkirnya lalu meminum kopinya.
Harus Qiara akui, kopi buatan Danny memang yang terbaik.
"Kenapa tiba-tiba nanya gue tidur dimana?" Kali ini giliran Danny yang melemparkan pertanyaan.
Ia berdiri dengan posisi berlawanan dengan Qiara seraya bersedekap, dan menyandarkan pinggangnya pada kitchen set.
"Ya, karena pas gue bangun lo udah nggak ada."
"Yakin karena itu? Bukan karena lo mimpi yang nggak senonoh soal gue, kan?" Goda Danny dengan sengaja.
Ia sedikit menundukkan wajahnya agar bisa melihat reaksi Qiara yang sudah pasti akan sangat lucu.
Mendengar ucapan Danny, Qiara langsung tersedak dan nyaris saja menyemburkan kopinya ke wajah Danny. Ia lalu menatap tajam pada Danny. Entah kenapa ia merasa seperti tertangkap basah.
"Ngaco lo!" Sentak Qiara dengan salah tingkah.
"Hahaha becanda!" Danny tertawa puas.
Setelahnya, ia memegang kedua bahu Qiara lalu memutar tubuh gadis itu hingga berhadapan dengannya. Hal yang Danny lakukan itu, tak pelak membuat Qiara merasa seperti ada jutaan kupu-kupu yang sedang menari dalam perutnya.
Danny kemudian membenahi rambut Qiara yang berantakkan. Tidak lama setelah itu, kedua tangannya beralih pada pipi chubby milik Qiara lalu menjawilnya dengan gemas.
"Danny, lepas nggak?" Pinta Qiara dengan suara yang tidak cukup jelas karena jawilan Danny yang cukup keras di pipinya.
Jutaan kupu-kupu yang baru saja menari dalam perutnya, tiba-tiba lenyap hanya dalam hitungan detik.
"Lihat muka lo sekarang! Demi apa lo jelek banget, hahaha..."
"eemmphh... Danny lepas!"
Qiara memukul-mukul tangan Danny agar melepaskan pipinya, namun tidak berhasil.
"Dimana lagi gue bisa nemuin mainan seasyik ini? Hm?" Ucap Danny sambil tetap menjawil pipi Qiara.
Qiara yang kehabisan akal segera berinisiatif untuk balas menjawil pipi Danny. Tetapi sebelum tangan Qiara mendarat di pipinya, dengan sigap Danny menjauhkan wajahnya agar Qiara tidak bisa menggapainya.
__ADS_1
Tawa Danny terdengar semakin keras di atas kekesalan Qiara yang sudah mencapai puncaknya.
^^^To Be Continued...^^^