
Sekali lagi Danny menghela nafas. Ia meraih kotak cincin itu dengan gerakan cepat, menutupnya, kemudian menyimpannya di dalam laci.
Saat ini, ada hal yang jauh lebih penting yang harus Danny selesaikan dulu.
...****...
Malam sebelum lamaran...
Sepanjang perjalanannya hendak menemui kedua orang tua Qiara, ucapan Celine serta ucapan Dean padanya tempo hari secara terus-menerus membuat suara berisik dalam kepalanya. Di satu sisi Danny tahu bahwa ia harus mengikuti kata hatinya untuk melamar Qiara, namun di sisi lainnya, ia sama sekali tidak bisa mengabaikan perkataan Celine ataupun Dean. Bagaimana jika memang benar kalau Danny masih belum sepenuhnya melupakan Pricilla? Bagaimana jika nanti, Danny kembali melukai Qiara, dan saat itu Dean akan mengambil celah untuk merebut Qiara darinya?
"Kalau suatu hari Pricilla kembali lagi, gimana?" Suara milik Celine berpendar dalam fikirannya.
"Gue nggak peduli." Danny menjawab suara itu sambil menggigit buku-buku jarinya.
"Gue peringatkan dari sekarang, kalo seandainya elo belum sepenuhnya ngelupain Pricilla, sebaiknya fikirkan lagi niat lo buat ngelamar Qia. Qia udah banyak sakit karena lo selama ini. Jadi tolong, jangan sebabkan luka yang sama karena orang yang sama."
"Gue nggak akan bodoh untuk menyakiti Qiara untuk yang kedua kalinya, Cel. Gue bersumpah."
"Jangan terlalu banyak berfikir. Qiara sangat mencintai lo. Tolong, jangan sia-siakan kesempatan yang sekarang lo punya. Karena untuk berikutnya, kalau lo mengulang kesalahan yang sama lagi, gue nggak yakin kalau kesempatan seperti ini masih ada buat lo."
Kali ini suara milik Dean yang beradu argumen dengan dirinya.
"Dan akan gue pastiin sama elo, Kak. Kali ini gue nggak akan lengah." Tutup Danny kemudian setelah berhasil membungkam pertengkaran yang cukup melelahkan dalam kepalanya.
Danny kembali memfokuskan fikirannya pada jalanan yang ada di depannya. Ia pun semakin mempercepat laju mobilnya agar bisa segera sampai di tempat tujuannya.
...****...
"Loh, kamu dateng sendiri, Dann? Nggak sama Qia?" Ucap Mama Qiara saat melihat kedatangan Danny yang secara tiba-tiba di kediamannya.
Sudah dua minggu Mama Qiara menemani Papa Qiara yang sedang bekerja di luar kota.
Dan Danny rela datang hari itu juga untuk menemui mereka.
"Qia kerja, Tan." Jawab Danny sekenanya.
"Kamu nggak?"
"Kerja juga. Tapi izin."
"Ohh? Kamu ada pertemuan di sekitar sini?" Simpul Mama Qiara setelah melihat penampilan Danny yang cukup rapi. Saat itu, Danny mengenakan sebuah kemeja putih yang ia baluti dengan setelan jas berwarna hitam.
Danny menggeleng pelan. "Danny ke sini buat ketemu Tante sama Om." Jawab Danny kemudian.
Mama Qiara tampak berfikir. Tidak lama setelahnya, Papa Qiara turun dari lantai dua rumah mereka. Dalam senyap, mereka saling melempar pandangan satu sama lain.
Atmosfernya berubah menjadi cukup menegangkan saat itu.
Singkat waktu, Danny sudah duduk dengan gugup di hadapan kedua orang tua Qiara. Ia menundukkan pandangannya untuk beberapa saat, berusaha mengumpulkan keberaniannya yang terberai. Setelah ia rasa cukup berani, Danny mengangkat wajahnya lalu menatap kedua orang tua Qiara yang masih betah menunggunya membuka suara.
"Om, Tante, Danny datang ingin meminta izin untuk melamar puteri kalian."
Kedua orang tua Qiara tentu saja terkejut mendengar penuturan Danny barusan. Butuh waktu yang tidak sebentar untuk mereka hingga bisa mencerna ucapan Danny. Namun diam-diam mereka sama-sama mengagumi keberanian Danny.
__ADS_1
"Danny belum ngomong apapun ke Qia, karena Danny fikir, Danny harus dapat izin dari kalian terlebih dahulu."
Setelah Danny menyelesaikan perkataannya, Papa Qiara langsung bangkit dari tempat duduknya dan berpindah ke sebelah Danny. Ia menyentuh salah satu bahu Danny hingga membuat Danny melihat padanya. Satu senyuman penuh ketulusan langsung menyambut Danny.
"Om, Tante, sama Bang Ray, selalu percaya sama Danny. Tapi, apa Danny sudah yakin dengan keputusan itu? Maksud Om, bukannya Om nggak setuju lihat Danny sama Qiara nikah, tapi usia kalian sekarang masih terbilang muda. Om tahu kalau Danny sudah punya pemikiran yang cukup dewasa, tapi Qiara? Puteri kami masih sangat kekanak-kanakan dan punya banyak kekurangan, dia bahkan masih suka ngambek kalau keinginannya nggak terpenuhi, apa nantinya Danny bisa atasi itu?"
"Iya, Om. Danny bisa atasi." Jawab Danny tanpa rasa ragu sedikitpun sambil menatap kedua orang tua Qiara secara bergantian dengan pandangan yakin.
Papa Qiara menatap Mama Qiara yang langsung disambut oleh sebuah anggukan mantap dari Mama Qiara. Sepertinya, Danny sudah mendapatkan satu suara.
Bukan tanpa alasan Mama Qiara langusung memberikan restunya. Selain mereka memang bersahabat dengan kedua orang tua Danny, ia juga sudah mengenal Danny sejak Danny masih kecil. Ia percaya sepenuhnya bahwa hanya Danny lah yang mampu mengurus Qiara dengan baik selain mereka.
Mama Qiara mungkin belum tahu cerita yang sebenarnya antara Danny dan Qiara selama ini, tapi entah kenapa dia memiliki keyakinan tersendiri kalau Danny dan Qiara bisa saling menjaga dan saling mengandalkan satu sama lain dengan baik. Tidak ada yang harus ia khawatirkan jika nantinya, puteri semata wayang mereka itu menghabiskan sisa hidupnya bersama Danny.
"Baiklah! Kalau Danny memang sudah yakin dengan keputusan itu, Om hanya bisa mendukung dan mendoakan yang terbaik untuk kalian. Tapi Om punya permintaan untuk Danny."
"A—apa itu, Om?"
"Jaga Qiara, dan tolong jangan pernah sakiti dia. Qiara mungkin punya banyak kekuarangan, tapi dia adalah puteri Om yang berharga. Dan saat Danny melangkah keluar dari pintu rumah ini nanti, saat itu juga, Om sudah menyerahkan Qiara untuk Danny."
Danny yang tak kuasa menahan linangan air matanya setelah mendapatkan restu dari kedua orang tua Qiara, langsung saja memeluk Papa Qiara dan berkali-kali merapalkan kata terima kasih.
Jika sudah menyangkut soal Qiara, Danny yang tangguh akan berubah menjadi pria lemah yang gampang sekali menangis.
"Baik-baik sama Qiara, ya, Nak?" Ucap Mama Qiara dengan penuh ketulusan sambil mengusap kepala Danny dengan penuh kasih sayang.
...****...
Pagi itu, untuk pertama kalinya mereka berangkat ke kantor bersama sebagai sepasang kekasih.
"Aku belum tahu. Tapi nanti aku kabarin kalo memang sudah selesai. Kenapa?"
"Malam ini aku mau ngumpulin anak-anak. Mau ngasih tahu ke mereka semua kalau kita akan menikah bulan depan."
Qiara tersipu. Jujur saja, ia masih belum terbiasa mendengar kata "menikah", segalanya masih terasa seperti mimpi baginya. Qiara lantas tersenyum dengan kedua pipi merona merah.
"Jangan tersenyum seperti itu, kamu membuat jantung aku berdebar."
Dasar, Danny! Tidak bisakah dia membiarkan jantung Qiara beristirahat barang sebentar saja? Sejak semalam dia selalu membuat jantung Qiara bekerja di atas normal. Kalau terus-terusan seperti ini, jantung Qiara bisa-bisa meledak dibuatnya.
Sementara Danny, ia tidak hentinya terpesona melihat wanitanya itu. Fokusnya otomatis kacau setiap kali mendengarkan Qiara bersuara.
Suara itu, berkali-kali mendesahkan namanya semalam.
"Ya udah, masuk, yuk! Kita udah hampir telat. Kamu juga sebentar lagi mau live."
Baru saja Qiara melepaskan seatbelt-nya dan hendak keluar dari mobil, Danny tiba-tiba saja menarik tangannya hingga membuat wajah mereka saling berdekatan dalam posisi yang begitu dekat. Kedua mata Qiara membelalak lebar, jantungnya pun lagi-lagi berdebar kencang karena ulah pria ini yang tidak pernah gagal mengejutkannya.
"Kamu bawa lipstick, kan?"
Qiara heran, kenapa juga Danny tiba-tiba menanyakan hal seremeh itu padanya? Qiara yang tidak mampu mengeluarkan suara karena terlalu gugup akhirnya mengangguk pelan.
Danny tersenyum nakal setelahnya, "baguslah! Sekarang aku nggak perlu khawatir membuat lipstick kamu luntur."
__ADS_1
Danny lantas mencium bibir Qiara sebelum sempat membiarkan wanita itu membuka suara.
...****...
"Kami akan menikaaaah!!"
Pekik Danny dan Qiara dengan kompak sambil memamerkan cincin yang Danny pasangkan di jari manis Qiara pagi tadi.
Namun Alih-alih mendapat respon yang sama hebohnya, Arga dan Celine justru hanya menampakkan wajah datarnya dan tidak sedikitpun menunjukkan tanda-tanda bahwa mereka terkejut dengan kabar itu. Sementara hanya Alisha lah satu-satunya di antara mereka yang menampakkan ketertarikan. Alisha bertepuk tangan lalu tertawa canggung.
"Ha ha ha... selamat, ya?" Ucap Alisha, masih dengan kecanggungan yang sama. Ia lalu menautkan jemari tangannya dengan jemari tangan Qiara yang duduk di seberangnya sambil berusaha menunjukkan kehebohan dan memecah kesenyapan Arga dan Celine, "YEEEE!!!" Lanjut Alisha.
"Thank you, Al." Jawab Qiara dengan wajah bahagianya.
"Apa ini? Kenapa reaksi kalian berdua seperti itu?" Tanya Danny setelah menyadari bahwa Arga dan Celine sama sekali tidak menunjukkan minat atas kabar bahagia yang baru saja disampaikannya bersama 'calon isterinya'.
"Sudah ketebak ending-nya akan seperti ini." Ujar Arga tak acuh.
"Kami nggak kaget!" Pungkas Celine –masih dengan wajah datarnya.
Danny dan Qiara sama-sama mendengus sinis. Dasar sahabat tidak setia!
Tetapi meskipun sama-sama tidak menunjukan antusias yang sama seperti Alisha, Arga dan Celine merasa lega karena akhirnya Danny melepaskan kebimbangannya dan memantapkan hatinya untuk mengajak Qiara melangkah lebih jauh lagi ke jenjang yang lebih serius. Arga dan Celine juga sama-sama menyadari, bahwa ada ketakutan dalam diri mereka saat ini. Ketakutan bahwa mungkin saja kedua orang ini akan kembali saling melukai. Itulah kenapa, mereka hanya bisa menunjukkan reaksi yang datar-datar saja dan bahkan tereksan tidak tertarik.
Dan Danny dapat membaca semuanya dengan jelas. Ketakutan juga keraguan Arga dan Celine pada dirinya. Namun dalam hati Danny berjanji dan memastikan, bahwa ketakutan mereka tidak akan pernah terjadi.
"Udah ngomong ke orang tua kalian?" Tanya Arga pada Danny.
Setelah acara kumpul bersama, Arga memutuskan untuk ikut pulang bersama Danny ke apartemennya. Arga merasa perlu berbicara empat mata dengan sahabat kentalnya ini.
"Semalem, sebelum gue ngelamar Qia, gue udah nemuin Papa dan Mamanya untuk meminta restu. Dan mereka udah ngasih restu ke gue. Tinggal ke orang tua gue aja. Mungkin malam ini akan gue sampaikan ke mereka. Dan besoknya, akan gue siapkan untuk pertemuan dua keluarga."
Arga yang sejak tadi menunduk sambil memutarkan jari tangannya di atas kaleng bir segera mengangkat wajahnya dan menunjukan tatapan sangsi. "Emang nikahnya harus bulan depan banget, ya?"
"Karena setelah bulan depan gue sibuk, Yo. Sementara awal tahun depan, gue udah ada rencana buat lanjut S2 ke Amerika, dan gue mau bawa Qiara." Danny menghela nafas sejenak. Keraguan yang Arga tunjukan padanya membuat rasa percaya dirinya menurun. "Kenapa? Lo masih nggak percaya sama gue?" Lanjutnya sambil menatap kedua mata Arga dengan cukup serius.
Arga memalingkan wajah seraya menggelengkan kepalanya sekilas, "entahlah. Gue cuma nggak mau ada yang menyakiti dan disakiti lagi."
"Ga—"
"Pastiin aja kalau lo nggak akan nyakitin Qiara. Kita semua tahu, kan, gimana Qiara selama ini? Walaupun dia bilang dia nggak apa-apa, tapi kita nggak bisa menutup mata pada kenyataan kalau sebenarnya tuh dia nggak pernah baik-baik aja."
"Lo nggak perlu mencemaskan apapun, Ga. Gue pasti akan buktiin ke elo, kalau untuk kali ini... nggak akan ada yang terluka." Ucap Danny penuh keyakinan.
"Oke! Gue pegang omongan lo. Tapi, kalau sampai ada yang terluka dan menangis lagi setelah ini... gue nggak akan tinggal diam. Lo ngerti kan maskud gue?"
Danny mengangguk pelan dengan seulas senyuman tipis di wajahnya. Arga kemudian mengepalkan halus tangannya dan mengarahkannya pada Danny, "selamat, karena sebentar lagi lo akan jadi pria yang sudah menikah."
Danny pun melakukan hal yang sama dengan menyambut kepalan tangan Arga, "thanks, bro!"
Sebelumnya Danny tidak pernah menduga, bahwa meyakinkan Arga ternyata jauh lebih sulit daripada meyakinkan kedua orang tua Qiara.
^^^To Be Continued...^^^
__ADS_1