Kutukan Cinta Pertama

Kutukan Cinta Pertama
30. Obrolan Dean dan Ray


__ADS_3

Pertemuan dua keluarga dilakukan sehari setelah Danny melamar Qiara secara pribadi. Dean dan Ray bahkan rela meninggalkan pekerjaan mereka untuk hari itu. Dan mereka semua sudah sepakat bahwa upacara pernikahan akan dilaksanakan pada akhir bulan depan.


Tentu saja pernikahan Danny dan Qiara terkesan buru-buru untuk kedua belah pihak keluarga. Namun, saat melihat Danny dan Qiara yang begitu yakin dan gigih dengan keputusan mereka, kedua keluarga pun akhirnya hanya bisa mendukung dan berusaha melakukan yang terbaik untuk anak-anak mereka.


Upacara pernikahan akan digelar dengan sederhana. Pernikahan itu hanya akan melibatkan kedua keluarga dan sahabat-sahabat terdekat mereka saja. Jadi, mereka tidak perlu repot memikirkan waktu mereka yang bisa dibilang cukup mepet untuk sebuah perencanaan pernikahan.


Begitu mendapat persetujuan dari keluarga mereka, Danny dan Qiara secara refleks berteriak kegirangan lalu ber-high five. Tingkah kekanak-kanakan yang mereka lakukan itupun tak luput dari perhatian orang tua mereka juga kakak-kakak mereka.


Untuk beberapa detik mereka terpaku melihat Danny dan Qiara, namun setelahnya mereka ikut tertawa.


Mereka masih sulit membayangkan bahwa kedua 'bocah' yang lebih banyak bertengkar itu akan segera menikah dan menapaki kehidupan baru sebagai sepasang suami-isteri.


Ketika semuanya melebur dalam tawa, perhatian Ray secara tiba-tiba tertuju pada Dean yang hanya menampakkan senyuman tipisnya. Ray tidak buta. Selama ini ia tahu, bahwa pria yang ada di sampingnya itu juga menyimpan perasaan untuk adik perempuannya. Tapi apa mau dikata? Hati bukan sesuatu yang bisa dipaksakan.


Ray kemudian menepuk pundak Dean, berharap dengan begitu saja Dean dapat berbesar hati. Dan meski Ray tidak mengucapkan sepatah katapun, Dean dapat merasakan bahwa Ray sedang berusaha untuk melapangkan dadanya.


Ray kemudian berlalu pergi dari samping Dean. Namun tiba-tiba saja ia menghentikan langkah kakinya dan kembali melihat Dean. "Oya, Yan?"


"Iya?"


"Keluar, yuk! Gue butuh temen minum."


...****...


"Qi... terima kasih karena mau terima Danny, meski tahu kalau Mamanya ini punya masa lalu yang kurang baik." Ucap Faradina pada Qiara. Saat itu, Faradina mengajak Qiara berbicara hanya berdua saja dengannya di dalam kamar Danny.


Qiara lalu menggenggam tangan Faradina dan menatap calon Mama mertuanya itu dengan pandangan yang begitu lembut, "Tante Fara, mungkin dari sisi Kak Dean, Qia akan terkesan jahat kalau mengatakan ini, tapi... terima kasih karena sudah membawa Danny lahir ke dunia ini. Tanpa Danny, Qia nggak bisa bayangin betapa nggak serunya kehidupan Qia kalau Danny nggak ada."

__ADS_1


"Kamu sayang banget sama Danny, ya?"


Qiara mengangguk. Ia mulai merasakan kedua matanya memanas dan agak mengabur saat air matanya tertahan di pelupuk matanya. "Iya. Qia sangat sayang Danny sampai ke tahap Qia nggak bisa hidup tanpa Danny."


"Mau peluk Tante?" Ujar Faradina sambil membuka lebar kedua tangannya. Tanpa berfikir panjang lagi, Qiara langsung membawa dirinya ke dalam pelukan Faradina lalu menumpahkan tangisannya di sana.


"Tante bersyukur karena itu kamu, Qi. Tante bersyukur karena orang yang menyayangi Danny hingga sedalam ini adalah kamu. Bahagia selalu, ya?"


...****...


Dean dan Ray duduk berdampingan di sebuah meja Bar sambil memegang gelas minuman masing-masing. Untuk menit-menit pertama, tidak satupun dari mereka yang berniat untuk membuka obrolan, sampai akhirnya Ray mendesah cukup panjang sambil memainkan gelas kecil di tangannya.


"Dean?" Ray mulai terdengar bersuara. Dean hanya menoleh ke arahnya setelah mendengar namanya disebut.


"Gue sebenernya nggak pengen menanyakan ini ke elo, tapi gue tetep pengen tahu keadaan lo sekarang..." Ray yang sejak tadi tidak menatap lawan bicaranya, kini balas menatap Dean dan melanjutkan perkataannya, "... are you okay?"


Ray mengangguk lalu menampakkan seulas senyuman yang sama seperti Dean. "Meski kita nggak begitu dekat selama ini, tapi gue tahu bahwa betapa dalam arti adek gue buat lo. Untuk itu, gue nggak berhenti-berhentinya berterima kasih ke elo untuk semua hal yang lakukan buat adek gue, termasuk untuk hari ini. Terima kasih sudah berlapang dada melepas Qiara buat Danny. Pasti nggak gampang, kan, buat lo?"


"Karena gue mau Qiara bahagia meskipun bukan dengan gue, Ray. Beberapa tahun yang lalu, Qiara pernah menghentikan gue dari tindakan bodoh yang sempat gue lakukan untuk mengakhiri hidup gue. Kalau Qiara tidak datang tepat waktu saat itu, mungkin sekarang gue nggak akan ada di sini. Jadi apapun yang gue lakukan, semuanya gue lakukan untuk Qiara."


Tentu saja Ray ingat hari itu. Hari dimana Dean mengambil keputusan untuk mengakhiri hidupnya. Meski gagal melakukannya, tetapi Qiara sampai jatuh sakit karena kejadian itu. Mana mungkin Ray melupakannya?


"Untuk itu, kalau sampai Danny membuatnya menangis sekali lagi, gue akan merebut Qiara dan memaksa Qiara untuk tinggal di sisi gue apapun resikonya." Ujar Dean dengan penuh kesungguhan. Ia pun kembali menenggak minumannya.


...****...


Oktober, 2012...

__ADS_1


Dean sudah berdiri di atap sebuah gedung kosong yang tidak terpakai lagi. Ia bersiap-siap hendak meloncat dan mengakhiri hidupnya hari itu juga. Saat itu, fikirannya terlalu buntu untuk bisa bersikap realistis. Kematian Mamanya satu bulan yang lalu memberikan pukulan yang begitu kuat baginya. Belum lagi, ia hanya memiliki Mamanya, melewati masa-masa sulit berdua tanpa kehadiran seorang Papa. Dan saat Mamanya kemudian meninggal karena sakit yang tidak pernah Dean ketahui, ia merasa bumi tempatnya berpijak runtuh sudah.


"KAK DEAN!!" Pekik seseorang tepat dari belakang Dean. Dean yang sedetik lalu sudah akan melemparkan dirinya ke bawah tersentak lalu menoleh ke belakang. Di sana sudah ada Qiara yang tampak ketakutan, dan Danny yang sedang menatapnya dengan penuh gurat-gurat luka di matanya.


Dengan langkah secepat angin, Qiara menghampirinya lalu memeluk kedua kakinya dengan gemetaran. Ini pertama kalinya Qiara melihat seseorang yang ingin mengakhiri hidupnya.


"Kak Dean sudah janji sama Qia kalau Kak Dean bakalan tetap hidup. Kak Dean fikir, Mama Kak Dean nggak akan sedih ngelihat apa yang Kak Dean lakukan sekarang? Bahkan seberat apapun masalah Kak Dean, Kak Dean nggak boleh melarikan diri seperti ini. KAK DEAN JAHAAAAT!!" Qiara berteriak histeris di akhir kalimatnya. Air matanya pun sudah deras menetes.


Pergerakan Dean sekarang benar-benar sulit terbaca olehnya. Dean bisa meloncat kapan saja dan Qiara sangat takut kalau-kalau tidak bisa menghentikannya. Maka ia pun semakin erat memeluk kedua kaki Dean. Sementara pandangan mata pemuda itu masih tampak kosong.


"KAK DEAN, QIA MOHON CEPAT SADAAAAR!!"


Entah mendapatkan kekuatan dari mana, dalam sekali sentak Qiara berhasil menarik tubuh kokoh Dean dari besi pembatas. Mereka berdua pun terjatuh ke aspal hingga menyebabkan luka di pelipis dan siku Qiara. Beberapa detik kemudian, Dean mendapatkan kesadarannya kembali, dan perasaan cemas seketika menyambutnya saat melihat darah segar mengalir dari pelipis Qiara.


"Qia, kamu nggak apa-apa?" Tanya Dean seraya mengusap jejak air mata di wajahnya.


"Kak Dean tolong jangan lakukan ini lagi. Qiara sama Danny takut banget. Kami takut datang terlambat." Nada suara Qiara terdengar melemah.


"Maafin, Kak Dean, ya? Kak Dean janji nggak akan lakukan hal itu lagi. Maafin Kak Dean, Qi. Maafin Kak Dean. Maafin Kak Dean..." Rapal Dean berkali-kali sambil memeluk tubuh Qiara di pangkuannya.


Melihat pemandangan yang menyesakkan dada itu, Danny yang sedari tadi ingin menghampiri mereka, langsung mengambil langkah mundur. Ia tidak ingin kehadirannya akan kembali membuat Dean hilang kendali.


Pemandangan itu menjadi sangat menyedihkan, tidak hanya karena Danny menyaksikan Dean yang ingin mengakhiri hidupnya, tetapi juga karena melihat gadis yang ia sayangi berada dalam pelukan Kakak yang sangat membencinya. Dua kenyataan yang tidak terelakkan menghantam jantung Danny dalam satu waktu, dengan sangat keras dan menyakitkan.


Saat itu juga Danny tahu, bahwa Qiara-nya, adalah satu-satunya alasan yang membuat Dean ingin tetap hidup.


^^^To be Continued...^^^

__ADS_1


__ADS_2