Kutukan Cinta Pertama

Kutukan Cinta Pertama
13. Jealous?


__ADS_3

November, 2012...


"Dann, gue nggak bisa kayak gini terus. Berkali-kali gue mikir, gue tetep nggak bisa ngerti, kenapa tiba-tiba lo suka sama cewek lain, terus mutusin gue. Seenggaknya gue harus tahu siapa dia, Danny." Ucap Qiara dengan nada memohon.


Tepat dua minggu setelah mereka putus, Qiara mulai merasa ada sesuatu yang tidak benar atas keputusan yang Danny ambil. Selama dua minggu ini juga, Qiara susah tidur, susah makan, susah segala-galanya, karena terus memikirkan kesalahan apa yang sudah ia lakukan sehingga membuat Danny yang ia pacari selama dua tahun ini tiba-tiba meninggalkannya demi gadis lain. Dan hari inilah, Qiara tiba di titik putus asa itu.


"Qi, tolong jangan kayak gini dong." Pinta Danny dengan nada memohon yang sama seperti Qiara.


"Untuk itu, lo harus bilang sama gue, siapa cewek itu, supaya gue bisa ngelepasin lo!"


Saat Danny sudah kehabisan akal menghadapi Qiara, Prissy, si cewek paling cantik dari kelas 12-3 tiba-tiba muncul dalam pandangan matanya. Danny tertegun untuk beberapa lama. Prissy pun secara perlahan mengalihkan pandangan matanya pada sosok Danny yang terus menatapnya dari kejauhan. Prissy tersenyum hangat pada Danny seraya menganggukan kepalanya, sebuah tanda sapa untuk Danny.


"Pricilla Renata Lee. Dia orangnya." Jawab Danny kemudian tanpa sedikitpun mengalihkan tatapannya dari sosok Pricilla.


Seluruh tubuh Qiara seakan mati rasa ketika mendengar satu nama itu. Bagaimana mungkin Qiara tidak tahu siapa itu Pricilla Renata Lee? Dia adalah seorang Ballerina muda dengan masa depan cerah di depannya. Seorang gadis istimewa yang memiliki jalan berbunga menuju masa depannya. Ia cantik, berprestasi, dan sangat anggun. Tidak hanya terkenal karena kecantikannya, tapi juga kebaikan hatinya yang membuat siapa saja luluh dan jatuh cinta padanya. Untuk beberapa alasan, Qiara merasa begitu kerdil. Jika dibandingkan dengan Pricilla, Qiara tentu tidak ada apa-apanya.


Detik itu juga, Qiara akhirnya memasuki fase penerimaan.


Wajar saja jika Pricilla adalah orangnya. Wajar jika akhirnya Qiara kalah telak.


...****...


Danny pulang ke rumahnya setelah berhasil menenangkan Prissy dan mengobati lukanya. Sebelum pulang, Danny sempat menelepon Mia dan memintanya kembali untuk menjaga Prissy. Dan setelah Mia datang, Danny langsung pulang dengan perasaan gamang. Segalanya masih sangat mengejutkan bagi Danny. Ia baru tahu, bahwa Prissy ternyata memiliki luka sedalam itu perihal keluarganya, mimpinya, dan juga dirinya.


Selama ini, Danny terlalu bodoh untuk bisa memahami situasi kekasihnya itu. Ia terlalu sibuk dengan dirinya, juga masa lalunya dengan Qiara hingga lupa bahwa ada satu hati yang harus ia jaga.


Danny yang tidak ingin langsung kembali ke rumah, memutuskan untuk mampir ke sebuah playground yang letaknya tidak cukup jauh dari rumahnya. Danny ingin diam di sana untuk beberapa saat.


Danny terduduk di sebuah ayunan dengan fikiran melayang jauh. Tatapannya tampak kosong, fikirannya kacau jauh di dalam sana. Ingatan saat Prissy melukai dirinya terus berputar dalam kepalanya dan membuat sesak dadanya.


"Dann, ngapain di sini?"


Satu suara yang begitu familiar tiba-tiba saja menyentak Danny dari lamunanya. Ia otomatis mendongak untuk melihat sumber suara yang ternyata datangnya dari Qiara yang saat itu sudah berdiri tepat di hadapannya.


Qiara mengernyit ketika mendapati wajah Danny yang tampak muram. Tidak biasanya Danny seperti ini.


Kemudian tanpa sengaja, perhatian Qiara tahu-tahu tertuju pada telapak tangan Danny yang terluka. Darah di sekitar lukanya bahkan sudah mengering, pertanda bahwa luka itu sudah ia dapatkan sejak tadi.


"Tangan lo berdarah, Dann. Ayo pulang!" Ucap Qiara dengan cemas sambil meraih salah satu tangan Danny.

__ADS_1


Namun secara mengejutkan, Danny menarik tangannya dari kungkungan Qiara dengan wajahnya yang tampak sendu. Pada bagian itu, Qiara dapat merasakan sebuah penolakan dari sikap Danny.


"Dann?"


"Gue belum mau pulang. Gue masih mau di sini. Lo pulang aja duluan." Kata Danny dengan nada yang terdengar lelah.


Ini kali pertamanya Danny bersikap sedingin itu pada Qiara. Ia bahkan lebih terlihat seperti bongkahan es yang membekukan sekarang. Tapi, Qiara tidak ingin memikirkan hal itu. Dalam kepalanya sekarang, ia harus segera mengobati luka di tangan Danny sebelum terkena infeksi.


"Kalau gitu, lo tunggu di sini. Gue akan kembali secepetnya. Jangan kemana-mana!"


Tanpa menunggu persetujuan dari Danny, Qiara langsung berlari menuju rumahnya untuk mengambil beberapa obat luka. Namun begitu ia kembali dengan tergesa, pemuda itu justru sudah tidak ada lagi di tempatnya. Qiara mengedarkan pandangan matanya ke segela penjuru, berusaha menemukan sosok Danny, tetapi nihil.


Qiara semakin bingung dan penasaran. Sebenarnya apa yang sedang terjadi pada Danny? Kenapa mendadak dia bersikap begitu aneh?


...****...


Selepas melarikan diri dari Qiara, Danny memutuskan untuk bersembunyi di rumah Arga. Danny melakukan cara itu, karena yakin Qiara akan datang ke rumahnya untuk mencarinya. Dan Danny khawatir, jika sekali lagi ia melihat Qiara, ia akan kalah sebelum melakukan apapun.


"Jadi, karena itu lo mau ngejauh dari Qia?" Tanya Arga pada Danny setelah ia menceritakan semua yang terjadi padanya beberapa saat lalu.


Namun Danny bergeming. Tidak mudah baginya untuk menjauhi Qiara, yang selama hampir setengah hidupnya selalu bersamanya, yang selama hampir setengah hidupnya, tetap tinggal di sisinya meskipun ia telah banyak melukai gadis malang itu.


Arga yang memang sedang menunggu jawaban dari Danny, langsung menghela nafas berat begitu ia tidak juga mendengarkan Danny bersuara. Tetapi, Arga berusaha untuk mengerti. Lagi pula, meskipun Danny tidak mengatakan apapun padanya, Arga tahu apa yang sedang bergejolak dalam diri sahabat kentalnya itu.


Ponsel Arga di atas meja kemudian bergetar. Arga pun segera meraih ponselnya, dan mendapati satu pesan dari Qiara.



Tanpa membalas pesan yang dikirimkan oleh Qiara, Arga langsung melihat telapak tangan Danny yang terluka. Arga mendesah pelan. Tidak ingin mengulur waktu lagi, Arga segera mengambil obat untuk Danny.


...****...


"Bu Sri, tolong bikinkan sup wortel buat Dean dong. Dean lap—" Dean menggantungkan kalimatnya saat sadar bahwa yang sedang berada di dapur sekarang adalah Faradina, bukan Ibu Sri.


Dean membeku di tempatnya dengan ekspresi datar, begitu juga dengan Faradina. Setelah cukup lama saling berdiam diri satu sama lain, Dean pun memutuskan kembali ke kamarnya dan mengurungkan niatnya untuk makan malam.


"Biar Mama yang masakin buat kamu, ya?" Ucap Faradina dengan lembut, yang berhasil menghentikan langkah Dean seketika.


Dean sudah akan menolak saat Faradina dengan gerak cepat beralih ke arah kulkas untuk mengambil beberapa bahan makanan. Dean kali ini memilih pasrah. Ia sudah tidak memiliki celah lagi untuk menolak.

__ADS_1


Tiba-tiba, sesuatu dari dalam dirinya yang tidak Dean pahami, memberikan dorongan yang begitu kuat namun lembut hingga membuat Dean melangkah ke arah meja makan, lalu duduk di sana sambil menunggu makanannya siap.


"Adek kamu belum pulang, Yan?" Tanya Faradina sambil memotong wortel.


Dean kemudian terkesiap. Tidak menduga bahwa Faradina akan menanyakan soal Danny padanya, "belum." Jawab Dean seadanya.


Situasi kembali hening di antara mereka. Tidak lagi terjadi obrolan. Faradina fokus dengan masakannya, sementara Dean berpura-pura sibuk dengan membaca sebuah buku.


Tepat sepuluh menit kemudian, Faradina akhirnya selesai. Ia menghidangkan sup wortel di hadapan Dean bersama dengan sepiring nasi hangat.


"Kalau begitu, Mama ke atas dulu, ya?" Pamit Faradina setelah ia menuangkan air putih di gelas. Dean hanya mengangguk yang dibalas oleh Faradina dengan sebuah senyuman hangat.


Saat itu juga, Dean langsung menarik nafas lega.


...****...


"Eh, itu Qiara, kan?" Ujar Irsyad, salah satu rekan anggota Danny di UKM Sinematografi.


Mendengar Irsyad menyebut nama Qiara, Danny dan Arga yang saat itu sedang berkumpul bersama Irsyad, juga anggota yang lainnya di halaman samping gedung fakultas mereka, refleks menatap Irsyad dengan pandangan menyelidik.


"Kenapa Qiara semakin cantik aja, ya? Bahkan saat dilihat dari kejauahan kayak gini." Puji Irsyad sambil terus menatap Qiara dengan pandangan memuja, "eh, iya... denger-denger dia putus sama Vanno, kan?" Lanjut Irsyad. Ia bertanya terserah pada siapa saja yang mau menjawab.


"Kabarnya sih gitu." Rizky –salah satu dari mereka menimpali. Sementara itu, Danny dan Arga masih mengamati dengan penuh antisipasi.


Kali ini, Irsyad mengalihkan perhatiannya pada Danny dan Arga, "Qiara temen kalian, kan? Masih jomblo dia?" Irsyad kembali bertanya, berusaha mengulik informasi.


"Terus kenapa kalau masih jomblo?" Giliran Arga yang bertanya balik.


"Mau gue deketin. Waktu Ospek, gue sempet naksir dia. Tapi dulu, dia cuek banget. Vibes-nya tipe-tipe cewek yang susah dideketin. Gue juga selalu nge-love postingan IG-nya, pernah beberapa kali kirim DM juga, tapi nggak ada respon, hahaha..."


"Dia udah punya cowok. Jangan deketin dia." Cecar Danny tiba-tiba yang sukses membuat Irsyad kehabisan kata-kata.


Sementara itu, Arga yang mendengarkan 'kebohongan besar' yang baru saja Danny lemparkan, hanya bisa melongo dengan mimik wajah yang seolah berkata, 'hah? Gimana? Gimana?'


Danny kemudian memilih hengkang. Ia berjalan dengan raut wajah misterius meninggalkan yang lainnya. Dan begitu ia melewati Qiara yang saat itu sedang asyik mengobrol dengan salah satu teman kelasnnya, Danny tahu-tahu membuka topi yang ia kenakan lalu memasangkannya dengan kasar di kepala Qiara hingga menutupi sebagian wajahnya.


"Tutup muka jelek lo itu!" Ucap Danny dengan nada judes, dan kembali berlalu dari hadapan Qiara dengan wajah angkuhnya.


^^^To be Continued....^^^

__ADS_1


__ADS_2