Kutukan Cinta Pertama

Kutukan Cinta Pertama
11. Ray & Celine


__ADS_3

Qiara tersenyum saat melihat Danny yang duduk di pinggir ranjangnya ketika ia membuka mata. Qiara yang masih setengah sadar menganggap bahwa apa yang sekarang ia lihat adalah bagian dari mimpinya masih tetap tersenyum, begitu juga dengan Danny.


"Morning, Kebo!" Sapa Danny kemudian seraya melambaikan salah satu tangannya.


Qiara yang terkejut serta-merta bangkit dari posisinya dan menatap Danny dengan pandangan membunuh. "Kenapa lo selalu muncul di kamar gue? Apa nggak ada lagi yang namanya privasi?" Omelnya kemudian.


Danny terkekeh pelan lalu menarik lengan Qiara, memaksanya untuk bangkit, "ayo bangun! Kita jogging bareng."


"Nggak! Gue males, gue mau tidur. Gue masih ngantuk! Lagian kan ini hari minggu, ngapain gue mesti nyiksa diri buat bangun pagi?" Cerocos Qiara panjang lebar.


Dan saat Qiara akan kembali bersembunyi di balik selimut tebalnya, Danny justru mengangkatnya dari tempat tidur dan membawanya paksa masuk ke kamar mandi.


Setelah melepaskan Qiara di dalam kamar mandi, Danny langsung menutup pintunya dari luar sambil tertawa jahat. Ia bahkan tidak menghiraukan rengekan Qiara yang terus menyumpahinya dari dalam kamar mandi.


"Jangan panggil gue Qiara Serena kalau gue nggak ngebunuh lo setelah ini. Gue bersumpaaaaah!!"


...****...


"Lo ngapain adek gue sampai suara teriakannya sekenceng itu?" Tanya Ray pada Danny begitu Danny menuruni anak tangga dan duduk di sebelahnya yang sedang asyik bermain PS.


Danny hanya terkekeh dan tidak berniat menjawab. Ia pun mengikuti arah pandangan Ray yang sedang fokus menatap layar di depannya. "Hari ini nggak ketemu Celine?" Tanya Danny kemudian.


"Gimana mau ketemu? Telepon sama chat gue aja nggak direspon. Semua socmed gue juga dia block."


"Habis elu sih!" Rutuk Danny seolah-olah menyalahkan Ray.


Tepat setelah Danny menyelesaikan ucapannya, Ray langsung game over. Ia pun serta-merta membanting stik PS di tangannya dengan perasaan kesal, yang disambut oleh Danny dengan tawa nyaringnya.


"Adik ipar, apa lo sedang menertawakan gue sekarang?"


"Itu karena lo lucu, hahaha." Jeda sesaat, "kalau Celine nggak bisa dihubungin, ya temuin langsung dong." Lanjutnya.


"Menurut lo, dia mau ketemu sama gue?" Tanya Ray. Kali ini lebih serius.


"Ya nggak mau lah. Menurut lo aja, Bang." Jawab Danny tanpa perasaan.


Ray langsung menatap tajam dirinya.


"Lu mau gue depak jadi adik ipar?" Ancam Ray kemudian.


Sebelum Danny sempat menggubris ancaman Ray, Qiara sudah turun dari lantai dua dengan wajahnya yang masih mengantuk dan tampak malas. Danny dan Ray pun secara bersamaan menoleh ke arah Qiara.


"Ckck... liat kelakuan adik gue yang gembel ini!" Ujar Ray dengan diiringi helaan nafas yang cukup kuat di akhir kalimatnya, seolah menyesali nasib kenapa memiliki adik perempuan yang bentukannya seperti itu.


"Sembarangan lo, Bang! Gini-gini dia calon ibu dari anak-anak gue nantinya." Protes Danny dengan nada bercanda sembari melangkah mendekati Qiara, dan merangkul pundaknya dengan santai.


"Ck, tangan lo berat!" Keluh Qiara.


Ia kemudian Menyingkirkan tangan Danny dengan kasar dari pundaknya, dan kembali berkata, "ya udah, ayo buruan! Sebelum gue berubah fikiran dan kembali tidur."


Qiara lalu melangkah mendahului Danny sambil dengan sengaja menguap lebar-lebar dengan suara yang cukup keras. Danny terkekeh lagi dan segera menyusulnya.


"Kakak ipar, pergi dulu, ya?" Pamit Danny pada Ray.


...****...


Prissy duduk di meja makan sambil menatap hampa pada layar laptop-nya. Ketika ia bangun tidur tadi, Mamanya menelepon dan mengatakan bahwa dia berhasil diterima menjadi salah satu mahasiswa S1 Jurusan Tari di Juilliard.


Mamanya menyampaikan kabar itu dengan perasaan bangga yang menggebu, sementara Prissy yang menerima kabar itu, entah dengan cara apa tiba-tiba merasa bimbang.


Ia lega karena akhirnya tujuannya bisa tercapai, namun ia juga merasa tidak siap jika harus meninggalkan Danny di sini.


Pada layar di depannya, Prissy dapat melihat namanya tertera dengan jelas di antara nama-nama lainnya yang berhasil masuk di Universitas itu.


Untuk sejenak ia merasa bodoh, karena sempat berharap ia akan gagal lagi.


Dan 'pyaaarr!', gelegar suara gelas pecah tiba-tiba menarik Prissy dari lamuannya. Ia mencengkram kuat salah satu tangannya dengan gemetar, berusaha meredam emosinya yang mulai terusik seraya memejamkan kedua matanya.


"Maaf, Priss." Ujar Asisten pribadinya yang baru saja menjatuhkan gelas.


Prissy yang mendadak kehilangan akal sehatnya setelah bergumul dengan segala macam emosi dalam dirinya, bangkit dari kursinya dengan gerakan pelan dan menghampiri Mia –Asistennya. Mia yang tampak ketakutan, hanya berdiri pasrah di tempatnya. Tentu saja ia tahu apa yang akan terjadi berikutnya. Ia sudah membersamai Prissy selama lima tahun terakhir ini, dan dia tahu semua tentang Prissy.


Dan seperti yang Mia duga, begitu Prissy sudah berdiri di depannya, Prissy langsung saja mendaratkan sebuah tamparan yang sangat keras di wajah Mia. Prissy yang biasanya terlihat cantik dan anggun, kini terlihat sangat bengis dan juga... menakutkan.

__ADS_1


"Sudah aku bilang, lakukan pekerjaanmu dengan baik!!"


...****...


"Jadi, lo udah baikan sama Danny?" Tanya Celine pada Qiara saat mereka berdua duduk berhadapan di taman kampus.


Celine tampak sibuk mengerjakan tugasnya. Sementara Qiara sibuk berkutat dengan layar laptop di hadapannya setelah menerima email dari Alisha.


"Ya gitu deh." Jawab Qiara seadanya.


"Lagian kalian berdua kenapa sih? Berantemnya udah kayak orang pacaran." Sungut Celine dengan nada suara yang cukup sebal.


"Tanya aja sama sepupu lo langsung. Nggak usah tanya gue."


"Lo masih sayang sama Danny, ya?"


Pertanyaan yang Celine lontarkan serta-merta membuat Qiara terkejut setengah mati. Ia lantas mengalihkan perhatiannya dari layar monitor, dan melemparkan tatapan benci pada Celine yang sok tahu ini.


Tidak lama setelahnya, Qiara tersenyum licik, sebuah ide untuk memberi Celine pelajaran tiba-tiba saja terbersit di otaknya.


"Jangan fikirin gue, fikirin aja hubungan lo sama Abang gue. Abang gue udah tiga hari di sini, tapi malah lo cuekin. Telepon sama chat-nya nggak lo respon sama sekali."


"Apa?" Celine kaget, tidak menyangka Qiara akan membahas hubungannya dengan Ray.


Ya, Ray. Ray kembali dari Brisbane tiga hari yang lalu untuk melakukan penelitian skripsinya. Sejak kembali, Ray terus mencoba menghubungi Celine, namun tidak pernah berhasil.


"Bang Ray nanyain lo terus. Angkatlah teleponnya sekali aja! Gitu-gitu juga Abang gue masih manusia, loh."


Qiara lalu membereskan laptopnya. Ia pamit pada Celine untuk kembali ke radio. "Gue duluan, ya?"


Qiara pun berjalan dengan santainya, menyisakan Celine hanya seorang diri di sana.


Celine tampak berfikir, ia lalu melihat ponselnya dan mendapatkan ada dua puluh panggilan tidak terjawab sejak tiga hari yang lalu dari nomor tidak dikenal yang ia yakini adalah milik Ray.


Celine mendesah pelan. Kenapa sih mantan pacarnya ini harus muncul kembali di saat Celine ingin benar-benar melupakan semuanya?


Celine lalu merasakan ponselnya bergetar. Secara kebetulan, ia menerima sebuah chat dari Ray yang mencoba menghubunginya dengan nomor baru setelah nomor lama Ray ia blockir sejak mereka putus. Chat itu pun langsung ia baca,



Tidak lupa juga, Ray memamerkan senyuman maut andalannya, yang selalu berhasil membuat jantung Celine berdebar dengan kencang, dulu bahkan sekarang.


...****...


Alisha duduk di meja kerjanya sambil memutar-mutar sebuah bolpoin di tangannya. Wajahnya tampak berseri ketika ingatan tentang pertemuannya dengan Arga tempo hari terus berpendar dalam kepalanya tanpa henti.


Alisha menyukai semua yang ada pada pria itu. Wajahnya, tatapan matanya, sikap penuh perhatiannya, bahkan suara lembutnya, Alisha sangat menyukainya.


...****...


Seminggu Yang Lalu...


"Hay!"


Tegur Alisha ketika melihat sosok Arga saat mereka baru saja menyelesaikan kegiatan lari marathon mereka.


Arga yang mendengar ada sebuah suara menegurnya, langsung berbalik. Ia tersenyum saat tahu bahwa Alisha lah yang memanggilnya.


"Oh, hay!" Balas Arga kemudian.


"Makasih, ya, buat tadi?"


"Ya, sama-sama. Lain kali, harus lebih hati-hati lagi, ya?" Ujar Arga memperingatkan dengan nada yang begitu lembut.


Alisha hanya mengangguk sebagai jawaban. "Oh ya, sebagai ucapan terima kasih, aku mau teraktir kamu makan, boleh?"


Arga mulai menampakkan wajah bingung. Di satu sisi, ia harus cepat-cepat menjemput Qiara dan segera pergi ke rumah Celine. Namun di sisi lainnya, ia merasa tidak tega jika harus menolak permintaan gadis yang terlihat baik ini.


Arga kemudian melirik arlojinya. Dan dia nampak gusar saat tahu bahwa ia sudah hampir terlambat.


"Aku nggak tahu kapan bisa ketemu sama kamu lagi, dan aku nggak suka punya hutang. Jadi, ini kesempatan yang tepat buat aku untuk balas perbuatan baik kamu tadi."


Dengan berat hati, Arga akhirnya mengangguk dan menerima ajakan Alisha.

__ADS_1


Alisha mengajak Arga makan di sebuah café yang letaknya cukup dekat dengan lokasi dimana Campus Night Run diselenggarakan. Di café itu, ada beberapa peserta lainnya yang juga mampir untuk sekedar beristirahat setelah melakukan lari marathon.


Alisha dan Arga menikmati makan malam mereka sambil mengobrol kecil. Membicarakan, kenapa mereka bisa sampai ikut Campus Night Run.


"Oh ya, kenalin aku Alisha." Ujar Alisha memperkenalkan diri sambil mengulurkan tangannya.


Arga menatap tangan Alisha yang terulur sejenak, lalu menyambutnya. "Arga. Namaku Arga."


Alisha terlihat berfikir. Sepertinya nama itu tidak cukup asing di telinganya. Christa bahkan sering sekali menyebut nama itu di depannya. Tetapi kemudian Alisha berfikir lagi, bahwa yang namanya Arga tidak hanya satu orang di dunia ini.


Alisha menggeleng samar. Ia dan Arga pun kemudian sama-sama melepaskan jabatan tangan mereka.


...****...


"ALISHA, HALLOOO!!" Teriak Qiara pada akhirnya saat Alisha tidak juga menghiraukan panggilannya sejak ia memasuki ruangan.


Lamunan Alisha seketika buyar, saat suara cempreng milik Qiara menyapa gendang telinganya tanpa perasaan. "Eh, Qi? Kenapa?"


"Ngelamunin apa sih, lo? Ayo ke ruang siaran! Mba Uchie udah nungguin."


Qiara keluar lebih dulu tanpa menunggu Alisha. Alisha pun segera menyusulnya, dan langsung mengapit lengan Qiara begitu mereka sudah jalan bersebelahan.


Qiara menatap Alisha sekilas, lalu mendesis. Berpura-pura sebal.


...****...


"Kenapa kamu nggak pernah angkat telepon atau bales pesan aku? Semua socmed dan kontak aku kamu blokir. Buat apa?" Tanya Ray langsung pada permasalahannya.


Dari dulu, Ray memang bukan tipe laki-laki yang suka basa-basi.


"Karena nggak ada alesan buat aku untuk berhubungan dengan kakak lagi. Aku cuma ngikutin cara Kakak dulu ke aku." Jawab Celine malas.


Ia lalu mengedarkan pandangannya ke seluruh bagian café tanpa terkecuali. Memberi isyarat dengan tegas, bahwa ia tidak nyaman dengan pertemuan ini.


Baginya, tidak mudah menatap pria ini dengan cara yang sama seperti saat ketika mereka masih bersama dulu. Semuanya sudah berubah sekarang.


"Dan sepertinya Kakak terlalu sibuk kuliah, sampe nggak ada waktu buat ngehubungin aku sekalipun selama di sana, bahkan untuk sekadar memberikan kabar." Kali ini Celine menatap Ray dengan tajam.


"Fine, aku tahu ini salahku, Lin! Tapi aku udah di sini sekarang. Jadi, apa nggak bisa kita lupain semuanya?"


"Liburan, Kak Ray! Lo di sini cuma buat liburan, dan gue bukan mainan yang bisa lo cari seenaknya saat lo merasa bosan."


"CELINE—"


Ray terkejut sekaligus tidak percaya. Jika Celine sudah berbicara dengan 'LO-GUE' padanya, itu artinya Celine sudah sangat marah.


"Lo pernah mikir, gimana perasaan gue saat lo pergi ke Brisbane buat kuliah dan hilang kabar? Lo pernah mikir gimana lelahnya gue di sini nungguin kabar dari lo setiap kali lo kembali ke Brisbane dan tiba-tiba hilang? Tiga tahun, Kak. Lo memperlakukan gue dengan cara itu selama tiga tahun. Dan setiap kali lo liburan, lo selalu nyariin gue dan minta gue buat ngelupain semuanya. Gue terima-terima aja, kan? Tapi untuk sekarang, gue udah nggak bisa torelir lagi. It's unfair, Kak! Siapa yang bakalan jamin, lo nggak akan ngebuang gue lagi nantinya saat liburan lo udah selesai dan lo balik lagi ke Birsbane? Lo emang nggak pernah mikirin perasaan gue, kan? Iya kan, Kak?"


"Lin, aku tahu aku udah salah banget sama kamu, tapi sekali ini tolong maafin aku. Aku masih sayang sama kamu, Lin. Bahkan sekalipun aku nggak pernah ngasih kabar buat kamu selama aku di sana, aku selalu mikirin kamu. Hari ini kamu lagi ngapain, dengerin musik apa, liburan kemana. Aku selalu mikirin kamu. Tapi niat aku ke Brisbane tuh seratus persen buat kuliah, dan aku ingin total disana. Toh ini buat masa depan aku nantinya,"


Celine mengangguk beberapa kali dengan air mata yang coba ia tahan sebisa mungkin. Tidak, ia tidak akan menangis di hadapan laki-laki ini. Tidak setelah apa yang ia lakukan pada Celine selama ini.


"Kalau begitu kuliah saja. Jangan pernah mikirin gue meskipun sekali."


"Tapi aku butuh kamu—"


"Saat liburan? Saat Kakak ngerasa bosen? Atau saat kakak ngerasa lelah? Lalu gue ini apa buat elo, Kak?" Sela Celine dengan emosi yang tidak terbendung lagi.


"Celine..."


"Sampai di sini, Kak! Aku nemuin Kakak hari ini cuma karena aku masih ngehargain Kakak sebagai Abangnya Qia. Tapi setelah obrolan kita barusan, aku langsung sadar kalau nggak seharusnya aku nemuin Kakak lagi."


"Celine"


"Kuliah yang baik, Kak. Jangan kecewakan Qia dan orang tua kalian. Jadilah orang sukses di masa depan seperti apa yang kakak impikan" Jeda sesaat, "aku pulang." Lanjut Celine kemudian dengan perasaan hancur.


Celine bangkit dari kursinya lalu pergi meninggalkan café itu dengan air mata berlinang. Air mata yang selama tiga tahun ini ia tahan akhirnya tumpah tanpa bisa ia tahan lagi.


Jika ingin jujur, sebenarnya Celine masih sangat menyayangi Ray. Hanya saja sikap angkuh Ray membuatnya tidak lagi bisa bertahan lebih lama dari ini.


Dan hari ini, Celine akhirnya memilih untuk menyerah.


^^^To be Continued....^^^

__ADS_1


__ADS_2