
"Nih, barang lo!" Ucap Qiara dengan judes sambil melemparkan tas milik Danny yang berisi pakaian serta sepatu futsal.
Dengan sigap Danny menangkapnya. Dan tanpa rasa bersalah sedikitpun, ia berseru, "nice throw, My Girl!"
Qiara kesal setengah mati pada Danny. Bagaimana tidak? Ketika ia baru saja tiba di rumah setelah kembali dari studio, Danny malah meneleponnya dan memintanya untuk segera membawakan pakaian serta sepatu futsalnya. Belum lagi nanti malam ia memiliki jadwal siaran. Qiara yang awalnya berniat untuk beristirahat, dengan terpaksa mengurungkan niatnya dan segera membawakan perlengkapan futsal milik Danny ke sebuah lapangan futsal, tempat dimana dulu Danny terbiasa menghabiskan waktu semasa SMA.
"Lagian bisa-bisanya lo nggak bawa baju sama sepatu padahal mau main futsal. Lo emang niat mau ngerjain gue, kan?" Tuding Qiara dengan sengit seraya berkacak pinggang.
"Nggak gitu, Qi. Tadi gue nggak sengaja ketemu Patton. Terus Patton tiba-tiba aja ngajakin gue main futsal. Kata dia, gue udah cukup lama ngilang." Jawab Danny sambil menyampirkan tas itu di bahunya, lalu bangkit dan berdiri di hadapan Qiara.
Setelah mendengar penjelasan Danny, Qiara mulai bisa memaklumi. Tapi tetap saja, cowok menyebalkan ini sudah mengacaukan jam istrirahatnya. Lagi pula, kenapa Danny tidak meminta Prissy saja yang mengantarkan perlengkapan futsalnya?
"Ya udah, gue langsung balik."
Baru saja Qiara akan mengambil langkah pergi, Danny tiba-tiba saja berkata padanya, "lo nggak mau tetep di sini... nemenin gue?"
Situasi tiba-tiba hening. Qiara dapat menangkap bahwa tidak ada gelagat bercanda dari nada bicara Dany barusan.
Dan jika ditarik lagi ke belakang, saat masih berpacaran dulu, Qiara selalu setia menemani Danny melakukan hobinya bermain futsal. Tidak sekalipun ia absen dari kegiatan yang dulu seperti sudah menjadi 'kewajiban' baginya itu. Dan entah, apa Prissy juga melakukan hal yang sama sepertinya dulu.
"Telepon cewek lo gih! Jangan ngerepotin gue terus." Jawab Qiara barusaha terdengar tak acuh sambil tetap membelakangi Danny.
Lalu, sebelum Danny sempat mengatakan sesuatu, Qiara kembali melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti.
Tiba-tiba ia merasa sangat marah.
"Eh, Dann! Itu cewek lo, kan? Qiara?" Tanya Patton yang tiba-tiba saja muncul bersama beberapa kawannya yang lain sesaat setelah Qiara pergi.
"Eh? I –iya." Jawab Danny kelabakan.
Ia kaget. Tidak menyangka bahwa Patton dan yang lainnya akan tiba-tiba muncul seperti ini. Ia bahkan tidak mengerti, kenapa memberikan jawaban 'iya' untuk pertanyaan Patton barusan.
"Langgeng juga, ya, kalian?" Kata Patton lagi.
Kali ini Danny tidak menjawab, dan hanya tersenyum kaku sambil menggaruk tengkuknya.
Begitu selesai bermain futsal, Danny langsung menepi ke pinggir lapangan mendahului yang lainnya.
Saat ia menjatuhkan tubuhnya di sebuah bangku panjang yang terdapat di pinggir lapangan, seseorang tiba-tiba saja menjulurkan sebotol air mineral tepat di sampingnya.
Danny yang saat itu tengah mengatur desauan nafasnya yang berantakkan, langsung menoleh ke samping. Dan ia cukup terkejut saat tahu bahwa Qiara lah yang sedang menjulurkan botol minuman untuknya.
Senyum di wajah Danny langsung mengembang.
"Qi, lo masih di sini? Gue kira lo udah balik." Kata Danny antusias sambil menerima minuman pemberian Qiara.
"Gue nggak mau lo ambekin nantinya gara-gara gue tinggalin." Jawab Qiara sambil mengambil posisi duduk di samping Danny.
"Jadi, dari tadi lo ngeliatin gue main dong?"
"Iya. Dan lo keliatan kayak mayat hidup di tengah lapangan. Nggak ada semangat sama sekali."
"Itu juga gara-gara lo. Gara-gara lo bilang mau balik." Gerutu Danny pelan, hingga nyaris tidak kedengeran.
"Lo ngomong apa?" Qiara otomatis mendelik ke arah Danny.
"Nggak. Gue nggak ngomong apa-apa." Elak Danny.
Qiara lalu mengambil handuk kecil di sebelah Danny, dan dengan gerakan yang sangat natural mengelap keringat di pelipis Danny tanpa mengatakan apapun. Sementara Danny, ia tidak melemparkan komentar dan membiarkan Qiara melakukan tugasnya dengan baik.
Tidak lama setelah itu, Qiara dapat melihat teman-teman Danny yang lainnya sedang berjalan mendekati mereka. Qiara pun serta-merta melepaskan handuk itu di pangkuan Danny, kemudian bangkit dari sisi Danny sambil meraih kantong plastik berisi minuman yang tadi ia bawa. Beberapa saat yang lalu Qiara sempat pergi ke sebuah minimarket, membelikan minuman untuk Danny dan teman-temannya.
"Nih, Pat! Bagiin ke yang lain." Ujar Qiara sambil menyerahkan kantong plastik itu pada Patton.
__ADS_1
Patton pun menerimanya dan segera memberikan pada teman-temannya yang lain.
"Thank you, ya, Qi. Lo terbaik!" Imbuh Patton.
"You're welcome, Bro!" Jawab Qiara sambil mengedipkan mata kirinya.
Hal yang Qiara lakukan itu, kontan saja memicu tawa Patton dan yang lainnya.
"Kalau gitu, kami duluan, ya? Kami nggak mau ganggu kalian pacaran." Pamit Patton kemudian. Namun ucapan Patton barusan, sukses membuat Qiara terperanjat tak percaya.
Sementara Danny, ia langsung meringis. Tidak menyangka bahwa situasinya akan menjadi seperti ini.
Lalu, setelah Patton dan yang lainnya pergi, Qiara seketika melemparkan tatapan bertanya pada Danny, seakan menuntut sebuah penjelasan detik itu juga.
Namun, sebelum Danny sempat menjelaskan, Qiara tiba-tiba saja menerima panggilan telepon dari Dean yang saat itu sudah menunggunya di luar. Sebelum itu, Qiara memang punya janji akan pergi bersama Dean hari ini. Itulah kenapa, ia meminta Dean untuk menjemputnya sekalian.
"Lo masih berhutang penjelasan sama gue soal ini, Dann!" Ucap Qiara memperingatkan lalu pergi meninggalkan Danny yang masih diam saja di tempatnya.
...****...
"Kak Dean!!" Panggil Qiara dengan suara yang cukup keras saat melihat sosok Dean yang sudah menunggunya di depan gedung.
Ia setengah berlari menghampiri Dean, lalu tersenyum begitu lebar saat ia sudah berdiri di hadapan Dean.
"Jadi, mau dating kemana kita hari ini?"
Sorot mata Dean tampak berbinar setelah mendengarkan pertanyaan Qiara. Ia lantas tertawa kecil sambil menepuk lembut puncak kepala Qiara, "Kemana pun kamu mau. Hari ini aku bakalan ikutin semua permintaan kamu. Dan nanti, aku anterin ke studio. "
"Kak Dean yang bener?" Tanya Qiara dengan antusias sambil meraih kedua tangan Dean lalu menggenggamnya.
Dean mengangguk dengan seulas senyuman bahagia di wajahnya.
"Hari ini Kak Dean milik aku, hehehe..."
"Kak Dean! Nunduk dikit deh." Pinta Qiara pada Dean.
"Kenapa?" Dean kemudian menundukan kepalanya. Dan ia takjub saat salah satu tangan Qiara mendarat di kepalanya lalu mengusap rambutnya.
"Kak Dean habis ngapain? Rambut Kak Dean kok bisa kotor begini?"
Dean tidak menjawab. Saat kedua matanya terangkat dan jatuh tepat pada sepasang mata cokelat milik Qiara yang meneduhkan, sebuah debaran yang menyenangkan terdengar dari dalam dadanya. Sekali lagi Dean tersenyum. Senyum yang memancarkan harapan dalam dirinya.
Semakin hari sejak ia pertama kali jatuh cinta pada Qiara dua tahun yang lalu, perasaan di hatinya semakin tegas dan jelas. Dan Dean, tidak berniat untuk menghindarinya. Ia suka perasaan itu. Ia suka berada dekat-dekat dengan Qiara. Qiara adalah mimpi-mimpinya yang ingin ia wujudkan suatu hari nanti.
Lalu kemudian, dalam situasi yang sangat mendebarkan bagi Dean itu, secara mengejutkan, Danny tiba-tiba melewati mereka dengan sengaja berjalan di tengah-tengah, seakan sengaja ingin memisahkan kedua sejoli itu. Ia berjalan dengan santainya tanpa sekalipun menoleh ke belakang.
"Danny, kenapa sih? Lo nyebelin banget hari ini! CHILDISH!!" Rutuk Qiara yang benar-benar merasa terkejut dengan apa yang baru saja Danny lakukan.
Namun Danny tidak merespon, dan tetap berjalan tanpa menghiraukan apapun.
Lain halnya dengan Dean. Ia justru tersenyum menyeriangi saat melihat tingkah Danny yang sangat kekanak-kanakan menurutnya.
...****...
Prissy berlari ke arah pintu begitu mendengar suara bel berbunyi. Saat membuka pintu, wajahnya langsung berseri ketika melihat Danny yang saat itu sudah berdiri di depan pintu apartemennya dengan senyumannya yang menawan.
Tidak mau membuang waktu lama-lama, Prissy segera membawa dirinya ke dalam dekapan Danny, dan memeluk pemuda itu erat-erat. Hampir tiga minggu lamanya tidak bertemu dengan Danny, cukup membuat Prissy merasakan kerinduan yang teramat sangat.
"Sayang, aku kangen kamu." Lirih Prissy sambil memejamkan kedua matanya.
Pelukan Danny benar-benar terasa nyaman, dan berhasil membuatnya merasa lebih baik.
"Aku juga kangen kamu, Sayang." Danny kemudian sedikit melepaskan pelukannya, dan kembali berkata, "coba sini, aku mau liat wajah kamu dulu."
__ADS_1
Prissy lalu mendongak, membiarkan Danny menelusuri setiap inci wajahnya, "astaga! Kenapa kamu semakin cantik? Jantung aku jadi berdebar." Ujar Danny dengan takjub seraya berpura-pura menampakkan wajah kagetnya.
Berikutnya, Danny kembali memeluk Prissy yang sekarang sedang tertawa dalam pelukannya. Ia sebenarnya merasa cemas karena mendapati wajah Prissy yang terlihat lebih kurus dari saat terakhir kali ia melihat Prissy tiga minggu yang lalu. Namun Danny tidak ingin menyampaikan rasa cemasnya. Ia takut kalau hal itu hanya akan membuat Prissy merasa insecure dengan penampilannya.
Mereka lalu menikmati makan malam romantis mereka berdua. Sebelum kedatangan Danny, sore tadi Prissy sudah menyiapkan segalanya. Ia bahkan memasak sendiri untuk Danny.
Prissy menempatkan sebuah meja dan dua buah kursi dengan posisi tepat di samping jendela yang menampilkan pemandangan malam dari perkotaan di bawah sana.
"Ya ampun, aku lupa!" Pekik Danny tiba-tiba di tengah makan malam mereka.
"Kenapa, Dann?"
"Qia pasti udah mulai siarannya sekarang."
Danny kemudian bangkit dari duduknya, ia berjalan ke ruang tv lalu segera mengambil ponselnya dan menyambungkan sebuah earphone agar bisa mendengar siaran Qiara. Ia bahkan tidak sedikitpun menangkap reaksi tidak nyaman yang di tunjukkan oleh Prissy.
"QIARA LAGI! QIARA LAGI!!" Teriak Prissy dengan cukup keras setelah sebelumnya ia menggebrak meja dengan kekuatan penuh.
Danny yang baru saja akan memasangkan earphone di telinganya, langsung mengurungkan niatnya saat suara teriakan Prissy yang tidak terduga mengagetkannya.
"Bisa nggak sih? Sekali aja saat kamu lagi sama aku, kamu nggak usah sebut-sebut nama cewek itu?"
"Priss?" Lirih Danny pelan yang masih tidak percaya dengan apa yang sekarang ia saksikan.
Rupanya, emosi Prissy dari tadi siang, saat ia menampar wajah asisten pribadinya masih bergumul. Kekalutannya belum cukup reda, tapi saat ini Danny justru semakin memperparah keadaannya.
"Selama ini aku terus berusaha untuk melihat Qiara sebagai sahabat kamu. Tapi aku tetep nggak bisa. Sekeras apapun aku mencoba, dalam pandangan mata aku, dia tetep mantan pacar kamu. Sekeras apapun aku mencoba, aku nggak bisa berlapang dada melihat kamu deket sama dia, atau menyebut-nyebut nama dia di depan aku."
Air mata Prissy perlahan berjatuhan. Rasa sakit bercampur sesak itu kian gencar menyiksa dadanya.
Dia bahkan merasa sangat kesusahan untuk bisa menyampaikan pada Danny bahwa sebentar lagi dia akan pergi, dia sangat kesusahan untuk menyampaikan kebimbangannya antara melanjutkan mimpinya, atau tetap bersama Danny di sini. Tetapi Alvin bahkan tidak memahami apapun, dan itu membuat Prissy merasa tersiksa.
"Kamu selalu sebut nama dia di depan aku. Kamu selalu bahas soal dia setiap kali bersama aku. Kamu bahkan ninggalin birthday party aku begitu tahu dia sakit, apa aku pernah mengeluh soal itu?"
"Prissy aku minta maaf. Aku nggak ada maksud seperti itu." Danny melepaskan ponselnya dan menatap Prissy dengan pandangan memelas.
"Apa kamu masih sayang sama Qiara? Apa kamu nggak pernah ada perasaan sama aku, Danny?" Suara Prissy mulai terdengar serak. Ia berupaya keras untuk melawan sesak di dadanya.
Depresinya tiba-tiba menyeruak. Prissy sudah ada di tahap tidak bisa lagi mengontrol dirinya. Lalu satu persatu, luka-luka yang terpendam timbul ke permukaan. Perceraian orangtuanya saat ia masih kecil. Pengkhianatan yang dilakukan Mamanya pada Papa yang sangat dia cintai. Obesesi dan semua harapan Mamanya yang dibebankan pada pundaknya. Hidupnya yang selalu terkekang karena tuntutan harus sempurna dari Mamanya. Kegagalan yang hampir pernah meruntuhkan mimpi-mimpinya, serta sikap tidak perhatian Danny, menyerangnya secara membabi buta.
Sampai akhirnya, di luar kesadarannya, ia memecahkan gelas yang ada di atas meja. Sisa pecahan yang masih di tangannya ia genggam sekuat mungkin hingga membuat tangannya mengeluarkan banyak darah.
"Prissy, apa yang sedang kamu lakukan?" Ujar Danny dengan kedua mata terbelalak lebar. Jantungnya seketika mencelos.
Danny lebih panik lagi, ketika Prissy menyasarkan pecahan gelas itu tepat pada urat nadinya. Lalu dengan langkah cepat, sebelum semuanya terlambat, Danny berjalan ke arah Prissy. Ia berjongkok di depan gadis itu lantas menariknya ke dalam pelukannya. Prissy pun berusaha untuk memberontak, namun Danny justru semakin erat memeluknya.
"Aku minta maaf, Priss. Ini salah aku. Aku bener-bener minta maaf." Dengan gerakan pelan, Danny merenggut sisa pecahan gelas itu dari tangan Prissy. Hal itu pun juga turut membuat tangan Danny terluka, sama seperti Prissy.
"Danny, kamu jahat sama aku. Kamu emang nggak pernah sayang sama aku sejak awal." Ucap Prissy dengan isakkan yang cukup kuat.
"Stttt..." Danny membelai rambut Prissy dengan lembut, lalu berkata dengan pelan, "aku emang pernah sayang sama Qia lebih dari sahabat. Tapi itu cuma masa lalu. Saat ini, cewek yang aku sayang itu kamu, Priss. Sampai kapanpun, Qia cuma akan jadi sahabat aku. Nggak akan pernah bisa lebih dari itu. Hm?"
"Bohong! Kamu bohong!" Lirih Prissy seraya memukul dada Danny beberapa kali.
"Kamu boleh benci sama aku, kamu boleh marah sama aku, kamu boleh mengutuk aku. Tapi tolong, jangan pernah bilang kalau aku nggak sayang sama kamu, Priss."
Tangisan Prissy dalam pelukan Danny semakin menjadi-jadi. Ia menumpahkan semua rasa sakit dan seluruh air mata yang telah ia tahan selama hidupnya.
Dan hanya dalam pelukan Danny lah, Prissy dapat melakukannya.
"Aku minta maaf sama kamu, ya? Aku bener-bener minta maaf karena udah nyakitin kamu. Tolong jangan melukai diri kamu lagi."
Hari ini Danny akhirnya tahu, semua sisi tergelap dan rasa sakit terdalam yang melingkupi Prissy selama ini.
__ADS_1
^^^To be Continued...^^^