
Dan Danny membuktikan tantangannya.
Sejak hari itu, Danny mulai bersikap seperti seorang teman untuk Qiara. Perlahan namun pasti, ia juga mulai menunjukan versi lama dari dirinya. Tidak ada lagi rasa canggung, tidak ada lagi kesedihan di matanya setiap kali ia menatap Qiara. Ia bahkan dengan santainya berani merangkul Qiara. Dan saat Qiara menunjukan wajah protesnya, Danny hanya akan tersenyum sambil menaik-turunkan kedua alisnya, dan selalu berdalih sama; "kita, kan, teman."
Tiga kata itu menjadi tiga kata yang paling menyebalkan bagi Qiara sekarang.
Gara-gara itu juga, Qiara mulai menyesali diri, kenapa ia begitu bernyali besar menantang Danny untuk berteman dengannya?
Hampir seminggu Danny menikmati liburannya di pulau Banu, dan selama itu juga, Danny selalu menempel pada Qiara. Setiap kali Qiara ke Panti Asuhan, Danny pasti akan mengekorinya. Itulah kenapa, beberapa orang di Panti Asuhan mulai terbiasa dengan kehadiran Danny. Mereka semua juga sudah tahu, bahwa Danny adalah adik dari Dean, yang merupakan donatur tetap di sana. Anak-anak di Panti itu bahkan mulai menyukai Danny.
Hari itu, Danny melihat Qiara yang sedang menggendong balita perempuan yang berusia sekitar dua tahun. Saat itu Danny termangu dengan pandangan nanar. Ia jadi membayangkan, kalau saja saat itu Qiara tidak mengalami keguguran, pasti bayi mereka sudah sebesar itu sekarang. Karena hal itu, hampir saja Danny meneteskan air matanya. Semua kesalahannya di masa lalu kembali terbersit dalam ingatannya. Sekarang pun ia mulai paham, alasan kenapa akhirnya Qiara memutuskan untuk pergi meninggalkannya.
"Bu Ira, Reno menghilang! Saya mendapatkan laporan kalau hari ini dia tidak ke sekolah."
Ucapan Pak Rendra pada Ibu Ira, Sang Kepala Panti, langsung membuat beberapa orang yang ada di tempat itu menghentikan kegiatan mereka masing-masing. Bahkan Qiara yang sejak tadi tampak asyik bercengkrama dengan bayi dalam dekapannya, juga mendekat pada Pak Rendra seperti yang lainnya.
Reno adalah salah satu anak yang mereka rawat di Panti itu. Reno diserahkan ke Panti Asuhan saat usianya baru enam tahun hingga kini dia sudah menginjak usia tigabelas tahun dan duduk di bangku kelas tujuh SMP. Saat itu, Ibunya menyerahkan Reno ke Panti Asuhan karena dia merasa tidak akan sanggup membesarkan Reno.
Reno adalah anak di luar nikah, Ayahnya menghilang entah kemana setelah menolak untuk bertanggung jawab, dan membiarkan Reno bersama Ibunya hidup di tengah kemiskinan dan pandangan mencemooh dari orang-orang di sekitarnya. Karena hal itulah, Ibunya lebih memilih menyerahkan anaknya di Panti Asuhan dengan harapan Reno akan menemukan orang tua baru yang bisa memberikannya kehidupan yang layak.
Dan dua minggu yang lalu, Ibu Reno datang untuk melihat keadaan anaknya. Reno saat itu merasa sangat bahagia karena akhirnya dapat bertemu kembali dengan Ibunya setelah bertahun-tahun. Ibunya bahkan sempat mengajak Reno jalan-jalan serta membeli beberapa pakaian dan sepatu. Namun, setelah Ibunya pergi lagi karena harus kembali bekerja, sejak saat itu Reno selalu tampak murung. Reno yang biasanya selalu ceria, tiba-tiba berubah. Dan puncaknya pada hari ini, ketika Reno tiba-tiba menghilang.
"Sudah coba bertanya sama teman-teman Reno di sekolah, Pak?" Qiara bertanya dengan cemas. Bagaimana tidak cemas jika Reno adalah salah satu anak favoritnya di Panti.
Tanpa Qiara sadari, saat itu Danny berdiri tepat di sampingnya hingga membuat mereka terlihat seperti sepasang orang tua muda dengan bayi cantik dalam dekapan Qiara.
Setelah mendengarkan pertanyaan Qiara, raut wajah Pak Rendra tiba-tiba berubah.
"Sudah. Tapi mereka nggak tahu."
"Jangan panik semuanya!" Ucap Ibu Ira, mencoba untuk menenangkan beberapa Pengurus Panti yang tampak khawatir. "Sekarang, kita semua berpencar dan cari Reno. Telusuri semua tempat yang memang sering atau pernah dia datangi. Kalau Reno tidak ketemu hari ini, kita bisa melapor polisi setelahnya."
Beberapa saat kemudian, mereka semua langsung membubarkan diri. Begitu juga dengan Qiara yang sudah menyerahkan bayi tadi kepada seorang pengurus. Saat Qiara berjalan keluar, Danny tiba-tiba saja muncul di sampingnya seraya berkata, "aku ikut kamu, Qi!"
...****...
"Hufthh... finally!" Desah Windy penuh kelegaan setelah menjatuhkan tubuhnya di sebuah sofa dan menyandarkan kepalanya dengan nyaman di sana.
Sejak pagi tadi, Windy sibuk mondar-mandir mencari cincin pertunangan milik salah seorang pengunjung di hotel tempat ia bekerja, yang konon katanya hilang.
Windy bahkan sampai harus membolak-balik hampir semua tumpukan selimut di ruang laundry demi mencari cincin tersebut. Setelah bergumul selama hampir seharian penuh, Windy akhirnya berhasil menemukan cincin itu dan mengembalikan kepada pemiliknya.
Tidak ada yang lebih melegakan bagi Windy, begitu melihat sebuah senyuman puas terpatri di wajah sepasang pengunjung yang sebentar lagi akan merayakan pernikahan mereka itu.
Windy sendiri menjabat sebagai seorang Hotelier di Clover Leaf Hotel & Resort, salah satu hotel terbesar di Pulau Banu sejak dua tahun yang lalu.
Clover Leaf Hotel & Resort di bawah naungan Sadewa's Group, adalah salah satu cabang hotel milik keluarga Danny yang kini resmi di pimpin oleh Dean sejak dua tahun yang lalu. Karena Danny memilih lepas tangan dari bisnis keluarga, Dean lah yang akhirnya menjadi pewaris utama dari bisnis hotel yang di rintis oleh Papanya selama hampir dua dekade lamanya.
Dan benar saja, Dean berhasil memimpin dengan baik dan menjadikan hotel keluarga mereka menjadi salah satu hotel terbaik. Selama dua tahun menjabat, Dean secara konsisten terus menunjukkan kerja kerasnya, dan secara natural membuktikan bahwa dia memang layak untuk posisi yang dipercayakan padanya itu.
"Kerja bagus, Win!"
Ucap Dean yang tiba-tiba saja muncul di hadapan Windy sambil membawa sebuah paper bag yang berukuran cukup besar. Windy yang mendengar suara pimpinanya, langsung berdiri dan mengambil sikap tegak. Hal itu, kontan saja membuat Dean terkekeh.
"Terima kasih, Pak." Jawab Windy dengan sopan, berusaha mengusir lelahnya di depan Dean.
Tanpa Windy perhitungkan sebelumnya, Dean secara tiba-tiba maju selangkah, mendekatkan wajahnya pada telinga Windy lalu berbisik pelan, "bukankah sangat canggung bertemu langsung dengan Kak Dean di sini?"
Windy menahan nafas sampai akhirnya Dean menjauhkan diri darinya. "Ayo duduk!" Titah Dean kemudian.
Dean pun duduk di salah satu sofa terlebih dahulu, setelahnya barulah Windy menyusul.
"Kamu tahu pemilik cincin yang hilang tadi?"
"Kenapa, Pak? Apa saya melakukan kesalahan?" Sambar Windy dengan cepat.
Lagi-lagi Dean terkekeh.
"Hahaha bukan begitu. Dia bilang, dia sangat berterima kasih atas kerja keras kamu hari ini. Dan kamu harus tahu, ternyata dia adalah anak dari pemilik ANH Group. Karena kerja keras kamu hari ini, yang menurut dia sangat berjasa dalam hidupnya, mereka sepakat untuk mengadakan resepsi pernikahan di hotel kita bulan depan."
"APA?" Windy tersentak kaget. Tidak ada lagi sikap sopan di hadapan Dean seperti sebelumnya. "Kak Dean yang bener?"
Dean hanya tersenyum seraya menganggukan kepalanya. "Tapi pertama-tama–", Dean meraih paper bag tadi lalu menjulurkannya di hadapan Windy, "ganti sepatu kamu pakai ini. Kaki kamu pasti sakit mondar-mandir pakai sepatu kerja yang nggak nyaman itu sejak tadi."
__ADS_1
Windy tercenung untuk beberapa saat. Sikap perhatian Dean yang seperti ini tidak pernah gagal membuatnya berdebar. Namun ia paham, bahwa ia tidak boleh memiliki perasaan yang lebih untuk Dean, ia tidak boleh terlalu larut dalam aliran perasaannya. Di mata Dean, Windy hanyalah seorang teman dari adiknya. Selamanya tidak akan lebih dari itu. Selamanya juga, Windy hanya sebatas itu.
"Terima kasih, Pak."
"KAK DEAN!" Ralat Dean dengan tegas, lalu berdecak. "Saat kita sedang berdua, perlakukan saja Kak Dean seperti biasa. Di depan staff lainnya, Kak Dean sudah cukup canggung kamu panggil 'Pak', tolong jangan diperparah lagi."
"Maaf, Pak–eh, Kak Dean..."
"Issshhh..." Dean meringis sambil menoyor pelan kepala Windy. Windy hanya tertawa.
Setelah Dean pergi karena harus menghadiri sebuah pertemuan, Windy langsung melihat ke dalam paper bag yang diberikan oleh Dean. Windy mengeluarkan kotak sepatu dari dalamnya, dan begitu melihat sepasang sneakers berwarna putih kecoklatan di kotak itu, Windy serta-merta tersenyum senang. Ia buru-buru mengambil ponselnya dan segera memotret sneakers pemberian Dean yang menurutnya sangat cantik. Selepas itu, Windy pun mengganti sepatu kerjanya dengan sneakers tersebut.
"Nyaman banget sepatunya. Pasti mahal, nih." Simpul Windy kemudian seraya menghentak-hentakkan kedua kakinya di lantai.
...****...
Setelah mengelilingi Kota Sina selama hampir satu jam lamanya, Qiara dan Danny belum juga menemukan tanda-tanda keberadaan Reno. Qiara juga beberapa kali menelepon Ibu Ira, mencoba memastikan apakah mereka mendapatkan kabar tentang Reno, tapi ternyata Ibu Ira belum mendapatkan kabar apapun.
"Apa Reno kecewa karena Ibunya tidak membawanya pergi?" Tanya Danny pada Qiara yang duduk di sebelahnya.
Qiara menggeleng, "aku kira bukan karena itu. Reno sudah tahu kalau Ibunya akan pergi lagi untuk bekerja. Dan selama bersama Ibunya, Reno terlihat senang."
"Lalu, apa ada sesuatu yang Reno tidak ketahui?"
Qiara terlihat berfikir, tidak lama ia kemudian ingat bahwa beberapa hari yang lalu, Ibu Ira sempat mengatakan padanya, kalau selain untuk menemui Reno, tujuan Ibunya untuk datang ke Panti Asuhan adalah untuk meminjam uang pada Ibu Ira. Qiara mengingat lagi, bahwa hari dimana Ibunya berbicara dengan Ibu Ira, ia bertemu dengan Reno yang saat itu sedang berdiri di depan ruangan Ibu Ira. Sejak hari itu, Reno selalu menunjukkan wajah murungnya, seperti sedang memendam kecewa.
"Kayaknya Reno tahu, kalau tujuan utama Ibunya datang ke Panti bukan karena ingin menemui dia, tapi untuk... meminjam uang sama Ibu Ira."
"Kalau itu alasanya, wajar Reno kecewa." Simpul Danny kemudian. "Dia merindukan Ibunya selama bertahun-tahun, tapi begitu Ibunya datang, itu bukan karena seratus persen dia ingin melihat Reno. Ada tujuan lain yang akhirnya membuat Reno terluka dan kecewa. Apalagi di masa lalu Ibunya pernah menyerahkannya di Panti Asuhan."
"Danny! Danny! Stop!! Itu Reno, Dann!!" Ucap Qiara seraya menepuk bahu Danny beberapa kali. Sementara satu tangannya yang bebas menunjuk ke arah Reno yang saat itu sedang berjalan di tengah jalan tanpa menghiraukan kendaraan yang ramai berlalu-lalang. Suara klakson dari beberapa kendaraan terus berbunyi, seolah meminta Reno untuk menyingkir.
"Kamu tunggu di sini! Biar aku yang samperin Reno." Danny buru-buru membuka seatbelt-nya lalu berlari ke tengah jalan untuk menyusul Reno.
Sementara itu, orang-orang di pinggir jalan mulai berkerumun menyaksikan tindakan yang Reno lakukan. Saat itu, Reno terlihat seperti orang yang linglung.
Qiara dan yang lainnya panik saat melihat sebuah truk tronton yang semakin mendekati Reno. Berkali-kali truk itu membunyikan klakson, tetapi Reno justru menghentikan langkahnya.
"RENO, AWAS!!" Teriak Qiara dari pinggir jalan.
Dan sebelum truk itu menghantam Reno, di saat yang tepat Danny berhasil mengangkat tubuhnya dan meloncat ke pinggir jalan hingga membuat bahunya terbentur di terotoar jalan dengan cukup keras. Beruntungnya, Reno tidak terluka sedikitpun, begitu pun Danny. Danny hanya merasakan sakit di bagian bahu kirinya.
"DANNY!!" Kali ini Qiara meneriakkan nama Danny. Dia sudah tidak peduli pada apapun kecuali Danny.
"Reno, kamu nggak apa-apa? Kamu baik-baik saja?" Cecar Danny sambil memegang kedua bahu Reno, berusaha mengembalikan kesadarannya.
"Reno, lihat Kak Danny!! Reno!!"
Reno terkejut. Wajahnya seketika pucat saat berhadapan dengan Danny.
"K—Kak Danny?"
"Syukurlah! Selama kamu nggak terluka, nggak apa-apa. Lain kali jangan lakukan hal semacam ini lagi. Semua orang mengkhawatirkan kamu."
Di tengah situasi itu, Pak Rendra tiba-tiba saja datang lalu membantu Reno untuk bangkit.
"Mas Danny nggak apa-apa?" Tanya Pak Rendra. Pak Rendra juga menyaksikan aksi heroik yang dilakukan oleh Danny untuk menyelamatkan Reno.
"Nggak apa-apa, Pak! Sekarang Pak Rendra bawa Reno balik, ya. Dia pasti masih syok."
"Baik, Mas Danny! Terima kasih karena sudah selamatkan Reno."
Setelah Pak Rendra membawa Reno pergi, perhatian Danny kini tertuju pada supir truk yang tadi nyaris menabrak Reno. Danny mendekat, lalu meminta maaf. Supir truk itu juga terlihat sama kagetnya dengan yang lainnya.
"Maaf, Pak! Itu tadi adik saya."
"Mas benar-benar nggak apa-apa?"
"Iya, Pak. Saya nggak apa-apa. Bapak bisa lanjutkan perjalanan lagi."
Setelah menyelesaikan urusannya dengan supir truk itu, Danny pun berbalik. Sosok Qiara yang menatapnya dengan pandangan berkaca langsung menyambutnya.
"Reno nggak apa-apa, Qi! Kamu nggak usah cemas lagi." Ucap Danny yang berfikir bahwa saat itu Qiara masih mengkhawatirkan Reno.
__ADS_1
Namun nyatanya Danny salah! Saat itu yang Qiara khawatirkan justru adalah Danny sendiri. Qiara mengira bahwa sekali lagi ia akan menempatkan Danny dalam bahaya.
"Bodoh! Bagaimana bisa kamu meloncat begitu saja, dan—" kata- katanya terhenti seiring dengan nafasnya tercekat karena rasa cemas di dadanya yang membuncah.
"Qia—"
"Coba aku lihat, kamu ada yang luka nggak?" Ucap Qiara sambil memeriksa beberapa bagian tubuh Danny dengan tangan dan matanya yang terlihat gemetaran.
Untuk sesaat Qiara ingin menepikan perasaan cemasnya, mendinginkan kepalanya, dan fokus pada Danny yang baru saja lolos dari bahaya setelah menyelamatkan Reno.
"Qiara, aku nggak apa-apa—aaah!" Danny serta-merta meringis kesakitan saat tangan Qiara menyentuh bahu kirinya.
...****...
Danny duduk dengan posisi membelakangi Qiara yang saat itu sedang mengompres luka memar pada bahunya. Qiara tadi sebenarnya bersikeras ingin membawa Danny ke Rumah Sakit, namun Danny menolak dan meyakinkan pada Qiara bahwa itu hanya luka memar biasa.
Qiara yang enggan mempercayai Danny akhirnya membawa Danny ke dalam mobil dan memeriksa langsung kondisi bahunya. Setelah yakin bahwa itu hanya luka memar, Qiara pun segera pergi ke apotek terdekat untuk membeli sebuah ice bag.
"Sini biar aku kompres sendiri."
Danny berniat untuk mengambil alih ice bag itu dari tangan Qiara. Dan di saat itulah, tanpa sadar ia menyentuh tangan Qiara yang masih menahan ice bag di bahunya.
Mereka sama-sama membeku, sebelum akhirnya Danny berbalik lalu menatap Qiara dalam hening.
Dan begitu Danny berbalik, kedua mata Qiara langsung tertuju pada cincin pertunangan miliknya yang dikalungkan oleh Danny. Saat membuka kancing kemeja Danny tadi untuk memeriksa luka memarnya, Qiara sama sekali tidak peka dengan kalung itu karena terlalu mencemaskan Danny. Namun, Qiara memilih untuk tidak mengatakan apapun. Toh Danny juga terlihat tidak sadar bahwa Qiara sudah melihat cincin itu.
Qiara tidak mau menimbulkan masalah lain dengan membahas soal cincin, kendatipun sekarang hatinya bergemuruh setelah mendapati kenyataan bahwa Danny masih menyimpan cincin miliknya.
"Dann, terima kasih karena sudah menyelamatkan Reno. Kalau tadi kamu nggak tepat waktu, aku nggak bisa bayangin apa yang akan terjadi berikutnya." Kali ini Qiara sudah bisa mengendalikan dirinya. Ia pun kembali terlihat tenang tanpa riak seperti sebelumnya. Ia juga berusaha melupakan soal cincin.
"Dan gara-gara itu kamu jadi sangat mengkhawatirkan aku, kan?"
"Danny!!" Qiara menggeram.
Qiara tidak tahu, bahwa betapa bahagianya Danny saat tadi Qiara mengkhawatirkannya ketika menyelamatkan Reno. Untuk beberapa alasan, Danny merasa menang satu angka atas Qiara.
"Apa kabar kamu, Qi?" Tanya Danny tiba-tiba dengan tatapan yang masih sama.
Qiara menghela nafas cukup panjang. Sesaat kemudian, Qiara mengukir satu senyuman tipis di wajahnya. Dia tahu, bahwa pasti tidak mudah bagi Danny untuk menanyakan satu pertanyaan itu. Bahwa pasti Danny berusaha menekan egonya sekuat mungkin sebelum akhiranya meloloskan pertanyaan itu keluar dari dirinya.
Hanya saja, Qiara tidak ingin Danny tahu apapun tentang apa saja yang telah ia lalui selama tiga tahun ini ,dan bagaimana dia menjalani hidup selama kurun waktu itu. Qiara tidak ingin semakin menumpukkan perasaan bersalah dan sesal untuk Danny.
"Aku berusaha keras melupakan segalaya, Dann. Aku berusaha sangat keras sampai dalam mimpi pun aku kesakitan, tapi aku gagal... melupakan semua perasaan aku ke kamu." Qiara membathin, berusaha meredam pedih yang menghujani hatinya.
Saat Qiara akan menurunkan tangannya dari bahu Danny, Danny justru semakin kuat menggenggamnya. Danny pun memilih untuk mengganti pertanyaannya saat sadar bahwa Qiara tidak akan menjawabnya.
"Atau biarkan aku tanyakan ini... Bagaimana rasanya, menjadi masa lalu yang selalu aku menangkan?" Suara Danny terdengar lirih, dan tatapannya pada kedua mata Qiara semakin dalam.
Karena Qiara lagi-lagi tidak menjawab, Danny pun memutuskan untuk mencukupkan diri dengan melepaskan tangan Qiara yang sejak tadi ditahannya. Namun tepat sebelum tangan Danny terjatuh, Qiara langsung membalik tangannya lalu menahan tangan Danny, dan menggenggamnya sedikit erat dengan posisi yang masih sama di bahunya.
"Bagaimana rasanya terjebak di masa lalu dan menjadi tawanan di sana?" Qiara bertanya kembali dengan nada yang tidak kalah lirih.
"Qi?"
Qiara tersenyum penuh tanda tanya, menggulirkan sebentuk teka-teki tak terpecahkan dari sisi Danny. Qiara lantas menurunkan tangannya dari bahu Danny dengan masih menggenggam tangan Danny. Apa yang dilakukan oleh Qiara itu, membuat ice bag yang sejak mereka tahan terlepas begitu saja.
"Jadi, yang ingin aku sampaikan ke kamu sekarang adalah, tolong jangan lagi hidup dalam penyesalan. Di masa lalu, kita pernah sama-sama saling menyakiti, sama-sama saling terluka. Tapi, aku ingin kamu menyadari, kalau semua itu sudah berlalu. Kita layak untuk mendapatkan kebahagiaan kita masing-masing sekarang."
"Apa kamu sedang meminta aku buat ngelupain kamu?" Danny menarik tangannya dari genggaman Qiara, menatap pilu pada kedua mata coklat itu.
Qiara menggeleng, "nggak. Aku nggak minta kamu buat ngelupain aku. Lagi pula, bagaimana bisa lupa, kalau sekarang aku sudah ada di depan kamu? Aku cuma mau kita sama-sama saling mengikhlaskan dan merelakan. Karena jujur, melihat kamu hidup dalam penyesalan seperti ini dan masih terjebak di masa lalu, membuat aku lebih terluka lagi, Dann..."
"Dan melihat kamu ada di depan aku seperti ini, tanpa bisa memeluk kamu, membuat aku seribu kali lebih terluka, Qi. Aku hampir gila!" Nafas Danny terdengar naik-turun.
Mereka kembali terdiam dengan saling menatap dan membaca ke dalam mata masing-masing. Tidak berselang lama, Qiara memasang satu per satu kancing kemeja Danny yang tadi dilepaskannya untuk memeriksa luka memar di bahu pria itu. Setelah selesai mengancing, Qiara pun memeluk Danny dengan lembut, berusaha menenangkan laju nafasnya, hingga membuat Danny membeku dalam keterpanaannya.
Meski gerakan Qiara saat itu benar-benar tidak terbaca olehnya, namun akhirnya cara yang Qiara gunakan itu ampuh untuk Danny. Karena kini, Danny perlahan merasakan nafasnya mulai menenang.
"Aku akan memeluk kamu kapanpun kamu meminta. Kita, kan... teman!" Ujar Qiara menirukan ucapan menyebalkan Danny yang cukup sering ia ulangi akhir-akhir ini.
Danny menghembuskan nafasnya dengan cukup keras. Tetapi Danny bahkan tidak membalas pelukan Qiara sama sekali.
^^^To be Continued...^^^
__ADS_1