
"Selamat pagi, Bibi Lasmi!" Sapa Qiara pada seorang cleaning service yang sudah memasuki usia paruh baya.
Saat itu, Bibi Lasmi sedang membersihkan tangga darurat. Sementara Qiara, jika ia memiliki jadwal siaran pagi di tv, dia akan datang sepagi mungkin untuk mempersiapkan diri. Dan tangga darurat adalah tempat favoritnya untuk mempelajari naskahnya.
"Pagi juga, Mba Qiara." Jawab Bibi Lasmi dengan bersahabat. Dia melepaskan sejenak pekerjaannya lalu melihat ke arah Qiara yang tampak bahagia pagi ini.
Qiara pun segera duduk di salah satu anak tangga.
"Menurut Bi Lasmi, hari ini kafetaria akan menyiapkan menu apa untuk makan siang?" Tanya Qiara iseng-iseng. Ia tiba-tiba tergelitik ingin menguji kemampuan 'sakti' yang dimiliki oleh Bibi Lasmi.
Konon menurut beberapa karyawan, Bibi Lasmi yang sudah bekerja selama limabelas tahun sebagai petugas kebersihan di ANHTV ini memiliki kemampuan menerawang masa depan. Beberapa dari mereka bahkan sudah membuktikannya sendiri dari hal-hal terkecil. Tentu saja Qiara tidak percaya dengan hal semacam itu dan berfikir bahwa semuanya hanya kebetulan saja.
"Sepertinya hari ini ada nasi kari, salad ayam, tumis buncis, dan udang tempura. Dan kalau Mba Qiara mau kebagian nasi kari, Mba Qiara harus ada di kafetaria sebelum jam satu!"
"Jadi, nasi kari akan jadi bintang utamanya hari ini?" Qiara kembali bertanya seraya memangku tangannya di dagu.
Bibi Lasmi pun langsung mengangkat jempolnya sebagai jawaban.
"Oya, Mba?"
"Iya, Bi?" Jawab Qiara sambil membuka lembaran naskah di tangannya.
"Mba Qiara mau saya jodohin ndak dengan cucu saya?"
Qiara hanya tertawa kecil. Ia kemudian mulai membaca naskahnya.
"Cucu saya sebentar lagi jadi sarjana. Dia memang lebih muda dari Mba Qiara, tapi Bibi pastiin, kalau Mba Qiara ndak akan nyesal. Cucu saya itu setampan Ray Sahetapy saat masih muda." Bibi Lasmi mengakhiri ucapannya dengan sebuah senyuman.
Dari raut wajahnya saja, Qiara tahu betul bahwa Bibi Lasmi begitu membanggakan cucunya.
"Yaah Bibi, sayang sekali. Kalau aja Bibi kenalin cucu Bibi beberapa hari yang lalu, ada kemungkinan Qiara masih mau." Jawab Qiara bercanda. "Tapi kalau sekarang udah nggak bisa, Qiara udah mau nikah hehehe" Lanjutnya sambil terkekeh.
"Nikahnya sama Mas Danny, ya? Produser Junior itu?"
Qiara tidak bisa untuk tidak terkejut kali ini. Jelas terkejut, jika ia sendiri bahkan tidak mengatakan apapun pada siapapun di ANHTV ini.
"Loh, kok Bibi bisa tahu?"
Bibi Lasmi lalu duduk di hadapan Qiara sambil memasang wajah serius. Namun meski begitu, Qiara belum bisa mempercayai kemampuan Bibi Lasmi seperti yang lainnya. "Jangan menikah sama Mas Danny. Kalian ndak jodoh."
Qiara sempat terpaku untuk beberapa saat sebelum akhirnya menyemburkan tawanya. Entah kenapa, obrolannya dengan Bibi Lasmi sekarang menjadi lucu.
Qiara pun memutuskan untuk mengakhirinya karena jadwal siarannya sudah dekat.
"Ya udah deh, Bi. Qiara mau ke ruang make up dulu. Salam, ya, buat cucu Bibi yang setampan Ray Sahetapy muda itu. Semoga bisa dapet jodoh secantik Paramitha Rusady atau Desy Ratnasari." Seloroh Qiara sambil bangkit dari duduknya.
"Oh ya, Bi. Tadi Qiara bikin sandwich, ini buat Bibi aja." Kata Qiara sambil menyerahkan sekotak sandwich bawaannya pada Bibi Lasmi.
Bibi Lasmi pun menerimanya dengan senang hati. "Makasih lho, Mba."
__ADS_1
"Sama-sama, Bibi. Qiara pergi dulu, ya?"
Dan benar saja yang dikatakan oleh Bibi Lasmi. Menu makan siang yang tadi pagi ia sebutkan tersaji semua di kafetaria. Dan seperti yang dikatakannya juga, nasi kari menjadi menu makan siang yang paling disukai.
Qiara datang bersama Alisha saat waktu sudah menunjukkan pukul satu lewat. Alisha mendesah kecewa saat melihat menu incarannya sudah ludes.
"Yaaah... nasi kari sudah habis. Padahal kata Defan sama Nova itu enak banget."
Alisha lalu melirik Qiara yang saat itu sedang fokus dengan ponselnya sambil meminum sebuah banana milk. "Elu sih, Qi! Kelamaan!" Keluh Alisha.
...****...
Danny sedang mengetik sesuatu di laptopnya saat Qiara duduk di seberangnya sambil membawa dua cangkir kopi dan meletakkan salah satunya di atas meja untuk Danny. Qiara sengaja tidak mengatakan apapun agar tidak menganggu konsentrasi Danny yang sedang fokus dengan pekerjaannya. Untuk itu, Qiara memilih membaca sebuah novel supaya tidak cepat merasa bosan.
Sepuluh menit kemudian, Danny menutup laptopnya. Ia mengangkat wajah dan memberikan kode pada Qiara dengan tangannya agar Qiara mendekat. Saat Qiara bangkit, Danny serta-merta merebahkan tubuhnya yang sedikit kelalahan di atas sofa dan langsung menarik Qiara ke sisinya.
"Aku suka posisi ini. Nyaman." Gumam Danny sambil memeluk erat bahu Qiara lalu mendaratkan sebuah kecupan di kening Qiara.
"Selamet, ya? Karena rating Funtastic bisa tembus tigabelas persen untuk episode minggu lalu. Kamu melakukannya dengan baik, Dann!" Ucap Qiara seraya membelai lembut kepala Danny.
Danny tersenyum dengan mata terpejam. "Kamu tahu? Di balik angka tigabelas persen itu, aku terima banyak omelan dari produser. Masa Mas Duta bilang, kalau aku nggak punya sense sebagai calon produser. Mas Duta juga bilang, aku ada di sana karena keluarga aku kaya."
"Keterlaluan! Awas aja nanti kalau aku ketemu Mas Duta! Aku sleding kakinya." Omel Qiara dengan wajah kesal.
Meski tidak melihat reaksi Qiara secara langsung karena ia tengah memejamkan mata, tetap saja Danny merasa lucu dengan sikap sok jagoan Qiara itu. Ia pun tertawa kecil.
"Aku juga sebenernya pengen ucapin selamet ke kamu karena udah punya banyak penggemar setelah iklan perdana kamu tayang... tapi aku nggak mau."
"Kok gitu?" Qiara mendongak menatap Danny dengan memasang wajah cemberut.
Di saat yang bersamaan, Danny pun membuka kedua matanya yang sejak tadi terpejam lalu menatap Qiara.
"Tadi pagi di halte bus, aku liat beberapa cowok SMA mandangin foto kamu di papan iklan. Mereka bilang kamu cantik dan akan jadiin kamu pacar kalau mereka ketemu kamu."
Kini giliran Qiara yang tertawa kecil sembari menjentikkan jarinya di hidung Danny. Dia selalu menyukai wajah Danny saat sedang cemburu seperti ini. "Kamu cemburu aja setiap hari. Aku suka." Ucap Qiara dengan jahil setelah sebelumnya ia mengecup bibir Danny sekilas. Danny pun tersenyum menyeriangi dan tidak membuang kesempatan untuk balas mencium gadis itu.
"Oya Qi, dua hari lagi aku Shanghai. Dan aku akan di sana selama sepuluh hari. Ada syuting untuk episode spesial Funtastic. Kamu ikut aku, ya?" Ucap Danny setelah menyudahi ciuman mereka.
Qiara yang sedang menyapu seluruh wajah Danny dengan pandangannya kini mengusap lembut pipi Danny. Raut wajahnya terlihat bersalah. "Ya nggak bisa dong, Dann. Kamu kerja, aku juga kerja di sini. Lagian, kalo kita berdua pergi, terus siapa dong yang urus persiapan pernikahan di sini? Masa semuanya mau kita bebanin ke orang tua kita?"
"Terus kalau kamu nggak ikut, siapa dong yang ngurus aku di sana? Sepuluh hari lho, Qi. Masa kamu tega sih?" Rajuk Danny dengan nada suara manjanya yang natural
Namun Qiara tetap kekeuh. Dia tidak akan ikut Danny. Sebisa mungkin dia akan berusaha untuk menegakan diri sekalipun dalam hati kecilnya, ia sangat ingin mengikuti kemanapun Danny pergi.
"Kamu pergi sendiri, ya? Aku tunggu di sini. Hm?"
Danny tampak berfikir. Tidak lama ia mendapatkan ide untuk memberikan sebuah penawaran. "Oke. Aku pergi sendiri. Tapi sebagai gantinya, kamu harus nginep di sini selama dua hari sebelum aku pergi."
Qiara terperanjat dengan kedua mata terbuka maksimal. Penawaran macam apa itu?
__ADS_1
"Kamu mau liat Bang Ray marah? Kalau sampe aku ketahuan nginep, kita bisa-bisa dinikahkan lebih cepat dari waktu yang sudah ditentukan."
"Itu memang tujuan aku, hahaha..." Danny tertawa puas lantas semakin mengetatkan pelukannya pada Qiara.
Beberapa detik kemudian, situasi di antara mereka tiba-tiba hening. Qiara sangat menyadari bahwa saat itu Danny sedang menatapnya dalam geming. Namun Qiara mendadak tidak memiliki keberanian untuk mengangkat wajahnya dan membalas tatapan Danny. Deguban jantungnya pun mulai menimbulkan onar tanpa seizin darinya.
"Qi?" Panggil Danny lembut dengan suara setengah berbisik.
"Hm?" Qiara refleks mendongak, ia lalu tiba-tiba membeku saat merasakan Danny mulai menautkan kelima jemari mereka dengan tatapan yang tidak lepas dari kedua matanya, seolah mengirimkan sebuah sinyal.
Qiara pun mengangguk pelan sebagai jawaban setuju atas sinyal yang Danny kirimkan.
Sementara Danny, ia sama sekali tidak berniat untuk menyia-nyiakan peluang ketika mendapatkan persetujuan tersirat dari Qiara. Dengan cepat ia mengangkat kepalanya hingga kini posisi wajahnya tepat berada di atas wajah Qiara. Dan akhirnya... mereka kembali melebur menjadi satu di sepanjang malam itu.
...****...
"Masa lalu yang belum selesai, akan selalu mencari celah untuk kembali. Entah untuk menuntut usai, atau untuk memilikimu sekali lagi."
...\=\=\=\=...
Pullman Hotel, Shanghai...
Danny menatap cincin yang melingkar di jari manisnya dengan perasaan membuncah. Saat Qiara mengantarnya ke airport, Qiara tiba-tiba saja memberikan cincin dan memasangkannya langsung di jari manisnya. Sejak masih di dalam pesawat pun, Danny tidak ada bosan-bosannya memandangi cincin itu dengan senyuman yang tidak juga mau pudar dari wajah tampannya.
"Pakai cincin ini, biar cewek-cewek di sana yang punya niat ngegodain kamu tahu kalau kamu itu cowok yang akan menikah dalam waktu dekat." Itulah yang Qiara ucapkan saat memasangkan cincin itu di jari manis Danny.
Sekarang, Danny mendadak merindukan wanita itu. Danny ingin merengkuhnya dalam pelukannya lalu menghujaninya dengan ciuman. Danny juga rasanya sangat ingin mengucapkan satu ungkapan yang selama ini tidak pernah bisa ia sampaikan pada Qiara; ungkapan bahwa dia sangat mencintai Qiara melebihi apapun.
Ketika pulang nanti sepuluh hari kemudian, Danny bertekad akan menawan wanita itu dalam pelukannya dan tidak akan melepaskannya.
"Aku kangen kamu, Qi. Aku harap kamu ada di sini sekarang." Pinta Danny dengan penuh kesungguhan.
Lalu tiba-tiba...
"Danny!"
Danny yang saat itu tengah berdiri di tepi kolam renang serta-merta menoleh ketika satu suara lembut memanggil namanya. Begitu ia berbalik, senyuman di wajahnya pun lantas membeku dalam sepersekian detik. Nyawanya seakan lepas dari tubuhnya dan hanya meninggalkan raga kosong di tempat itu.
Saat sepasang langkah kaki itu itu semakin mendekatinya, Danny merasa nafasnya tercekat. Tatapan mata itu, senyuman itu, wajah itu, bahkan aroma parfum itu ternyata masih begitu familiar baginya dan jauh dari kata asing meski bertahun-tahun alpa dari hidupnya.
"Hay, Danny Adhitama! Apa kabar? Senang ketemu kamu lagi." Sapanya setelah berdiri tepat di hadapan Danny dalam jarak yang cukup dekat.
Danny masih kehilangan kesadaran. Ia juga kehilangan kemampuan untuk bersuara. Yang menyentaknya kemudian adalah; apa yang ada di depannya sekarang bukanlah bayangan atau mimpi, melainkan sebuah kenyataan.
Melihat Danny yang tidak bereaksi sama sekali dan hanya terpaku di tempatnya, gadis itu akhirnya mengambil inisiatif untuk mengantarkan dirinya ke dalam pelukan Danny. "Aku tahu ini agak mengejutkan buat kamu. Tapi... aku sangat merindukan kamu, Danny!" Ujarnya sambil menenggelamkan wajahnya dalam dada Danny yang ia rasakan begitu kaku. Ia juga tahu, bahwa Danny bahkan tidak memiliki keinginan sedikitpun untuk membalas pelukannya.
Tetapi ia memilih untuk tidak peduli, dan menjadi egois setengah mati.
Sebulir air matanya ia biarkan lolos. Setelah tiga tahun, ia akhirnya dapat bernafas dengan cara yang seharusnya.
__ADS_1
Pricilla Renata Lee. Dia telah datang kembali.
^^^To Be Continued...^^^