Kutukan Cinta Pertama

Kutukan Cinta Pertama
66. Thank You, I Love You


__ADS_3

Qiara mendesah frustasi sambil meletakkan ponselnya di atas meja. Sejak pagi tadi yang ia lakukan hanyalah memeriksa ponselnya, berharap Danny akan menghubunginya. Namun sejak kemarin, tepatnya setelah mereka kembali dari makan siang, tidak sekalipun Danny menghubunginya. Dan yang lebih membuat Qiara kesal sekarang adalah dirinya sendiri. Dia sama sekali tidak mengerti kenapa dia harus sampai serisau ini hanya karena Danny tidak meneleponnya, atau sekedar mengiriminya pesan.


Qiara mendengus, "lanjutin aja terus ngilangnya! Jangan harap gue bakalan angkat telepon atau bales chat lo nanti!" Omel Qiara seraya memandangi ponselnya seolah ia sedang berbicara dengan Danny.


"Ya telepon lah, Qi, kalau Dannynya belum ngabarin! If you are upset with him, just talk to him. Don't roast your brain alone." Ledek Alisha yang tiba-tiba saja berjalan dari belakang Qiara, kemudian duduk di sebelahnya.


Saat itu, mereka berdua baru saja menyelesaikan siaran mereka.


"Siapa juga yang lagi kesel sama Danny?" Gerutu Qiara.


"Eh, Qi! Tadi Sakha bilang, Felicya sudah setuju buat jadi guest star minggu depan. Gue heran deh, kenapa Felicya tiba-tiba langsung confirm, ya? Padahal biasanya dia confirm-nya lama."


"Oh, ya?"


"Mhm." Gumam Alisha sambil tetap fokus dengan kertas di tangannya.


"Ya, berarti bagus dong! Kerjaan kita jadi lebih gampang."


Beberapa saat kemudian, Alisha langsung bangkit dari kursinya sambil mengambil sebuah hardisk di dalam tasnya. "Gue mau ke Danny bentar, Qi. Dari tadi Arga sudah nge-chat buat make sure apa hardisk-nya udah gue kasihin ke Danny apa belum."


"Danny?"


"Iya. Semalem Danny sempet mampir ke rumah Arga, tapi Si Bodoh itu malah ninggalin hardisk-nya. Jadi ya udah, Arga titip ini ke gue. Lo tunggu, ya?"


"Biar gue aja!" Sahut Qiara dengan wajah sumringah seakan dia baru saja menemukan sebuah harta karun yang sangat berharga.


Alisha terdiam, dan hanya menatap penuh keheranan pada Qiara yang tiba-tiba saja terlihat begitu bersemangat. Padahal tidak lebih dari dua menit yang lalu, wanita itu terlihat sedang kesal.


"Yakin?" Tanya Alisha memastikan.


Qiara pun mengangguk mantap seraya mengambil alih hardisk itu dari tangan Alisha.


"Iya, Cha. Sekalian juga gue mau turun cari minum." Alibinya kemudian.


"Mau gue temenin?" Alisha bertanya sekali lagi sesaat setelah Qiara berjalan melewatinya.


"Nggak perlu. Gue sendiri aja." Jawab Qiara dengan enteng sambil melambaikan tangannya tanpa berbalik melihat Alisha yang sudah cukup jauh di belakangnya.


"Hahaha ternyata sudah baikan toh?" Simpul Alisha saat Qiara sudah menghilang di balik pintu.


...****...


"Berarti Pak Dean tidak bisa menghadiri pesta pernikahan Mba Nathalie dan Mas Justin?" Tanya Windy memastikan pada Dean yang saat itu sudah bersiap-siap hendak berangkat ke Havana untuk mengurus persiapan pembukaan cabang di sana.


Nathalie Abigail Ganendra adalah putri bungsu dari pemilik ANH Group yang sebulan lalu sepakat untuk menyelenggarakan pesta pernikahannya di Clover Leaf Hotel and Resort setelah Windy berhasil menemukan cincin pertunangannya yang sempat hilang. Selama satu bulan ini, baik Dean maupun Windy sudah melakukan persiapan sebaik dan sematang mungkin agar tidak terjadi kesalahan sedikitpun saat nanti pestanya telah di helat.


Tetapi Dean, yang selama ini sudah bekerja keras tiba-tiba saja mengatakan bahwa dia tidak bisa menghadiri pesta pernikahan dari puteri salah satu orang terpenting itu.


"Kak Dean sudah berbicara langsung dengan Justin dan meminta maaf. Justinnya maklum kok. Jadi, kamu nggak usah cemas."


Entah kenapa Windy merasa bahwa perjalanan bisnis hanyalah alasan bagi Dean agar bisa menghindar mengingat bahwa pasti ada nama Danny dan Qiara dalam daftar tamu undangan. Tetapi Windy tidak bisa berkomentar lebih jauh atas kesimpulannya itu.


Windy tidak bisa menjangkau ranah privasi Dean saat menyadari bahwa dirinya tidak memiliki posisi yang cukup penting dalam kehidupan Dean.


"Lagian semuanya udah beres, kan? Kamu saja bahkan tinggal datang sebagai undangan."


"Iya, Kak Dean." Jawab Windy dengan lesu.


...****...


"Mas Danny, ini berkas yang harus Mas Danny tanda tangani." Ucap Nova— salah satu anggota di tim Danny yang bertindak sebagai creative sambil menyerahkan sebuah map.


"Ini sudah bener semua, kan?" Danny mengambil map itu dari Nova lalu membaca ulang dengan teliti.


"Sudah kok, Mas." Jawab Nova singkat.


Danny terlihat mengangguk lalu berkata, "oke, ini sudah bagus semua."


Danny lantas meletakkan map itu di atas meja terdekat sebelum akhirnya membubuhkan tanda tangannya.


Dan Qiara yang sejak tadi berdiri bimbang di depan pintu, dapat menyaksikan semua kesibukan Danny saat itu. Dalam hati Qiara berfikir, wajar saja jika Danny tidak punya waktu untuk menghubunginya jika dia sedang sesibuk itu sekarang.


Qiara pun mengurungkan niatnya untuk menyerahkan langsung hardisk itu pada Danny, dan memilih untuk menitipnya pada salah satu karyawan di devisi itu yang kebetulan melewatinya.

__ADS_1


"Mas?" Tegur Qiara akhirnya.


Karyawan yang baru saja ditegurnya langsung menghentikan langkahnya dan menatap Qiara, "ada apa, ya, Mba?"


"Boleh minta tolong serahkan ini sama Mas Danny, dia—"


"Aku di sini!" Ucap Danny yang tiba-tiba saja muncul tepat dari belakang Qiara.


Dalam hati Qiara langsung merutuki diri. Semoga tidak terlihat jelas, bahwa dia datang ke devisi Danny hanya untuk menemuinya saja. Dan alasannya yang ingin menyerahkan hardisk yang dititipkan Arga, semoga tidak terkesan seperti dibuat-buat. Harap Qiara.


"Nah, itu Mas Danny! Saya permisi, ya?" Ucap karyawan tadi, lantas melanjutkan langkahnya yang sempat dihentikan oleh Qiara.


Qiara lantas menoleh canggung ke arah Danny.


"Ada apa, Qi?" Tanya Danny dengan tenang.


Yang menyebalkan bagi Qiara sekarang adalah, Danny terlihat biasa saja. Tidak seperti Qiara yang berusaha mati-matian menetralisir rasa gugupnya di hadapan pria ini.


"Ini dari Arga." Jawab Qiara dengan cepat seraya mengulurkan hardisk itu.


"Loh, kok bisa di kamu? Bukannya Arga bilang dia titip di Icha, ya?"


Mampus! Sekarang bagaimana Qiara harus mengelak dari pertanyaan itu? Danny pasti tertawa puas jika sampai dia tahu alasan Qiara yang sesungguhnya.


"I—Icha lagi sibuk. J—jadi dia—"


"Kamu ke sini karena pengen ketemu aku, ya?" Sambar Danny dengan satu senyuman menggoda.


Qiara semakin salah tingkah dan kelabakan sendiri. Saat ini, otaknya benar-benar sedang tidak bisa diajak berfikir. Qiara bahkan tidak bisa memikirkan satu katapun untuk bisa menjawab Danny.


Di luar perhitungan Qiara, Danny tiba-tiba saja menarik pergelangan tangannya dan membawanya masuk ke sebuah ruangan kecil yang menjadi tempat bagi para karyawan untuk beristirahat atau menginap jika sedang lembur. Di dalam ruangan itu bahkan disediakan satu tempat tidur bertingkat.


Setibanya di sana, Danny langsung menutup pintu dan tanpa sengaja memojokkan tubuh Qiara di dinding.


"Kamu ngapain bawa aku ke sini, Dann?" Tanya Qiara dengan grogi.


"Nggak mau ngapa-ngapain. Aku cuma mau ngasih kamu waktu supaya bisa lihat wajah tampan aku tanpa gangguan. Kamu sudah jauh-jauh ke sini, jadi setidaknya kamu harus dapetin apa yang kamu mau." Ujar Danny dengan penuh rasa percaya diri.


Qiara berdesis sinis seraya memalingkan wajah. Lalu saat ia berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Danny, Danny justru berdecak dan semakin mempererat genggamannya.


"Siapa bilang aku sibuk? Mm?"


"Sejak kemarin kamu nggak nelepon ataupun chat—" Qiara langsung menghentikan perkataannya saat menyadari bahwa dia baru saja kelepasan.


Sial, seribu sial! Qiara meringis sambil mengutuki apa yang baru saja keluar dari mulutnya.


"Jadi, kamu nunggu aku ngabarin dari kemarin?"


"Aku..."


Sebelum Qiara sempat menjawab, Danny sudah lebih dulu mendaratkan ciumannya di bibir Qiara. Qiara yang terkejut, berusaha memberontak dengan mendorong dada Danny dengan kedua tangannya, namun usahanya itu sia-sia. Dia sama sekali tidak memiliki kuasa untuk mengalahkan tenaga Danny yang tentu saja jauh lebih kuat dari tenaganya


Qiara akhirnya menyerah.


Dan ketika Danny merasakan bahwa Qiara sudah tidak memberontak lagi, dengan gerakan pelan Danny mengambil hardisk itu dari tangan Qiara lalu melemparkannya pelan di atas sofa yang letaknya tepat di samping mereka. Tidak berselang lama, Danny pun melepaskan tautan mereka untuk sejenak. Tatapan mata Danny yang tadinya lembut, kini dipenuhi hasrat yang selama ini ia simpan rapi.


Bagaimana tidak? Jika saat itu Qiara terlihat sangat cantik. Sinar matahari yang menerpa wajahnya dari sisi samping, hembusan angin dari jendela yang meniup rambut panjangnya, mata cokelat dengan kedua pipi memerah menahan malu, dan bibirnya yang terlihat agak sedikit memucat akibat ulahnya barusan, kesemua itu, membuat kecantikan Qiara menjadi berkali-kali lipat dalam pandangan Danny, membuat Danny tidak lagi memiliki daya untuk sekedar menahan diri seperti yang dilakukannya sejak pertama kali ia bertemu kembali dengan Qiara.


"Jangan menolak aku lagi," bisik Danny dengan desauan nafasnya yang masih memburu, beradu dengan desauan nafas Qiara yang menerpa wajahnya hingga menimbulkan sensasi hangat di sana.


Tanpa mau memberikan Qiara kesempatan untuk mengambil nafas lebih lama lagi, Danny pun kembali membenamkan bibirnya dengan bibir Qiara dengan lebih berani. Untuk kali ini, Qiara menerima dan membalasnya, ia bahkan memeluk leher Danny dengan kedua tangannya seolah meminta agar Danny tidak berhenti.


Seperti halnya Danny, Qiara juga ingin menumpah-ruahkan segala hasratnya yang tertahan selama tiga tahun lamanya.


...****...


"Tante benar-benar masih nggak percaya, kalau Qiara yang menghilang selama tiga tahun ini, akhirnya muncul kembali di hadapan Tante sekarang." Ucap Faradina sambil terus memandangi Qiara tanpa bosan.


Sore hari itu, Qiara sengaja meluangkan waktunya untuk bertandang ke rumah Danny demi bisa bertemu dengan kedua orang tua Danny. Biar bagaimana pun, kedua orang tua Danny sudah seperti orang tuanya sendiri. Qiara tidak bisa terus-menerus bersembunyi dari mereka untuk waktu yang lama.


Ketika tahu bahwa Qiaralah yang datang ke rumah mereka tadi, Faradina langsung memeluknya dengan penuh haru, Faradina juga mengatakan bahwa betapa dia sangat merindukan Qiara selama ini. Dan selepas salam pertemuan itu, Faradina mengajak Qiara untuk minum teh bersama di halaman belakang rumah mereka.


Sementara itu, Papa Danny sedang berada di Havana bersama Dean untuk memantau persiapan pembukaan cabang hotel mereka di sana. Itulah alasan kenapa hanya Faradina yang menyambut kedatangannya.

__ADS_1


"Qia minta maaf atas sikap kekanak-kanakan Qia di masa lalu, Qia minta maaf juga karena sudah membuat Tante khawatir selama tiga tahun ini." Aku Qiara dengan penuh sesal. Ia bahkan menundukkan wajahnya dalam-dalam. Sambutan Faradina yang begitu hangat padanya, justru semakin membuatnya merasa bersalah.


Faradina menggeleng pelan, ia lantas meraih kedua tangan Qiara dan menggenggamnya erat-erat, "justru Tantelah yang harus meminta maaf sama kamu. Setelah kepergian Papa dan Mama kamu, seharusnya Tante bisa ngejaga kamu dengan lebih baik lagi, tapi Tante gagal."


"Tante nggak gagal. Sejak Qia masih kecil bahkan sampai detik ini, Qia masih selalu merasakan kasih sayang Tante. Karena Om dan Tante juga, Qia nggak pernah ngerasa kekurangan dalam hal kasih sayang dari orang tua. Untuk itulah, Qia sangat bersykur dan berterimakasih pada kalian."


"Lalu, apa saja yang kamu lakukan selama tiga tahun ini?" Tanya Faradina yang merasa ingin tahu tentang bagaimana kabar Qiara selama dia menghilang.


"Qia pergi ke Brisbane, dan lanjut S2 di sana. Beruntungnya, Qia bisa lulus kurang dari dua tahun. Setelah itu, Qia ketemu Kak Dean—"


"Dean? Dean ke Brisbane?" Raut Faradina terlihat tidak percaya. Karena selama ini pun, Dean tidak pernah menceritakan apapun pada mereka.


Qiara mengangguk, dan melanjutkan, "iya. Kak Dean ternyata sudah tahu kalau Qia di Brisbane. Tapi Bang Ray yang kemudian minta supaya Kak Dean nggak bilang siapa-siapa dulu. Dan saat kami ketemu itu, Kak Dean minta Qia buat pulang. Qia akhirnya mengikuti permintaan Kak Dean, tapi dengan syarat, Qia mau tinggal di pulau Banu dulu untuk sementara waktu. Saat itu, Qia bener-bener belum punya keberanian dan kesiapan untuk menghadapi Danny, dan kalian semua. Sampai suatu hari, Qia sama Danny akhirnya ketemu dengan sendirinya." Qiara tersenyum getir di akhir kalimatnya, mengingat bagaimana mengejutkannya pertemuan mereka kala itu.


"Boleh Tante tanya satu hal lagi ke kamu?"


Qiara mengangkat kepalanya, menatap Faradina penuh arti.


"Apa kamu... masih memiliki perasaan yang sama terhadap Danny? Atau justru, kamu sudah memiliki perasaan pada Dean?"


Qiara terdiam beberapa lama, sebelum akhirnya dengan yakin menjawab, "Kak Dean selama ini sangat baik sama Qia, Tan. Kak Dean juga yang banyak membantu Qia sampai Qia bisa bangkit seperti sekarang ini, tapi...." Qiara mengambil jeda untuk menghela nafas, "Danny selalu jadi satu-satunya buat Qia. Danny nggak akan pernah bisa terganti."


...****...


"Mama kenapa sih? Tumben-tumbennya nyuruh Danny pulang?" Protes Danny pada Mamanya.


Begitu ia sampai di rumah, Danny langsung duduk di meja makan. Di sana, sudah tersedia beberapa makanan yang menjadi hidangan makan malam mereka.


"Kenapa sih? Kamu selalu protes setiap kali Mama suruh pulang? Kamu tahu sendiri, kan? Kalau Kak Dean dan Papa kamu lagi di luar negeri, kamu sebagai satu-satunya anak yang tersisa harusnya peka dong kalau Mama tuh kesepian, Mama butuh ditemenin." Balas Faradina sembari meletakkan sepiring buah-buahan di atas meja.


"Hadeh, hadeh... sejak kapan Mama berubah jadi sentimentil begini?" Danny mulai tidak habis fikir.


"Sejak anak-anak Mama sudah tumbuh dewasa dan sibuk sama dunia masing-masing."


Danny yang otomatis merasa jengah jika Mamanya sudah mulai berdrama seperti ini pun akhirnya memutuskan untuk menghentikan obrolan mereka sebelum drama semakin berlanjut. Ia lalu meraih garpu dan mengambil satu potongan terkecil dari ayam kecap di depannya. Pada kunyahan pertamanya, Danny langsung menyukainya.


"Ini pasti yang masak bukan Mama, kan?" Tanya Danny asal-asalan sambil mencomot satu potong ayam lagi dari piring besar.


"Memang bukan Mama. Qia yang masak."


"Ohhhh..." Gumam Danny dengan santai. Dalam sepersekian detik mimik wajahnya langsung berubah seraya memekik, "APA??"


"Bukan Mama yang masak, tapi Qia." Ulang Faradina, berusaha mati-matian menahan senyumnya.


"Qi—Qia?"


"Malam, Danny..." Sapa Qiara dengan tenang sambil berjalan di belakang Danny, meletakkan satu mangkok selada di atas meja, lalu mengambil posisi duduk tepat di samping Danny.


Danny menatap penuh ketidak percayaan pada wanita di sampingnya. Kehadiran Qiara di rumahnya, benar-benar terasa seperti mimpi baginya.


Sialnya, ketika Qiara menoleh padanya seraya tersenyum hangat, ingatan Danny justru berputar kembali pada saat dirinya dan Qiara berciuman panas di kantor tempo hari.


Wanita di sebelahnya ini, benar-benar telah menjadi candu tersendiri bagi Danny.


"Gimana? Masih mau protes sama Mama gara-gara Mama suruh pulang?" Goda Faradina. Ia menaikkan kedua tangannya di atas meja, lalu menyangga dagunya dengan itu.


Qiara hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya melihat tingkah sepasang Ibu dan Anak itu. Tidak lama kemudian, Qiara pun mengambil piring di hadapan Danny, menyendokkan nasi serta beberapa lauk untuk Danny lalu menyerahkannya kembali pada Danny.


Qiara mungkin tidak menyadarinya, tapi di mata Faradina ketika itu, Qiara benar-benar sudah terlihat seperti isteri sungguhan untuk Danny.


"Sini piring Tante," pinta Qiara sambil menjulurkan tangan kananya.


"Nggak usah. Nggak perlu. Kalian makan saja berdua. Tante lagi diet. Nggak makan makanan berat." Alibi Faradina. Ia lantas bangkit dari meja makan dan meninggalkan kedua orang itu hanya berdua saja di tempat itu.


Beberapa saat setelah Faradina pergi.


"Qi?" Panggil Danny sambil tetap fokus dengan makananya.


"Hm?"


"Thank you, I love you." Gumam Danny dalam sebuah bisikan yang langsung membuat Qiara menoleh padanya.


Sejak hari itu, Danny sudah memutuskan bahwa ia akan sering-sering mengatakan bahwa dia mencintai Qiara. Setiap waktu Danny akan menghujaninya dengan ungkapan-ungkapan itu.

__ADS_1


Qiara kemudian berusaha menahan senyum di wajahnya saat Danny diam-diam meraih tangannya lalu menggenggamnya erat-erat.


^^^To be Continued...^^^


__ADS_2