
Celine bergegas pergi ke rumah Qiara setelah menerima pesan dari Qiara. Qiara mengatakan bahwa Ray sedang sakit dan tidak ada orang di rumah selain asisten rumah tangga. Qiara juga mengatakan, bahwa setelah ia menemui Danny, ia mendadak mendapatkan telepon dari Radio dan tidak bisa pulang cepat malam ini untuk melihat kondisi Kakaknya.
Meski masih membenci Ray, tetap saja Celine merasa cemas jika mendengar kabar bahwa Ray yang pernah menjadi pemudanya itu sedang sakit.
Tidak kurang dari lima belas menit, Celine tiba di rumah Qiara dengan mengendarai sebuah mobil. Begitu tiba di sana, Bi Sukma langsung membuka pintu untuknya.
"Bi Sukma, Kak Ray dimana?" Tanya Celine dengan panik.
"Ada di kamar. Lagi ngerjain –" Belum selesai jawaban Bi Sukma, Celine langsung memasuki rumah dan menaiki anak tangga untuk mencapai kamar Ray.
Sementara Ray yang saat itu tengah fokus mengetik skripsinya seketika terkejut saat seseorang membuka pintu kamarnya dengan cukup keras. Ray membuka earphone yang menggantung di telinganya, dan ia terkejut saat melihat sosok Celine yang berjalan ke arahnya lalu menyentuh keningnya dengan wajah panik.
"Kak Ray, nggak apa-apa? Gimana kondisi Kak Ray sekarang? Bagian mananya yang sakit?" Cecar Celine, hingga nyaris lupa mengambil nafas.
"Lin?" Lirih Ray yang masih belum memahami situasi sekarang.
"Kata Qia, Kak Ray sakit. Aku cemas banget sama Kakak, apalagi setelah tahu kalo Om, Tante, sama Qiara lagi nggak ada di rumah. Aku takut kejadian kayak di Brisbane dua tahun yang lalu keulang lagi. Kak Ray sakit, dan Kak Ray cuma sendirian, aku—"
Belum sempat Celine menuntaskan perkataannya, Ray buru-buru meraih tangan Celine lalu berdiri di hadapan gadis itu, "hey! Lihat aku! Aku baik-baik aja, Lin."
Raut cemas yang sejak tadi terpatri di wajah Celine secara perlahan memudar. Untuk beberapa saat, ia mencoba menteralkan isi kepalanya. Lalu, saat semuanya kembali normal, ia dapat melihat bahwa Ray baik-baik saja.
Sial! Qiara pasti sudah mengerjainya.
"Aku pulang sekarang!" Ucap Celine pada akhirnya setelah hening untuk beberapa lama.
Celine pun menarik tangannya dari genggaman Ray. Dan saat ia berjalan ke arah pintu, Ray buru-buru mengambil langkah besar-besar agar bisa mendahului Celine. Ray pun kini sudah berdiri di ambang pintu, menghalangi jalan Celine.
"Kak Ray..."
Tatapan jenaka seperti biasanya kini tidak terlihat lagi dari sorot mata Ray. Tatapannya benar-benar serius dan seakan mengisyaratkan bahwa ia tidak akan lagi membiarkan Celine melarikan diri darinya. Salah satu tangannya kemudian mendorong pintu di belakangnya hingga tertutup kembali.
"Please, kasih aku kesempatan satu kali lagi, Lin. Kamu masih ingat kartu pengampunan yang kamu kasih ke aku, kan? Aku akan memakainya sekarang."
Celine terpaku sejenak. Memorinya terseret kembali ke masa lalu saat Ray menyebut kartu pengampunan.
Saat itu adalah hari ulang tahun Ray. Dan karena Celine terlalu sibuk mempersiapkan diri untuk mengisi acara pensi, ia pun jadi lupa ulang tahun pacarnya sendiri. Ray marah saat itu dan tidak mau menemui Celine selama beberapa hari. Celine yang tidak ingin menyerah terus berusaha mengejar Ray.
Hingga hari dimana mereka akhirnya bertemu, Celine menangis di hadapan Ray seraya meminta maaf. Dengan terisak Celine berkata, "Tolong kasih Celine satu kartu pengampunan, dan Celine akan menggunakannya sekarang. Celine juga akan kasih satu kartu pengampunan buat Kak Ray. Celine benar-benar minta maaf, Kak Ray..."
Ray tersenyum, ia lalu menepuk dahi Celine dengan telapak tangannya sambil berkata, "Disetujui!"
Celine tersenyum manis saat itu dan kontan saja melayangkan sebuah kecupan kilat di pipi pemuda itu.
__ADS_1
Celine tertarik kembali dari ingatan masa lalunya. Ia melihat Ray yang saat itu entah kenapa terlihat begitu putus asa. Celine yang semula keras kini mulai luluh. Ia tidak lagi memiliki keinginan untuk melarikan diri dari Ray. Celine kemudian menangkap dengan jelas seulas senyuman lega terpahat sempurna di wajah manis Ray saat mengetahui bahwa ia telah luluh.
"D— D— Disetujui!" Ucap Celine terbata.
Ray meraih kedua tangan Celine lalu menatap dalam pada kedua manik matanya. "Aku nggak bisa janji apa-apa sama kamu sekarang, Lin. Tapi saat aku kembali ke Brisbane nanti, aku akan buktikan sama kamu kalau kali ini aku akan bertahan dan nggak akan ngelepasin kamu. Aku nggak akan ulang kesalahan yang sama yang bikin aku harus kehilangan kamu lagi. Aku bener-bener nggak bisa tanpa kamu, Lin."
Ray pun menangkup wajah mungil Celine dengan kedua tangannya agar mereka bisa saling menatap ke dalam mata masing-masing. "Kali ini kamu bisa percaya sama aku. Aku nggak akan nyakitin kamu lagi."
Celine masih betah dengan kediamannya. Bukan karena ia sengaja ingin melakukannya, hanya saja Celine tidak tahu harus berkata apa setelah menangkap sebentuk ketulusan yang tergambar dengan jelas di mata Ray. Celine yakin kali ini ia bisa mempercayai Ray sebanyak yang ia bisa.
Celine kemudian dapat merasakan saat Ray memutar tubuhnya, hingga kini terpojokkan di pintu. Takut-takut ia menatap Ray yang ketika itu sedang tersenyum begitu lembut padanya.
Sejurus kemudian, Ray mencium keningnya, kedua pipinya secara bergantian, hidungnya, lalu turun ke bibirnya. Ray melakukannya dengan lembut, untuk meyakinkan pada Celine bahwa kali ini ia bersungguh-sungguh.
Rindu itu terbayar sudah. Semoga kali ini tidak ada lagi luka.
...****...
Danny sedang terduduk lesu di bawah sofa begitu Qiara memasuki kamarnya. Melihat pemandangan itu, Qiara menghela nafas panjang lalu duduk di atas sofa dengan posisi tepat di belakang Danny. Beberapa saat lalu, Faradina menelepon Qiara dan mengatakan bahwa sejak semalam, Danny belum memakan apapun. Faradina meminta tolong pada Qiara untuk membujuk Danny agar mau makan.
Dan meski tahu bahwa sofa di belakangnya sudah ada yang menduduki, Danny tetap bergeming seraya memainkan sebuah mainan helikopter yang terbuat dari kayu di tangannya.
Dahulu, saat masih kecil, Papa Qiara lah yang membuatkan dan memberikan mainan helikopter itu untuk Danny.
Sekali lagi Qiara terdengar menghela nafas sebelum akhirnya beredehem dan membuka suara.
Tidak ada jawaban apapun. Danny masih sibuk sendiri dengan kegiatannya yang bisa dibilang tidak berguna.
"Gu—gue ambilin makan, ya?" Jeda sesaat, "ya, gue sih gak peduli lo mau kelaparan atau enggak, tapi gue kasian sama Tante Fara. Tante Fara sampe minta tolong gue buat bujukin lo supaya mau makan." Lanjutnya berusaha memberi penjelasan agar Danny tidak berpikir bahwa ia sedang mencemaskannya sekarang.
Meskipun sebenarnya memang iya Qiara sangat cemas. Hanya saja... ini rahasianya. Danny tidak boleh tahu.
Saat Qiara baru saja beringsut dari sofa hendak mengambil makanan, Danny tahu-tahu menahan pergelangan tangannya dan 'memaksa' gadis itu untuk kembali duduk. Kemudian tanpa mengucapkan sepatah katapun, Danny naik ke atas sofa dan membaringkan tubuhnya. Kepalanya ia rebahkan pada paha Qiara.
Jantung Qiara berdebar tanpa peringatan. Ia bahkan tidak bisa mengontrol wajahnya yang kini mulai memerah.
"Dua menit aja... setelah ini gue bakalan makan."
Dengan masih memejamkan kedua matanya, Danny meraih salah satu tangan gadis itu lalu menggenggamnya. Qiara yang tidak bisa melayangkan protes hanya terdiam. Mengikuti nalurinya, tangannya yang bebas terangkat lalu membelai lembut pelipis Danny.
"Nyaman." Danny berucap pelan. Ia lalu memindahkan genggaman tangan Qiara tepat di depan dadanya.
Danny seakan sengaja membiarkan gadis berlesung pipi itu merasakan detak jantungnya.
__ADS_1
Saat Danny secara tidak sengaja membuka mata, perhatiannya langsung tertuju pada kalung berbandul bunga camellia yang melingkar di leher Qiara dengan manis. Diam-diam Danny tersenyum, dan tiba-tiba saja tergugah, bagaimana bisa Qiara berfikir bahwa Danny akan memberikan kalung berbandul bunga camellia itu pada Prissy? Di saat ia tahu bahwa Danny tahu kalau dia sangat menyukai bunga camellia?
Gadis ini benar-benar bodoh!
"Cantik..." Puji Danny dalam sebuah gumaman pelan yang nyaris tidak terdengar oleh Qiara.
...****...
Setelah dari kamar Danny, mata Qiara tertuju pada Dean yang saat itu sedang duduk di halaman samping rumahnya menghadap kolam renang seraya mengerjakan sesuatu di laptopnya.
Saat Qiara hendak menghampirinya, tiba-tiba saja Faradina muncul lalu memberikan sepiring buah pada Qiara, "tolong berikan buat Kak Dean, ya, Qi! Tante mau nyiepin makanan Danny dulu."
"Oke, Tan."
Begitu tiba di halaman samping, Qiara segera mengambil posisi di sisi Dean lalu meletakkan piring buah itu di atas meja. "Kak Dean..."
Dean yang sedikit terkesiap otomatis menoleh ke arah Qiara, "eh, Qi? Kamu di sini?"
"Kak Dean lagi ngerjain apa?"
"Lagi nyelesein pengeditan final. Minggu depan Kak Dean udah Seminar Hasil."
"Waah, nggak kerasa, ya? Padahal baru kemarin liat Kak Dean sibuk mondar-mandir penelitian, sekarang udah mau Seminar Hasil aja."
Dean kemudian tersenyum. Ia menepikan laptopnya lalu mengatur posisinya agar bisa melihat Qiara dengan nyaman.
"Kak Dean lanjutin aja. Jangan peduliin Qia."
"Udah selese, kok."
Qiara hanya mengangguk. Sejak kejadian malam ketika Dean menyatakan perasaan padanya secara tersirat, entah kenapa Qiara mulai merasa canggung pada Dean. Dean pun tidak bisa membohongi dirinya sendiri, ia merasa seperti ada jarak antara dirinya dan Qiara.
Di satu sisi, sesekali Dean menyesali apa yang telah ia lakukan malam itu. Namun di sisi lainnya, Dean merasakan hatinya melega, karena setelah bertahun-tahun lamanya memendam perasaan untuk Qiara, ia akhirnya bisa menyatakannya juga. Meskipun yang terjadi kemudian adalah, Qiara tidak bisa menerima perasaannya, persis seperti dugaannya sejak awal.
"Qi, jujur sama Kak Dean, deh. Kamu masih ngerasa nggak enak, kan, sama Kak Dean?" Tanya Dean sehati-hati mungkin.
"Maafin Qia, Kak Dean. Qia cuma butuh waktu sedikit lebih lama untuk bisa menatap mata Kak Dean dengan cara yang sama."
"Apa itu berarti perasaan Kak Dean membebani kamu?"
Qiara mengangkat wajahnya. Ia menatap Dean lekat-lekat seolah ingin berkata, bahwa bukan itu maksudnya. Tetapi Qiara tidak terlalu berani untuk menyampaikan isi fikirannya pada pria baik hati ini.
Keheningan di antara mereka tiba-tiba terpecahkan saat getar ponsel Qiara terdengar. Dean berdehem sebelum akhirnya mengalihkan pandangannya dari kedua mata Qiara. Begitu juga dengan Qiara yang agak tersentak. Ia pun buru-buru melihat ponselnya, dan segera menjawab panggilan.
__ADS_1
"Iya, Windy? Ini gue. Ada apa?"
^^^To be Continued.... ^^^