
Setelah kembali dari makam kedua orang tua Qiara pada malam harinya, Danny segera pulang ke rumah orang tuanya lalu mengunci dirinya di dalam kamar. Papa dan Mamanya sempat memarahi Danny karena apa yang telah ia lakukan selama beberapa hari kemarin, tapi Danny terlalu kalut untuk bisa menjelaskan posisinya. Maka setelah Papanya mengakhiri kemarahannya, Danny langsung pergi ke kamarnya.
Danny terduduk lesu di bawah ranjangnya. Tangan kananya ia gunakan untuk menopang dahinya. Satu persatu ingatan manis yang sempat ia toreh bersama kedua orang tua Qiara berpendar dalam kepalanya dan kembali menyiksanya dalam rentetan sesal yang menghancurkan. Kedua orang tua Qiara selalu mempercayainya, mereka bahkan memperlakukan Danny seperti anak mereka sendiri. Namun di saat terakhir mereka, Danny justru tidak menampakkan dirinya sama sekali, dan membiarkan Qiara, anak perempuan mereka yang sudah Danny minta sebelumnya terluka sendirian.
"Jaga Qiara, dan tolong jangan pernah sakiti dia. Qiara mungkin punya banyak kekuarangan, tapi dia adalah puteri Om yang berharga."
Ucapan Papa Qiara padanya di malam Danny menyampaikan keinginannya untuk melamar Qiara, muncul dalam ingatannya dan membuat air mata Danny lagi-lagi menetes.
"Baik-baik sama Qiara, ya, Nak."
Kali ini ucapan Mama Qiara yang terdengar dalam ingatannya dan semakin membuat sesak dadanya.
Lalu di saat semuanya sudah tidak tertahankan lagi, Danny berteriak sangat keras dan membanting semua benda tidak berdosa yang ada di depannya tanpa terkecuali. Danny bahkan tanpa ragu mendaratkan kepalan tangannya pada tembok kamarnya hingga membuat tangannya terluka.
Namun Danny sudah ada di tahap tidak bisa merasakan sakit lagi.
...****...
"Gue sama Arga udah di parkiran nih. Elo udah udah selesai, kan?" Tanya Celine pada Qiara melalui sambungan telepon.
"Gue segera turun. Tunggu di situ." Kata Qiara sembari membereskan barang-barangnya di atas meja kerjanya.
Setelah cuti kerja selama satu minggu lamanya, Qiara akhirnya kembali ke aktifitasnya sehari-hari. Meski masih diselimuti kabut duka atas kepergian kedua orang tuanya, Qiara mencoba untuk tetap tegar dan tetap menjalani kehidupannya seperti biasa.
Dan ya, yang membuat hari-harinya terasa berbeda sekarang adalah, hubungannya dengan Danny yang masih dingin selama satu minggu ini juga. Bukannya Danny diam saja, tetapi segala usaha yang Danny lakukan untuk mendekatinya dan memperbaiki hubungan mereka sama sekali belum bersedia digubris oleh Qiara.
Hatinya masih terlalu sakit atas perlakuan Danny padanya di hari kematian kedua orang tuanya. Semuanya terasa semakin menyakitkan bagi Qiara, saat Danny turut membawa Pricilla pulang bersamanya.
"Aku butuh waktu sendiri, Dann. Jadi, aku minta tolong sama kamu, tolong biarin aku sendiri dulu." Itulah yang Qiara ucapkan pada Danny enam hari yang lalu.
Tetapi bukan Danny namanya jika ia mendengarkan ucapan Qiara. Selama enam hari ini juga, Danny terus mengikuti kemanapun Qiara pergi secara diam-diam. Qiara tidak sedikitpun luput dari perhatiannya. Dan Qiara bukannya tidak tahu kalau Danny selalu mengikutinya, ia tahu, namun memilih untuk pura-pura tidak tahu dan tetap mengabaikannya seperti angin yang berlalu.
Saat Qiara baru tiba di lobby, langkahnya mendadak terhenti ketika melihat Pricilla yang sedang duduk di salah satu sofa. Mereka saling tatap selama beberapa saat sebelum akhirnya Qiara melanjutkan langkahnya dan memberanikan diri untuk mendekat. Qiara dapat membaca, bahwa ada sesuatu yang memang ingin Pricilla sampaikan padanya. Itulah kenapa, Qiara membawa Pricilla pergi ke tempat sepi agar mereka bisa berbicara.
"Ada yang mau lo omongin sama gue?" Tanya Qiara to the point sambil melipat kedua tangannya di perut.
Dalam pandangan Pricilla, meski berusaha tampak kuat, tapi kesedihan di mata Qiara masih terlihat dengan sangat jelas. Wajahnya bahkan masih terlihat pucat.
"Qi, sebelumnya gue turut berduka atas apa yang menimpa Papa dan Mama lo."
"Terima kasih." Jawab Qiara dengan tenang sambil menganggukkan kepalanya.
Melihat bagaimana cara Qiara menatapnya, entah kenapa membuat nyali Pricilla tiba-tiba menciut. Ia tidak pernah segentar ini sebelumnya saat berhadapan langsung dengan Qiara.
"Dan, untuk apa yang terjadi di Shanghai..." Pricilla mengambil jeda sesaat untuk mengambil nafas. Ia butuh lebih banyak keberanian untuk menyampaikan hal yang bahkan belum ia sampaikan pada Danny.
Sementara Qiara, begitu ia mendengar ucapan Pricilla, ia langsung menahan nafas. Kedua matanya kembali terasa panas saat kejadian di Shanghai yang ia saksikan kembali diungkit.
"...itu bukan salah Danny, Qi. Gue... gue sengaja melakukan itu karena tahu lo ada disana. Maafin gu—"
PLAK! Sebuah tamparan bersarang di pipi kiri Pricilla sebelum perkataannya selesai. Pricilla menyentuh pipinya lantas melihat Qiara yang sedang menatapnya dengan penuh kemarahan. Yang Pricilla tangkap adalah, sebentar lagi Qiara akan memuntahkan semua emosi yang ia tahan selama ini.
"Apa salah gue sama lo? Kenapa lo selalu melakukan hal ini ke gue? Baik dulu, atau sekarang, lo selalu melakukan cara yang sama untuk mengobrak-abrik kebahagiaan gue. Gue mencoba berfikir positif dan terus introspeksi diri, memikirkan kesalahan apa yang mungkin udah gue lakukan ke elo sampai lo selalu bertindak seperti ini, tapi mau sekeras apapun gue berfikir, gue nggak tahu letak salah gue dimana."
"Qia..."
Air mata Pricilla jatuh. Pertanyaan yang baru saja Qiara gulirkan entah kenapa membuat hatinya terasa sangat sakit. Dalam hati Pricilla berteriak, bahwa bukan hanya Qiara saja yang menderita selama ini. Tapi ia juga sama menderitanya dengan Qiara.
"Lo puas karena berhasil merebut Danny dua kali dari gue? Lo merasa menang? Dan kalo lo sengaja melakukan hal itu untuk menghancurkan hubungan gue sama Danny... " Qiara maju selangkah agar lebih dekat lagi dengan Pricilla. Pandangannya pada gadis itu pun kian lekat. "... SELAMAT! LO BERHASIL!" Lanjutnya. Bersamaan dengan itu, setetes air mata Qiara mengalir, mewakilkan segala sakitnya.
__ADS_1
"Untuk yang kedua, gue sepakat saat lo bilang gue sengaja ngerebut Danny dari lo, dan gue mau minta maaf untuk itu. Tapi untuk yang pertama, lo harus tahu kalo lo salah, Qiara! Gue nggak pernah rebut Danny dari lo dulu, elo sendiri yang melepaskan dia dan menyeret dia ke dalam hidup gue. APA LO LUPA?"
Qiara tersentak. Perkataan Pricilla benar-benar mampu memukulnya dengan telak.
"Ketika elo SENDIRI yang membawa Danny masuk ke dalam hidup gue dengan TANGAN LO SENDIRI, lalu apa gue salah kalau akhirnya gue jatuh cinta sama Danny? Semua apa yang terjadi detik ini tidak akan pernah terjadi kalau aja saat lo tidak melakukan apapun. Kenapa sekarang akhirnya gue yang disalahkan? Dan apa lo lupa? Walaupun lo sudah menyerahkan Danny buat gue saat itu, lo tetep menempel sama Danny seperti bayangan. Lo nggak mau lepas dari dia. Tapi, apa gue pernah mengeluh untuk itu? Gue bahkan tetap bersikap baik sama lo, di saat lo sendiri memperlakukan gue seperti musuh. Gue berusaha memaklumi persahabatan kalian, meski setiap detik gue hancur. Tapi, apa usaha gue itu pernah berarti di mata lo ataupun di mata temen-temen lo?"
"Danny lo itu yang nggak pernah mau ngelepasin gue saat itu. Gue—"
"JANGAN MUNAFIK, QIARA!! Lo menikmati, kan, saat-saat Danny nggak mau ngelepasin lo? Lo bahkan jatuh sakit karena nggak rela kehilangan Danny saat dulu dia lebih memilih untuk mempertahankan gue. Lo bikin 'pertunjukan' di depan Danny, sampe dia ninggalin gue gitu aja. Apa lo fikir gue nggak tahu? Kalo saat itu kalian bersembunyi di klinik demi menghindari Kak Dean?"
Qiara tidak membalas. Fikirannya sekarang berkelana jauh ke masa lalu, mengingat apa yang telah ia lakukan dulu bersama Danny. Dan Qiara tidak bisa seratus persen menyalahkan semua perkataan Pricilla padanya.
"Itu jawaban dari pertanyaan lo tadi. Itu kesalahan yang sudah lo lakukan di masa lalu. Jadi, berhenti melimpahkan semua kesalahan ke gue, dan segera koreksi diri lo sendiri. Dan lo harus tahu, gue cuma ngikutin cara main lo dulu untuk bisa merebut Danny kembali. LO YANG MENGAJARKAN CARA INI KE GUE!"
Amarah Qiara tiba-tiba memuncak tanpa ia kehendaki. Ia menepikan semua pengakuan dan kesadarannya. Lalu di luar kontrolnya, kedua tangannya bergerak lalu menjambak rambut Pricilla dengan sangat kuat. Ia bahkan tidak peduli saat Pricilla terus memberontak minta dilepaskan.
"Hak apa yang lo punya sampai lo berani-beraninya nyuruh gue untuk koreksi diri? Kenapa lo selalu bertindak seakan-akan elo adalah korbannya?"
Pricilla yang terpancing emosinya balas menjambak rambut Qiara dengan kekuatan yang tidak kalah besarnya. Situasi semakin tidak terkendali.
"Berhenti bersikap seakan-akan lo adalah orang yang paling tersakiti di dunia ini, Qiara!"
Saat situasi nyaris tidak tertolong lagi, Arga dan Celine tahu-tahu datang lalu memisahkan Qiara dan Pricilla semampu yang ia bisa. Arga dan Celine tahu betapa menakutkannya seorang Qiara jika sudah bertindak seperti ini. Pricilla sudah pasti kalah.
Arga berhasil menarik Qiara yang notabene jauh lebih bar-bar dari Pricilla. Sementara Celine berhasil menahan Pricilla.
"Apa yang sedang kalian lakukan? Gimana kalau orang-orang lihat?" Ucap Celine yang merasa tidak habis fikir atas tindakan kedua orang itu.
"Astaga, Qia! Hidung lo mimisan!" Pekik Arga saat melihat darah segar mengalir dari salah satu lubang hidung Qiara. Arga memegang kedua bahu Qiara seraya menatapnya dengan kedua mata terbuka lebar.
Tahu bahwa ia mimisan gara-gara ulah Pricilla, emosi Qiara semakin terbakar dan susah dikendalikan. Ia seperti orang yang sedang kesurupan.
Baru saja Qiara akan melancarkan serangan lain untuk Pricilla, suara teriakan Danny yang begitu keras langsung menghentikannya.
"QIARA! BERHENTI!!"
Mereka semua terkejut tanpa terkecuali, lalu dengan serempak melihat ke arah Danny yang sedang berdiri tidak jauh dari posisi mereka.
Danny mendekat dengan raut wajah dingin dan marahnya. Dan begitu tiba di tempat kejadian perkara, tanpa diduga, Danny justru menarik pergelangan tangan Pricilla dan membawanya pergi dari tempat itu, bahkan tanpa menoleh lagi.
Qiara, Arga, dan Celine mematung tak percaya menyaksikan apa yang baru saja Danny lakukan. Pada momen yang benar-benar tidak terduga itu, Celine bahkan sempat berfikir bahwa mungkin saja Danny salah menarik tangan Pricilla.
Qiara tersenyum sambil mendengus saat Danny dan Pricilla sudah menghilang dari pandangannya. Tidak lama setelah itu, ia pun menghamburkan air matanya sebelum akhirnya melepaskan diri dari Arga dan pergi dari tempat itu dengan perasaan remuk-redam.
Qiara terluka saat mendapati satu kenyataan, bahwa ternyata di saat kritis seperti ini, Danny akan lebih memilih menyelamatkan Pricilla ketimang dirinya.
...****...
Februari, 2013...
"Lo bilang lo suka sama Prissy. Terus kenapa belum lo tembak juga?" Qiara bertanya jengah pada Danny yang saat itu sedang fokus membaca komik di dalam kelasnya.
Setelah diputuskan secara sepihak, namun tetap diperlakukan seperti seorang pacar oleh Danny membuat Qiara benar-benar merasa muak. Itulah alasan, kenapa sekarang akhirnya ia memutuskan untuk mencecar Danny seperti ini. Qiara benar-benar tidak tahan dengan situasi yang tidak normal ini.
"Gue masih nunggu waktu yang tepat, Qi." Jawab Danny seadanya tanpa minat sama sekali. Ia pun membalik lembar komik di tangannya.
Jawaban itu sebenarnya hanya alibi. Karena sejak awalpun, Danny tidak pernah memiliki niat untuk menjadikan Pricilla sebagai pacarnya. Itu hanya alasan supaya ia bisa putus dengan Qiara, dan Dean bisa mendekatinya.
"Apa lo perlu bantuan gue?" Tanya Qiara dengan serius saat sepasang matanya menangkap sosok Pricilla yang sedang berjalan di depan kelas bersama beberapa temannya.
__ADS_1
"No, thanks!" Imbuh Danny.
Danny yang tiba-tiba sadar bahwa Qiara sudah tidak ada bersamanya lagi, langsung terperanjat saat melihat gadis cerewet itu tengah menghampiri Pricilla dan seperti sedang membicarakan sesuatu dengannya.
Danny melepaskan komiknya begitu saja lalu menghampiri kedua gadis itu. Namun terlambat. Qiara sudah melancarkan aksinya tanpa persetujuan Danny.
"Temen gue suka sama lo. Lo mau, kan, jadi pacarnya dia?"
Pricilla terbengong mendengarkan ucapan Qiara. Pandangannya pun kemudian mengarah pada sosok Danny yang sedang berdiri di belakang Qiara dengan nafas ngos-ngosan.
Danny sebenarnya ingin membantah, tapi jelas tidak bisa. Situasinya sekarang benar-benar tidak memberikannya pilihan lain selain menerima. Ia juga tidak tega jika harus mempermalukan Pricilla di depan teman-temannya juga murid-murid lainnya yang sedang menyaksikan adegan itu. Danny tidak sejahat itu.
"A —apa ini? Kok mendadak?" Tanya Pricilla sedikit terbata. Ini terlalu mengejutkan baginya.
"Nggak ada yang mendadak. Danny suka sama lo sejak lama." Jawab Qiara dengan santai. Sementara Danny di belakangnya tampak begitu frustasi seraya menghela nafas.
"Gu —gue..." Pricilla kali ini bingung. Tidak tahu harus menjawab apa.
Tetapi teman-teman di belakangnya sudah mulai saling berbisik satu sama lain, hingga tiba-tiba...
"Terima! Terima! Terima!" Ucap teman-teman Pricilla dengan kompak.
Pricilla yang semakin terpojokkan dalam situasi itupun akhirnya mengangguk sambil tersipu malu. Dengan begitu, Danny sudah resmi mendapatkan pacar hari itu.
Qiara tersenyum miris. Sesaat kemudian ia berbalik, menepuk bahu Danny lalu berkata, "selamat, Dann! Long last, ya, sama Prissy..."
...****...
"Kamu nggak apa-apa?" Tanya Danny pada Pricilla begitu mereka berdua sudah ada di dalam mobil Danny.
"Aku nggak apa-apa kok, Dann. Tapi, kenapa kamu—"
"Semua orang lagi benci-bencinya sama kita. Kalau aku nggak bawa kamu pergi tadi, semua orang akan nyalahin kamu. Yang harus kamu tahu, aku bawa kamu pergi bukan berarti aku lebih belain kamu dari Qiara, aku cuma nggak mau Qiara terlibat masalah kalau-kalau orang kantornya melihat kejadian itu. Keadaannya akan runyam kalau orang lain melihat pertengkaran tadi."
"Dann..."
"Priss, sudah saatnya kamu kembali ke New York. Semalem aku udah telepon Mia. Dia akan menyiapkan semuanya."
Pricilla mengangguk paham sambil berupaya menahan laju air matanya yang lagi-lagi hampir jatuh. Pricilla mengerti bahwa saat ini, Danny sedang mengusirnya secara halus. Dan Pricilla menerimanya dengan lapang dada. Ia pun sudah mengakui kekalahannya. Tetapi sekarang, ada satu hal yang mengganjal di hatinya, yang harus ia tanyakan pada Danny detik ini juga —sebelum ia pergi.
"Danny, sebelum aku pergi. Apa aku boleh tanya satu hal ke kamu?"
"Apa?"
"Selama setahun kita bersama dulu, apa pernah kamu bener-bener sayang sama aku walaupun cuma sehari?"
Danny tidak langsung menjawab. Ia memalingkan wajahnya sejenak lalu berfikir, mungkin ini saatnya Pricilla tahu tentang kebenaran perasaannya. Biar bagaimanapun, Pricilla berhak untuk itu.
Tidak lama kemudian Danny menjawab, "tiga bulan pertama kita jadian, jujur saja aku nggak punya rasa apa-apa buat kamu. Tapi seiring berjalannya waktu, kita saling menghibur, saling menenangkan, saling berbagi tawa satu sama lain, saling berbagi rasa sakit yang diakibatkan oleh orang tua, dan kamu terima aku apa adanya, saat itu aku mulai punya perasaan sayang sama kamu. Aku takut kehilangan kamu, dan ada perasaan kalau aku nggak mau putus dari kamu. Ada satu titik dimana aku ngerasa aku ingin ngerasain perasaan itu selamanya. Tapi, semua itu ternyata nggak cukup. Karena aku tahu kalau satu-satunya yang aku butuhin cuma Qia. Aku nggak bisa bayangin hidup aku kalau nggak ada dia. Aku—"
"Cukup, Dann! Cuma itu yang aku ingin aku dengerin." Sela Pricilla dengan seulas senyuman.
Pricilla lantas menyeka air matanya dan berusaha menatap Danny dengan tegar. "Kenyataan kalau kamu pernah menyayangi aku sudah cukup buat aku, Dann. Setelah ini, aku nggak perlu lagi merasa sangat menyedihkan. Terima kasih, karena pernah menyayangi aku dengan cara yang luar biasa."
"Terima kasih juga, karena kamu pernah menjadi partner berbagi rasa sakit yang baik. Aku berharap, kamu bisa dapetin seseorang yang akan mencintai kamu dengan cara yang lebih luar biasa lagi."
Pricilla mengangguk sambil tertawa kecil, namun meski begitu air matanya tetap saja menetes. "Pasti. Aku pasti bakalan dapetin yang lebih baik dan lebih ganteng dari kamu." Pungkasnya.
^^^To Be Continued...^^^
__ADS_1