Kutukan Cinta Pertama

Kutukan Cinta Pertama
PREKUEL


__ADS_3

Januari, 2011...


"Kalian berdua pacaran, kan?" Tebak Windy dengan penuh keyakinan seraya menatap Danny dan Qiara yang duduk tepat di hadapannya.


Windy menatap mereka seakan dia adalah seorang detektif yang sedang mengintrogasi dua tersangka pembunuhan.


Arga dan Celine yang saat itu juga sedang bergabung bersama mereka di kantin sekolah kontan saja melemparkan tatapan sangsi pada kedua orang itu. Namun jika mereka fikir-fikir lagi, gelagat Danny dan Qiara memang agak berbeda belakangan ini. Tapi ayolah! Mereka tidak mungkin berpacaran. Mereka selalu bertengkar hampir setiap hari, memangnya kapan mereka sempat saling jatuh cinta?


"Gue lebih percaya sama rumor kiamat 2012 dari pada mempercayai kalo kedua manusia ini berpacaran." Cetus Celine kemudian, berusaha menarik diri dari hipotesa serampangan yang Windy gulirkan.


Danny dan Qiara saling melihat satu sama lain. Tidak lama seulas senyuman langsung terpatri di wajah mereka masing-masing, seakan membenarkan tebakan Windy. Mereka dengan kompak berfikir, bahwa memang ini saatnya untuk mengakhiri hubungan 'backstreet' yang mereka jalani hampir sebulan lamanya.


Sejak memutuskan untuk berpacaran sebulan yang lalu, Danny dan Qiara memang sepakat untuk menjalani hubungan mereka secara backstreet sambil mencari waktu yang tepat untuk mengumumkan hubungan mereka pada Windy, Arga dan Celine.


Namun sebelum mereka menemukan waktu yang tepat itu, Windy yang memang memiliki tingkat kepekaan yang paling tajam di antara yang lainnya, justru bisa mengendus hubungan Danny dan Qiara dengan cepat. Dan karena tidak memiliki alibi lagi untuk mengelak, Danny dan Qiara akhirnya memutuskan untuk mengaku.


"Oh, no!" Gumam Celine sambil memasang mimik tidak percaya.


Arga yang duduk di sebelah Celine lantas menyilangkan tangannya di depan perut dengan pandangan penuh pertimbangan. Danny dan Qiara benar-benar sebuah kombinasi aneh yang tidak pernah terlintas di kepalanya.


Sementara Windy, ia hanya menganggukkan kepalanya seraya mendesah lega. Ia lalu mengambil es jeruk di depannya dan meminumnya.


"Kami udah pacaran sejak...."


"Jangan dilanjutkan kalo lo masih sayang sama nyawa lo!" Sela Arga sebelum Danny menyelesaikan kalimatnya. Ia mendadak bergidik membayangkan bagaimana cara Danny dan Qiara berpacaran diam-diam tanpa sepengetahuan mereka selama ini.


"Kami pacaran sejak sebulan yang lalu." Qiara terdengar melanjutkan, seolah tidak peduli dengan reaksi geli yang secara terang-terangan ditunjukkan oleh Arga dan Celine.


Qiara kemudian meraih tangan Danny, menggenggamnya, lalu menunjukkanya di depan sahabat-sahabat mereka. Danny terkekeh pelan sebelum ia mendaratkan tangannya di pipi Qiara lalu mengusapnya dengan lembut.


Arga yang sudah merasa tidak tahan lagi dengan kelakuan Danny dan Qiara langsung bangkit dari kursinya. Ia melangkah tenang mendekati Danny. Setelah berdiri tepat di belakang Danny, Arga secara tiba-tiba menahan leher Danny dengan lengannya, hingga membuat Danny kesulitan bernafas.


"Bisa-bisanya lo ngebodoh-bodohin kami semua selama sebulan!" Rutuk Arga sambil mengetatkan cengkramannya pada leher Danny.


"Lepas! Gue sesek beneran, bego!" Danny memukul-mukul lengan Arga agar Arga melepaskannya, tapi Arga memilih untuk tidak peduli.


"Cowok gue bilang lepasin, ya lepasin!!" Sentak Qiara. Ia kemudian menendang kaki Arga dengan keras hingga mau tidak mau Arga akhirnya melepaskan Danny.


"Awww!" Arga meringis kesakitan sembari memegangi kakinya. Tendangan Qiara benar-benar tidak bisa dianggap bercanda. Cewek itu benar-benar kuat.


"Danny, lo nggak apa-apa, kan? Mana yang sakit? Sini gue lihat!"


"Kayaknya leher gue merah deh, Qi. Asli sakit banget." Rajuk Danny dengan manja.


Qiara pun melemparkan pandangan membunuh pada Arga yang masih memegangi salah satu kakinya sambil meringis kesakitan.


"Tau ah. Gue nggak kuat lagi di sini. Win, ayo balik ke kelas." Ajak Celine dengan buru-buru sambil menarik lengan Windy. Celine benar-benar tidak tahan jika harus berada lama-lama di antara Danny dan Qiara.

__ADS_1


Windy pun hanya mengikuti Celine. Saat sudah beranjak dari hadapan pasangan baru jadi itu, Windy menoleh ke belakang lalu mengangkat jempolnya untuk Danny.


Sepertinya Windy satu-satunya yang merestui hubungan Danny dan Qiara.


...****...


"Tadi lo pura-pura marah, kan, sama gue biar yang lainnya nggak curiga sama hubungan kita? Waaah, ternyata akting lo menakjubkan banget." Puji Qiara seraya mengangkat kedua jempolnya sambil terus mengekori Danny yang berjalan cepat di depannya.


Saat sedang melakukan rapat Osis tadi dengan agenda persiapan Class Meeting dan Pensi, Qiara yang bertindak sebagai sekretaris justru tidak mengikuti jalannya rapat dengan baik, dan malah sibuk memperhatikan Danny yang sedang menjelaskan beberapa konsep acara pada anggota yang lainnya.


Danny yang memang menjabat sebagai ketua Osis tentu saja merasa marah karena sekretarisnya itu justru sibuk dengan hal lain. Danny yang terkenal tegas pun menegur Qiara dengan serius di depan yang lainnya. Tapi Qiara yang menjadi target kemarahan Danny malah mengira bahwa Danny hanya berpura-pura saja.


Ocehan panjang lebar Qiara tiba-tiba terinstrupsi saat Danny secara mendadak menghentikan langkahnya hingga membuat Qiara yang masih saja berjalan menabrak punggung Danny tanpa sadar dengan keningnya.


"Aww!" Ringis Qiara sambil memegangi keningnya.


Sebelum berbalik, Danny menghela nafas kasar lalu berkata dengan sinis, "siapa bilang gue pura-pura marah?"


Danny berbalik, lalu menatap gadis itu dengan dingin, "gue tadi serius."


"Dann?"


"Untuk rapat berikutnya, gue nggak mau ada kejadian kayak tadi. Nggak peduli walaupun lo cewek gue, kalo lo melakukan kesalahan gue harus menegur lo dengan tegas."


"Maaf. Gue nggak akan ulangi lagi." Ucap Qiara bersungguh-sungguh saat menyadari bahwa Danny juga sedang bersungguh-sungguh.


"Gimana? Masih sakit?"


Qiara menggeleng lantas menjawab, "udah nggak kok."


Danny tersenyum sembari mengangkat tangan kanannya agar Qiara menyambutnya. "Makan, yuk! Gue lapar."


Qiara mundur selangkah. Tiba-tiba ia ingin balas dendam. "Elo ketua Osis. Jadi bertingkahlah selayaknya ketua Osis."


Danny mendengus. Ia akhirnya menggenggam paksa tangan Qiara. Lagi pula, sekolah sudah cukup sepi karena memang ini sudah lewat jam pulang. Tidak akan ada yang menangkap basah mereka sekalipun mereka berpegangan tangan sekarang.


"Siapa yang peduli? Gue sekarang lagi mode pacar lo, bukan ketua Osis." Ucap Danny tak acuh lalu segera membawa Qiara pergi.


Qiara berdesis sinis, tapi tetap pasrah saja mengikuti Danny.


...****...


Desember, 2010...


"Qi, kalo gue menang tanding futsal hari ini, lo jadi pacar gue, ya?"


Pinta Danny dengan sepenuh hati seraya menatap lekat-lekat pada sepasang bola mata cokelat milik Qiara.

__ADS_1


Qiara terhenyak.


Danny memang pernah menyatakan perasaannya pada Qiara lima bulan yang lalu. Tetapi saat itu, Qiara terlalu terkejut dengan pengakuan mendadak Danny. Itulah kenapa Qiara tidak mengatakan apapun pada Danny. Hari-hari berlalu, Danny pun tidak pernah lagi mengungkit soal pengakuan itu hingga akhirnya membuat Qiara bingung dan meragukan kesungguhannya. Namun di sisi lain, Qiara merasakan sedikit kelegaan. Karena setidaknya dengan begitu, ia tidak perlu mencemaskan bahwa persahabatannya dengan Danny bisa saja rusak jika nanti mereka berpacaran lalu putus.


Tetapi saat ini, Danny lagi-lagi mengejutkannya dengan secara langsung meminta Qiara untuk menjadi pacarnya.


Qiara mengangkat wajahnya, tepat sebelum ia menjawab, salah satu rekan tim Danny tiba-tiba memanggilnya ke tengah lapangan untuk berkumpul karena sebentar lagi pertandingan antar-sekolah akan segera dimulai.


Danny menyunggingkan seulas senyuman yang begitu manis untuk Qiara. Dan hal yang Danny lakukan itu, mau tidak mau akhirnya membuat jantung Qiara bedebar dengan sangat kencang. Danny kemudian mengusap puncak kepala Qiara dengan tatapan yang masih sama. "Hari ini gue pasti menang buat elo, Qi!"


Danny melangkah mundur tanpa sedikitpun mengalihkan tatapannya dari Qiara yang terlihat sudah kehabisan kata-kata. Senyuman di wajah Danny kemudian berubah menjadi sebuah seringai jahat saat tiba-tiba satu ide jahil menyapa otaknya. Danny pun tanpa tahu malu dan tanpa keraguan sedikitpun mengangkat kedua tangannya di atas kepala hingga membentuk tanda hati.


Kedua mata Qiara membelalak kaget, namun senyuman di wajah Danny kian melebar. Danny pun berbalik, lalu berlari ke tengah lapangan dengan tekad kuat untuk memenangkan pertandingan itu.


...****...


"PRIIIIT"


Tiupan panjang peluit dari seorang wasit mengakhiri pertandingan hari itu. Danny melangkah gontai sambil menunduk menuju tepi lapangan. Tidak seperti yang diharapkannya sebelumnya, timnya gagal memenangkan pertandingan hingga membuat Danny kecewa pada dirinya sendiri. Pupus sudah keinginannya untuk menjadikan Qiara pacarnya.


Di saat kecewanya itu, Qiara tahu-tahu menghalangi jalannya seraya menjulurkan sebotol air mineral untuk Danny. Danny tertegun selama beberapa detik sebelum akhirnya mengangkat wajahnya lalu menatap Qiara yang sedang tersenyum hangat padanya, seolah memberikan Danny semangat dan mengatakan bahwa Danny sudah melakukan yang terbaik melalui pandangan matanya.


Danny tersenyum. Ia menerima minuman itu lalu berkata, "thanks, Qi"


"Sama-sama." Jawab Qiara singkat.


"Ya udah, gue masuk dulu, ya? Ada briefing sebentar. Lo tunggu di sini."


Qiara hanya mengangguk dan membiarkan Danny melewatinya.


Sekitar tigapuluh menit kemudian, hari mulai beranjak sore. Suasana lapangan indoor tempat pertandingan dilaksanakan pun sudah mulai sepi saat satu per satu orang-orang meninggalkan tempat itu. Sementara Qiara, ia dengan setia menunggu kedatangan Danny di salah satu kursi di tribun penonton.


Untuk membunuh jenuh, Qiara memainkan kedua kakinya mengikuti irama musik yang terdengar melalui sebuah headphone putih yang melingkar di kedua telinganya. Tidak lama kemudian sepasang kaki tiba-tiba berhenti tepat di depan kakinya. Qiara membuka headphone-nya lalu mengangkat wajahnya. Saat itulah ia tahu, bahwa Danny lah yang sedang berdiri di hadapannya sekarang. Raut sendu bahkan menghiasi wajah tampan itu.


"Maaf, ya, lo jadi nunggu lama." Gumam Danny. "Pulang, yuk!" Lanjutnya kemudian sembari mengulurkan tangannya.


Qiara memasang wajah berfikir. Ia terlihat seperti sedang menimbang sesuatu sebelum akhirnya menyambut uluran tangan Danny lalu berdiri berhadapan dengan pemuda itu. Suasana hening untuk beberapa saat. Danny tertegun memandangi wajah cantik gadis di depannya ini. Entah kenapa dalam pandangan Danny, semakin hari, Qiara terlihat semakin cantik.


Danny menggeleng samar, berusaha menepikan semua perasaan gelisah yang menghantui sudut hatinya. Lalu, saat ia hendak melepaskan tangan Qiara dari genggamannya, Qiara justru semakin erat menggenggam tangannya. Tentu saja Danny heran dengan apa yang dilakukan Qiara. Karena itu, Danny hanya bisa menampakkan pandangan bertanya pada Qiara.


"Ayo, kita pacaran saja!" Ucap Qiara dengan penuh keyakinan, menjawab semua tanya yang Danny lemparkan secara tersirat.


Butuh waktu yang tidak sebentar untuk Danny sampai akhirnya otaknya bisa memproses apa yang baru saja dikatakan oleh Qiara. Namun meski begitu, hatinya masih meragu. Ia takut salah dengar.


Qiara yang bisa menangkap semua keraguan Danny dengan baik, secara tiba-tiba mendaratkan sebuah kecupan singkat di pipi kiri Danny. Di luar kendalinya, kedua pipi chubby-nya merona merah dan membuat Danny yang melihatnya jadi ikut tersipu.


Sekarang, mereka sudah resmi berpacaran.

__ADS_1


__ADS_2