
Karena tidak ingin menerima banyak pertanyaan dari yang lainnya dan harus menjelaskan posisinya, Qiara akhirnya memutuskan untuk menghindar sementara waktu. Ia ikut bersama Dean kembali ke Pulau Banu dan menginap di salah satu kamar hotel yang Dean kelola itu.
Dan semenjak kembali dari Shanghai, Qiara terus mengurung diri dalam kamar, merenungkan segala hal yang terjadi. Dan sejak ia kembali dari Shanghai juga, Danny tidak sekalipun menghubunginya. Di ujung keputusasaannya, Qiara masih berusaha untuk mempercayai Danny, dan menunggu penjelasan dari sisi Danny.
Namun, saat mendapati bahwa Danny tidak menghubunginya lagi sejak terakhir kali di Shanghai dua hari lalu, Qiara tidak bisa berbohong pada dirinya sendiri, ia mulai khawatir. Ia mulai merasa takut dengan segala yang ada di sekelilingnya.
Satu kemungkinan terburuk pun sudah terbersit di kepalanya. Kemungkinan bahwa bisa saja, pernikahannya dengan Danny tidak akan terjadi bulan depan. Qiara terpukul atas satu kemungkinan itu. Ia terjatuh dalam kubangan rasa sakit yang meretakkan hatinya, nyaris menghancurkannya.
Lalu ingatan saat ia selalu mengatakan bahwa dia mencintai Danny, namun tidak satupun mendapatkan jawaban yang sama dari Danny, semakin memperparah keadaannya sekarang.
Qiara terduduk di sudut kamar mandi setelah menyalakan shower. Lalu dengan masih menggunakan dress tidurnya yang berwarna putih, Qiara menangis dengan suara isak yang teredam. Membiarkan satu per satu air matanya, terguyur bersama air, tapi tidak kesakitan dan kekhawatirannya.
Saat Qiara sedang menikmati setiap rasa sakit yang menggerogoti jantungnya, Celine tiba-tiba saja datang dan membuka pintu kamar mandi. Celine terperanjat sebelum akhirnya buru-buru menghampiri Qiara, mematikan shower, lalu duduk dan memeluk tubuh Qiara yang sudah menggigil kedingingan.
"Qi, maafin gue. Maaf karena gue nggak nyampein kecurigaan gue sama lo dan membiarkan lo ke Shanghai tanpa tahu apapun." Lirih Celine dengan penuh sesal.
"Cel... gue tetep nikah sama Danny, kan? Bulan depan, Danny akan jadi suami gue, kan? Iya, kan, Cel?" Ujar Qiara dengan suara bergetar.
Setiap kata yang ia ucapkan, entah kenapa terasa seperti lemparan-lemparan batu yang menghujam jantungnya.
Celine mengangguk. Air matanya pun menetes perlahan melihat keadaan Qiara sekarang.
__ADS_1
"Akan gue pastiin kalian menikah. Bila perlu, gue sendiri yang akan menyeret Danny ke altar. Lo percaya gue, kan? Hm?"
Isak yang sejak tadi diredam oleh Qiara akhirnya pecah dalam dekapan Celine. Setidaknya di hadapan Celine, Qiara tidak akan menyembunyikan apapun. Ia akan menangis sejadi-jadinya. Ia akan menumpah-ruahkan air matanya sebanyak yang ia bisa.
...****...
Besoknya, setelah selesai dengan pekerjaannya, Danny kembali ke rumah sakit untuk memeriksa keadaan Pricilla. Semalam, Mia sempat menghubunginya dan mengabarkan bahwa Pricilla sudah melalui masa kritisnya.
Sebelum memasuki ruangan Pricilla, dari celah kaca di pintu, Danny dapat melihat Pricilla yang saat itu sedang duduk dia atas kasur sambil menghadap hampa ke arah jendela. Sementara Mia dengan setia duduk di sofa, memantau setiap pergerakan yang Pricilla lakukan.
Danny membuang semua keraguannya lalu membuka pintu. Di saat itu juga, Pricilla langsung menoleh ke arahnya dan menatap Danny dengan satu senyuman di bibirnya.
"Dann? Kamu dateng?"
"Gimana keadaan kamu?" Danny duduk di kursi kosong yang terletak di samping tempat tidur Pricilla.
"Seperti yang kamu lihat." Jeda sesaat, "maaf sudah membuat keributan." Lanjutnya kemudian.
Danny tidak mengatakan apapun dan hanya menunduk saja sambil tersenyum tipis. Tidak lama kemudian, tangan kanan Danny bergerak lalu meraih pergelangan tangan Pricilla yang terbaluti oleh perban. Danny mengusapnya dengan lembut. Sedangkan Pricilla, ia hanya terdiam sembari menatap Danny dengan penuh keheranan.
"Maaf, karena membiarkan kamu melewati tiga tahun yang berat ini sendirian. Meskipun aku nggak pernah bersikap baik sama kamu sejak tiga tahun yang lalu, tapi aku salah satu orang yang ingin melihat kamu menjalani hidup yang bahagia, tanpa tekanan, tanpa perasaan depresi. Tapi satu hal yang nggak pernah aku sadari adalah, akulah yang jadi penyebab dari rasa sakit terbesar kamu. Maaf."
__ADS_1
"Dann─"
Pricilla tercekat saat tiba-tiba Danny bangkit dari kursinya lalu memeluknya. Dengan penuh kelembutan, Danny membelai rambut Pricilla. Berbeda seperti sebelumnya, kali ini Pricilla dapat merasakan kehangatan dan sebuah ketulusan mengalir dari pelukan Danny.
...****...
Malam sebelumnya...
Danny dan Mama Pricilla duduk berdampingan di kursi tunggu yang terletak di depan ruangan Pricilla. Sejak tiga menit yang lalu, tidak satupun dari mereka yang berinistiatif untuk membuka obrolan.
Saat Danny akan pergi dari rumah sakit beberapa saat yang lalu, Clarissa tiba-tiba memanggilnya. Satu hal yang Danny tangkap adalah, tidak ada tekanan kemarahan yang terdengar saat Clarissa memanggil namanya. Bahkan ketika Danny berbalik dan menatap tepat pada kedua manik matanya, Danny dengan jelas menangkap sebuah keletihan dari sorot yang biasanya tampak angkuh itu.
"Saya mungkin kurang perhatian pada puteri saya karena semua ambisi-ambisi saya selama ini, tapi satu hal yang saya tahu selama tiga tahun ini adalah, tidak seharipun puteri saya tidak memikirkan kamu. Dia selalu membayangkan hari-hari dimana kalian akan bertemu kembali, dan dia siap melepaskan segalanya untuk kembali sama kamu. Hal itu yang membuat saya sangat marah, hingga semakin menekan dia dari segala arah."
Danny tidak mengatakan apapun. Ia bahkan masih menundukkan pandangannya.
"Saat umurnya masih duabelas tahun, Pricilla menyaksikan sendiri perselingkuhan yang saya lakukan dengan seorang laki-laki yang usianya lebih muda dari saya. Hal itu sangat menyakitinya karena dia tahu, bahwa betapa Papanya sangat mencintai saya. Dia kecewa, tapi tidak bisa mengatakan atau melakukan apapun saat saya merebut dia dari Papa kebanggaannya. Dia menahan segala kesedihannya selama bertahun-tahun dan hidup sebagai anak yang penurut, hingga akhirnya, pada suatu hari kamu hadir di hidup dia, dan membawanya mengenal hal-hal yang tidak pernah ia ketahui sebelumnya. Untuk pertama kalinya sejak perceraian kedua orang tuanya, Pricilla bisa tersenyum dan tertawa lepas. Saat itulah saya tahu, bahwa kamu sangat berharga untuk Pricilla."
Clarissa tersenyum hangat di sela-sela ceritanya. Tetapi Danny masih tidak mengatakan apapun. Tentu saja dia tahu semua cerita itu dengan sangat baik.
"Untuk itu Danny─"
__ADS_1
Clarissa dan Danny mengangkat wajah mereka secara bersamaan lalu saling menatap satu sama lain. "Saya mohon, setidaknya sampai Pricilla pulih tolong dampingi dia. Saat ini, satu-satunya orang yang dia butuhkan adalah kamu. Jadi, tolong tetap di sampingnya untuk saat-saat ini. Dan kamu bisa pergi setelah itu."
^^^To be continued...^^^