Kutukan Cinta Pertama

Kutukan Cinta Pertama
55. Tekad


__ADS_3

November, 2018....


"Papa, Dean... Danny sudah sadar."


Qiara yang saat itu akan membuka pintu hendak masuk ke dalam ruang perawatan Danny, seketika mengurungkan niatnya saat mendengarkan ucapan Faradina. Ia merasakan seluruh tubuhnya bergetar. Di satu sisi ada perasaan lega dan syukur yang tidak terhingga begitu tahu bahwa Danny sudah sadar, namun pada sisi yang lainnya, Qiara merasa tidak memiliki keberanian sama sekali untuk masuk dan bertatapan langsung dengan Danny.


Maka Qiara pun hanya berdiri gamang di depan pintu sambil terus melihat Danny dari celah kaca seraya menitikkan air mata.


Qiara akhirnya dapat terlepas dari keterpanaannya saat seorang Dokter dengan diikuti oleh dua orang perawat datang lalu masuk ke dalam ruangan. Qiara pun dapat melihat sosok Danny dengan lebih jelas saat pintu terbuka sepenuhnya. Saat itulah, dalam sepersekian detik matanya secara tidak sengaja bertubrukan dengan mata Danny. Qiara pun buru-buru menghindar sebelum Danny menyadari keberadaannya.


Tidak berselang lama, Dean keluar dari dalam ruangan Danny kemudian menghampiri Qiara yang berdiri kaku dan bersandar pada tembok.


"Qi, nggak mau lihat Danny?" Dean bertanya hati-hati seraya menundukkan wajahnya sedikit agar bisa melihat ke dalam mata Qiara.


Setelah cukup lama terdiam, Qiara menggeleng. Ia pun lantas menghapus jejak air mata di wajahnya sebelum akhirnya menatap Dean dengan satu senyuman yang terkesan dipaksakan.


"Aku lega karena Danny sudah sadar dari komanya. Sekarang... tugas aku untuk menemani Danny sudah selesai."


"Qiara..."


"Qia minta tolong sama Kak Dean, tolong jangan bilang apa-apa ke Danny, ya? Jangan bilang ke Danny kalau selama satu bulan ini Qia ada di sini. Qia nggak mau semakin membuat Danny ngerasa berat untuk ngelepas Qia. Tolong katakan pada Danny, untuk tetap melanjutkan hidupnya."


...****...


Alisha baru saja datang dan bergabung bersama Arga dan Celine saat seseorang tiba-tiba saja menghubunginya. Melihat nama Bastian yang tertera di layar ponselnya, Alisha langsung mengambil gerak cepat untuk mengangkat panggilan itu sebelum ia sempat duduk di kursinya.


Melihat Alisha yang terlihat seperti orang yang sedang tertekan, Arga dan Celine langsung saling menatap satu sama lain.


Hari itu, mereka bertiga sedang berkumpul di sebuah resto untuk makan siang bersama. Sejak Qiara pergi, Alisha lah yang seakan menggantikan satu tempat kosong milik Qiara. Alisha bahkan bisa dibilang sudah cukup dekat dengan Celine dan Windy.


"Gara-gara elo nggak mau macarin Icha, nih. Icha jadi jatuh ke pelukan orang yang salah. Kasihan dia. Sejak jadian sama Bastian, hidupnya kayak tertekan banget." Tutur Celine sambil menatap Arga dengan jengkel.

__ADS_1


Sementara Arga, ia tidak membalas ucapan Celine sama sekali, dan hanya melihat ke arah Alisha yang sedang berbicara dengan Bastian melalui telepon. Arga tidak bisa mengelak, ia harus setuju dengan perkataan Celine. Alisha memang terlihat agak tertekan semenjak berpacaran dengan Bastian setahun yang lalu.


Sebenarnya, semalam Arga sempat memergoki Bastian yang sedang bersama wanita lain di sebuah club. Merasa bahwa Alisha dipermainkan oleh pria itu, Arga yang marah langsung menghadiahi Bastian dengan pukulan-pukulannya. Dari sana, Arga bisa sedikit menarik kesimpulan, bahwa mungkin saja Bastian menghubungi Alisha karena kejadian semalam.


"Apa yang kamu lakukan sama Bastian semalem?" Alisha bertanya pada Arga begitu ia menghampiri mejanya setelah Bastian memutuskan sambungan telepon terlebih dulu.


"Cha, Bastian itu cowok berengsek! Dia selingkuh sama cewek lain–"


"Bukan urusan kamu, Ga!" Alisha menyela dengan marah. Sementara Celine yang ada di antara mereka hanya menyimak.


"Cha, sebaiknya kamu duduk dulu. Oke? Kita bicarain ini baik-baik."


Saat Arga akan menuntun Alisha untuk duduk kembali di kursinya, Alisha justru menepis tangannya dengan kasar.


"Sejak kapan kamu mau repot-repot peduli sama perasaan aku, Ga? Tujuh tahun aku suka sama kamu. Tujuh tahun juga aku menunggu kamu, tapi apa kamu pernah peduli dengan semua itu? Sekarang, kenapa kamu tiba-tiba peduli saat pacar aku selingkuh? Kenapa kamu harus masuk dan ikut campur ke dalamnya?"


"Aku nggak mau kamu disakitin sama cowok itu, Alisha."


"Tapi kamu juga nyakitin aku selama tujuh tahun ini dengan mengangggap bahwa penantian aku nggak ada artinya, Arga! Kamu nggak ada bedanya sama Bastian."


"Untuk sementara aku mau sendiri. Tolong, jangan hubungi aku, atau mengganggu aku untuk sementara waktu."


Alisha meraih tasnya di kursi sebelum ia melangkah keluar dari resto dengan perasaan yang kacau-balau.


Alisha akui, selama berpacaran dengan Bastian, Alisha memang tidak memiliki perasaan yang terlalu mendalam pada pria itu. Mungkin itulah yang menjadi salah satu celah bagi Bastian untuk selingkuh dengan wanita lain.


Satu-satunya hal yang membuat Alisha begitu marah sekarang adalah, kenyataan bahwa Arga sudah ikut campur dalam masalahnya dan membuat Alisha merasa sangat menyedihkan di hadapannya. Itulah yang paling membuat Alisha terluka sekarang.


Saat Arga akan mengejar Alisha keluar, Celine buru-buru mencekal pergelangan tangannya untuk menghentikannya.


"Ga, udah! Elo nggak denger Icha bilang apa tadi? Dia mau sendiri. Dia nggak mau diganggu. Lo harus hargai itu."

__ADS_1


"Tapi, Cel–"


"Lo bisa temui Icha kapan saja, tapi jangan hari ini."


...****...


"Semalem lo kemana? Kenapa telepon gue nggak diangkat?" Cecar Dean begitu melihat Danny memasuki rumah dengan masih mengenakan pakaian yang semalam ia kenakan.


Sejak kejadian di kedai semalam, Danny memang tidak pulang. Dean terus meneleponnya untuk menanyakan keberadaannya, tetapi Danny justru tidak mengindahkan panggilan Dean. Alhasil, Dean yang cemas memutuskan untuk menunggu kepulangan Danny sampai pagi. Ia bahkan tidak tidur setelah sebelumnya sibuk berkutat dengan pekerjaannya di hotel.


Namun alih-alih menjawab pertanyaan Kakaknya, Danny malah dengan cueknya melangkah ke arah kulkas, menenggak hampir setengah botol besar air mineral. Sehabis itu, ia pun pergi ke kamarnya. Jengah dengan kelakuan Danny, Dean segera menyusulnya.


"Apa lo akan bersikap seperti gue yang dulu sekarang? Apa ini bentuk protes lo?"


Ketika Dean menanyakan dua pertanyaan itu, Danny sedang membuka bajunya untuk bersiap-siap mandi. Di saat itulah, secara tidak sengaja, perhatian Dean tertuju pada cincin milik Qiara yang dikalungkan oleh Danny. Dean menahan nafas untuk beberapa saat.


Jauh di dasar hatinya yang terdalam, ada perasaan tidak tega yang menghantui Dean. Tetapi untuk saat ini, rasa tidak ingin menyerah Dean masih jauh lebih besar dan kuat dari perasaan tidak teganya.


"Danny, jawab kalau Kakak lo sedang bertanya! Jangan bertingkah seperti anak kecil!" Dean memperingatkan dengan cukup keras.


"Lalu, apa tindakan yang lo lakukan sekarang adalah tindakan yang sepatutnya dilakukan oleh seorang kakak terhadap adiknya?" Danny menatap Dean tajam dengan deru nafas naik-turun. Ia seperti sudah muak menahan segalanya sejak semalam.


"Nggak peduli seberapa besar perasaan lo pada Qiara, apa lo sampai harus melakukan hal sejauh ini? Dia dulunya calon isteri dari seseorang yang lo sebut adik. Lo tahu gue nungguin dia selama ini, lo saksi bagaimana setiap detik sejak dia pergi, gue nggak berhenti mikirin dia, lo tahu hampir setiap malam dada gue sakit karena merindukan dia, lo tahu dengan jelas, kalau gue hampir gila karena sangat ingin melihat dia, tapi apa yang lo lakukan? Elo menusuk gue dari belakang, Kak! Bertahun-tahun gue berusaha buat ngejaga perasaan lo, gue bahkan sampai harus mutusin Qiara demi lo di masa lalu di saat gue lagi sayang-sayangnya sama dia, tapi apa ini? Lo berharap gue bereaksi seperti apa? Lo mau gue berbahagia untuk hal ini, dan mengucapkan selamat untuk kalian? Itu yang lo mau?"


"GUE NGGAK PERNAH MINTA LO BERKORBAN BUAT GUE, DANNY!!" Suara Dean meninggi. Ia tidak ingat, kapan terakhir kali ia merasa semarah ini pada Danny.


Danny terdiam.


"Saat itu, lo seharusnya nggak mutusin Qiara dengan sengaja nyakitin perasaan dia. Lo seharusnya tetep bersama dia, lo seharusnya nggak pernah ngacauin semua yang sudah kalian mulai. Atau kalau lo memang niat berkorban buat gue, lo seharusnya melepaskan dia sepenuhnya. Tapi saat itu, lo malah menahan dia. Lo memperlakukan dia seperti barang yang bisa lo lempar ke siapa saja, lalu saat lo menginginkan dia, lo akan merebutnya kembali. Sekarang katakan, apa gue salah?"


Danny masih diam. Namun tatapannya pada Dean masih setajam tadi.

__ADS_1


"Berhenti playing victim, dan sebaiknya mulai terima keadaan lo sekarang! Jangan lagi menyakiti Qiara karena ego lo. Jangan buat dia menangis lagi setelah segala hal yang dia lewati selama tiga tahun ini. Bukan hanya lo yang menderita selama kurun waktu itu, tapi Qiara juga merasakan hal yang sama. Ini nasihat gue sebagai seorang kakak, kalau lo nggak bisa memberikan kebahagiaan buat dia, seenggaknya jangan membuat dia menderita."


^^^To be Continued...^^^


__ADS_2