
Sejak malam itu, Danny benar-benar menjaga jarak dari Qiara. Tidak seperti ketika mereka bertengkar biasanya, kali ini Danny sepenuhnya membentang sekat di antara mereka. Ia bahkan menghindari untuk berkumpul bersama yang lainnya hanya demi menjauhi Qiara dan menjaga perasaan Prissy.
Awalnya, Qiara berusaha untuk tidak peduli. Tapi lama kelamaan ia merasa jengah juga diperlakukan seperti seseorang yang sedang menderita penyakit menular yang mematikan oleh Danny. Untuk kesekian kalian, lagi-lagi Danny menoreh kecewa di hatinya.
Ya, Qiara seharusnya ingat, bahwa Danny memang pandai dalam hal mengecewakannya.
Karena tidak tahan dengan sikap kedua orang bodoh itu, Celine dan Arga yang selama ini diam dan hanya menjadi pengamat, akhirnya menyusun sebuah rencana untuk mempertemukan Danny dan Qiara dengan tujuan supaya mereka bisa berbicara satu sama lain untuk menyelesaikan masalah mereka. Mereka memilih untuk menjalankan rencana itu tanpa sepengetahuan apalagi persetujuan dari Danny dan Qiara. Arga dan Celine bahkan sudah siap, jika nantinya Danny atau Qiara akan marah pada mereka.
Rumah Arga pun dijadikan sebagai tempat eksekusi.
"Kita mau ngapain si─" Qiara yang baru saja datang ke rumah Arga, seketika tidak melanjutkan kalimatnya begitu melihat sosok Danny ada di antara mereka.
Qiara terperanjat, begitu juga dengan Danny yang sama sekali tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya melihat kehadiran Qiara. Mereka saling menatap dalam hening, sampai akhirnya Danny mengambil inisiatif untuk pergi.
"Gue harus pergi sekarang." Ujar Danny tanpa mengalihkan pandangan mata dinginnya dari Qiara.
Danny lalu bangkit, ia sama sekali tidak menghiraukan perkataan Arga dan Celine yang memintanya untuk tidak pergi dulu.
Namun, langkah Danny tiba-tiba berhenti ketika ia merasakan Qiara menyentuh bahunya untuk mencegatnya. Dengan pelan, Danny mengangkat wajahnya lalu menatap Qiara di depannya. "Apa lo lupa? Lo masih punya hutang penjelasan sama gue."
Danny mendesah pelan, ketika sorot mata Qiara seakan menghipnotis dirinya dan membuatnya tidak bisa lagi mengelak dari gadis ini.
"Ikut gue!" Titah Qiara dengan tegas, lalu berjalan mendahului Danny.
Danny terlihat menimbang, sebelum akhirnya ia melangkah, mengikuti Qiara yang sudah keluar dari rumah Arga terlebih dulu.
...****...
"Apa menyenangkan buat lo melihat gue bertingkah seperti orang bodoh selama beberapa hari ini?" Desis Qiara dengan tajam.
Danny bergeming.
Saat itu, mereka berdua sudah berdiri berhadapan di lapangan komplek rumah mereka.
"Lo selalu marah setiap kali kita ada masalah dan gue menghindar. Tapi sekarang coba lihat apa yang lo lakukan? Apa lo akan selalu bersikap seenaknya sama gue?"
__ADS_1
Danny masih bergeming. Dalam situasi yang membuatnya terpojokkan itu, Danny tahu-tahu mengeluarkan sebungkus rokok beserta pemantik dari kantong jaketnya. Danny sengaja melakukan hal itu, karena tahu bahwa Qiara sangat tidak menyukainya.
Qiara berdesis sinis. Rupanya pemuda menyebalkan ini memang sengaja ingin membuatnya marah. Ia tahu, bahwa Qiara benci melihatnya merokok, itulah kenapa ia melakukan hal itu sekarang di depan matanya.
Saat Danny hendak menghisap rokok itu dan akan menyalakannya, Qiara dengan gerak cepat meraihnya lalu mematahkan rokok itu dengan tangannya.
"Sekarang, jelasin apa yang seharusnya lo jelasin!" Pinta Qiara dengan mata berkaca. Sepertinya Danny sudah berhasil membuatnya marah.
"Kalau itu soal ucapan gue sama Patton di lapangan futsal waktu itu, gue nggak ada maksud apapun. Gue ngaku kalau kita masih pacaran karena gue nggak mau ribet ngejelasin soal kita putus, atau kenapa kita putus." Jawab Danny dengan nada dingin. Ia bahkan tidak menatap lawan bicaranya sama sekali.
Qiara mendengus, lalu tertawa sinis setelahnya. Dari bagaimana cara Danny menjawab pertanyaannya, sudah sangat jelas bahwa Danny terlalu menggampangkan dirinya selama ini.
"Sekarang, coba jelasin lagi. Kenapa lo terus ngejauhin gue?"
Air mata Qiara sudah tertahan sempurna di pelupuk matanya. Tinggal tunggu waktu saja sampai buliran air mata itu merembes keluar dan menjebol pertahanannya.
"Karena kalau gue nggak ngejauhin lo, gue akan terus nyakitin hati Prissy."
"Terus, nggak apa-apa kalau lo nyakitin hati gue? Itu yang lo maksud?"
"Qi─"
"ITU KARENA LO SELALU BERHARAP SAMA GUE, QI! SEANDAINYA LO NGGAK BERHARAP LEBIH, PERSAHABATAN KITA MUNGKIN AKAN KEMBALI LAGI SEPERTI DULU." Ucap Danny dengan nada meninggi.
Apa yang baru saja ia ucapkan pada Qiara, lepas begitu saja tanpa ia menghendaki.
"SIMPLE, KAN? GUE LAGI YANG SALAH PADA AKHIRNYA." Balas Qiara dengan nada suara yang sama tingginya.
"Terus, kalau lo masih sayang sama gue sampai hari ini, apa gue harus bertanggung jawab untuk itu?"
Telak! Danny sukses memukul telak jantungnya dengan kalimat terakhir yang ia ucapkan. Qiara benar-benar merasa sesak sekarang. Namun satu-satunya hal yang membuatnya lega adalah; ia masih bisa menahan air matanya dan tidak menumpahkannya di hadapan pecundang ini.
Danny bahkan seratus kali lebih jahat dari apa yang dapat terfikirkan olehnya selama ini.
Dan lihat! Apa yang baru saja dikatakannya? Dia tahu Qiara masih menyimpan perasaan padanya, tapi dia terus-terusan dengan sengaja memberikan Qiara harapan dengan berkedok persahabatan? Dari mana Danny berlatih untuk menyakiti hati seseorang sampai tingkat separah itu?
__ADS_1
Sumpah demi apapun, Qiara butuh seseorang untuk menyelamatkannya dari situasi ini. Ia tidak ingin menangis di hadapan Danny sekarang.
Ia ingin pergi dari hadapan Danny. Tapi kekuatannya sudah habis. Ia tidak sanggup untuk bergerak. Ia bahkan tidak memiliki tenaga untuk sekedar bernafas sekarang. Sorot mata tegarnya kini mulai bergetar. Sementara Danny, masih meghujamnya dengan tatapan dingin.
Harapan Qiara kemudian menjelma nyata, saat secara tiba-tiba Dean muncul lalu melayangkan sebuah pukulan yang cukup keras di wajah Danny, adiknya sendiri.
Pukulan keras yang dihadiahi Dean, sukses membuat Danny jatuh tersungkur tepat di hadapan mereka. Dean lantas meraih salah satu tangan Qiara, lalu membiarkan gadis itu menyembunyikan wajahnya di bahunya yang kokoh.
"Kalau lo nggak bisa bersikap baik sama pacar dan sahabat lo sekaligus, maka jangan sakiti salah satunya. Bila perlu... lepasin salah satunya." Desis Dean dengan tajam.
Saat itu juga, air mata yang Qiara tahan setengah mati, akhirnya tumpah. Dan ya, Danny berhasil membuatnya merasa seolah-olah apa yang terjadi selama ini adalah salahnya.
Qiara merasa sangat menyedihkan sekarang.
...****...
Setelah menenangkan Qiara dan mengantarnya pulang, Dean segera kembali ke rumah. Saat ia melewati kamar Danny, tanpa sengaja perhatiannya tertuju pada pintu kamar Danny yang terbuka. Di dalam sana, Dean dapat melihat Danny yang sedang duduk termenung di bawah tempat tidurnya.
Dean menghela nafas. Awalnya ia ingin untuk tidak memperdulikan Danny. Namun lagi-lagi, sesuatu yang tidak ia pahami, menggerakkan tubuhnya dari dalam.
Dean mengambil kotak P3K di atas meja. Ia lalu masuk ke dalam kamar Danny dan duduk di sisi adiknya tanpa mengatakan apapun.
Sementara Danny, begitu ia menyadari kehadiran seseorang di sampingnya, ia langsung menoleh dan sedikit tercengang melihat Dean, yang untuk pertama kalinya masuk ke dalam kamarnya dan duduk di sebelahnya.
"Kak Dean?"
Dean yang masih tidak berminat mengeluarkan suaranya, dengan sangat telaten meneteskan beberapa tetes obat merah di atas secarik kapas lalu sedikit menekannya pelan pada area sekitar luka di tepi bibir Danny. Luka itu adalah hasil dari tonjokkan yang beberapa saat lalu Dean hadiahkan untuk Danny.
Beberapa saat kemudian, Dean keluar dari kamar Danny untuk beberapa menit. Setelah itu ia pun kembali lagi dengan membawa sebuah ice bag untuk mengompres luka lebam di wajah Danny. Begitu Dean akan mengompresnya, Danny langsung menahan tangan Dean seraya berkata, "biar gue aja."
Dean tetap tidak mengatakan apapun, hingga akhirnya Faradina tiba-tiba muncul.
"Astaga Danny! Kamu kenapa?" Ucap Faradina dengan panik sambil memalingkan wajah Danny agar bisa melihat luka memarnya dengan jelas.
Baru saja Dean akan mengakui perbuatannya, Danny buru-buru berkata, "tadi jatuh pas main futsal, Ma. Muka Danny kena lemparan bola juga."
__ADS_1
Faradina tampak sanksi mendengar jawaban putranya. Ia pun lantas menatap Dean, berusaha menemukan kepastian. Namun, Dean hanya menunjukkan wajah datarnya. Setelahnya, ia kembali melihat Danny, "sekeras apa lemparannya sampe bikin muka kamu bonyok begini?"
^^^To be Continued....^^^