Kutukan Cinta Pertama

Kutukan Cinta Pertama
6. The Dumbest Girl on Earth


__ADS_3

"Christa, lo bisa stop, nggak?" Ucap gadis berdagu tirus itu setelah merasa cukup lelah melihat Christa yang terus mondar-mandir di hadapannya sambil meracau tidak jelas, menyebut-nyebut nama seorang Pria.


"Gue nggak bisa diem aja, Cha. Gue baru sebulan jadian sama Arga, tapi dia tiba-tiba ngilang, terus tiba-tiba juga bilang kalau dia udah punya cewek. Sakit hati gue, Cha." Keluh Christa panjang lebar, yang semakin membuat kepala Alisha pusing hingga nyaris meledak karenanya.


Christa kemudian duduk di samping Alisha–sahabatnya yang saat itu sedang merebahkan tubuhnya di atas kasur.


"Kalau kayak gitu, berarti Si Arga itu emang cowok berengsek. Lo nggak usahlah sebegini menderitanya cuma karena cowok itu."


Merasa tidak terima dengan ucapan sahabatnya yang mengatakan bahwa Arga adalah cowok berengsek, Christa langsung menatap Alisha sambil memegang kedua bahunya dengan cukup keras. Mata Christa sudah terlihat berair sekarang.


"Cha, lo sahabat gue. Lo selalu pengertian sama gue, tapi kenapa sekarang lo malah ngomong kayak gini ke gue, Ichaaa? Gue sayang banget sama Arga, gue nggak mau kehilangan Arga. Apa gue nggak boleh patah hati?" Air mata Christa perlahan turun dan membuat perasaan Alisha praktis merasa tidak enak.


"Ta, Ta, lo jangan nangis dong. Gue cuma nggak mau ngeliat lo terus-terusan sakit kayak gini cuma karena cowok itu."


Christa kemudian menutup wajahnya dengan kedua tangannya dan menangis dengan suara yang cukup keras. Isakkan kuatnya pun terdengar hingga semakin membuat Alisha kelabakan sendiri.


"Aduuh Christa, kenapa tangisan lo makin kenceng, sih?"


Alisha lalu memeluk Christa dan berusaha menenangkannya sebisa mungkin. Dalam hati Alisha bertekad, jika ia bertemu dengan cowok bernama Arga itu, dia berjanji akan mematahkan tulang-tulangnya, tanpa ampun, tanpa belas kasih.


...****...


"Van, sorry gue telat. Tadi ada urusan mendadak." Ucap Qiara dengan nafas terengah. Ia lalu mengambil posisi di hadapan Vanno yang saat itu sedang menunggunya di sebuah café.


Vanno tidak menjawab. Ia hanya menatap Qiara dengan pandangan tidak terbaca.


"Ini buat gue?" Tanya Qiara setelah melihat segelas Kiwi Sparkling Soda di atas meja yang memang sudah Vanno pesankan untuknya.


Vanno hanya mengangguk sebagai jawaban. Qiara lalu tersenyum dan segera meminum Kiwi Sparkling Soda itu hingga tandas setengahnya. Ia benar-benar kehausan setelah berlari dari lantai tiga menunju lantai dua, tempat di mana Vanno menunggunya.


"Urusan mendadaknya abis nemenin Danny, ya?" Vanno akhirnya bersuara. Namun nada bicaranya terdengar tidak senang.


"Iya, nih. Itu anak ngerepotin banget." Jawab Qiara dengan santai. Ia masih belum peka dengan situasi.


Qiara lalu membuka ponselnya dan mengecek jadwal film yang akan tayang hari itu. Need For Speed ada dalam salah satu list, tapi Qiara memilih untuk melewatkannya karena tahu Danny akan menonton juga. Ia tidak ingin menjadi bahan olok-olokan Danny nantinya jika mereka berpapasan saat menonton.


"Kita nonton apa ya hari ini?" Tanya Qiara sambil tetap men-scroll layar smart phone-nya.


"Qi, gue mau putus!"


Jari Qiara yang sejak tadi aktif mengusap ponselnya seketika membeku. Segala rasa berkumpul jadi satu dalam dadanya sekarang, tapi patah hati bukan salah satunya. Sejak awal berpacaran dengan Vanno pun, Qiara memang tidak pernah menyimpan perasaan apapun pada pria ini. Ia hanya menjalani hubungannya tanpa mengharapkan apapun. Qiara juga tidak mau repot-repot melakukan usaha agar hubungannya bertahan.


"Oke, kalau itu emang mau lo."


Vanno tersenyum jengah, seakan tidak terima dengan jawaban Qiara. Dugaannya selama ini terjawab sudah, Qiara memang tidak pernah menyukainya sejak awal. Apa yang terjadi sekarang, bukan hanya soal hari ini. Semua ini adalah bentuk akumulasi dari perasaan kecewa yang Vanno rasakan selama enam bulan terakhir ini.


Enam bulan mereka berpacaran, namun dapat dihitung dengan jari intensitas pertemuan mereka yang sangat jarang. Qiara selalu sibuk dengan semua hal, kecuali Vanno.

__ADS_1


"Cih, apa semudah itu lo putus sama seseorang? Atau apa ini emang udah jadi kebiasaan lo?" Desis Vanno tajam.


Qiara yang semula hanya menampakkan wajah datarnya, kini mulai menunjukan reaksi. Kedua alisnya bertemu setelah mendengarkan perkataan Vanno. Namun, Qiara yang tidak ingin amarahnya terpancing, memilih untuk bangkit dari kursinya.


"Orang yang dicampakkan adalah gue sekarang. Kenapa lo malah bertingkah seolah-olah elo yang dicampakkan?"


"Karena elo yang membuatnya terlihat seperti itu. Lo nggak sadar? Elo yang udah bikin gue ngerasa tercampakkan sekarang!"


Qiara menganggukan kepalanya. Lalu berbalik pergi.


"Qiara tunggu!" Cegat Vanno dari tempat ia duduk sekarang.


Qiara berbalik dan melemparkan tatapan bertanya pada mantan kekasihnya itu.


"Jaket yang lo pake sekarang dari gue, kan? Balikin!" Ucap Vanno takut-takut setelah sebelumnya ia berdehem dan menggaruk belakang tengkuknya yang sama sekali tidak gatal.


Qiara berdesis sinis sambil memutar kedua bola matanya. Lalu tanpa mengeluarkan sepatah katapun, Qiara membuka jaket pemberian Vanno dan melemparkannya pada Vanno.


"Ambil nih. Gue nggak butuh."


...****...


Tawa Danny, Celine, dan Arga langsung pecah sesaat setelah Qiara menyelesaikan ceritanya tentang bagaimana hubungannya dengan Vanno berakhir. Tidak ada yang lebih konyol lagi bagi mereka. Arga bahkan dengan penuh keyakinan menasbihkan Qiara sebagai; 'The Dumbest Girl on Earth.'


Qiara hanya bisa pasrah melihat sahabat-sahabatnya yang begitu puas menertwainya.


"Waah, gue kagum sama Vanno. Dia bahkan minta lo buat bayar minum sendiri, hahaha," ujar Celine tanpa bisa mengontrol tawanya.


"Makanya, seharusnya tadi lo nemenin gue nonton biar hal kayak gini nggak kejadian." Tambah Danny.


Baru saja Qiara akan membalas ucapan Danny yang menyebalkan itu, Danny tiba-tiba merasakan ponselnya bergetar. Ia mengambil ponselnya di saku jaketnya lalu segera menjawab panggilan telepon yang ternyata datangnya dari Prissy.


"Hallo, Pris?" Sapa Danny sambil berlalu dan menjauh dari posisi sahabat-sahabatnya sekarang.


Qiara terus saja mengikuti setiap gerakan Danny dengan perasaan nelangsa. Dan tanpa dia sadari, Celine juga terus memperhatikan dirinya dalam diam. Wajah Celine yang sejak tadi cerah sekarang perlahan kusut. Di antara yang lainnya, Celine satu-satunya yang tahu bahwa Qiara sebenarnya masih menyimpan perasaan pada Danny. Qiara tidak pernah benar-benar bisa merelakan Danny meski sekeras apapun upaya yang dilakukannya selama dua tahun terakhir ini.


Celine tahu dengan benar, bahwa segala hal yang Qiara lakukan sekarang untuk menahan dirinya, adalah bentuk usaha yang ia lakukan untuk tetap bisa melindungi persahabatannya dengan Danny.


Lebih dari apapun, Danny dan Qiara sama-sama tidak ingin kehilangan satu sama lain... sebagai sahabat.


Setelah berkumpul di rumah Arga yang masih satu komplek dengan rumah mereka, Danny dan Qiara pulang bersama dengan berjalan kaki. Selama di perjalanan, Qiara terus tanpa henti menceritakan banyak hal pada Danny, sementara Danny hanya mendengarkan sembari terus menatap wajah gadis itu dari samping. Tetapi Qiara sama sekali tidak terganggu dengan hal itu meski menyadarinya. Karena Danny memang selalu menatap lawan bicaranya dengan cara yang sama.


"Qia, tunggu!"


Danny tiba-tiba mencegat lengan Qiara, dan Qiara secara otomatis menghentikan ocehan panjangnya begitu merasakan Danny mencegat lengannya.


"Kenapa?"

__ADS_1


Tanpa menjawab pertanyaan Qiara, Danny langsung berjongkok di depannya lalu mengikat tali sepatu milik Qiara yang terlepas. Danny tersenyum tipis. Setelah menyelesaikan pekerjaannya, ia mendongak menatap Qiara, "apa yang bakalan lo lakuin tanpa gue? Kenapa lo selalu seceroboh ini?"


Lidah Qiara mendadak kelu. Dan dalam sekejab, ia sudah berubah menjadi patung. Entah karena udara yang memang agak dingin malam ini, dan Qiara hanya menggunakan t-shirt tipis karena jaketnya telah diambil kembali oleh Vanno, ia langsung merasakan sekujur tubuhnya mendingin. Namun berbeda dengan yang dirasakan tubuhnya, wajahnya justru terasa panas selepas menerima perlakuan manis dari Danny.


Danny kemudian bangkit. Dengan sigap ia lalu membuka jaket yang ia kenakan dan memasangkannya di tubuh Qiara. Qiara terkesiap, berusaha menepikan semua perasaan yang mengusiknya sekarang.


"Lain kali, jangan pacaran sama cowok aneh kayak gitu. Bukan tindakan yang jantan membuat seorang cewek kedinginan kayak gini."


"Dann, nggak usah. Gue nggak apa-apa." Elak Qiara sambil berusaha menepis tangan Danny. Wajahnya semakin terasa panas. Semoga tidak memerah. Harapnya.


"Ck, ini bukan saat yang tepat untuk membantah. Paham?" Omel Danny.


Ia lantas menarik pelan kerah jaket yang sudah ia pasangkan di tubuh Qiara. Hal yang Danny lakukan itu akhirnya mau tidak mau membuat jarak wajah mereka menjadi agak dekat.


Qiara terperanjat. Nafasnya tercekat.


Namun, di saat-saat yang cukup menegangkan dan membuat jantung Qiara jumplitan di dalam sana, Danny justru terlihat biasa saja dan tampak tenang. Danny lalu terkekeh dan mengusap dahi Qiara seraya merutuk, "dasar bodoh!"


...****...


Januari, 2013...


"Kenapa lo terus ngehindarin gue, Qi?" Tanya Danny pada Qiara dengan emosi tertahan di setiap katanya.


Sejak mereka putus dua bulan yang lalu, Qiara terus saja menghindarinya. Otak Danny sebenarnya paham, kenapa Qiara sampai harus melakukan hal itu padanya, namun hatinya seakan menolak keras. Apapun keadaannya, ia tidak berfikir ia akan sanggup apabila keadaan di antara mereka akan terus seperti ini.


"Setelah apa yang terjadi sama kita, apa gue nggak boleh ngehindarin lo? Kita udah putus sejak dua bulan yang lalu, tapi lo terus memperlakukan gue seakan-akan gue masih cewek lo. Apa situasi itu normal buat lo?"


"Kita sahabatan, Qia." Ucap Danny memperingatkan.


"Lalu perlakukan gue seperti sahabat. Jangan membuat segala halnya menjadi rumit."


"Elo satu-satunya yang membuat segalanya jadi rumit sekarang." Desis Danny dingin yang justru balik menyalahkan Qiara.


Qiara tersentak. Ia pun mendadak kehabisan kata-kata.


Semua tahu, bahwa situasi mereka cukup rumit sekarang. Tidak ada yang mudah jika dua orang yang sudah terbiasa menjalin persahabatan, tiba-tiba saling jatuh cinta, kemudian berpacaran lalu putus. Situasi itu, bahkan kelewat rumit untuk bisa dijelaskan.


"Baik, karena gue satu-satunya yang membuat semuanya jadi rumit di sini, jadi... tolong lepasin gue." Nada bicara Qiara terdengar pelan, namun begitu menusuk. Ia bahkan tidak menatap pada lawan bicaranya.


"Kenapa gue harus ngelepasin lo? Jauh sebelum kita jadian dan kita putus, lo udah jadi sahabat gue. Nggak ada yang berubah. Semuanya cuma kembali seperti semula." Bantah Danny dengan keras kepala.


PLAK!


Sebuah tamparan mendarat dengan mulus di wajah Danny sesaat setelah ia menyelesaikan perkataannya. Ucapannya barusan, benar-benar berhasil memukul telak jantung Qiara yang memang sudah ia buat hancur sebelumnya. Qiara tertawa mencibir dengan nafasnya yang naik turun seakan ia baru saja menyelesaikan sebuah lari marathon. Emosinya sudah benar-benar memuncak, tidak bisa ia kontrol lagi meski sekeras apapun dia mencoba. Pernyataan Danny padanya barusan berhasil membuat seisi kepalanya mendidih.


Sementara Danny yang sepertinya mulai menyadari bahwa perkataannya sudah melampaui batas, hanya bisa menatap Qiara dengan hampa.

__ADS_1


"Tentu saja lo akan tetap bersikap seperti ini sampai akhir. Nggak ada yang lebih brengsek dari lo... Danny Juan Adhitama."


^^^To Be Continued...^^^


__ADS_2