Kutukan Cinta Pertama

Kutukan Cinta Pertama
59. Kemarahan Danny


__ADS_3

Qiara melangkah keluar dari studio radio dengan kepala tertunduk. Tidak sedetikpun dia melupakan momen ketika ia memeluk Danny sore tadi. Sentuhan Danny yang tidak pernah ia rasakan selama tiga tahun itu, suka tidak suka menghidupkan kembali beberapa perasaannya yang sempat mati.


Danny mungkin tidak akan pernah tahu, bahwa betapa mati-matian Qiara berusaha melawan dirinya, bahwa betapa mati-matian Qiara berupaya menahan gejolak dalam dirinya untuk tidak mengungkapkan semua perasaan rindu yang selama ini menumpuk di dadanya. Akal sehatnya telah berhasil menghentikannya dari segala tindakan yang memang seharusnya tidak ia lakukan.


Karena untuk saat ini, ada batasan-batasan yang harus Qiara jaga. Dan salah satu batasan itu kini, sedang berdiri dan menunggunya di depan gedung dengan seulas senyuman menenangkan di wajah lelahnya, dialah Dean.


Meski tidak memilki tenaga untuk sekedar tersenyum sekarang, tapi toh akhirnya Qiara berhasil memaksakan dirinya. Ia kemudian melangkah lebih cepat, lalu memeluk Dean.


"Kak Dean pasti capek, kenapa masih di sini nungguin aku?" Ujar Qiara dalam rengkuhan Dean.


Nyatanya, pria ini selalu menempatkan Qiara di urutan nomor satu dalam daftar prioritasnya. Itulah yang menjadi salah satu alasan, dari beribu-ribu alasan kenapa Qiara tidak ingin melukai Dean.


Dengan senyuman yang masih mengembang di wajahnya, Dean membelai lembut rambut milik Qiara dengan penuh cinta, "masa iya aku bawa mobil kamu kabur? Terus ntar kamu pulang pake apa dong?"


Qiara mendongak untuk bisa melihat wajah Kak Deannya. Setelah itu, ia pun kemudian mengusap pipi kanan Dean dan berkata, "satu-satunya kekurangan Kak Dean ya ini, Kak Dean selalu mengkhawatirkan orang lain. Nggak apa-apa untuk sekali-sekali menjadi egois, Kak Dean."


"Aku sedang bersikap egois sekarang, Qi. Itulah kenapa, aku menutup celah agar kamu tidak kembali ke dalam pelukan Danny." Dean menjawab dalam hati.


Dean pun tertawa kecil untuk beberapa saat sebelum akhirnya menggenggam tangan Qiara dan membawanya masuk ke dalam mobil, "ayo pulang sekarang. Kamu harus segera istirahat. Hari ini pasti sangat melelahkan buat kamu."


Saat dalam perjalanan, Dean tiba-tiba saja mengingat tentang rencana kepindahan Qiara. Beberapa minggu yang lalu, Qiara memutuskan untuk kembali ke kota Harsa. Dia juga bahkan sudah memutuskan untuk kembali bekerja di ANHStar Radio setelah mendapatkan tawaran untuk kembali.


"Oh ya, Qi? Udah ngasih tahu Danny soal rencana kamu yang akan segera kembali ke Harsa?"


Qiara sedikit terkejut dan langsung menoleh ke arah Dean dengan gugup. "Nggak perlulah. Nanti juga Danny bakalan tahu sendiri." Jawab Qiara seadanya.


"Qi?" Panggil Dean dengan pelan.


"Iya, Kak Dean?"


"Kamu nggak perlu canggung setiap kali kita bahas soal Danny. Aku beneran nggak apa-apa kok. Kamu juga nggak perlu ngejaga perasaan aku. Biar gimanapun, Danny itu adikku. Apapun menyangkut dia, adalah tanggung jawab aku. Kamu nggak perlu merasa terbebani atas apapun menyangkut Danny."


"Kak Dean–"


"Jadi, jalani saja hari-hari kamu tanpa beban. Toh, nanti kamu bakalan satu kantor juga sama Danny. Kamu tentu nggak akan bisa terus-terusan menghindar dari pembahasan soal dia. Aku percaya sama kamu, Qi. Tolong pegang itu."


"Iya, Kak Dean."


"Udah ngasih tahu ke yang lain juga?"


"Udah. Mereka udah aku kasi tahu sejak dua hari yang lalu. Mereka juga keliatan excited banget. Apalagi Icha. Hahaha..." Qiara akhirnya tertawa saat mengingat betapa bersemangatnya Alisha setelah mengetahui bahwa dia akan segera kembali ke Kota Harsa.


"Good luck, ya,Qi? Selamat datang kembali ke kehidupan kamu yang sebenarnya."


Dean yang sejak tadi fokus menyetir, kini menoleh pada Qiara. Sekali lagi Dean tersenyum, namun kali ini sambil mengusap puncak kepala Qiara.


"Thank you, Kak Dean. Tanpa Kak Dean, aku tentu nggak akan punya keberanian sekuat ini untuk kembali."


Tidak lama kemudian...


"Oh, ya, nanti Kak Dean dijemput Danny, kan? Atau Kak Dean mau bawa mobil Qia?" Tanya Qiara.


Suaranya bahkan terdengar sangat bersemangat saat menyebut nama Danny. Tak pelak, hal itu pun berhasil membuat hati Dean terasa seperti disayat.


Dean mendengus pelan, lalu tersenyum tipis setelahnya. "Kak Dean dijemput sama Radho. Malam ini Kak Dean harus kembali ke hotel. Ada beberapa pekerjaan yang harus Kak Dean selesaikan."


Radho adalah sekertaris Dean yang sudah bekerja cukup lama dengannya.


"Berarti lembur lagi?" Qiara menampakkan wajah cemberutnya.


"Sayangnya begitu, hahaha..."


Wajah cemberut yang Qiara tampakkan berhasil mengusir perih di jantung Dean hingga mampu membuatnya tertawa.


...****...


Mereka pun sampai di rumah Qiara bersamaan dengan mobil Radho yang baru saja tiba. Radho menunggu Dean di dalam mobil tidak jauh dari depan gerbang rumah Qiara.

__ADS_1


Sementara Qiara, ia mengantar Dean sampai ke gerbang. Dan seperti yang terjadi setiap kali mereka berpisah setelah bertemu, Dean selalu berat melepaskan tangan Qiara dari genggamannya, begitu juga dengan apa yang terjadi malam itu.


"Kak Dean, aku harus masuk sekarang, dan Kak Dean juga harus kembali ke hotel. Mas Radho sudah nungguin Kakak, tuh!" Qiara memperingatkan seraya menunjuk ke arah mobil dengan dagunya.


Alih-alih melepaskan tangan Qiara, Dean malah kembali membawa wanita itu ke dalam pelukannya. "Terima kasih karena sudah mau melewati masa-masa sulit ini bersama aku, Qi." Bisik Dean dengan pelan dan lirih.


Qiara pun balas memeluk Dean seraya mengusap punggungnya, "terima kasih juga, karena selalu sabar menghadapi aku, Kak."


Dean melepaskan pelukannya. Ia lalu menyampirkan rambut Qiara ke belakang telinga sambil menatapnya lekat-lekat. Dean yang sudah tenggelam dalam luapan perasaan yang selama ini ia tahan kuat-kuat, secara tidak sadar bergerak maju dan mendaratkan ciuman pertamanya di bibir Qiara.


Di luar dugaannya, Qiara justru tidak menolak dan hanya menerima meski akhirnya tidak membalas kecupan demi kecupan yang Dean berikan.


Dean pun menyudahinya.


"Masuk gih! Udaranya sudah mulai dingin." Ucap Dean kemudian sembari mengusap wajah Qiara dengan tangan kananya.


Qiara mengangguk pelan dengan kepala tertunduk. Kejadian barusan benar-benar sangat mengejutkannya. Selama Dean menciumnya pun, Qiara hanya mematung tanpa bisa melakukan apapun. Otak dan hatinya tiba-tiba berhenti bekerja dalam waktu yang bersamaan.


Ketika mobil yang membawa Dean sudah menghilang di persimpangan jalan, Qiara pun memutuskan masuk ke dalam rumahnya. Namun baru saja ia menginjakkan kaki di pekarangan rumahnya, sebuah suara yang penuh pesakitan langsung menyambutnya tepat dari belakangnya.


"Setelah kamu membunuh anakku, berani-beraninya kamu masih bisa tertawa! Berani-beraninya kamu menjalani kehidupan barumu dengan baik-baik saja! Beraninya kamu berbahagia di saat aku bahkan hampir lupa bagaimana cara tersenyum!"


Qiara pun berbalik. Dan ia tersentak saat mendapati sosok Danny yang sedang melangkah perlahan mendekatinya. Rupanya, Danny sudah menunggunya di depan rumah sejak tadi. Kondisi jalanan di sekitar rumah Qiara yang gelap karena minim cahaya, membuat ia dan Dean sama sekali tidak menyadari bahwa Danny sedang menunggu kedatangan Qiara di dalam mobil, dan menyaksikan apa saja yang telah mereka lakukan tadi. Itulah yang membuat Danny pada akhirnya meledak di hadapan Qiara sekarang.


"D–Danny? Ba–bagaimana bisa kamu di sini?" Untuk sesuatu yang tidak ia mengerti, entah kenapa Qiara merasa seperti tertangkap basah.


Setengah dari dirinya seakan menghilang saat melihat kehadiran Danny.


"Apa karena ini kamu meminta aku buat merelakan masa lalu kita? Supaya kamu bisa bersama Kak Dean tanpa rasa bersalah?"


"Danny demi Tuhan, aku nggak pernah punya pemikiran seperti itu sejak awal..."


"LALU APA YANG BARU SAJA GUE LIHAT?!" Danny kehilangan kendali. Ia kembali seperti dirinya yang dulu, saat Qiara pergi meninggalkannya begitu saja.


Pancaran matanya sekarang bahkan terlihat sangat menakutkan bagi Qiara. Danny seperti mampu membunuh siapa saja dengan tatapan seperti itu.


Qiara benar-benar gemetaran sekarang. Seumur hidupnya, ini pertama kalinya Qiara melihat Danny marah sampai ke tahap menggila seperti ini.


"Gue nggak pernah bilang kita selesai! Elo sendiri yang menyimpulkannya!"


"Danny, aku mohon..." Lirih Qiara dengan kedua mata berkaca.


Danny yang masih dilingkupi kemarahan, kini menarik keluar kalungnya dari balik baju dan menunjukkannya di hadapan Qiara. "Kamu masih ingat cincin ini? Selama tiga tahun, benda sialan ini tidak pernah aku lepaskan sedetik pun. Aku selalu membawanya kemana-mana seperti orang bodoh, dengan harapan suatu hari kamu akan kembali. Tapi apa yang aku lihat tadi–"


Dalam sekali hentak, Danny menarik paksa kalung itu dari lehernya, dan melemparnya dengan kasar ke arah kolam air mancur yang letaknya tidak jauh dari posisi mereka berdiri sekarang, "–sudah benar-benar mematikan harapan aku selama ini." Lanjutnya dengan suara parau.


Qiara otomatis menoleh ke belakang Danny. Hatinya seperti tersayat sembilu saat melihat Danny melemparkan cincin pertunangan miliknya dengan tidak berperasaan ke dalam kolam. Pada waktu itu, Qiara sudah tidak bisa lagi menahan laju air matanya yang berdesakkan keluar.


"Dari duapuluh tiga tahun yang lalu, sampai hari ini, kamu selalu menjadi satu-satunya yang aku cintai. Aku mencintai kamu, Qiara Serena Ghandy!"


Pengakuan yang sudah lama Qiara tunggu dari Danny, akhirnya meluncur bebas di saat yang sangat tidak tepat. Hal itu, kian menyiksa Qiara dari segala arah.


"Tapi kamu tidak pernah merasakannya. Tidak sekalipun kamu mencoba untuk mempercayainya. Lalu apa lagi yang aku miliki untuk bertahan?"


Qiara tidak menjawab. Hanya isakkannya yang terdengar.


"Kalau kamu memang ingin aku lepaskan, maka kamu akan aku lepaskan sekarang juga. Dan mulai sekarang, kamu bisa memilih Kak Dean tanpa rasa bersalah."


Itulah yang Danny utarakan untuk yang terakhir kalinya sebelum ia pergi meninggalkan kediaman Qiara. Begitu Danny sudah tidak terlihat lagi bersama mobilnya, Qiara yang terlihat seperti orang yang sudah kehilangan arah, langsung berjalan ke kolam air mancur. Kolam air mancur itu terletak di tengah jalan di kawasan komplek perumahan yang Qiara tinggali.


Tanpa mengindahkan akal sehatnya, Qiara masuk ke dalam kolam dan mencari cincin miliknya yang Danny lemparkan. Qiara menyisir seluruh bagian kolam yang berdiameter cukup luas itu. Ia bahkan sudah tidak lagi mampu merasakan dinginnya air yang menusuk hingga ke tulangnya. Dalam fikirannya sekarang, ia harus menemukan cincin itu kembali apapun caranya.


Lima belas menit kemudian, dengan keadaan tubuh yang hampir basah seluruhnya, Qiara akhirnya menemukan cincin itu. Ia pun segera ke tepi dan terduduk di pinggir kolam seraya mendekap cincin itu di dadanya dengan kondisi yang sudah menggigil kedinginan. Kemudian, ingatan ketika Danny berjanji tidak akan pernah melepaskannya tiga tahun yang lalu, kembali menyapa memorinya.


...****...


3 Tahun yang Lalu...

__ADS_1


"Kamu milik aku sekarang, mengerti Nona Cerewet?" Bisik Danny di depan wajah Qiara.


"Danny, a—aku..."


"Aku tahu, Qi." Danny yang mengerti maksud Qiara, langsung melepaskan tautan mereka.


Danny kini menyingkir dari atas tubuh Qiara, kemudian berbaring di sampingnya sambil menutupi tubuh polos mereka dengan selimut. Di saat yang bersamaan, Qiara pun berbalik dan memunggungi Danny di belakangnya.


Setelah apa yang mereka lakukan, Qiara benar-benar merasa malu sekaligus aneh. Danny yang lagi-lagi memahami Qiara kini semakin merapatkan jaraknya dengan wanita itu, lantas memeluknya dari belakang dan mendaratkan satu kecupan di pundaknya.


"Kamu nggak mau ngasih aku lihat wajah kamu? Hm?" Bisik Danny dari belakang Qiara. Danny pun menghela aroma shampo di rambut Qiara.


"Ki—kita tidur saja. Besok kerja." Jawab Qiara gelagapan yang sebenarnya ingin mengelak dari permintaan Danny yang memintanya untuk berbalik.


Qiara benar-benar malu sekarang.


"Lihat aku, please..." Mohon Danny dengan suara lirih.


Qiara yang memang dirancang tidak memiliki kemampuan untuk menolak permohonan Danny kini berbalik. Namun pandangan matanya tidak ia arahkan pada kedua mata Danny.


Danny pun mencium dahi Qiara yang saat itu sudah resmi menjadi wanitanya. Danny menahan ciumannya agak lama, kemudian beralih menatap wajah Qiara yang cantik. Danny mendesah pelan dengan pandangan memuja.


"Ada wanita secantik ini yang selalu mencintaiku, bagaimana bisa aku yang tidak tahu terima kasih ini justru selalu menyakiti dia?" Danny menyibak beberapa rambut Qiara yang mengganggu pandangannya, lalu menyampirkannya ke belakang telinga.


Sementara Qiara, ia langsung merasakan bulu kuduknya merinding mendengarkan pujian Danny yang membuatnya terlena.


Satu seringai nakal tiba-tiba terpeta di wajah Danny saat sebuah ide untuk menggoda Qiara tiba-tiba terbersit di otak liciknya, "tapi ngomong-ngomong, sejak kapan Qiara kecilku ini tumbuh jadi wanita dewasa yang memiliki— aaaa!" Ringis Danny saat merasakan cubitan Qiara di perutnya sebelum ia menuntaskan perkataannya.


Tentu saja Qiara sudah tahu apa yang akan Danny katakan berikutnya. Bukankah itu sudah jelas?


Tawa nyaring Danny terdengar saat akhirnya Qiara mengangkat wajah dan menatap dirinya dengan garang.


"Iya maaf, aku bercanda!" Danny pun menarik Qiara agar jarak di antara mereka benar-benar terhapuskan. "Makanya jangan malu gitu! Aku bahkan udah pernah beli pembalut buat kamu."


"DANNY!!" Pekik Qiara dengan geram, sambil memukul pelan dada Danny.


Lagi-lagi Danny memecahkan tawanya, kemudian dengan gemas mencium seluruh bagian wajah Qiara.


"Danny, kamu nggak akan ninggalin aku, kan?" Setelah cukup lama mengumpulkan keberaniannya, akhirnya pertanyaan yang sejak tadi Qiara tahan keluar begitu saja.


Ia benar-benar takut kalau-kalau Danny akan mencampakkannya setelah semua hal yang mereka lakukan.


"Aku sudah melepaskan kamu sekali karena kebodohan aku di masa lalu, lain kali aku nggak akan ulang kebodohan yang sama lagi. Kalau ada yang pergi di antara kita, aku pastiin bahwa itu bukan aku."


"Danny?"


"Aku nggak akan pernah lepasin kamu, Qia! Bahkan kalau nanti kamu yang tiba-tiba pergi, aku akan mengobrak-abrik seisi dunia untuk menemukan kamu."


"Kamu janji?"


"Aku janji! Tapi... sebelum itu aku punya syarat."


"A—apa?" Qiara bertanya dengan polos.


Danny tersenyum penuh kemenangan saat mendapati bahwa ternyata Qiara begitu gampang masuk ke dalam perangkapnya. Sekali lagi Danny menerjang Qiara, mengulang apa yang baru saja mereka selesaikan.


...****...


Ketika ingatan itu berlalu, Qiara memejamkan kedua matanya dengan isakkan yang semakin kuat dan menyayat. Perkataan Danny tiga tahun yang lalu pun kembali menyapa memorinya.


"Aku sudah melepaskan kamu sekali karena kebodohan aku di masa lalu, lain kali aku nggak akan ulang kebodohan yang sama lagi."


"Aku nggak akan pernah lepasin kamu."


"Pembohong!! Danny Pembohong!!" Rutuk Qiara dengan suara bergetar seakan menjawab suara Danny yang timbul dalam fikirannya.


Yang paling membuatnya terluka sekarang adalah, ungkapan cinta dari Danny yang sudah ia tunggu selama bertahun-tahun, kini justru menjadi ungkapan yang paling mematikannya.

__ADS_1


^^^To Be Continued...^^^


__ADS_2