
Pagi itu, Departement Variety digemparkan oleh rumor kencan dari Felicya Aletha dengan salah satu produser di departement mereka. Sebuah headline terpampang jelas di hampir seluruh portal berita dengan tulisan: "APAKAH FELICYA ALETHA BERKENCAN DENGAN PRODUSER A?"
Baru kemarin mereka melakukan konfrensi pers, dan pagi ini satu berita kencan itu sudah menyebar ke seluruh pelosok negeri. Yang lebih mengagetkan bagi para karyawan di departement itu adalah, ternyata Danny lah, Si Dewa Kematian yang dirumorkan sedang menjalin hubungan spesial dengan Felicya Aletha.
Berita itu dikuatkan dengan beberapa bukti foto. Dalam foto terlihat jelas bahwa Danny dan Felicya memasuki sebuah hotel secara bergantian dalam selang waktu sepuluh menit. Tersebar juga foto mereka yang sedang makan malam berdua.
Danny belum mengetahui apapun soal berita itu. Sementara agensi Felicya masih belum memberikan klarifikasi apapun.
"Waaah, kalau rumor ini benar, gue kasian sama Felicya sih." Ucap salah seorang karyawan setelah menyeruput kopinya.
Mendengar itu, beberapa karyawan lainnya mulai memasang telinga mereka baik-baik.
"Kenapa?" Tanya salah satu dari mereka.
"Kalian semua nggak tahu? Kalau tiga tahun yang lalu, Danny sudah bertunangan dengan salah seorang produser ANH Radio. Tapi beberapa minggu sebelum pernikahan mereka, Danny ketahuan selingkuh sama mantannya waktu lagi syuting di Shanghai."
"Hah? Yang benar?"
Sebelum pertanyaan yang mewakilkan semua rasa penasaran orang-orang itu terjawab, Danny malah lebih dulu datang dan langsung membuat mereka semua membubarkan kerumunan. Seperti biasa, Danny tampak tidak peduli dengan keadaan sekitarnya dan hanya berjalan melewati mereka semua seperti angin.
"MAS DANNY! MAS DANNY!!" Panggil Bagas dengan nafas terengah seraya menghampiri Danny yang saat itu baru saja duduk di meja kerjanya.
Danny menatap Bagas dengan salah satu alis terangkat. Ia lalu melemparkan sebotol air mineral untuk Bagas. "Minum dulu, baru ngomong." Ujar Danny. Ia kemudian membuka laptopnya.
"Ini nggak penting sekarang!" Bantah Bagas sembari meletakkan air mineral itu di atas meja.
"Ada apa?"
"Jadi, Mas Danny nggak tahu? Belum ngecek artikel pagi ini?" Tanya Bagas tak percaya.
"Emang kenapa sih?" Danny mulai jengah.
__ADS_1
Saat itu juga, Bagas langsung memberikan ponselnya untuk Danny dan menunjukkan salah satu artikel yang memberitakan tentang rumor kencannya dengan Felicya. Alih-alih merasa terkejut dengan hal itu, Danny justru tampak biasa saja dan malah terkesan santai.
"Kalian semua yang ada tim gue udah tahu kebenarannya, kan? Jadi, gue nggak perlu ngejelasin apapun." Kata Danny seraya menyerahkan kembali ponsel milik Bagas.
Danny pun kembali berkutat dengan pekerjaan di laptopnya, seakan tidak terjadi apapun. Seakan ia tidak pernah menimbulkan kehebohan apapun.
"Tapi Mas Danny..."
"Sudah. Lanjutkan pekerjaan lo, dan berhenti mengurus hal tidak penting semacam ini."
...****...
Beberapa saat setelah rumor tersebar, Felicya melalui agensinya menyatakan bahwa skandal kencan dirinya dengan Danny adalah tidak benar. Namun seminggu setelahnya, Felicya justru mengaku dalam sebuah wawancara dengan majalah, bahwa memang benar dia mengagumi sosok Danny. Dia menyukai ketepatan dan ketegasannya dalam bekerja. Lalu ia dengan sedikit bercanda mengatakan bahwa pada malam pertemuan mereka, Danny sudah menolak cintanya.
Hal itupun kembali menimbulkan kehebohan baru, meski tidak sekuat sebelumnya. Perlahan tapi pasti, berita-berita mulai bisa teredam, meskipun sebagai gantinya, Danny harus menerima hujatan dari beberapa penggemar Felicya, utamanya dari kalangan para penggemar pria.
Felicya sedang sibuk berkutat dengan sebuah novel di ruang tunggu program Music Show, ketika seseorang tiba-tiba membuka pintu. Felicya menghentikan aktifitasnya sejenak, lalu menatap pada cermin yang menampakkan bayangan seorang pemuda berparas manis dengan pakaian kerja yang bertuliskan ANHTV di dada sebelah kanannya.
"Ngapain diem di situ? Masuk sini." Kata Felicya seraya mengibaskan tangan kananya.
Pemuda tadi terlihat agak ragu-ragu, ia pun menatap ke dalam ruangan untuk memastikan apakah ada orang lain atau tidak di dalamnya. Karena terakhir kali mereka bertemu secara pribadi, ia harus menerima kemarahan dari manager Felicya.
"Kak Anna lagi nemuin produser. Aman." Kata Felicya lagi, memberikan satu informasi bahwa manager-nya sedang tidak ada di tempat.
Pemuda itu kini menoleh ke belakang, memastikan apakah ada orang lain yang melihatnya atau tidak. Setelah memastikan bahwa situasinya cukup aman, ia kemudian masuk ke dalam ruangan, menutup pintu, lalu berjalan ke arah Felicya.
"Lo udah gila, ya?! Bisa-bisanya lo menyebabkan rumor yang menyeret produser gue. Sekarang satu negara menghujatnya gara-gara siapa? Gara-gara elo!! Gara-gara sikap lo yang childish itu!" Omelnya dengan berapi-api. Sementara Felicya yang sudah bisa menebak setiap kalimat yang akan diucapkan Bagas, mengikuti dengan gerak bibir.
Felicya dan Bagas memang sudah bersahabat dekat sejak mereka sama-sama duduk di bangku SMA. Dimana ada Bagas, di situlah adalah Felicya. Bagas selalu melindungi dan menjaga Felicya, memenuhi semua keinginan-keinginan nyelenehnya. Tetapi sejak Felicya terjun ke dunia hiburan dua tahun yang lalu, dan Bagas sibuk dengan pekerjaannya, mereka jadi jarang bersama. Bahkan untuk bertemu pun rasanya sulit sekali.
"Lo sengaja, kan?" Bagas mengakhiri ocehannya dengan sebuah pertanyaan.
__ADS_1
Bagas menatap Felicya dengan kedua mata memicing. Tentu saja, ia tahu bagaimana sikap dan sifat Felicya sebenarnya. Felicya bisa membohongi siapapun, tapi tidak dengan Bagas.
"Ya gue kira dengan adanya rumor itu, Danny bakalan nemuin gue lagi. Tapi ternyata gue salah. Boro-boro nemuin gue, dia aja bahkan nggak peduli sama sekali sama rumor itu. Ya gue ngerasa bersalah aja, makanya akhirnya ngasih statment." Terang Felicya dengan raut wajah yang benar-benar bersalah.
"Terus kalau ngerasa bersalah, ngapain ngomong di wawancara kalo lo emang suka sama Mas Danny? Ngapain bilang, kalo Mas Danny nolak lo malam itu?" Bagas melipat kedua tangannya di perut, dan menatap Felicya dengan pandangan menyelidik.
"Yaaa... gue mau tahu orang-orang tahu kalo Danny itu baik, dan nggak sejahat anggapan orang-orang. Gue mau orang-orang tahu, kalo Danny layak buat disukai. Lagian, kalo gue nggak bilang apa-apa di wawancara, orang-orang bakalan mikir kalo Danny yang ngejer-ngejer gue."
Melihat sahabat cantiknya yang benar-benar terlihat terpojokkan, Bagas akhirnya mulai merasa tidak tega dan bisa sedikit melunak. Bagas yang tadinya diliputi oleh kekesalan, kini perlahan bisa mengontrol emosinya. Ia lalu menarik salah satu kursi, dan duduk tepat di hadapan Felicya. Bagas menatapnya lurus.
"Terus gimana keadaan lo? Orang-orang di agensi lo gimana?" Tanya Bagas dengan nada bicara yang terdengar lembut kali ini.
"Gue sempet dipanggil sama Direktur. Gue dimarahin, dan mereka minta untuk ke depannya gue harus jaga sikap. Tapi yang paling bikin gue kasihan itu Kak Anna. Gue awalnya mikir kalo Kak Anna bakalan marahin gue juga, tapi ternyata dia yang berdiri paling depan dan ngebela gue. Dan sebagai hukuman, gue nggak diperbolehin pegang ponsel untuk beberapa minggu ke depan."
Bagas mendesah. Dalam hati ia merutuki perlakuan agensi Felicya. Lagi pula, di zaman seperti sekarang, mana ada yang betah untuk tidak memegang ponsel? Felicya pasti bosan setengah mati karenanya.
Tidak lama kemudian, Bagas mengeluarkan sebuah boneka kecil dari dalam tasnya. Boneka karakter anak laki-laki yang sudah cukup usang itu, dulunya diberikan oleh Felicya untuk Bagas. Namun untuk saat ini, tiba-tiba Bagas merasa perlu memberikannya kembali pada Felicya.
"Karena ponsel lo lagi disita sama agensi, untuk sementara lo boleh pinjem Sibi." Bagas berdehem cukup keras kemudian, seakan menyembunyikan maksudnya yang sebenarnya.
Felicya serta-merta tersenyum sumringah sambil menerima boneka yang Bagas beri nama Sibi itu.
"Waaah, udah lama nggak liat Sibi. Nggak nyangka juga lo masih simpen ini." Ucap Felicya seraya memainkan kedua tangan boneka itu dengan sepasang mata berbinar. "Oya, sampai sekarang gue masih belum tahu, kenapa boneka ini lo kasi nama Sibi? Namanya agak aneh, hehe..." Lanjut Felicya sambil terkekeh pelan di akhirnya kalimatnya.
Kata Sibi sendiri sebenarnya Bagas ambil dari singkatan namanya dengan nama panggilan Felicya yaitu Cia, yang berasal dari huruf alfabet C dan B, yang jika dilafalkan dalam bahasa inggris akan menjadi SIBI. Tapi menurut Bagas, itu rahasia. Felicya tidak boleh tahu.
Felicya tidak boleh tahu, bahwa diam-diam juga Bagas menyimpan sebuah perasaan terpendam untuk dirinya. Sebuah perasaan yang melampaui rasa sayang seorang sahabat untuk sahabatnya. Sebuah perasaan yang ia sendiri bahkan tidak mampu deskripsikan dalam kata-kata.
"Nggak usah kepo!" Jawab Bagas dengan ketus seraya mengusap wajah Felicya.
^^^To be Continued...^^^
__ADS_1