
Danny risau.
Sejak pagi Qiara benar-benar tidak bisa dihubungi. Semalam, tepat pukul duabelas malam, Qiara memang sempat menghubunginya untuk mengucapkan selamat ulang tahun padanya. Tapi setelah itu, Qiara benar-benar menghilang dan membuat Danny tidak berhenti mencemaskannya.
Sekitar dua jam yang lalu, Qiara membaca semua pesan yang Danny kirimkan, tapi tidak dibalas olehnya sama sekali. Hal itupun tak pelak membuat Danny merasa semakin risau. Tidak biasanya Qiara seperti ini.
Di tengah rasa frustasi dan kemarahannya, wanita itupun tiba-tiba meneleponnya. Danny mendengus sinis, sebelum akhirnya menjawab panggilan itu secepat kilat.
"Kemana aja kamu hari ini? Kamu bikin aku cemas. Sekarang aktifkan panggilan video kamu. Aku mau liat muka kamu sekarang." Cecar Danny sebelum Qiara sempat menyapa.
Alih-alih langsung mengikuti permintaan Danny, Qiara justru terdiam cukup lama. Samar-samar Danny dapat mendengarnya sedang menghela nafas. Seperti menahan satu beban yang begitu berat di dadanya.
"Maaf. Aku nggak bisa video call kamu sekarang. Muka aku lagi nggak cantik." Suaranya serak. Seperti baru habis menangis. Danny yakin seribu persen dengan itu.
"Sayang, kamu kenapa? Kamu baik-baik aja, kan? Kenapa suara kamu serak begitu?" Dalam sekejab, Danny melupakan semua kekesalannya pada Qiara.
"Aku nggak apa-apa, Dann. Aku, baru balik dari studio. Kayaknya aku flu." Jawab Qiara berbohong.
"Qi?"
"Jadi, gimana hari ini? Apa ada yang pengen kamu ceritain ke aku?" tanya Qiara, seperti berusaha memancing Danny untuk berkata jujur.
Kali ini, giliran Danny yang cukup lama terdiam. Jantungnya pun langsung berdebar dalam irama yang begitu cepat. Apa ia harus kembali menggulirkan kebohongan yang sama dengan yang ia gulirkan pada Celine tempo hari?
"Hari ini, syuting berjalan lancar. Nggak ada kendala yang berarti." Jawab Danny kemudian.
"Terus? Apa lagi?"
"Aku─" Danny menunduk seraya mendesah pelan.
Inikah saat yang tepat baginya untuk mengatakan hal yang sebenarnya pada Qiara? Bahwa ia telah bertemu dengan Pricilla dan sesuatu telah terjadi di antara mereka baru saja. Sedetik berikutnya, teriakan kata "TIDAK" tiba-tiba bergema dari dalam kepala Danny. Tentu saja Qiara tidak boleh tahu tentang apa yang terjadi tadi. Danny pun menggeleng seraya memejamkan matanya sekilas sebelum akhirnya melanjutkan perkataannya, "nggak jadi. Sekarang, kamu istirahat, ya? Biar besok tubuh kamu fit. Jangan lupa minum vitamin. Minggu depan aku sudah pulang, aku ngga mau liat kamu sakit."
"Iya, Dann. Good night."
"Good night too, Sayang."
__ADS_1
"Danny, tunggu!" Ucap Qiara buru-buru sebelum Danny memutuskan sambungan telepon mereka.
Danny mengernyit dan kembali meletakkan ponselnya di telinga.
"Kenapa, Qi?"
"Dann?"
"Hm?"
"Kita jadi nikah, kan? Aku masih calon isteri kamu, kan?"
Danny terperanjat. Kenapa juga Qiara tiba-tiba menanyakan hal itu padanya?
Danny pun akhirnya kembali kesal karena merasa diragukan. Yang membuat Danny merasa lebih frustasi lagi sekarang, ia tidak bisa langsung menatap mata wanitanya itu apalagi memeluknya untuk bisa meyakinkannya bahwa pernikahan mereka bulan depan adalah sebuah kepastian yang tidak perlu dia ragukan sama sekali.
"Qi, kamu tuh kenapa─"
"Maaf. Sekarang aku bener-bener matiin teleponnya, ya? Bye, Danny!" Sela Qiara sebelum Danny sempat menyampaikan rasa kesalnya.
Sambungan telepon dimatikan oleh Qiara. Sementara Danny, ia langsung menghela nafas lega begitu panggilan berakhir. Tapi tetap saja ia masih merasa ada yang mengganjal dengan pertanyaan yang Qiara lontarkan padanya.
...****...
Ketika keluar dari kamar hotelnya di pagi hari, Danny menemukan sebuah paper bag menggantung di gagang pintunya. Danny mengernyit sebelum akhirnya mengambil paper bag itu dan melihat isinya.
Ternyata di dalam paper bag itu, terdapat sebuah kotak kado berwarna hitam. Danny segera membukanya dan menemukan sebuah jam tangan mewah di dalamnya. Danny terpana sebelum akhirnya membuka sepucuk surat yang juga ia temukan di dalam paper bag itu.
Dear, Danny.
Happy birthday, ya? Terima kasih karena sudah mau menjadi teman aku selama beberapa hari terakhir ini, dan terima kasih juga karena kamu mau aku repotin setiap waktu. Dan maaf untuk kejadian semalam. Itu semua benar-benar di luar kendali aku. Aku harap, aku bisa mendapatkan maaf kamu.
Saat kamu sudah menerima kado ini dan membaca surat aku, aku sudah dalam perjalanan pulang kembali ke New York. Aku janji nggak akan gangguin kamu untuk ke depannya.
Aku berharap, kamu mendapatkan kesuksesan dan kebahagiaan yang melimpah di setiap hela nafas kamu.
__ADS_1
Sekali lagi maaf, dan terima kasih untuk semuanya. Meski kamu sulit menerimanya, tapi hingga sekarang, kamu adalah satu-satunya yang aku cintai, Dann. Dan jika tidak ada hal baik yang ingin kamu ingat dari aku, tolong ingat aku sebagai gadis merepotkan yang pernah sangat mencintai kamu, dulu juga sekarang.
^^^Love, Prissy.^^^
Danny menghela nafas setelah ia selesai membaca surat yang Pricilla tuliskan. Dalam hati ada satu kelegaan yang Danny rasakan karena kini ia tidak akan pernah lagi bertemu dengan gadis itu. Namun, ia tidak bisa memungkiri rasa kasihan yang diam-diam terselip di dalam hatinya untuk Pricilla.
Sama seperti Pricilla yang mengharapkan kebahagiaan untuk Danny, Danny pun seperti itu. Meski tidak bisa mengatakannya langsung pada Pricilla, tetapi Danny berharap Pricilla akan menjalani kehidupannya dengan bahagia dan tanpa tekanan lagi. Danny berharap, semoga Pricilla bisa menemukan sosok seorang pria yang bisa mencintainya tanpa batas.
"Danny?" Panggil seseorang tiba-tiba dari arah belakang saat Danny baru saja akan mengayunkan langkah kakinya.
Danny serta-merta menoleh, dan ia merasa ganjil saat mendapati sosok Mia ─ asisten pribadi Pricilla sedang berdiri di belakangnya sambil menatapnya dengan pandangan memelas.
Danny keheranan dibuatnya. Bukankah sekarang seharusnya Mia ada di airport bersama Pricilla? Lalu, kenapa Mia masih ada di sini? Fikir Danny.
"Tolong Pricilla, Danny." Pinta Mia. Air mukanya semakin mengeruh. Ia melihat Danny seolah-olah Danny adalah harapan terakhirnya.
...****...
Danny dengan diikuti Mia di belakangnya, berjalan setengah berlari di sebuah lorong rumah sakit. Mia mengatakan, bahwa sesaat sebelum dia dan Pricilla akan menaiki pesawat, Pricilla tiba-tiba meminta izin padanya untuk pergi ke toilet. Tapi hingga jam keberangkatan mereka tiba, Pricilla tidak juga keluar dari toilet. Dan saat Mia menyusulnya, Mia sangat terkejut ketika melihat Pricilla tergelatak di salah satu bilik toilet dengan linangan darah yang terus mengalir dari pergelangan tangannya.
Mia mengatakan bahwa Pricilla sudah mencoba melakukan tindakan bunuh diri. Untungnya, Mia datang tepat waktu dan memanggil ambulance. Pricilla pun bisa diselamatkan, meski sekarang ia masih dalam kondisi kritis.
Setelah melihat keadaan Pricilla yang sedang dalam keadaan tidak sadarkan diri di dalam ruang perawatannya, Danny langsung keluar. Ia menjatuhkan tubuhnya yang ia rasakan tiba-tiba melemas di salah satu kursi tunggu. Danny tertunduk seraya menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. Untuk kedua kalinya, Danny menyaksikan langsung percobaan bunuh diri yang hendak Pricilla lakukan.
Danny merasa jantungnya seakan dikoyak oleh dua buah tangan misterius dengan sangat beringas.
"Mama Pricilla sedang ada di Hangzhou menghadiri sebuah pertemuan dengan Asosiai Balet. Sebentar lagi dia akan tiba." Ucap Mia yang saat itu sedang berdiri di samping Danny.
Namun Danny tidak sedikitpun menangkap ucapan Mia. Fikirannya terlalu buntu untuk bisa mencerna apapun sekarang.
Tidak lama setelah Mia mengatakan hal itu, tiba-tiba saja seorang wanita anggun yang masih terlihat sangat cantik di usianya yang sudah tidak muda lagi, berjalan dengan langkah terburu. Dan begitu ia melihat sosok Danny, kemarahan serta-merta memenuhi dirinya tanpa ancang-ancang.
Danny yang menyadari kehadiran wanita yang ia kenali itu, langsung bangkit dari posisi duduknya. Ia dapat membaca apa yang akan terjadi berikutnya. Itulah kenapa, saat sebuah tamparan yang cukup kuat mendarat di pipi kirinya, Danny tidak terkejut sedikitpun.
Sejak dulu, wanita ini memang tidak pernah menyukainya. Dialah Clarissa Hwang. Sosok Mama yang sangat disegani sekaligus ditakuti oleh Pricilla.
__ADS_1
"Berani-beraninya kamu menampakkan kembali wajahmu di hadapan puteri saya!"
^^^To be Continued...^^^