
Danny sudah memutuskan, bahwa ia akan kembali ke kota Harsa hari ini juga. Ia tidak ingin berada lebih lama lagi di pulau Banu, menahan perih setiap kali melihat Qiara bersama Dean. Danny tidak sanggup lagi melakukannya.
Baginya, sudah cukup selama tiga tahun ini ia merasakan kesesakkan yang seakan tidak memiliki ujung. Danny tidak ingin lagi menambah kesakitannya, dan lebih memilih untuk melarikan diri. Dalam fikiran Danny saat ini, tidak ada jalan selain menghindar untuk sementara waktu. Setidaknya, Danny butuh menenangkan diri, dan berusaha mencerna juga memahami apa saja yang sedang ia hadapi sekarang.
Ponsel Danny yang sejak tadi bergetar namun tidak ia hiraukan, kini kembali bergetar untuk yang kesepuluh kalinya. Seseorang dengan nomer tidak kenal itu kembali menghubunginya setelah sejak pagi terus-terusan menerornya. Mau tidak mau, akhirnya perhatian Danny tertuju pada ponselnya yang tergeletak malang di atas tempat tidur. Namun seperti sebelumnya, Danny tidak memiliki niat sedikitpun untuk mengangkat panggilan itu.
Panggilan itupun berakhir dengan sendirinya. Tetapi, hanya selang beberapa menit setelah itu, seseorang tiba-tiba saja menerobos masuk ke dalam kamar Danny. Danny yang terkejut, serta-merta menoleh ke arah pintu. Dan betapa terhenyaknya Danny saat melihat bahwa Qiaralah yang baru saja menerobos masuk tanpa rasa takut.
Kedua mata Danny membulat dengan tenggorokan yang tiba-tiba tercekat. Apa lagi ini? Apa dia sedang berkhayal? Apa semesta sedang mencoba untuk mengerjainya agar Danny menunda kepulangannya?
Danny menunduk sejenak seraya mendengus sinis. Sebuah senyum dengan seringai halus terpatri di wajahnya. Rupanya, Qiaralah pemilik dari nomer yang sejak tadi menghubunginya.
"Keluar sama aku sebentar." Ucap Qiara dengan bersungguh-sungguh.
Yang semakin membuat Danny kesal adalah; tidak ada sedikitpun jejak-jejak kesedihan yang tertinggal di mata Qiara setelah kejadian di kedai semalam. Alih-alih terlihat sedih, ia justru terlihat biasa saja, seolah-olah tidak pernah terjadi apapun di antara mereka.
"Aku nggak bisa. Aku harus pulang hari ini. Lanjutkan saja romantisme kamu sama Kak Dean di tengah persembunyian kamu." Tolak Danny dengan tegas yang sengaja ia bubuhi dengan nada sinis pada kalimat terakhirnya.
Danny pun kembali membereskan beberapa pakaiannya dan memasukkannya ke dalam tas. Di saat itu juga, Qiara langsung menarik pergelangan tangan Danny, membawanya keluar dari rumah tanpa mengatakan apapun lagi.
Danny yang seperti orang yang sudah tersihir, hanya mengikuti Qiara di belakang dengan penuh keheranan. Entah mantra apa yang baru saja ditiupkan oleh Qiara untuknya, sehingga bisa membuat Danny menjadi penurut.
Dengan ekor matanya, Danny menatap Qiara yang tengah bersenandung ringan di sampingnya, mengikuti sebuah lagu yang berputar sambil fokus menyetir. Hal itu, semakin menambah kadar kekesalannya pada Qiara. Setelah bersembunyi selama bertahun-tahun dari Danny, benarkah Qiara masih bisa setenang ini? Lebih-lebih saat sedang bersama Danny?
Saat tidak menemukan jawaban dari semua sikap menyebalkan Qiara, Danny pun menyandarkan kepalanya pada sandaran jok, mendongakkan wajahnya ke atas, lalu menghela nafas frustasi. Satu pertanyaan kemudian terlontar darinya di luar kontrolnya. "Kak Dean apa nggak marah kalau kamu keluar sama aku?" Sinis Danny, yang jelas-jelas terdengar cemburu.
Qiara menghentikan senandungnya, lantas tersenyum kecil. Dengan sikap yang masih tenang, dia menjawab, "Kak Dean nggak cemburuan kayak kamu."
Tanpa merubah posisinya, Danny memalingkan wajahnya ke arah Qiara dengan muak. Apa sekarang wanita ini sedang berniat memamerkan betapa luar biasa kekasihnya? Danny mendenguskan tawanya, "baguslah! Karena Kak Dean lo itu nggak cemburuan kayak gue!" Sindir Danny dengan pedas kemudian beralih menatap ke samping jendela.
"Ehem!" Qiara berdehem pelan. Ia menatap Danny sekilas dan segera kembali fokus dengan jalanan di depannya. "Jadi, gimana rasanya disukai sama Nation's Little Sister? Gimana rasanya dikagumi sama penyanyi muda kesayangan satu negara?" Sindir balik Qiara, namun nadanya tidak sesinis Danny. Ia justru lebih terdengar seperti sedang meledek Danny.
__ADS_1
Danny yang baru saja memejamkan kedua matanya, kini membukanya lebar-lebar. Ia serta-merta tersentak, lalu menatap marah pada Qiara. Kedua matanya memerah. Untuk alasan yang tidak ia mengerti, ia tiba-tiba menitikkan air mata. "Dalam situasi seperti ini kamu masih bisa bercanda?" Ucap Danny tidak terima.
"Aku nggak bercanda, aku cuma bertanya." Qiara memberikan penegasan.
Senyap untuk beberapa saat. Merasa ada yang tidak beres, Qiara pun menoleh. Wajah Danny yang sedang menangis langsung menyambutnya. "Kamu kenapa? Mata kamu kelilipan?"
Qiara sedang berpura-pura bodoh! Itulah yang dapat Danny simpulkan sekarang. Merasa percuma jika harus menjawab Qiara, Danny pun mengusap air matanya dengan kasar. "Kalau kamu sedang mencoba bertingkah seperti seorang teman sekarang, kamu harus tahu kalau itu nggak akan berhasil." Desis Danny.
"Lalu, ayo kita buat ini berhasil! Kita sudah melalui hal seperti ini selama duapuluh tahun. Jadi, kenapa sekarang tiba-tiba nggak bisa?"
"Qiara–"
"Bukankah kamu sangat 'ahli' melakukan hal semacam itu?" Qiara menatap Danny di sebelahnya dengan serius. Tidak ada lagi pancaran ketenangan dari kedua mata jernihnya.
Danny tidak mengatakan apapun setelahnya karena sibuk dengan isi kepalanya. Danny bahkan sama sekali tidak menyadari saat mobil yang dikendarai oleh Qiara berhenti tepat di depan panti asuhan yang selama enam bulan terakhir ini seakan menjadi rumah bagi Qiara.
"Kita sudah sampai. Sekarang ayo turun! Aku butuh bantuan kamu sekali lagi untuk mengedit video kemarin."
Di saat yang bersamaan, Qiara merasa seperti terseret ke masa lalu. Dulu, dia pernah berda di posisi seperti ini dengan Danny.
Baru saja Qiara melepaskan seatbelt-nya dan hendak keluar dari mobil, Danny tiba-tiba saja menarik tangannya hingga membuat wajah mereka saling berdekatan dalam posisi yang begitu dekat. Kedua mata Qiara membelalak lebar, jantungnya pun lagi-lagi berdebar kencang karena ulah pria ini yang tidak pernah gagal mengejutkannya.
"Kamu bawa lipstick, kan?"
Qiara heran, kenapa juga Danny tiba-tiba menanyakan hal seremeh itu padanya? Qiara yang tidak mampu mengeluarkan suara karena terlalu gugup akhirnya mengangguk pelan.
Danny tersenyum nakal setelahnya, "baguslah! Sekarang aku nggak perlu khawatir membuat lipstick kamu luntur."
Danny lantas mencium bibir Qiara sebelum sempat membiarkan wanita itu membuka suara.
Qiara membuang nafas pelan setelah ingatan itu lewat. Sekuat tenaga dia berusaha menyembunyikan kegugupannya di hadapan Danny yang dalam sekali hentak sudah berhasil menguasai situasi.
__ADS_1
"Kamu mau kita berteman? Kamu mau kita bersikap seperti dulu?" Danny bertanya dengan penuh intimidasi seraya menatap dalam pada kedua mata Qiara.
Sesaat kemudian, Danny mengangguk, "oke! Fine! Aku akan ikuti permainan kamu sekali lagi, dan kita lihat siapa yang bakalan menang. Aku pastikan kamu akan menyesal karena sudah berani-beraninya menantang aku. Akan aku tunjukkan, seberapa 'AHLI' aku dalam hal itu."
Danny pun melepaskan tangan Qiara begitu saja dan keluar dari dalam mobil terlebih dulu. Sementara Qiara yang terus membeku sejak Danny pertama kali menyentuhnya barusan, masih hilang kendali. Ia bahkan lupa bagaimana cara bernafas dalam beberapa detik.
Tanda disadarinya, terbersit sebuah kecewa ketika Danny melepaskan tangannya begitu saja. Qiara tidak bisa memungkiri, ia memang merindukan sentuhan itu. Ia rindu sentuhan Danny.
...****...
Sebulan Yang Lalu...
Qiara menghempaskan mouse tidak berdosa yang sejak tadi ada di tangannya ketika ia mulai muak mendengarkan beberapa rekan kerjanya yang terus saja membicarakan skandal kencan Felicya Aletha dengan salah seorang produser ANHTV.
Qiara tahu berita itu, ia membacanya berkali-kali sejak tadi pagi. Dan Qiara juga tahu, bahwa produser yang dimaksudkan dalam berita itu adalah Danny. Meski wajah Danny di-blur dalam bukti yang disertakan dalam artikel, Qiara masih bisa mengenalinya dengan sangat baik.
"Bisa tidak, kalian berhenti membahas soal skandal Felicya Aletha?" Geram Qiara seraya memejamkan kedua matanya.
Sesaat kemudian, Qiara bangkit dari duduknya lalu menghampiri rekan kerjanya.
"Kalau kalian punya waktu luang untuk membicarakan skandal selebriti, kenapa tidak pergunakan saja untuk bekerja?" Qiara mengambil jeda sejenak.
Ia pun menyasarkan perhatiannya pada salah satu rekan timnya, "Cindy, bagaimana dengan materi minggu ini? Apa riset kamu sudah selesai?" Sebelum Cindy sempat menjawab, Qiara melemparkan tatapannya pada rekan yang lainnya.
"Ozy, bagaimana dengan hasil wawancara narasumber, apa kamu sudah mengirimnya ke e-mail saya?" Baru saja Ozy akan membuka mulut, perhatian Qiara beralih lagi pada rekan di sebelah Ozy.
Setelah melampiaskan emosinya, Qiara pun keluar dari ruangan itu sambil membanting pintu. Sementara itu, semua rekan kerjanya yang baru saja mendapatkan omelan dari Qiara hanya menatap penuh kebingungan ke arah pintu. Pasalnya, ini pertama kalinya mereka melihat PD mereka marah-marah seperti itu. Qiara yang selama ini mereka kenal adalah sosok yang lemah lembut, itulah kenapa mereka semua kompak heran dengan sikap Qiara saat itu.
"Cih, Danny berkencan dengan Felicya? What a nonsense!!" Gerutu Qiara dengan kesal.
Hari itu mood-nya benar-benar berantakkan.
__ADS_1
^^^To be Continued...^^^