
"Kekasihnya Felicya Aletha akhirnya datang juga!" Ucap Arga dengan suara yang cukup keras saat melihat kedatangan Danny.
Yang lainnya pun dengan serempak langsung menoleh ke arah Danny.
Malam itu, Danny, bersama Arga, Celine, Alisha, dan Windy berkumpul bersama di cafe yang dulunya sering mereka datangi ketika masih kuliah. Seperti biasa, ketika mereka bertemu untuk berkumpul, Danny selalu melihat wajah sahabatnya satu per satu untuk memastikan apakah ada Qiara di antara mereka atau tidak. Namun meski begitu, meski yang lainnya juga tahu siapa yang sedang Danny cari dan untuk siapa Danny datang, tidak satupun dari mereka yang berani menyebut nama Qiara.
Sejak kecelakaan itu, Danny sudah mulai menyerah untuk menunjukkan perasaannya di depan sahabat-sahabatnya. Semua kerinduan yang ia pendam untuk Qiara, rasa sakit dan sesalnya, juga penantiannya, Danny menyimpannya rapat-rapat untuk dirinya sendiri. Danny menyimpannya serapat mungkin, hingga tidak seorang pun dapat membaca isi hati dan fikirannya.
Danny memilih untuk tidak menjawab keisengan Arga. Ia hanya diam saja dengan ekspresi datar, lalu menjatuhkan tubuhnya di salah satu kursi yang letaknya tepat di samping Celine. Celine tersenyum canggung pada Danny. Namun sekali lagi, Danny hanya menunjukkan ekspresi datarnya.
Sementara dalam diam, Windy terus memperhatian Danny tanpa henti. Pandangannya terlihat... bersalah.
"Dann!" Panggil Windy cukup keras. Saat itu mereka sudah mengakhiri pertemuan mereka.
Danny yang saat itu hendak memasuki mobilnya, langsung mengurungkan niatnya lalu berbalik bertepatan dengan Windy yang sudah berdiri di hadapannya.
"Iya, Win?"
"Denger-denger, lo lagi libur, ya?"
Danny mengangguk sebagai jawaban.
"Ada rencana mau liburan ke mana?"
"Apa lo pernah lihat gue pergi berlibur meski sedang libur?" Tanya Danny dengan dingin.
Windy hanya mengangguk maklum, seakan paham bahwa Danny yang sekarang, sudah benar-benar berbeda seratus delapan puluh derajat dari Danny versi tiga tahun yang lalu.
"Nggak mau nyoba ke pulau Banu?" Ucap Windy dengan pandangan yang tiba-tiba serius. Tatapan matanya seolah mengatakan, bahwa Danny memang harus pergi ke sana.
Windy seperti menegaskan bahwa perkataannya itu bukanlah sebuah saran, melainkan sebuah petunjuk.
Danny tidak menjawab. Begitu juga dengan Windy yang tidak mengatakan apapun lagi. Mereka sama-sama diam, sembari sama-sama saling menatap, berbicara melalui mata ke mata.
...****...
"Danny, bangun!"
Dean berusaha membangunkan Danny yang pagi itu masih tenggelam dalam pelukan mimpinya. Karena tidak berhasil, Dean kini berjalan ke arah jendela besar lalu membuka tirainya untuk membiarkan cahaya matahari masuk dan mengusik Danny dari tidurnya.
Apa yang Dean lakukan kali ini berhasil. Danny dengan refleks mengangkat salah satu lengannya lalu menutupi matanya dengan itu sembari melenguh pelan.
"Ayo, cepet bangun! Gue musti ke hotel sekarang."
"Ya lo pergi aja. Gue masih ngantuk. Lagian, jadi Kakak nggak ada pengertiannya sama sekali. Gue baru tadi shubuh nyampe, tapi sekarang udah lo bangunin aja." Keluh Danny tanpa mau membuka mata. Ia kemudian menarik selimutnya, lalu menutupi seluruh tubuhnya dengan itu.
Dean berdecak sambil menggelengkan kepalanya beberapa kali. "Ya udah, kalo gitu gue berangkat sekarang, ya? Kalo lo mau sarapan, di meja makan udah tersedia."
Meski Danny tidak terdengar memberikan jawaban apapun, tetapi Dean tahu bahwa Danny sudah mendengarkannya. Ia kemudian mengelus kepala adiknya dari balik selimut sebelum akhirnya keluar meninggalkan Danny sendirian.
Pukul sepuluh lewat, Danny terbangun dari tidurnya. Ia pun segera ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Seminggu yang lalu, ketika secara tiba-tiba Windy memberikannya 'saran' untuk berlibur ke Pulau Banu, entah dengan cara apa, Danny terus saja memikirkan perkataan Windy tanpa henti. Tatapan mata Windy saat memintanya untuk pergi ke Pulau Banu, menggulirkan sebuah teka-teki yang membuat Danny tergugah untuk memecahkannya.
Windy sepertinya tahu titik lemah Danny, dan Windy telah menyentuhnya. Danny adalah tipe seseorang yang jika sudah merasa penasaran dengan sesuatu, maka dia akan berusaha mencari tahu tentang kebenaran sesuatu itu hingga berhasil ia temukan. Itulah alasan, kenapa sekarang Danny ada di rumah milik Dean. Di Pulau Banu, yang juga merupakan tanah kelahirannya.
Selama beberapa bulan terakhir sejak ia kembali dari Los Angeles, Danny sudah pergi ke semua pulau-pulau kecil untuk melakukan syuting. Tapi entah kenapa, Pulau Banu tidak pernah masuk ke dalam daftar pulau yang pernah ia kunjungi. Padahal saat masa sekolah hingga kuliah, pulau Banu selalu menjadi tempat terfavoritnya untuk berlibur.
__ADS_1
Setelah selesai membersihkan diri, Danny pun turun dari lantai dua rumah Dean dan segera pergi ke ruang makan. Dan di atas meja makan sana, tersedia satu mangkuk sup kacang hijau dengan beberapa irisan daging.
Saat mencicipi kuah sup itu, Danny merasa agak sedikit heran karena sup itu ternyata masih hangat. Sementara ia ingat betul, bahwa Dean membangunkannya sekitar dua jam yang lalu. Tidak ingin terlalu berfikir keras untuk hal itu, Danny pun kembali menyantap makanan yang tersedia di hadapannya. Ia benar-benar kelaparan setelah hampir semalaman terperangkap dalam pesawat.
Tapi tunggu dulu! Setelah menyelesaikan suapan pertamanya, Danny berfikir bahwa rasa masakan itu tidak begitu asing di lidahnya. Namun Danny tidak begitu ingat, dimana dia pernah menyicipi rasa itu.
"Kalau gitu, Pak, aku balik ke Panti dulu, ya? Bukunya udah ketemu."
Satu suara yang begitu familiar terdengar samar-samar dari luar rumah. Merasa mengenal suara itu, Danny seketika terperanjat. Itu suara milik Qiara.
Danny beringsut dari kursinya dan bergegas keluar rumah. Namun begitu ia membuka pintu, ternyata tidak ada siapapun, kecuali seorang tukang kebun yang sedang membersihkan halaman. Danny menghela nafas beratnya. Terbersit satu perasaan kecewa dari dalam dirinya.
Hati kecil Danny sebenarnya ingin bertanya pada tukang kebun itu, apakah baru saja ia berbicara dengan seseorang atau tidak. Namun karena takut kecewa, Danny meredam kuat-kuat keinginan hatinya. Toh selama tiga tahun terakhir ini, Danny masih sering berhalusinasi mendengar suara Qiara. Tidak menutup kemungkinan bahwa apa yang ia dengar barusan, hanyalah bagian dari halusinasinya, dan ia akan semakin kecewa jika mengetahuinya.
Danny pun kembali ke meja makan, menghabiskan supnya yang masih tersisa.
Patut Danny akui, bahwa sup itu adalah sup paling lezat yang pernah ia santap setelah tiga tahun lamanya.
...****...
Karena merasa bosan setelah seharian mendekam di rumah, Danny akhirnya memutuskan untuk berjalan-jalan menghirup udara segar dengan mengendarai sebuah skuter. Setelah berkeliling selama kurang lebih empat puluh lima menit, roda skuter yang Danny kendarai berhenti di depan sebuah toko buku tua.
Danny memasuki toko buku itu dan mengamati segala penjuru ruangan dengan wajah terkesima. Danny benar-benar jatuh cinta pada tempat itu. Sebelum ini, Danny memang cukup sering ke Pulau Banu, ia bahkan lahir di tempat ini, tetapi Danny baru tahu bahwa ada toko buku secantik ini di Pulau Banu. Danny tiba-tiba kesal, karena merasa sudah melewatkan sesuatu yang sangat berharga.
"Selamat datang!" Sapa seorang Kakek Tua dengan kaca mata bundarnya yang tebal dari balik meja kasir.
Danny yang terkesiap langsung tertarik dari keterpanaannya. Ia lalu dengan segera menoleh, dan menatap Sang Kakek Tua dengan hangat. Wajahnya tidak lagi terlihat dingin seperti sebelum-sebelumnya. Selepas itu, Danny tersenyum seraya menganggukan kepalanya.
"Saya lahir di sini, dan saya beberapa kali ke sini untuk berlibur saat masa sekolah dulu. Tapi saya baru tahu ada toko buku secantik ini di sini. Kalau boleh tahu, toko buku ini ada sejak kapan?" Danny mendengar dirinya bersuara. Sejak kehilangan Qiara, pertama kalinya Danny merasa sejujur ini.
"Toko buku ini ada sejak enam puluh tahun yang lalu." Jawab Sang Kakek dengan satu senyuman di wajahnya.
"Apa anda percaya? Kalau orang-orang yang datang ke sini, adalah orang-orang yang hatinya dituntun. Anda akan menemukan apa yang anda cari di sini."
Danny sangsi, karena memang dia bukan tipe orang yang percaya dengan hal-hal semacam itu. Lagi pula, Danny mengartikan bahwa yang dimaksud oleh Si Kakek Tua adalah; Danny akan menemukan buku apapun yang dia cari di tempat ini.
Danny kembali tersenyum, dan berkata, "kalau begitu, saya mau lihat-lihat buku dulu."
"Baik. Selamat mencari!"
Danny berjalan ke salah satu rak lalu mulai memilih dan memilah beberapa buku. Toko buku itu tidak cukup ramai, hanya ada beberapa pengunjung saja. Danny tidak tahu pasti berapa jumlahnya karena Danny memang malas memperhatikan hal lain.
Tidak lama kemudian, perhatian Danny tertuju pada sebuah novel berjudul "To Heal Is To Let Go" karya Adi K. Ketika melihat sampul bagian belakang novel itu, satu paragraf dari kalimat yang tertata rapi seakan mencemooh dirinya yang begitu menyedihkan.
"Hidup adalah soal menerima dan melepaskan. Melepaskan sesuatu yang dulu pernah menjadi bagian terbaik dari hidupmu. Melepaskan beban dan masa lalu yang suram dan menyedihkan. Melepaskan kebencian dan dendam yang selama ini menghantui pikiran. Namun pada kenyataannya, melepaskan tidak semudah yang diucapkan."
Danny tersenyum pahit membaca deretan kalimat itu. Tentu saja, melepaskan tidak semudah yang diucapkan. Danny kini turut mencemooh dirinya sendiri, sama seperti yang dilakukan oleh kalimat-kalimat tanpa belas kasih itu.
"Mba Qiara!"
DEGH!
Pukulan yang begitu kuat terasa di dada Danny manakala mendengar satu nama itu. Segalanya kian mengabur ketika pemilik nama itu menyahut tepat dari sampingnya, dalam jarak yang sangat-sangat dekat dengannya, juga dengan nada suara lembut yang berhasil melelehkan gunung es di hatinya.
"Iya?"
__ADS_1
Danny otomatis menoleh ke sampingnya. Ia terkejut tak terkira saat melihat sosok Qiara secara nyata, bukan lagi hanya sebatas halusinasi semata.
Kedua mata Danny bergetar dan perlahan berembun. Sulit baginya untuk percaya dengan apa yang baru saja ia lihat dan ia dengar.
Qiara? Itu benar-benar Qiaranya. Qiaranya yang sangat ia rindukan hingga nyaris mati selama ini. Qiaranya yang menghilang seperti mimpi pada suatu malam. Qiaranya yang selama tiga tahun terakhir ini terus bersemayam dalam fikirannya setiap detik.
Saat itu, kuota udara di sekitar Danny seakan menipis hingga membuatnya susah bernafas.
"Buku-bukunya sudah saya masukan ke dalam bagasi." Ucap seorang pria paruh baya yang berdiri di bagian belakang rak buku.
"Oke. Terima kasih, Pak Rendra." Jawab Qiara dengan ceria seraya mengulas senyuman lebar.
Hari itu, Qiara terlihat sangat cantik dengan summer dress bermotif bunga-bunga kecil yang ia padukan dengan t-shirt berwarna hitam di dalamnya —serasi dengan t-shirt oversize hitam yang saat itu Danny kenakan. Tak lupa juga Qiara menggunakan sebuah sneakers putih untuk melengkapi penampilannya. Rambutnya yang panjang ia kepang seluruhnya ke samping, sehingga semakin menambah kesan manis.
"Qi–Qiara Serena?" Lirih Danny dengan suara bergetar.
Qiara terlihat membeku untuk beberapa detik, sebelum akhirnya menoleh dan menatap Danny. Ketika sepasang manik mata mereka akhirnya saling bertubrukan satu sama lain, mereka sama-sama tersentak. Namun tidak seperti Danny, meski agak terkejut di awal, secara pelan-pelan Qiara mulai bisa bersikap normal dan terlihat wajar di hadapan pria itu.
Qiara seperti sudah tahu, bahwa dalam waktu cepat dia akan bertemu kembali dengan Danny.
Danny mendesah seraya menggigit bibir bagian bawahnya untuk menahan guratan sembilu yang mendera. Sedetik berikutnya, Danny tertawa getir.
"See? Aku nggak mungkin menang kalau kamu memilih untuk bersembunyi. Aku pasti kalah telak dalam hal itu, hahaha..." Danny gagal menghalau air matanya, dan membiarkannya terjatuh begitu saja di hadapan Qiara.
Persetan jika Danny tampak seperti pecundang sekarang. Danny sudah tidak peduli lagi. Yang dia tahu, dia sangat merindukan wanita ini. Ketidak peduliannya pada situasi itulah yang akhirnya membuat Danny ingin menarik Qiara ke dalam dekapannya. Namun, sebelum tangan Danny sempat mendarat di pergelangan tangannya, Qiara justru mundur selangkah dengan wajah tertunduk.
Hati Danny seperti dihancur-leburkan. Tidak ada yang lebih menyesakkan lagi, ketika Qiara yang ia rindukan selama bertahun-tahun lamanya sudah ada di depan matanya, tetapi ia bahkan tidak bisa memeluknya, atau sekedar untuk menyentuhnya saja.
"Qia?" Panggil Danny pelan seraya sedikit menundukkan wajahnya agar bisa melihat kedua mata Qiara.
Qiara menarik nafas dalam-dalam, lalu menghembuskannya perlahan. Setelah itu, ia baru berani membalas tatapan Danny. "H—Hay, Dann! Apa kabar?"
Danny mendesah, meredam perih di dadanya.
"Setelah kamu menghilang selama bertahun-tahun, setelah kamu ninggalin aku sendirian ketika kamu sudah berjanji bahwa kamu nggak akan pernah ninggalin aku, kamu tanya apa kabarku?"
"Danny, aku–"
"Sepertinya kamu sudah tahu kalau kita akan bertemu hari ini, kamu pasti sudah bersiap-siap untuk ini, kan? Iya, kan?" Tuding Danny dengan sengit.
Sebelum Qiara sempat menjawab, Pak Rendra lagi-lagi datang. "Mba Qiara, kita harus pergi sekarang. Ini sudah waktunya. Anak-anak pasti sudah menunggu."
Qiara mengusap sudut matanya yang berair sebelum akhirnya menoleh pada Pak Rendra, "iya, Pak. Ayo berangkat!"
Belum-belum Qiara melangkahkan kakinya untuk beranjak, Danny dengan cepat mencekal pergelangan tangannya dengan kekuatan penuh, seakan tidak membiarkan Qiara untuk pergi selangkah pun. "Siapa bilang kamu boleh pergi? Hah?!" Tanya Danny penuh kemarahan.
Sorot kesedihan di matanya, kini berganti penuh kebengisan.
Qiara meringis pelan. Tangannya benar-benar terasa sakit karena Danny terlalu kuat mencengkramnya. "Danny, tangan aku sakit. Pleaseee..."
Danny seketika melunak saat melihat Qiara sungguh-sungguh merasa kesakitan. Ia pun akhirnya melepaskan cengkramannya. Perasaan bersalah langsung menamparnya saat melihat pergelangan tangan Qiara yang memerah akibat ulahnya.
"Aku minta maaf, tapi sekarang aku harus pergi. Aku benar-benar lagi sibuk. Kita akan lanjutkan nanti, dan kamu berhak meluapkan semua kemarahan kamu selama ini."
Danny mendenguskan senyumnya dengan sinis seraya membuang wajahnya ke samping. Kemudian dengan langkah terburu, Qiara pergi meninggalkan Danny begitu saja.
__ADS_1
"Ini yang terakhir, Qiara. Persembunyian kamu berakhir di sini. Lain kali, kamu nggak akan punya celah untuk pergi. Aku bersumpah."
^^^To Be Continued...^^^