Kutukan Cinta Pertama

Kutukan Cinta Pertama
17. Confession


__ADS_3

"ARGA?" Pekik seseorang dari kejauhan ketika melihat Arga yang saat itu sedang berdiri di lobby ANHStar Radio. Sore itu, Arga datang untuk menjemput Qiara.


Mendengar ada seseorang yang memanggil namanya, Arga langsung menoleh dan sedikit mengernyit saat tahu bahwa Alisha lah yang baru saja memanggil namanya. Wajah Alisha terlihat begitu sumringah dengan seulas senyuman penuh kebahagiaan yang menghiasi wajah cantiknya. Sedangkan Qiara yang saat itu ada di samping Alisha merasa heran. Dari mana Alisha dan Arga bisa saling mengenal?


"Al, lo kenal Arga?" Tanya Qiara penasaran.


Namun, sebelum sempat menjawab rasa penasaran Qiara, Alisha yang seakan tidak mendengarkan satu suara pun langsung berlari ke arah Arga dan menghampiri pemuda manis berkulit gelap itu. Qiara yang merasa sepuluh kali lebih heran sekarang, hanya mengekori Alisha di belakang.


"Hay, Arga! Inget aku, kan?"


Arga menampakkan wajah pura-pura berfikir yang kontan saja membuat Alisha merasa sedikit kecewa. Dan begitu menangkap raut kecewa di wajah Alisha, Arga serta-merta tertawa lantas menepuk puncak kepala Alisha, "hahaha, becanda! Tentu aja aku inget."


'Ceileh ngomong pake aku-kamu.' Ledek Qiara dalam hati. Kedua orang itu benar-benar tidak menganggap kehadiran Qiara sekarang. Dan ya, Qiara tiba-tiba merasa menjelma menjadi obat nyamuk.


"Inget, kan, waktu itu janji kita apa?" Ucap Alisha, berusaha mengingatkan Arga tentang janji yang sudah mereka buat malam itu.


Masih dengan mengulas senyum di bibirnya, Arga pun mengingat perkataannya malam itu, saat Alisha meminta nomor ponselnya terlebih dulu setelah mereka menyelesaikan makan malam mereka.


"Oya, Ga! Boleh minta nomor hp kamu nggak?"


"emmm..." Arga tampak ragu-ragu.


"Please..."


"Gini deh, aku akan kasi nomer hp aku kalau sekali lagi kita ketemu."


"Yang bener?"


"Iya."


"Janji?"


"Janji!" Ujar Arga dengan mantap seraya mengaitkan jari kelingkingnya pada jari kelingking mungil milik Alisha yang sudah terangkat lebih dulu.


Alisha menaik-turunkan kedua alisnya seakan bisa mendengarkan suara-suara mereka dalam ingatan Arga. Arga lalu terkekeh sambil menggaruk kepala bagian belakangnya. Sejurus kemudian, Arga mengambil ponsel milik Alisha yang ia pegang di tangannya.


Arga pun melakukan missed call ke nomernya sendiri menggunakan ponsel Alisha setelah ia menyimpan namanya.


"Nih, udah beres." Kata Arga sembari mengembalikan ponsel Alisha.


Alisha langsung tersenyum puas, memamerkan deretan giginya pada Arga.


"EHEEEM!"


Deheman Qiara yang cukup keras langsung membuat Arga dan Alisha sama-sama terkesiap dan segera menatap Qiara yang sudah berdiri di antara mereka dengan wajah datarnya.


"Eh, Qi? Udah selese? Pulang, yuk!" Ajak Arga sambil merangkul pundak Qiara dengan bersahabat.


Hal yang Arga lakukan pada Qiara tentu saja membuat Alisha bingung.


"Kenal dimana kalian?" Tanya Qiara sambil melemparkan pandangannya secara bergantian pada Arga dan Alisha.


"Ada deeeeh... mau tahu aja lu!" Jawab Arga seraya mengusap wajah Qiara.


"Ka—kalian... saling kenal?"


Qiara dan Arga kompak melihat Alisha setelah mendengarkan pertanyaan yang Alisha lemparkan. "Sahabat gue sejak TK nih, Al." Jawab Qiara kemudian. Sedangkan Arga, ia langsung menaik-turunkan kedua alisnya, persis seperti yang Alisha lakukan tadi.

__ADS_1


"Oke, kalau gitu kami balik dulu ya, Al. Bye, Alisha!" Pamit Qiara sambil melambaikan salah satu tangannya lalu berjalan terlebih dulu.


"Aku pergi, ya, Al? Nanti aku hubungin. See you, Alisha!"


Sebelum mendapat jawaban dari Alisha, Arga langsung berlari kecil mengejar langkah Qiara. Begitu langkah mereka sudah sejajar, Arga kembali merangkul pundak Qiara dengan santainya.


"Jangan macem-macem lo sama temen gue. Alisha tuh cewek baik-baik." Ujar Qiara memperingatkan Arga sambil berbisik.


Mana mungkin Qiara diam saja melihat kedekatan antara Arga dan Alisha di saat ia tahu bagaimana reputasi buruk seorang Arga Joshua selama ini.


"Yaelah, Qi. Dia juga bukan tipe gue. Lu kan tahu, selera gue kayak gimana." Balas Arga sambil berbisik dengan mata mengerling. Sesaat setelahnya, Qiara tiba-tiba menyikut perut Arga lalu berlari meninggalkan Arga.


"Qiara, sakit! Awas, ya?!" Arga pun segera mengejar Qiara untuk membalaskan dendamnya.


Dan semua hal yang Arga lakukan itu, terus menjadi pusat perhatian Alisha sampai kedua orang itu menghilang dari pandangannya.


...****...


"Qi, lo tahu Irsyad nggak?" Ucap Arga membuka obrolan saat dirinya, Qiara, Celine, dan Danny sedang berkumpul di cafe yang biasa mereka datangi. Arga bertanya pada Qiara sambil sesekali melirik Danny yang mulai menunjukkan raut tidak nyaman di wajahnya.


"Irsyad?" Qiara bertanya balik sembari memasang mimik berfikir. Ia merasa pernah mendengar nama itu sebelumnya.


"Iya, Irsyad. Irsyad Arkana Malik dari jurusan Jurnalistik." Arga menjelaskan.


Pandangannya sekali lagi tertuju pada Danny yang mulai menunjukkan gelagat tidak suka. Dan memang itulah yang Arga tunggu.


"Pernah denger sih. Tapi lupa-lupa inget. Kenapa?"


"Irsyad mau kenalan sama lo." Jawab Arga to the point.


Danny yang sejak tadi berpura-pura sibuk dengan ponselnya langsung mengangkat wajahnya setelah mendengarkan ucapan terakhir Arga. Dalam hati Arga langsung berteriak penuh kemenangan. Danny sudah memakan umpannya.


"Denger dari mana?"


"Semua orang udah denger, kecuali lu."


Qiara terdengar menghela nafas. Ia masih terlihat berfikir. Sementara Danny, dalam hati ia diam-diam berharap, semoga Qiara menolak.


"Coba cek IG lo, deh. Irsyad selalu nge-love postingan lo. Beberapa kali juga pernah kirim DM katanya." Arga masih belum ingin menyerah.


Qiara pun segera membuka akun instagram-nya dan memeriksa direct message. Benar saja, ia mendapati nama Irsyad yang beberapa kali memang pernah mengiriminya pesan. Dan saat Qiara hendak membuka profil Irsyad, secara tidak terduga, Danny tiba-tiba saja merenggut ponselnya.


"Danny, apa-apaan sih?" Protes Qiara.


"Kayaknya kita harus pulang sekarang. Udah hampir jam sepuluh, nih." Seru Danny sambil melirik jam di tangannya.


Disaat yang bersamaan, Arga dan Celine langsung saling melirik satu sama lain sambil menaikkan kedua alis mereka.


"Ayo, Qi!" Ajak Danny pada Qiara saat mereka semua sudah bersiap-siap untuk pulang.


"Emm, gue pulang sama Kak Dean. Tadi gue udah nge-chat dia kok." Jawab Qiara dengan mantap.


Sedetik kemudian, air muka Danny yang tadinya cerah langsung berubah keruh. Ia membeku untuk beberapa saat.


"Ya udah, gue duluan, ya?" Pamit Qiara pada yang lainnya setelah melihat Dean yang saat itu baru saja datang bersama vespa biru kesayangannya.


Dengan wajah yang begitu riang, Qiara melambaikan tangannya pada Dean lalu berlari kecil keluar dari Cafe meninggalkan yang lainnya.

__ADS_1


...****...


Setelah mengendarai motornya tanpa tujuan, Dean akhirnya berhenti di pinggir jalan saat melihat pedagang jagung bakar. Qiara pun tampak antusias melihat deretan jagung yang berada di atas pemanggang. Dengan perasaan senang, Qiara meloncat turun dari vespa Dean dan langsung berdiri di depan pedagang jagung bakar sambil melihatnya mengipasi jagung-jagung itu dengan kedua mata berbinar, seakan itu kali pertamanya bagi Qiara melihat seseorang membakar jagung.


Melihat tingkah menggemaskan Qiara yang tidak pernah gagal membuatnya terhibur, Dean kemudian terkekeh dan menghampiri Qiara.


"Mas, jagung bakarnya dua, ya?" Ucap Dean pada pedagang di depannya.


Setelah menunggu selama beberapa menit, akhirnya jagung mereka siap. Mereka lalu duduk berdampingan di sebuah bangku kayu panjang sambil menikmati pemandangan malam di tepi sebuah sungai yang menjadi objek wisata di kota itu.


"Aku seneng deh, kalau Kak Dean udah mulai bisa membuka hati untuk Om, Tante, dan Danny. Ya, aku nggak tahu seberat apa masa lalu itu buat Kak Dean, dan pasti bukan hal yang mudah buat Kakak untuk berdamai sama masa lalu, itulah kenapa aku ngerasa kalau Kak Dean sangat luar biasa."


Qiara lantas menatap Dean di sampingnya yang juga sedang menatap dirinya, Qiara pun tersenyum dan melanjutkan perkataannya, "beruntung banget cewek yang bisa menangin hati Kak Dean suatu hari nanti."


Entah untuk yang keberapa kalinya, lagi-lagi Dean tersenyum. Ia kemudian mengusap rambut Qiara dengan sayang, "ini semua berkat kamu, Qi. Kamu yang udah banyak membantu Kak Dean selama ini. Kalau bukan karena kamu, Kak Dean mungkin nggak akan pernah bisa memaafkan masa lalu. Kamu udah ngajarin banyak hal soal penerimaan dan rasa syukur. Kamu... sangat berpengaruh dalam kehidupan aku, Qi." Jawab Dean, 'dan aku harap kamu tahu, kalau kamu yang udah berhasil menangin hati aku, Qi.' Lanjut Dean dalam hati.


Tatapan Dean pada Qiara berangsur serius. Dan Qiara yang mulai bisa menebak teka-teki Dean melalui tatapan matanya malam ini, seketika termangu. Kedua mata elang itu tidak pernah membohonginya, tidak sekalipun. Dan Qiara dapat membaca perasaan Dean dengan jelas, yang sepertinya memang sengaja ingin Dean sampaikan melalui tatapannya.


Nafas Qiara kemudian terhenti saat melihat wajah Dean yang semakin mendekati wajahnya. Kedua mata itupun terpejam. Dan tepat sedetik setelah bibir Dean menyentuh ujung permukaan bibirnya, Qiara segera memalingkan wajahnya dengan penuh perasaan bersalah. Perkataan Danny dua tahun yang lalu tiba-tiba terbersit dalam ingatannya.


"Kalau seandainya lo kenal Kak Dean lebih dulu, dan gue nggak pernah dateng ke kehidupan Kak Dean, lo pasti bakalan jatuh cinta sama Kak Dean, bukan sama gue. Gue cuma beruntung, karena gue kenal lo lebih dulu, Qi...."


Dean hanya tersenyum, berusaha menyembunyikan kecewanya sebisa mungkin. Ia pun bisa memahami kenapa Qiara memberikan penolakan padanya. Qiara pasti sangat terkejut karena Dean tiba-tiba saja melakukannya.


Qiara pun akhirnya terselamatkan dari situasi itu saat ia menerima panggilan masuk dari Danny.


"Hallo, Dann?"


"Lo dimana? Udah jam berapa nih? Pulang cepet!"


"Ini lagi sama Kak Dean."


"Ya udah pokoknya pulang. Gue tunggu."


"Iya, iya, ini udah mau pulang."


Setelah mematikan sambungan teleponnya, Qiara menatap Dean dengan ragu-ragu. Namun sekali lagi Dean tersenyum. Seakan mengerti keinginan gadis itu, Dean mengusap pipi kiri Qiara, "ayo pulang!" Ujarnya kemudian, berusaha melapangkan dada.


Tidak seperti tadi ketika mereka berangkat, saat perjalanan pulang, Qiara tidak memeluk Dean sebagai pegangan. Ia bahkan sengaja membuat jarak dengan Dean di atas motor agar tidak terlalu dekat.


Setelah tiba di rumahnya, Qiara turun dari atas motor Dean sambil tertunduk lesu. Sebenarnya Dean tidak ingin mengatakan apapun, tapi melihat sikap Qiara sekarang, membuatnya merasa tidak enak.


"Qi, lihat Kak Dean deh." Pinta Dean seraya memiringkan wajahnya agar bisa melihat wajah Qiara dengan jelas. Qiara lalu menggeleng.


"Kak Dean minta maaf, ya? Kak Dean janji nggak akan kayak gitu lagi. Hm?"


Alih-alih mendengar jawaban dari Qiara, yang terdengar justru suara tangisan Qiara yang semula samar-samar, kemudian semakin jelas.


"Qi, kok nangis?"


Qiara kembali menggeleng. Dari gelagatnya sekarang, Dean tahu bahwa Qiara pasti sedang merasa bersalah padanya. Dean pun tertawa kecil dan segera menarik Qiara ke dalam pelukannya, "udah, nggak apa-apa. Jangan di fikirin lagi, ya? Sttt..." Dean lalu menepuk bahu Qiara dengan pelan, persis seperti menenangkan bayi yang sedang menangis.


"Maafin Qia, Kak Dean. Qia tahu Kak Dean tulus, tapi... tapi Qia masih sayang banget sama Danny. Qia nggak bisa lupain Danny walaupun Danny sering jahat sama Qia. Qia benci sama diri Qia sendiri karena sampai saat ini Qia masih berharap kalo Danny akan kembali lagi sama Qia..." Ujar Qiara sambil terisak. Isakannya benar-benar terdengar sendu.


"Shh... Kak Dean tahu. Udah, ya? Nggak apa-apa. Shhh... sshh..." Dean terus menepuk bahu Qiara, lalu mendaratkan sebuah kecupan kilat di kepalanya.


Dan Danny yang diam-diam mendengarkan semua pengakuan Qiara dari balik tembok di samping gerbang rumah Qiara, hanya bisa menghela nafas sambil mencengkram kuat-kuat kelima jari tangannya. Ia sangat marah. Marah karena tidak bisa melakukan apapun untuk Qiara, selain melukainya.

__ADS_1


Mendengar suara isak tangis Qiara, Danny merasa seperti ada jutaan silet yang tengah menyayat hatinya tanpa henti. Rasanya sesak sekaligus perih dalam waktu yang bersamaan.


^^^To be Continued...^^^


__ADS_2