Kutukan Cinta Pertama

Kutukan Cinta Pertama
15. Rest


__ADS_3

Setelah seminggu berlalu semenjak pertengkarannya dengan Danny, Qiara benar-benar merasa kehilangan nafsu makannya. Patah hatinya kali ini lebih parah dari saat Danny memutuskan hubungan mereka secara tiba-tiba dua tahun yang lalu.


Sejak mereka putus, ini adalah pertengkaran paling serius yang terjadi di antara mereka. Danny yang selalu menatapnya dengan lembut itu telah berubah menjadi orang lain, seseorang yang tidak pernah Qiara kenal sebelumnya.


Dan hari ini, Qiara memaksakan dirinya pergi ke kampus. Mamanya sudah melarang dan memintanya untuk beristirahat saja di rumah, tapi Qiara nekad. Katanya ada tugas yang harus ia antarkan hari ini. Lalu, ketika Mamanya mengatakan akan menelepon Danny untuk memintanya menjemput Qiara, Qiara buru-buru menolak dan memberikan alasan sebisanya. Tentu bukan hal yang menyenangkan kalau orang rumahnya tahu bahwa ia sedang bertengkar dengan Danny sekarang.


"Qi, lo masih sakit? Kalau masih sakit kenapa masuk?" Tanya Celine dengan cemas saat melihat Qiara yang berjalan sendirian di halaman kampus dengan langkah gontai. Wajahnya pun terlihat sangat pucat.


"Ada tugas yang harus gue anterin, Cel. Hari ini deadline-nya," jawab Qiara. Nada suaranya terdengar lemah. "Lagian, gue udah agak mendingan kok." Qiara melanjutkan.


"Agak mendingan gimana? Muka lo pucet banget, Qiaaa." Ujar Celine tidak terima.


"Gue nggak apa-apa, Celine. Udah, nggak usah cemas gitu." Pungkas Qiara, berusaha terlihat baik-baik saja.


Celine pun mengapit lengan Qiara dan mengarahkannya ke kafetaria kampus. Apapun yang terjadi, hari ini Celine akan memaksa Qiara untuk memakan sesuatu.


"Cel, gue harus pulang."


"Makan dulu!"


"Gue lagi nggak nafsu."


"Gue nggak mau tahu."


Ya, tipe orang yang keras kepala seperti Qiara, memang harus dilawan dengan keras kepala juga.


Setibanya di kafetaria, pandangan mata mereka pun langsung disambut oleh penampakan Danny dan Prissy yang sedang duduk berdua di salah satu meja sambil menikmati makanan mereka masing-masing. Wajah Danny bahkan terlihat baik-baik saja, dan ia terlihat bahagia meski seminggu yang lalu ia telah melukai hati Qiara.


Danny benar-benar bersikap seolah tidak pernah terjadi apa-apa. Hal itu, tak pelak membuat Celine, yang memang tahu permasalahan di antara Danny dan Qiara, merasa seakan seisi kepalanya mendidih detik itu juga.


Lain halnya dengan Qiara, ia justru hanya menatap kedua orang itu dengan pandangan hampa tanpa cahaya. Kondisi tubuhnya terlalu lemah dan lelah untuk mencerna apa yang sedang ia lihat sekarang.


"Brengsek itu! Masih bisa juga dia hahahihi. Awas ya, lo!" Celine merengut dengan tatapan mata yang tidak terlepas dari sosok Danny dan Prissy.


Dia seperti sudah siap untuk 'menghabisi' sepasang kekasih itu.

__ADS_1


Celine sudah akan menghampiri kedua orang itu, namun mendadak, Qiara menghentikannya, "lo mau kemana, Cel?"


"Mau gue samperin!"


"Nggak usah, Cel. Gue nggak mau ada keributan. Lagian Prissy juga nggak tahu apa-apa."


Tepat setelahnya, Prissy tiba-tiba menoleh pada Qiara dan Celine lantas melambaikan tangan dengan senyumannya yang selalu 'tampak hangat'. Danny pun mau tidak mau mengikuti arah pandang Prissy. Di saat itulah, senyuman yang sejak tadi mengembang di wajah Danny perlahan memudar.


Lalu, di belakang posisi Danny, secara kebetulan ada Dean yang sedang mengambil minuman di vending machine. Dean yang baru saja berbalik setelah mengambil minumannya, langsung terpaku ketika menyadari bahwa ia, Qiara, dan Danny sedang berada di tempat yang sama. Dean juga dapat melihat wajah pucat Qiara dengan sangat jelas meski dari kejauhan.


Dean memilih diam di tempatnya, menyimak apa yang akan terjadi berikutnya.


"Cel, gue balik deh. Lo makan sendiri aja."


Dan bruuuk! Qiara langsung tumbang. Ia jatuh pingsan tak sadarkan diri dan membuat semua yang melihatnya merasa terkejut, lebih-lebih Dean. Dean sudah akan berlari menghampiri Qiara, namun Danny mendahuluinya. Danny berlari sangat kencang dengan raut wajah yang benar-benar panik.


"QIARA!" Teriak Danny dengan keras.


Danny bahkan tidak menghiraukan Prissy yang sedang bersamanya. Dalam kepalanya sekarang, ia hanya mencemaskan Qiara.


...****...


Saat Qiara membuka kedua matanya secara perlahan, samar-samar ia dapat melihat Danny yang sedang duduk di sampingnya. Pandangannya yang tadinya mengabur, kini berangsur jelas. Dan ia sedikit terkejut ketika kedua matanya bersibobrokan dengan sepasang mata milik Danny yang penuh dengan gurat kecemasan.


"Dann?" Panggil Qiara lirih.


Begitu Danny menyadari bahwa Qiara sudah siuman, Danny buru-buru beringsut dari kursinya, hendak meraih sesuatu. Namun, Qiara yang berfikir bahwa Danny akan menghindarinya lagi, segera menarik jaket Danny untuk menghentikannya. Ia pun berusaha bangkit dari posisi tidurnya.


"Danny, jangan pergi..." Ujar Qiara dengan suara bergetar. Ia memohon.


Danny kemudian menoleh. Ia lantas meraih tangan Qiara yang menggenggam erat ujung jaket denim yang ia kenakan, lalu duduk di sisi gadis itu, "gue nggak pergi. Gue cuma mau ambil makanan buat lo."


Qiara dapat melihat, bahwa tatapan dan raut wajah Danny sudah tidak sedingin kemarin. Dan itu membuat perasaannya yang sejak beberapa hari lalu dilingkupi kekalutan, kini mulai menenang.


Danny kemudian menggeser overbed table di sebelah mereka, di atas meja tersedia sebotol air mineral dan salad buah yang beberapa saat lalu sudah Danny siapkan untuk Qiara. "Ayo makan dulu. Setelah infus lo habis, kata Dokter lo bisa pulang."

__ADS_1


Qiara mengangguk tanpa mengatakan apapun. Setelah meminum air mineral, ia pun meraih sendok dan segera menyantap salad buah untuk bisa memulihkan kondisinya. Sementara Danny, ia sengaja tidak mengatakan apapun lebih lanjut. Takut Qiara akan terusik dan merasa tidak nyaman dengannya.


Dokter mengatakan bahwa Qiara mengalami dehidrasi setelah tidak makan dan minum selama berhari-hari. Dan Danny tahu pasti, bahwa dia adalah penyebab dari tindakan yang Qiara lakukan. Itulah kenapa, Danny tidak ingin membahas hal itu sekarang.


Melihat Qiara yang tampak kesusahan dengan rambutnya saat makan, Danny segera mengambil ikat rambut di pergelangan tangan Qiara lalu mengikatkan rambutnya dengan penuh perhatian. Danny yang dapat merasakan Qiara terkesiap langsung berkata, "udah, lanjut aja makannya."


"Dann, gue ke toilet bentar." Ucap Qiara beberapa saat setelah ia selesai dengan makanannya.


Dengan dibantu oleh Danny, Qiara pun turun dari tempat tidurnya dengan keadaan tangan masih diinfus. Namun tepat saat Qiara akan berbalik, Danny tiba-tiba menahannya ketika melihat sosok Dean yang memasuki pintu.


Danny yang tidak berfikir panjang, langsung menarik tirai di sekitar hospital bed untuk menutupi dirinya dan Qiara agar Dean tidak melihat mereka. Hal yang Danny lakukan secara mendadak itupun membuat kepala Qiara menempel di dada bidangnya. Sementara salah satu tangan Danny mendekap kepala Qiara.


Qiara benar-benar terkejut, hingga jantungnya berdebar kencang. Begitu juga dengan Danny saat itu, Qiara dapat merasakan jantung pemuda itu berdebar kencang seperti miliknya.


"Dann, ada apa?" Tanya Qiara seraya mendongakkan wajahnya dalam dekapan Danny.


Danny lalu menunduk hingga mata mereka kembali beradu, "tunggu sebentar, ya?"


Dari balik tirai, Danny terus mengikuti setiap pergerakan yang Dean buat melalui kakinya. Dan saat kedua kaki Dean berjalan keluar pintu, Danny langsung menghela nafas lega setelahnya.


Namun kemudian, ada perasaan tidak rela yang Danny rasakan jika harus melepaskan dekapannya sekarang.


Lalu seolah sedang mengikuti perintah, dengan gerakan pelan Danny mengangkat tangannya yang satu lagi kemudian merengkuh bahu Qiara hingga tidak ada lagi jarak di antara mereka. Sekali lagi Qiara tersentak, tapi dia lebih memilih untuk tidak mengatakan apapun. Lagi pula, Qiara juga tidak bisa memungkiri, dia sangat menginginkan Danny memeluknya seperti ini.


Sekuat tenaga Qiara berusaha melawan keinginan hatinya untuk membalas pelukan Danny, tapi akhirnya gagal.


Karena setelahnya, Qiara dapat merasakan kedua tangannya bergerak lalu melingkar di pinggang Danny, membalas pelukan pria itu dan merasakan kehangatan yang perlahan menjalar menembus relung mereka masing-masing, inci demi inci. Qiara pun semakin menenggelamkan wajahnya di dada Danny seiring semakin eratnya pelukan Danny di tubuhnya.


Dalam diamnya, Qiara menikmati suara detakan jantung Danny yang tiba-tiba menjadi hal paling disukainya sejak hari itu.


Dalam hening, Danny menarik kedua sudut bibirnya hingga membentuk satu garis manis di wajahnya. Dan tanpa dia sadari, kedua matanya tertutup perlahan.


Untuk sekali ini saja, Danny ingin melupakan semuanya dan beristirahat sejenak dalam pelukan Qiara yang diam-diam ia rindukan.


^^^To be continued...^^^

__ADS_1


__ADS_2