
Februari, 2021...
"Aku bela-belain ikut BTN demi Danny. Kalau bukan karena Danny, aku nggak mau mempersulit diri mengikuti variety show yang membuat aku harus bergumul dengan panas selama dua minggu lamanya. Pokoknya aku nggak mau tahu, kalau Danny nggak mau dinner sama aku, aku nggak akan ikut presscon." Omel Felicya pada beberapa staff-nya.
Felicya Aletha, adalah seorang penyanyi yang sedang berada di puncak popularitasnya. Sejak pertama kali debut dua tahun yang lalu, Felicya sudah menjadi kesayangan satu negara dan secara resmi mendapatkan julukan sebagai 'Nation's Little Sister' karena dianggap memiliki sikap yang menggemaskan serta sifat penyayang dan baik hati.
Namun berbanding terbalik dengan anggapan orang-orang juga para penggemarnya, Felicya sebenarnya memiliki sifat yang sangat kekanak-kanakan dan manja. Apa yang ditampilkannya di depan kamera hanyalah karakter yang diciptakan oleh agensinya.
Apa yang baru saja Felicya katakan, tentu saja membuat para staff-nya kalang kabut setengah mati. Bukan hanya karena Felicya bersikeras ingin makan malam bersama Danny, tetapi juga Danny bukan tipe orang yang akan langsung menyetujui sesuatu hanya karena yang memintanya adalah seorang penyanyi terkenal sekelas Felicya Aletha.
Hampir semua orang yang sudah bekerja sama dengan Danny selama karirnya menjadi produser sudah tahu bagaimana sikap dingin dan kejam Danny selama ini. Itulah kenapa, membawa Danny pada Felicya sama sekali bukan hal yang mudah bagi staff-nya.
Beberapa bulan yang lalu, Felicya mendapatkan tawaran untuk mengikuti sebuah variety show yang dipimpin oleh Danny. Variety show bertajuk 'Back To Nature' adalah sebuah acara hiburan yang memperlihatkan bagaimana jika seorang selebriti terkenal terjun ke alam dan melakukan berbagai macam hal yang dilakukan oleh orang-orang di daerah pedesaan ataupun pantai. Dan Felicya setuju untuk menerima tawaran itu karena ia telah menyukai Danny sejak pandangan pertama, saat secara tidak sengaja mereka bertemu di coffee shop ANHTV beberapa bulan yang lalu.
Variety show itu sendiri merupakan project yang menandakan kembalinya Danny ke ANHTV setelah vakum selama hampir dua tahun lamanya karena harus menyelesaikan pendidikan S2-nya di Los Angeles.
Ketika para staff-nya sibuk mencari cara untuk membujuk Felicya, manager Felicya yang biasa ia sapa dengan panggilan Kak Anna masuk ke dalam ruang meeting dan menyaksikan kehebohan yang baru saja disebabkan oleh artisnya yang bandel ini. Sejujurnya, Felicya paling takut pada Anna. Hanya Anna lah yang bisa menghadapi semua kelakuan nyeleneh dari Felicya.
"Mba Anna...." Panggil salah seorang staff dengan wajah memelas tapi juga lega. Ia lega karena akhirnya Pawang Felicya datang juga.
Anna menatap para staff satu per satu dengan pandangan yang seakan meminta mereka untuk tetap tenang. Tidak lama, Anna pun memberikan kode agar mereka segera keluar dan meninggalkannya hanya berdua saja dengan Felicya.
Sementara Felicya, ia sebenarnya merasa takut melihat kedatangan Anna. Tapi karena sudah terlanjur, ia akhirnya berpura-pura seakan dia tidak gentar sedikitpun.
Felicya yang awalnya berfikir bahwa Anna akan memarahinya, langsung terheran-heran ketika Anna justru tidak mengatakan apapun dan langsung menghubungi seseorang. Felicya tidak tahu siapa yang sedang dihubungi oleh Anna, karena begitu Anna menelpon, ia langsung mengambil posisi yang agak jauh dari Felicya. Tidak lama kemudian, Anna kembali menghampiri Felicya. Ia melipat kedua tangannya di perut dan menatap Felicya dengan lelah.
"Saya sudah telepon Asisten Produksinya Mas Danny dan meminta tolong untuk menyampaikannya pada Mas Danny. Mas Danny setuju atau tidak, itu di luar kuasa saya. Jadi, berhenti membuat keributan dan tetap fokus dengan latihan kamu. Asia's Tour kamu semakin dekat, tapi kamu terus saja melakukan hal-hal yang tidak berguna dan membuat staff kamu kerepotan."
Dalam hati Felicya langsung bersorak kegirangan begitu tahu bahwa Kak Anna nya yang menakutkan ini sudah menyampaikan keinginanya pada Danny. Sekarang, Felicya sudah tidak takut pada apapun lagi. Asal bisa dinner bersama Danny, Felicya rela melalui dan melakukan apapun.
...****...
"Oke, gue akan dinner sama Felicya. Minta saja manager-nya buat ngatur waktu." Ucap Danny sambil menatap Bagas sekilas, lalu kembali sibuk membaca beberapa lembar kertas di tangannya.
Bagas adalah seorang Asisten Produser yang baru bekerja selama sebulan di tim Danny. Ia adalah sosok pekerja keras yang selalu ingin membuktikan pada Danny bahwa dia memang layak berada satu tim dengan Danny, sosok yang sudah ia kagumi sejak lama.
Bagas yang tadinya tampak takut-takut menyampaikan pesan dari manager Felicya, langsung menghela nafas lega dengan wajah yang sumringah. Persetujuan dari Danny bahkan di luar perkiraannya.
Sekali lagi Danny mengalihkan perhatiannya dari kertas yang sejak tadi menjadi titik fokusnya. Ia menatap Bagas dengan kedua alis terangkat. Bagas yang sadar bahwa Danny sedang menatapnya, langsung berusaha mengontrol mimik wajahnya yang kelewat senang. Bagaimana tidak senang? Satu masalahnya sudah terselesaikan dengan baik.
"Ada lagi yang mau lo omongin?"
Bagas menggeleng pelan, "nggak ada, Mas Danny. Kalau begitu, saya akan segera telepon manager-nya Felicya buat ngabarin."
"Ya udah sana! Ngapain masih diem di situ?"
"Terima kasih, Mas Danny. Saya permisi." Pamit Bagas tanpa lagi bisa mengontrol perasaan senangnya hingga tergambar jelas di wajah manisnya.
__ADS_1
...****...
Pada keesokan malamnya, Danny benar-benar menepati perkataannya untuk memenuhi permintaan Felicya yang ingin makan malam berdua dengannya. Manager Felicya sudah mengatur pertemuan mereka di sebuah restaurant yang terdapat di sebuah hotel bintang lima. Untuk menghindari perhatian dari reporter yang mungkin saja mengikuti Felicya secara diam-diam, mereka pun datang secara terpisah.
Felicya lah yang lebih dulu datang, baru kemudian disusul oleh Danny sepuluh menit kemudian. Danny memasuki sebuah rungan private, dan di sana Felicya sudah menunggunya.
Malam itu, Felicya memberikan penampilan terbaiknya. Ia tampak sangat cantik dan anggun dalam balutan off shoulder dress berwarna hitam. Rambutnya yang panjang sengaja ia gerai tanpa aksesoris apapun. Pria normal manapun yang melihat penampilan Felicya malam itu, tentu saja akan merasa seluruh aliran darahnya berdesir. Tetapi sayangnya, tidak demikian dengan Danny. Ia justru terlihat biasa saja, dan terkesan tidak mempersiapkan penampilannya sama sekali. Danny hanya mengenakan sebuah t-shirt oversize berwarna putih polos yang ia padukan dengan sebuah ripped jeans berwarna biru.
Namun alih-alih kecewa dengan penampilan Danny, Felicya justru merasa lega. Karena setidaknya, Danny tetap menjadi dirinya sendiri.
Baru saja Felicya akan membuka suara untuk menyapa Danny, Danny malah sudah mendahuluinya. "Lain kali, jangan membuat keributan semacam ini. staff lo dan tim gue sudah cukup kalang kabut dengan permintaan lo yang aneh ini." Ujar Danny tak acuh sambil menarik kursi, lalu duduk tepat di hadapan Felicya.
"Kalo lo lihat gue ada di sini sekarang, itu karena gue nggak mau tim gue kena masalah nantinya hanya karena lo nggak mau ikut presscon. Dari sisi gue secara pribadi, gue nggak butuh kehadiran lo saat presscon nanti, tapi dari sisi tim gue, juga agensi lo, hal itu sangat penting. Ketika lo memutuskan untuk terjun di industri ini, lo seharusnya sudah tahu dasar-dasar profesionalitas semacam itu tanpa perlu didikte."
Felicya yang sejak tadi hanya diam dan menyimak setiap perkataan Danny, kini mendenguskan tawanya. Alih-alih tersinggung dengan perkataan Danny yang cukup tajam, Felicya lagi-lagi merasa kagum. Mungkin akan terdengar klise, tetapi ini pertama kalinya Felicya menerima penolakan seumur hidupnya.
"Waaah, ketika proses pengambilan gambar selama dua minggu, aku nggak pernah denger kamu ngomong sepanjang ini. Sekarang akhirnya aku bangga, karena bisa bikin kamu berbicara sebanyak ini. Rasanya lebih membanggakan dari saat aku pertama kali memenangkan penghargaan di Music Show."
Ketika seorang pramusaji baru saja menghidangkan dua porsi steak di meja, Danny malah beringsut dari kursinya. Ia menatap Felicya dengan dingin seraya berkata, "tugas gue untuk menemui lo sudah selesai. Silahkan nikmati steak dan wine lo sendiri dengan anggun."
Felicya tidak memberikan respon apapun. Bahkan saat Danny meninggalkannya sendiri di tempat itu, Felicya tidak mencoba untuk menghentikannya sama sekali. Dan begitu Danny sudah lenyap dari jarak pandangnya, Felicya segera mengambil ponselnya lalu menghubungi seseorang.
"Lakukan besok setelah presscon selesai. Buat semuanya terlihat sangat natural."
...****...
"Ya udah, nanti aku telepon lagi, ya?" Tutup Dean mengakhiri obrolannya dengan seseorang saat melihat sosok Danny yang muncul dari kejauhan.
"Kok dimatiin teleponnya? Lanjut aja." Kata Danny sambil mengambil posisi di samping Dean yang saat itu sedang berdiri di rooftop gedung apartemen Danny sambil bersandar pada kaca pembatas.
Danny lalu memberikan satu kaleng bir untuk Kakaknya, yang langsung diterima oleh Dean.
Setelah menenggak birnya, Danny menatap Dean dengan pandangan menelisik. Beberapa bulan terakhir ini, Danny mulai curiga kalau Dean sudah memiliki pacar. Dugaan itu semakin kuat setelah selama satu bulan penuh Dean tidak pulang sama sekali.
"Cewek lo, ya?" Simpul Danny kemudian. Dean tidak menjawab dan hanya tersenyum misterius, yang langsung Danny artikan sebagai jawaban iya.
"Lo cinta banget sama dia kayaknya, sampe sebulan full nggak pulang-pulang. Gimana? Udah ada niat serius sama dia?"
Senyuman misterius yang baru saja Dean patri, kini perlahan memudar, tergantikan oleh pandangan mata yang begitu serius. Danny menatap Dean penuh keheranan. Tidak lama kemudian, Danny tertawa canggung lalu menepuk bahu Dean.
"Nikahin aja. Tahun ini umur lo udah 29. Lo juga udah cukup mapan. Jadi, kenapa nggak maju sekarang aja?"
Dean mengangguk pelan, lalu tanpa melepas tatapannya dari Danny, Dean berkata dengan penuh kehati-hatian, "gue udah ada rencana akan melamar dia dalam waktu dekat. Tapi, sepertinya dia belum siap."
Satu yang Danny tangkap; Dean terlihat ragu saat menyampaikan bahwa dia akan segera melamar pacarnya dalam waktu dekat.
"Cih, sehebat apa cewek lo sampai nggak siap nikah sama CEO dari Clover Leaf Hotel? Itu jual mahal apa bego?" Sindir Danny dengan pedas.
__ADS_1
Dean terkekeh pelan, "lo tahu? Gue kadang berharap kalau dia itu tipe cewek matre yang cuma mengincar gue karena harta, tapi sayangnya... dia lebih sulit dari perkiraan gue."
"Kalau begitu, bisa jadi dia punya mantan pacar yang masih belum bisa dia lupakan sampai detik ini. Coba lo crosscheck lagi deh," ucap Danny dengan enteng.
Namun perkataan enteng yang baru saja Danny lemparkan itu, berhasil membuat Dean terpukul hingga kehabisan kata-kata.
Suasana di antara mereka mendadak menjadi hening. Dean masih menatap ke dalam mata Danny dengan selubung misteri yang tidak terselami dari pancarannya. Sementara Danny, ia masih tetap dengan pandangan yang sama, menelisik hingga jauh meski akhirnya tidak mendaptkan jawaban yang dia inginkan.
Keheningan yang mendekap mereka tiba-tiba terpecahkah saat ponsel Danny bergetar. Keduanya sama-sama terkesiap sebelum akhirnya Danny menerima panggilan yang datangnya dari Arga. Danny memberikan isyarat dengan tangannya bahwa ia harus menjawab telepon. Dean pun mengangguk, lalu berbalik dan menatap pemandangan malam hamparan kota Harsa yang begitu megah.
Dean mendesah pelan seraya memutar kedua bola matanya. Ia seperti baru saja berhasil lepas dari terkaman seekor singa.
"Kalau saja lo tahu dia siapa, Dann! Lo pasti akan menyesali semua perkataan lo sekarang." Bathin Dean.
...****...
Mei, 2026...
"Kak Dean?" Sapa seseorang dengan ragu-ragu tepat dari belakang Dean.
Mendengar ada yang memanggil namanya, Dean yang saat itu sedang berdiri di halaman sebuah kindergarten langsung menoleh. Ada seorang wanita yang sedang tersenyum padanya. Wanita itu tahu namanya, tetapi Dean bahkan tidak mengingat wajahnya sama sekali. Dean lantas melemparkan pandangan bertanya.
"Ini aku, Kak Dean. Nadya Anastasya. Adik kelas Kak Dean dulu. Aku dari jurusan jurnalistik angkatan 2013."
Dean butuh waktu yang cukup lama hingga akhirnya ia bisa mengingat Nadya. Dulu, Nadya pernah mencoba untuk mendekatinya, tetapi Qiara justru menggagalkan usahanya dalam sekali pukul.
"Oh, hay Nadya! Apa kabar?" Dean bertanya basa-basi.
"Baik. Aku di sini lagi nungguin keponakan aku. Hari ini, Mamanya nggak bisa jemput karena ada pekerjaan. Kak Dean sendiri apa kabar?" Ucap Nadya panjang lebar yang justru membuat Dean merasa tidak nyaman.
"Kabar baik. Aku—"
"PAPA!!" Pekik seorang gadis cilik tidak jauh dari posisi Dean dan Nadya, seolah sengaja menginterupsi obrolan kedua orang dewasa itu.
Gadis cilik dengan seragam putih cokelatnya itu terlihat sangat menggemaskan meski saat itu ia sedang menunjukkan wajah kesalnya.
"Shennavia!" Panggil Dean penuh semangat.
Dean kemudian menunduk sambil merentangkan kedua tangannya agar Shennavia berlari ke dalam pelukannya.
Masih dengan wajah kesalnya, Shennavia meloncat ke dalam dekapan Papa tampannya, yang langsung disambut oleh kecupan singkat dari Dean tepat di dahinya. Sementara Nadya, ia hanya melongo memandangi dua orang yang ada di hadapannya. Mendadak, ia merasa seperti deja vu.
"Kak Dean dia—"
"Hallo, Tante! Kenalin aku Shennavia Adzqiara Adhitama. Anaknya Papa Dean."
Shennavia yang berada dalam gendongan Dean mengulurkan tangannya pada Nadya untuk berkenalan. Wajahnya yang tadinya galak, kini mendadak manis. Hal itu, tak pelak menimbulkan sebuah senyuman tertahan di wajah Dean.Dean seperti sedang berusaha menahan gelak tawanya yang nyaris meledak di tempat.
__ADS_1
Dalam pandangan Nadya sekarang, sikap dan wajah Shennavia benar-benar sangat mirip dengan Qiara di masa lalu.
^^^To be Continued...^^^