Kutukan Cinta Pertama

Kutukan Cinta Pertama
63. Merasa Seperti Lelucon


__ADS_3

Setelah mematikan sambungan telepon dari Qiara, Dean pun menatap kotak cincin yang ia letakkan di atas meja kerjanya dalam keadaan terbuka. Pandangannya terlihat begitu sendu. Semua kesedihan seakan berkumpul jadi satu di matanya ketika ingatan saat Qiara mengembalikan cincin itu terus berputar dalam kepalanya.


Dean sudah menyiapkan diri untuk kemungkinan seperti ini. Tapi saat penolakan itu akhirnya tiba, ia tetap saja merasakan sakit yang tidak terkira.


Saat Dean melamar Qiara hari itu, sebenarnya Qiara menerima saja ketika Dean memasangkan cincin pada jari manisnya di hadapan semua orang. Namun yang tidak sepenuhnya disadari oleh Dean adalah; Qiara tidak mengatakan apapun saat itu. Sampai tiba di malam harinya ketika Dean mengantar Qiara pulang ke rumahnya. Qiara yang dipenuhi dengan perasaan bersalah, melepaskan cincin itu dari jari manisnya dan menyerahkannya kembali pada Dean.


"Maafin Qia, Kak Dean. Qia nggak bisa terima ini." Lirih Qiara tanpa berani menatap mata Dean.


"Tapi, Qi, tadi itu..."


"Sekali lagi Qia minta maaf. Tapi tadi, Qia nggak mau bikin Kak Dean malu di hadapan semua orang."


Dean terdiam. Tangannya yang sejak tadi memegangi setir tiba-tiba saja melemah dan jatuh begitu saja ke atas pahanya. Dean merasakan hatinya seperti sedang ditikam berkali-kali oleh sebuah belati.


"Qia tahu, Qia adalah orang yang paling jahat dan nggak tahu terima kasih, tapi... selama enam bulan ini Qia udah coba segala cara untuk bisa menerima hati Kak Dean. Tapi meski sekeras apapun Qia mencoba, Qia nggak bisa natap Kak Dean sebagai seorang laki-laki. Karena sampai kapanpun, Kak Dean akan selalu menjadi Kakak buat Qia, sama seperti Bang Ray."


Dean masih tidak mengatakan apapun. Lidahnya terasa kelu, dan semua pergerakannya seolah mati.


"Qia sudah mencoba usaha terbaik Qia selama enam bulan ini, Kak. Tapi Qia gagal. Maafin Qia."


"Apa ini karena... Danny?" Dean akhirnya memaksa dirinya bersuara. Namun di saat yang bersamaan, ia merasa seperti meremas jantungnya sendiri dengan kekuatan penuh. Sekarang tidak hanya sakit yang dia rasakan, tetapi juga sesak.


Qiara menggeleng dengan satu senyuman kecil, "ini nggak ada hubungannya sama Danny. Qia cuma nggak bisa menganggap Kak Dean lebih dari seorang Kakak."


Setelah semua ingatan yang menyakitkan itu berlalu, Dean segera menutup kotak cincin tadi dan memasukkannya ke dalam laci. Sesaat kemudian, Dean menuangkan wine ke dalam gelas, menghabiskan gelas demi gelas hingga ia benar-benar mabuk. Berharap dengan cara itu, dia setidaknya bisa melupakan sedikit kesakitannya meski hanya dalam waktu yang sebentar saja.


...****...


"Mentang-mentang udah resmi jadian, bawaannya berdua terus." Goda Celine saat melihat Arga dan Alisha yang hanya asyik berdua.


Arga kemudian menatap benci pada Celine. Tatapannya seakan mengatakan bahwa Celine baru saja menjadi penganggu antara dirinya dan Alisha. Sementara Alisha, ia hanya terkekeh melihat kedua orang yang hampir tidak pernah akur itu. Selalu ada saja hal yang membuat mereka bertengkar.


Karena itu, Alisha jadi berfikir ulang, bisa-bisanya dulu dia sempat mengira bahwa Arga pernah menyukai Celine.


"Ya udah sih, Cel, biarin aja. Lagian lo iseng banget gangguin mereka. Lo kayak nggak tahu aja udah berapa lama Icha menunggu untuk hari ini. Tujuh tahun, Celine." Bela Windy seraya berlalu dari belakang Celine sambil membawa gelas minumannya.


Pada siang menjelang sore itu, mereka semua sedang berada di penthouse Clover Leaf Hotel untuk merayakan kembalinya Qiara. Tadinya, Arga hanya memesan sebuah kamar biasa karena hanya akan mereka tempati selama satu malam saja. Namun kemudian, Windy yang tiba-tiba saja mendapatkan telepon dari Dean menyampaikan bahwa mereka bisa menghuni penthouse. Dean yang sedang berada di Pulau Banu sudah menyiapkan dan mengurus semuanya untuk mereka, mereka hanya tinggal menempatinya saja.


Hal itu pun tak pelak membuat Celine, Arga, Alisha dan juga Windy langsung bersorak kegirangan. Lebih-lebih saat mereka sudah memasuki penthouse, mereka semakin heboh setelah melihat kemawahan dan semua fasilitas yang ada di dalam penthouse tersebut. Mereka tidak hanya dimanjakan dengan pemandangan kota yang pastinya akan terlihat megah dan indah pada malam harinya, tapi juga di sana ada private pool yang cukup luas.


Saat yang lainnya larut dalam tawa, Qiara justru terlihat gusar sambil terus menatap ke arah pintu, berharap Danny akan datang dan ikut berkumpul bersama mereka.


"Kenapa, Qi? Nungguin Danny?" Kata Windy saat menyadari bahwa Qiaralah satu-satunya yang terlihat tidak bersemangat sejak tadi. Qiara tersenyum tipis seraya menggelengkan kepalanya.


Celine yang juga mendengar perkataan Windy, langsung menimpali, "Qi, kita adain acara ini buat elo. Kak Dean bahkan sudah menyiapkan ini semua khusus buat lo, tapi kalo elonya nggak bersemangat, terus apa fungsinya kita di sini? Udahlah, nggak usah fikiran Danny terus. Lo kan tahu dia itu gimana."


"Eh, tapi gue penasaran deh, kok bisa Danny ngira kalau Qiara sama Kak Dean pacaran?" Tanya Alisha, entah pada siapapun yang mau menjawab.


Celine tersenyum meremehkan, lalu menjawab, "jelaslah dia salah paham sama kedekatan Qiara sama Kak Dean selama ini. Kita semua juga tahu, kalau Danny itu tipe orang yang suka narik kesimpulan sendiri karena nggak mau tahu apapun."


"Ya nggak gitu juga..." Jawab Windy sambil menenggak minumannya dan bersandar pada kaca pembatas balkon. Kini perhatian semua orang tertuju pada Windy, tidak terkecuali Qiara. "Lagian juga, selama enam bulan ini, Qiara sama Kak Dean emang lagi di tahap pendekatan, kan? Kalau seumpama gue di posisi Danny juga, gue pasti ngiranya mereka pacaran."


Alisha mengangguk paham. Ia setuju dengan sudut pandang Windy.


"Terus, apa karena Danny juga lo nolak lamaran Kak Dean?" Kini giliran Arga yang bertanya. Windy yang sedari tadi tampak tenang-tenang saja, seketika berubah menjadi risau.


"Gue udah jelasin masalah ini ke Kak Dean. Bukan karena Danny kok." Jawab Qiara.

__ADS_1


"Terus?" Arga dan Alisha kompak bertanya.


"Ya gimana sih ngejelasinnya? Gue udah coba sebisa mungkin untuk menerima hati Kak Dean selama enam bulan ini, tapi mau sekeras apapun gue berusaha, di mata gue dia tetep kayak Kakak gue, kayak Bang Ray."


Mereka semua mengangguk paham.


"Lagi pula... dibanding gue, ada seseorang yang jauh lebih pantas buat Kak Dean." Qiara melirik Windy yang berdiri di sampingnya setelah mengakhiri kalimatnya.


Rupanya selama ini Qiara tahu bagaimana perasaan Windy yang sebenarnya pada Dean sejak Windy mulai menjabat sebagai seorang Hotelier di Clover Leaf Hotel & Resort di Pulau Banu. Qiara satu-satunya yang peka bahwa Windy diam-diam menyukai Dean. Tapi karena Windy tidak pernah membahasnya, Qiara jadi berfikir bahwa Windy memang sengaja ingin menyembunyikan perasaannya pada Dean untuk dirinya sendiri.


"Siapa?" Celine bertanya.


"Gue nggak tahu siapa. Tapi pasti ada." Jawab Qiara mengambang tanpa mengalihkan perhatiannya dari Windy.


Windy berdehem. Mendadak ia merasa kerongkongannya mengering. Windy lalu kembali menenggak minumannya sambil berusaha bersikap wajar di depan yang lainnya.


"Gue ke dalem sebentar, deh. Mau nelepon." Pamit Qiara kemudian pada yang lainnya.


Begitu tiba di dalam kamar, Qiara langung menghubungi seseorang.


"Hallo, Kak Dean?"


"Iya, Qi?"


"Kak Dean gimana di sana? Baik-baik aja?"


Dean tidak langsung menjawab, ia terdiam cukup lama sebelum akhirnya terdengar mengambil nafas lalu berkata, "Kak Dean cuma capek, sekarang mau istirahat dulu. Have fun, ya, di sana?"


"Kak Dean, makasih buat..."


Tuut!


"Maafin Qia, Kak Dean. Maaf karena sudah melukai hati orang sebaik dan sesempurna Kak Dean."


...****...


Qiara keluar dari kamarnya saat hari sudah beranjak malam. Pesta mereka akan dimulai pada pukul delapan nanti. Dan sebelum pesta di mulai, Qiara memutuskan untuk berenang terlebih dulu. Saat Qiara berjalan ke arah kolam renang, perhatiannya tertuju pada Windy yang saat itu tampak fokus mengerjakan sesuatu di laptopnya sambil sesekali memakan potato chips berukuran jumbo di samping laptopnya.


Merasa heran karena situasi agak lengang di penthouse yang luas itu, Qiara pun melemparkan pertanyaan pada Windy, "yang lainnya mana?"


"Celine lagi di kamarnya. Kalau Arga, tadi tiba-tiba dapet panggilan telepon dari kantornya, dan Icha nemenin. Sebentar lagi balik kok."


Qiara mendesis setelah mendengarkan jawaban Windy, "halah, Arga! Sejak kemarin sok-sokan periksa jadwal kita dan mastiin kalau kita bener-bener kosong, sekarang malah dia sendiri yang sok sibuk."


Windy hanya mengangkat kedua bahunya dengan wajah tak acuh.


"Gue mau berenang. Lo mau ikut?"


Windy terlihat seperti sedang memikirkan sesuatu. Tidak lama setelahnya, ia lantas tersenyum misterius. "Lo sendiri aja!" Jawabnya kemudian.


Dan Qiara yang tidak menyimpan kecurigaan sedikitpun pada Windy, kembali melanjutkan langkahnya ke kolam renang yang jaraknya lumayan jauh dari tempat Windy duduk sekarang. Setibanya di sana, Qiara langsung melepaskan kimononya hingga menampakkan tubuhnya dalam balutan sebuah swimsuit hitam.


Setelah melakukan peregangan, Qiara pun mulai meloncat ke dalam kolam. Namun beberapa saat kemudian, betapa terkejutnya Qiara saat Danny tiba-tiba muncul dari dalam air seraya menahan salah satu tangannya.


"Aaaa!!" Teriak Qiara.


Di saat yang bersamaan, Windy tertawa tanpa suara setelah mendengarkan Qiara berteriak seperti itu. Meski di luar rencana, tapi akhirnya ia berhasil untuk kembali menyatukan kedua sahabat bodohnya itu.

__ADS_1


"Danny! Kamu ngapain di situ?!" Kata Qiara sambil berusaha menetralkan keterkejutannya karena kemunculan Danny yang secara mendadak itu.


Lagi pula, bukankah kemarin Danny sempat berkata bahwa dia sibuk? Lalu kenapa sekarang ia tiba-tiba ada di sini? Lebih-lebih di kolam renang saat Qiara sudah memasang niat untuk berenang? Benar-benar kebetulan yang menyebalkan!


Dan Danny memang seperti itu sejak dua tahun yang lalu, setiap kali dia memiliki masalah tanpa jalan keluar, dia akan memilih untuk berenang lalu menahan nafas dalam air untuk waktu yang lumayan lama.


Perhatian Qiara kemudian tertuju pada bagian atas tubuh Danny yang tampak begitu atletis ter-ekspose di depan matanya dalam jarak yang begitu dekat. Untuk sejenak Qiara terkesima melihat pahatan sempurna di depannya. Namun itu tidak lama. Karena hanya selang beberapa detik setelahnya Qiara langsung membuang tatapannya dengan jantung berdebar kencang.


Qiara berdehem cukup keras.


"Apa lo melihat gue lagi main bola di sini? Tentu saja gue lagi berenang." Jawab Danny yang sengaja menirukan jawaban Qiara padanya beberapa waktu lalu saat Qiara datang menemuinya di apartemennya.


"g─gue j─juga tahu kalau lo lagi berenang. T─tapi, kan, kemarin lo sendiri yang bilang kalau lo lagi sibuk."


"Terus kenapa? Apa gue nggak boleh dateng ke hotel milik keluarga gue sendiri cuma karena Kakak gue udah nyiepin ini semua buat elo?" Timpal Danny tanpa tedeng aling-aling.


Lihat! Lihat! Betapa menyebalkannya pria ini. Setelah mengabaikan Qiara selama berminggu-minggu, sekarang dengan santainya dia muncul di hadapan Qiara dengan berdalih seperti itu. Danny jelas-jelas sedang balas dendam padanya sekarang!


Qiara mendesah, berusaha meredam kekesalannya yang sudah sampai ke ubun-ubun. Entah untuk yang keberapa kalinya, lagi-lagi Qiara harus menelan bulat-bulat amarahnya pada anak pemilik hotel ini.


"Baik, baik! Karena hotel ini milik keluarga Tuan Muda Danny, gue yang rakyat jelata ini mohon diri. Maaf sudah mengganggu kesenangan anda di sini." Ujar Qiara dengan ketus dan nada yang sengaja dibuat-buat. Qiara juga masih belum berani menatap ke dalam mata Danny.


Baru saja Qiara berbalik hendak naik dari kolam renang, lagi-lagi dia merasakan Danny menarik pergelangan tangannya. Namun kali ini lebih kuat hingga membuat jarak di antara semakin dekat. Danny bahkan melingkarkan kedua tangannya di punggung wanita itu dan menghujam dalam pada kedua manik matanya.


Qiara merasakan sekujur tubuhnya merinding saat sapuan hangat nafas Danny menerpa kulit wajahnya.


"Dann, a─aku..." Qiara berusaha mendorong pelan dada Danny agar tidak terlalu menempel dengannya. Tapi Si Brengsek itu, justru semakin merapatkan jarak mereka dengan semakin erat merengkuh tubuh Qiara.


"Kamu harus menatap mata seseorang yang sedang berbicara dengan kamu─" Danny membiarkan perkataannya menggantung yang otomatis membuat Qiara akhirnya menatap padanya. "─itulah yang disebut dengan sopan santun." Lanjut Danny sambil menatap samar pada bibir Qiara yang berwarna merah lembut. Kedua tangan Danny bahkan membelai punggung Qiara yang terbuka dengan sentuhan yang begitu halus.


Danny lantas mendekatkan wajahnya dengan wajah Qiara dengan pandangan yang tidak lepas dari bibirnya. Begitu juga dengan Qiara, secara tidak sadar ia mengikuti nalurinya dan memejamkan mata, melakukan pergerakan yang sama dengan Danny. Tangannya yang sejak tadi menahan dada Danny kini perlahan terkepal.


Dan saat hidung mereka sudah saling bersentuhan satu sama lain, Danny tahu-tahu menghentikan pergerakannya lalu memegang salah satu sisi wajah Qiara, dan membisikkan sesuatu di telinganya, "aku akan naik sekarang supaya kamu bisa berenang."


Danny pun melepaskan Qiara dari rengkuhannya dan berjalan melewati Qiara begitu saja seakan tidak terjadi apapun.


Kemarahan Qiara yang sudah tidak terbendung lagi akhirnya meledak dalam sebuah pertanyaan singkat.


"Danny, apa aku terlihat seperti lelucon buat kamu sekarang?"


Danny mendengus dengan satu senyuman miring di wajahnya. Ia pun menoleh dan menatap amarah pada sepasang bola mata cokelat itu dengan tenang.


"Kamu bisa meninggalkan aku dalam semalam, lalu bersikap seolah aku bukan apa-apa. Bagaimana bisa aku menganggap kamu lelucon?"


"D─Danny?"


"You left me, Qiara! Remember that! Ingat itu selama sisa umur kamu!" Ucap Danny sesaat setelah ia naik ke atas kolam.


"Kamu yang pembohong, Danny!!"


Danny yang baru saja akan melangkah pergi langsung menghentikan langkah kakinya saat suara Qiara terdengar kembali.


"Kamu bilang kamu nggak akan lepasin aku sampai mati. You promised me, but then you broke that promise, Danny Adhitama!!"


"Untuk apa aku tetap bersikeras mempertahankan seseorang yang bahkan tidak pernah mempercayai aku? Untuk apa aku memohon seseorang untuk tetap tinggal di sisiku, di saat seseorang itu bahkan tidak memiliki kepercayaan sedikitpun pada perasaan cintaku?"


Kali ini Danny berbalik, lalu menatap Qiara yang masih bertahan di dalam kolam dengan pandangan matanya yang selalu setajam itu.

__ADS_1


"Aku datang ke sini karena Windy yang meminta. Tapi tidak lebih dari semenit yang lalu, aku menyadari kalau nggak seharusnya aku membuang-buang waktuku di sini!" Tutup Danny sebelum akhirnya benar-benar pergi dan meninggalkan Qiara hanya seorang diri di sana dengan perasaan remuk.


^^^To be Continued...^^^


__ADS_2